Bahagia Bersama AirAsia Usai Putus Cinta


Patah hati memang begitu getir dirasakan, apalagi jika hal tersebut terjadi setelah 3 tahun lamanya berpacaran. Padahal, kami kian serius menjalin hubungan, bahkan berencana berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun Tuhan sepertinya memang berkehendak lain. Alih-alih hidup bahagia bersamanya, saya justru harus rela berpisah dengannya.

Kecewa berat tentu tak bisa terelakkan, tetapi tak ada gunanya juga terus-terusan menyesal, apalagi sampai menyalahkan Tuhan. Berhari-hari hidup seolah tak ada gairah. Pagi siang sore, saya hanya bermain HP tanpa guna. Hingga pada akhirnya, tebersit ide untuk menjauh sejenak.

Setidaknya bisa mengunjungi suatu tempat yang orang-orangnya hampir tak ada yang saya kenali. Saya butuh menemukan pandangan baru untuk menghidupkan lagi semangat hidup yang sempat meredup. Syahdan, sebuah email newsletter dari AirAsia BIG yang muncul di HP, bertepatan dengan fokus mata memandang. Save More with AirAsia. Begitu kira-kira judul subjek emailnya.

Promo yang menarik, cukup memantik semangat saya untuk perlahan bangkit, setelah membaca email sambil tengkurap dan bermalas-malasan di atas kasur. Mata saya tertambat pada Penang yang menjadi salah satu destinasi utama AirAsia.

Mungkin Penang bisa menjadi tempat yang cocok untuk refreshing sejenak, pikir saya, sesaat setelah melihat banner digital dalam email AirAsia yang saya terima lewat smartphone.

Akhirnya Terbang ke Penang dengan AirAsia

Beruntung, saya masih bisa mendapatkan promo terbang hemat Surabaya-Penang dari AirAsia. Harga yang begitu terjangkau, membuat saya tak berpikir lama untuk booking tiket pesawatnya via aplikasi AirAsia.

Begitu pula saat tiba pas hari H. Proses boarding menjadi lebih mudah dan cepat, berkat kehadiran mesin check-in mandiri AirAsia di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Bahkan, saya bisa memilih kursi sesuai keinginan, dan duduk dekat jendela pesawat tetap jadi favorit saya.

Setelah semua proses beres, saya akhirnya terbang pagi dari Surabaya. Kira-kira 3 jam penerbangan lamanya, saya pun tiba dengan aman dan lancar di Penang International Airport.

Meski ada fasilitas gratis bagasi hingga 15kg, tetapi saya memilih pergi dengan membawa barang seperlunya dalam satu ransel saja. Dari bandara, saya memilih naik Penang Rapid Bus dengan kode 401 menuju Komtar, baru setelah itu saya lanjutkan berkeliling George Town.

Karena perut cukup lapar, saya putuskan makan Nasi Lemak di sebuah kedai. Tak ada agenda pasti yang saya siapkan, atau kuliner apa saja yang harus saya makan saat di Penang.

Saya ingin benar-benar menikmati perjalanan kali ini senatural mungkin. Menelusuri jalan bermodalkan peta wisata, mencicipi kuliner yang tampak ramai dikunjungi, hingga mengunjungi tempat demi tempat tanpa perlu terburu-buru.

Menemukan Jawaban di Penang

Sejak siang hari di kedai Nasi Lemak waktu itu, tanpa sadar banyak tempat telah saya kunjungi di Penang. Meski masih serumpun Melayu dengan Indonesia, nyatanya kadar ‘asing’ Penang cukup membuat saya nyaman.

Keinginan sejenak untuk mengunjungi tempat asing, rasanya terkabulkan, walau secara geografis sebenarnya Penang tidaklah terlalu jauh dari Indonesia. Namun bukan itu esensinya, budaya yang berbeda, kehidupan sosial yang tak sama, hingga bahasa untuk berinteraksi yang bukan bahasa Indonesia, mampu menghadirkan hal baru sebagaimana yang saya harapkan.

Dalam hati, saya berucap, sepertinya inilah yang saya cari. Hari demi hari senyum saya makin mengembang menjelajahi Penang. Satu demi satu, tempat indah di Penang saya kunjungi.

Mulai Bukit Bendera yang menyuguhkan panorama Penang dari ketinggian 833mdpl secara 360 derajat, kuil Wat Chaiyamangalaram yang tenang dengan patung Buddha tidur, Kek Lok Si Temple dengan patung perunggu Guan Yin setinggi 302m yang megah, dan beberapa tempat lainnya.

Namun, ada satu tempat yang cukup spesial buat saya selama di Penang, yaitu kawasan Penang Street Art. Kawasan UNESCO World Heritage Site di George Town tersebut, bukan hanya menawarkan mural-mural karya seniman jalanan kelas dunia, tetapi juga mempertemukan saya dengan beberapa orang yang cukup menginspirasi.

Bahagia Bersama AirAsia Usai Putus Cinta

Pertama, ada Schulz, dia orang Jerman. Interaksi kami terbentuk setelah ia meminta tolong saya memotretnya di depan lukisan populer ‘Kids on Bicycle’ karya Ernest Zacharevic. Sikapnya yang supel, membuat kami bisa mengobrol dengan nyaman.

Yang mengejutkan saya, di balik pembawaannya yang tampak periang, Schulz ternyata sempat mengalami krisis percaya diri. Traveling perlahan membuatnya bisa menemukan siapa dirinya, membuatnya bisa hidup lebih bahagia, dan paling penting ia mulai bisa mencintai dirinya sendiri.

Menurutnya mencintai diri sendiri adalah hal terpenting, sebelum mulai mencintai orang lain. Kalimat yang disampaikan dalam suasana ngopi yang santai itu pun, begitu mengena buat saya.

Mencintai diri sendiri adalah hal terpenting, sebelum mulai mencintai orang lain

Schulz, Penang.

Setelah berpisah dengan Schulz, saya melanjutkan menikmati sore dengan menyusuri jalan demi jalan di George Town. Seorang anak kecil yang berlarian dengan riang, menarik perhatian saya.

Keceriaannya sempat membuat saya iri. Betapa enak jadi anak kecil yang tampak selalu bahagia. Namun, tiba-tiba ia tersandung dan menangis. Seorang perempuan lantas memanggilnya.

Bahagia Bersama AirAsia Usai Putus Cinta

Perempuan tersebut terlihat memilin sebuah gelang dan beberapa kerajinan dari benang. Sepertinya mereka turis yang sedang berjualan untuk menambah bekal perjalanan.

Kemudian, saya putuskan untuk menghampiri. Saya awali interaksi dengan memuji karya-karyanya yang cantik. Seperti dugaan saya, Sena, begitu perempuan tersebut menyebutkan namanya, memang sedang berjualan karya kecilnya untuk menambah dana perjalanan, sekaligus uang jajan Fester, anak lelakinya.

Keduanya berasal dari Australia. Hampir sebulan lamanya, Sena dan Fester berada di Penang. Mereka pun masih ingin lanjut berkelana ke berbagai negara. Sena sangat mencintai Fester. Baginya, Fester adalah cahaya hidupnya.

Traveling bisa membuat orang lebih bahagia

Sena, Penang

Ia juga mengungkapkan traveling memberikan banyak perubahan positif, baik baginya maupun Fester. Di luar dugaan, Sena pun mengaku jika dirinya dan Fester pernah mengalami masa sulit yang begitu berat. Namun sejak berkelana bersama sebulan terakhir, ia kini bisa menjadi lebih bahagia, terutama Fester, lantaran tak lagi berjumpa dengan orang-orang yang menyakitinya.

Dari mereka berdua, saya akhirnya bisa mendapatkan sebuah pelajaran hidup, jika saya bukanlah satu-satunya orang yang bernasib malang. Bisa saja, kedua masalah mereka, atau orang lain di dunia ini, lebih berat dari apa yang saya alami. Namun, ada hal yang lebih penting untuk dicari setelah tumpukan masalah hidup tersebut mendera, yaitu kembali bahagia.

Ada hal yang lebih penting untuk dicari setelah tumpukan masalah hidup tersebut mendera, yaitu kembali bahagia

Tommy, Penang.

Kembali Bahagia Bersama AirAsia

Bahagia Bersama AirAsia Usai Putus Cinta

Lima hari lamanya saya berada di Penang. Seperintang waktu itu pula, saya telah menemukan banyak ‘jawaban’. Meski kelana saya tak sejauh Schulz, atau tak simultan seperti Sena dan Fester, tapi saya merasa hidup saya kembali bahagia.

Selepas puas berkelana di Penang, saya pun memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia, sesuai jadwal tiket penerbangan balik menggunakan AirAsia yang juga sudah saya pesan di awal. Boarding yang mudah dengan mesin check-in mandiri AirAsia, lagi-lagi membuat saya bisa memilih kursi di dekat jendela pesawat. Penerbangan saya ke Surabaya dari Penang International Airport pun berjalan lancar.

Selama penerbangan, saya cek masih ada sisa Ringgit di dompet. Mencium aroma gurih yang menggugah selera, perut saya mulai keroncongan. Kebetulan ada pramugari AirAsia yang datang menawarkan menu ‘SANTAN’ andalan AirAsia.

Mata saya terpaku dengan Nasi Lemak Pak Nasser. Saya ingat, saat awal tiba di Penang, sajian tersebut adalah kuliner khas Penang pertama yang saya coba. Makanan itu pula yang bikin saya jadi berenergi, membuka simpul senyum karena kelezatannya, hingga membuat saya bersemangat menjelajahi Penang.

Bahagia Bersama AirAsia Usai Putus Cinta

Saya ingin akhir penjelajahan di Penang kali ini juga bisa ditutup dengan lezatnya Nasi Lemak. Sebab, setibanya di Surabaya, saya berharap bisa kembali hidup ‘normal’, sebagaimana semangat saya menjelajahi Penang usai makan Nasi Lemak.

Puji syukur, makanan tersebut ada dalam daftar menu penerbangan AirAsia rute Penang-Surabaya. Terlebih lagi Nasi Lemak Pak Nasser menjadi salah satu menu lezat yang sangat populer sekaligus berharga terjangkau yang dihadirkan AirAsia, sehingga tak ada alasan untuk tak mencobanya.

Dengan layanan terbaik, sekaligus pengalaman terbang yang luar biasa, tak salah jika AirAsia dinobatkan sebagai World’s Best Low-Cost Airline dari Skytrax selama 11 tahun berturut-turut. Maka tak berlebihan jika di akhir kisah, saya bilang: kembali bahagia bersama AirAsia usai putus cinta. Terima kasih AirAsia.

DEMI HONNE


Antrean ke dalam venue HONNE © Iwan Tantomi
Antrean ke dalam venue HONNE © Iwan Tantomi

Honne belakangan ini sangat populer berkat lagu-lagunya yang hits. Termasuk salah satunya, Location Unknown yang mendadak viral gara-gara dinyanyikan sepenggal chorus-nya oleh anak selebritis Tanah Air, Gading Marten dan Gisella Anastasia, Gempita Nora Marten alias Gempi.

Namun, bukan karena Gempi saya ikut-ikutan suka Honne. Justru, saya tahu Honne setelah ramai di pemberitaan media, karena berkolaborasi dengan RM BTS dalam lagu Crying Over You. Kebetulan lagu tersebut enak didengar, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mendengarkan lagu-lagu Honne lainnya.

Berkat popularitas yang makin menanjak, duo beranggotakan James Hatcher dan Andy Clutterbuck ini pun serius menyapa para penggemarnya lewat Love Me/Love Me Not Tour 2019 di Asia, termasuk Indonesia, khususnya Jakarta, tempat lagu Honne pertama kali viral nasional.

Hal yang nggak terduga, Honne ternyata justru menjadikan Surabaya sebagai konser pembuka mereka di Indonesia. Tahu kabar tersebut, euforia pun langsung menyergap ke telinga, dengan cepat saya coba cek penjualan tiketnya. Sayang tiket justru preorder sold out terlalu cepat, hingga menyisakan regular ticket dan reselling ticket yang harganya bikin mikir dua kali.

Dapat Rezeki Tak Terduga

Mendadak Datang ke Konser Honne © Iwan Tantomi
Mendadak Datang ke Konser Honne © Iwan Tantomi

Animo nonton konser Honne sempat meredup karena hingga H-1 tiket pun nggak kunjung dapat. Sempat berpikir ya, sudahlah, mungkin belum rezeki’, tapi di luar dugaan Tuhan justru memberi rezeki yang nggak terduga.

Bak tiada angin tiada hujan, salah seorang kawan tiba-tiba menawari tiket Honne lewat sebuah pesan WhatsApp.

“Tom, mau nonton Honne kah besok? Ayo berangkat sama aku,” Ayu, mengirim pesan tersebut.

Tanpa basa-basi tentu saja saya mau. Bahkan, jika diminta liputan misalnya, akan saya lakukan sebagai balas budi. Nyatanya tiket tersebut diberikan cuma-cuma.

Mendadak Hangout ke Surabaya

Pas hari H, saya akhirnya berangkat ke Surabaya, mengendarai mobil Niko. Kami berangkat berlima, dua di antaranya liputan sebagai media, termasuk Ayu.

Tiket yang kami dapat ini termasuk undangan untuk media, jadi kami harus berangkat lebih awal untuk menukarkannya di ticket box sekitar venue. Karena Honne baru memulai konsernya jam 8.30 malam, sementara kami harus menukar tiketnya siang, maka kami putuskan sekalian hangout di Surabaya.

Hampir Kena Tilang

Setelah berhasil mendapatkan wristband, kami putuskan pergi ke Tunjungan Plaza (TP) sekadar mencari makan dan mencari kesejukan, lantaran cuaca Surabaya siang itu sangat terik.

Kami bergantian menyetir, dan sangat berhati-hati memperhatikan petunjuk jalan. Naas, Google Map yang kami andalkan justru membuat mobil yang kami kendarai harus diberhentikan oleh polisi secara tiba-tiba saat hendak putar balik.

Kami dinilai melanggar marka jalan. Kami berusaha tenang, walau teman yang kebetulan dapat jatah menyetir dirundu sedikit kecemasan. Apalagi setelah cek dompet, ternyata SIM-nya ketinggalan.

Namun, dengan tenang salah dua dari kami turun. Kami lalu menjelaskan ke petugas, jika ke Surabaya dalam rangka liputan. Kami pun menunjukkan surat tugas lengkap dengan tiket undangan media.

Terlebih surat kendaraan lengkap dan yang lain masih bawa SIM. Kami hanya berkelit bukan warga asli Surabaya, dan hanya bergantian menyetir biar nggak lelah di jalan. Hasilnya, kami lolos dari tilang.

Sempat Nggak Dapat Tempat Parkir di TP

Setibanya di TP, masalah nggak lantas usai. Berputar melingkar menelusuri tempat parkir dari lantai bawah ke atas, hampir nggak ada yang kosong. Tahu-tahu bablas sampai ke rute keluar mal. Belum juga parkir, kami pun terpaksa harus bayar dulu.

Setelah bertanya ke petugas, di TP2 ada tempat kosong. Kami pun balik menuju ke sana. Sempat ada drama rebutan tempat parkir dengan kendaraan lain. Namun, seorang petugas dengan baik hati, memberi kami tempat baru yang sebelumnya ditutup buat parkir. Walhasil, kami jadi dapat tempat parkir yang strategis dan dekat pintu mal.

Quality Time Bareng Kawan

Rentetan kejadian nggak terduga ini sempat bikin kami kesal, tapi di satu sisi juga jadi lelucon sepanjang hari. Di TP kami menghabiskan waktu untuk makan bersama, belanja, ngemil, hingga berlama-lama dengan canda dan tawa.

Tanpa sadar, momen tersebut jadi ajang quality time bareng kawan. Meski sekantor dan juga kerap main bareng, belakangan kami cukup sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai-sampai jarang banget bisa mengobrol bareng.

Siapa sangka, konser Honne justru jadi momen buat kami untuk kembali bercengkerama sebagai kawan seutuhnya, bukan rekan kerja apalagi mutual dunia maya.

Jamming di Konser Honne Sampai Puas

Setelah menunggu cukup lama, antrean yang membanjiri halaman hingga jalan di sekitar Jatim International Expo, pintu venue akhirnya dibuka sejam sebelum konser dimulai.

Sebelum ke venue kami sempat kesulitan mencari parkir mobil selepas dari TP. Hingga akhirnya menemukan lapangan belantara yang disulap jadi tempat parkir dadakan oleh warga sekitar. Beruntung jarak dengan venue nggak begitu jauh.

Begitu masuk ke dalam venue, di antara kami ada yang sempat membeli official merchandise, sayang packaging dan servisnya kurang bagus. Sama halnya dengan panggung yang kurang tinggi, sehingga membuat kami yang punya tinggi badan di bawah 170cm serta harus berada di belakang sendiri, hanya bisa menatap kepala Honne atau justru bahu penonton di depan.

Sementara seperti diketahui, tiket konser Honne di Surabaya semuanya berkategori festival. Namun, terlepas itu semua, kami menikmati konser malam itu. Merilis stres dengan singalong dari awal sampai akhir. Sesekali juga jamming mengikuti ritme lagu.

Bagaimanapun ada banyak hal yang harus kami lalui demi Honne. Daripada disesali, toh mending dibikin happy. Kapan lagi bisa lihat Honne di daerah sendiri, gratis lagi. 🙂

Solo, Biarkan Aku Kembali


Derit pintu kaca menandai kedatangan saya di sebuah kafe. Hujan di luar membuat saya memilih untuk menyeruput kopi di dalam ruangan yang berkonsep industrialis tersebut. Sambil menunggu pesanan Caramel Macchiato tiba, saya mulai kembali membuka buku yang sedang saya baca belakangan. AMBA: novel karya Laksmi Pamuntjak.

Tumben sekali, waktu itu pengeras suara di kafe tersebut tak memutar lagu. Melihat pramusaji yang tampak kewalahan, saya bisa maklum. Barangkali habis ini I Remember-nya Mocca, Hujan di Mimpi-nya Banda Neira, Tidurlah-nya Payung Teduh, atau Kisah Dari Selatan Jakarta milik WSTCC bakal diputar. Saya membayangkan lagu-lagu indie tersebut sepertinya dianggap paling cocok untuk diputar saat hujan di malam hari.

Alih-alih begitu, justru lagu Korea yang diputar bersamaan dengan pesanan saya yang datang. Suara riuh sebagian pengunjung perempuan yang saya tengarai milenial penikmat KPOP pun langsung menyeruak seantero ruangan. Mereka begitu antusias mengikuti, lebih-lebih kala itu idola mereka. Sudah barang tentu, tak banyak lagu yang saya tahu. Beruntung saya terbiasa fokus baca di tengah gemuruh keramaian. Dengan santai saya menikmati halaman demi halaman bacaan tersebut, tanpa perlu menyumpal telinga.

Fokus baca saya pun mulai runtuh, kala mata terhenti pada satu kata. Seolah menyilakan indera pendengaran menyimak lagu tersebut, otak saya justru mulai mencerna lagu yang sepintas terdengar familier. Apalagi kini hampir semua pengunjung tampak mengenali lagu itu. Meski dengan suara lirih dan terbata, mereka tampak tepat melafalkan penggalan lirik lagu tersebut sesuai ritme musiknya. Tak kunjung ingat judul apalagi artisnya, membuat saya akhirnya gegas membuka Shazam. Dengan tepat, aplikasi pendeteksi lagu itu memunculkan jawabannya: Solo – Jennie (BLACKPINK).

Jennie BLACKPINK dengan Lagu SOLO

Rasanya lagu tersebut sangat adiktif, hingga merasuk ke benak orang yang bukan penggemar KPOP sekalipun. Saya jadi teringat, jika beberapa waktu terakhir orang-orang di kantor nyaris spontan menyanyikan lagu tersebut walau sepenggal-sepenggal. Bahkan, penjual nasi goreng depan rumah yang hampir tak tahu KPOP itu apa, turut menyanyikan bagian chorus-nya. Perlahan tapi pasti, kafe-kafe pun turut teracuni hingga memutar lagu tersebut tanpa pandang bulu suasana hati dan situasi.

I’m going solo lo lo lo lo lo

Kalimat tersebut rasanya terus menggema di telinga, kendati lagu telah berganti. Menariknya, sayup-sayup kata Solo justru mengajak saya bermemorabilia dengan Surakarta, Solo versi Indonesia beberapa waktu sebelumnya.

Menyambut Pagi di Pasar Gede

Tukang becak berlalu-lalang di depan Pasar Gedhe

Kereta yang melaju dari Malang akhirnya melambat dan berhenti tepat waktu di Stasiun Balapan Solo. Terlihat dari jendela beberapa penumpang yang menghambur keluar dengan tergesa. Ada yang semringah lantaran seperti kembali berjumpa dengan orang yang lama tak dilihatnya. Adapula yang gegas keluar sekadar menemukan toilet yang ‘layak’ disinggahi.

Sementara pelana kembali menyuarakan instruksi, saya justru berjalan keluar dengan langkah tak pasti, sebelum akhirnya kereta melanjutkan perjalanan kembali. Boleh dibilang kedatangan saya ke Solo kali ini spontan tanpa persiapan. Pesan tiket malam, sore esoknya langsung berangkat.

Saking tak terencananya, sebagian orang yang saya jumpai di kereta dan sempat mengobrol sejenak sampai bertanya, “Ada apa di Solo?”

Jika bukan karena kebaikan hati Halim, barangkali saya sudah jadi jembel di stasiun malam itu. Halim menyilakan saya bermalam di rumahnya yang tak jauh dari Pasar Gede. Di pasar yang usianya hampir seabad itu pula kenangan akan Solo mulai terbuat. Bangun di pagi hari, Halim langsung mengajak saya menyusuri sisi legendaris lain dari Pasar Gede selain fasad bangunan dan langgam arsitekturnya. Apa lagi kalau bukan kulinernya.

Dari nasi liwet lintas generasi, dawet telasih yang usianya sama tuanya dengan Pasar Gede, hingga jajanan zadul yang masih lestari dan hanya bisa ditemukan di dalam pasar yang dibangun sejak era kompeni ini, hadir menyambut pagi. Dengan ragam aroma yang tercium bergantian, sarapan pagi di Kota Solo saya tutup dengan sepincuk Cabuk Rambak, Brambang Asem, dan Lenjongan.

Beranjak dari Pasar Gede, saya berpamitan dengan Halim untuk check-in lebih dulu ke hotel di Solo, sebelum melanjutkan pelesiran ke beragam destinasi jamak di Solo. Benteng Vastenburg jadi jujukan kedua saya. Ada banyak sekali perbaikan yang tampak dari benteng yang dibangun Belanda pada medio abad ke-18 Itu. Yang jelas kondisinya lebih terawat, nihil vandalisme dan laik dijadikan spot berfoto dibandingkan sejak kali terakhir saya mengunjunginya.

Matahari yang kian meninggi, membuat saya lekas berpindah. Saya cukup menikmati kelana kali ini. Menyusuri trotoar berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, membuat saya merasa sepadan dengan turis asing yang lalu lalang. Perasaan saya semakin riang, karena Halim akhirnya bisa kembali menyusul, setelah membereskan urusan pribadinya. Ia pun menggiring saya ke keraton. Tepatnya, lebih dari satu keraton.

Langgam Klasik Keraton Surakarta

“Kalau ada acara, keraton-keraton ini akan dibuka, pengunjung bisa melihat ke dalam juga,” ungkap Halim di sela kunjungan kami di Keraton Kasunanan Surakarta. Kompleks yang kentara dengan langgam arsitektur Jawa berbalut warna serba biru muda itu pun tampak ramai dikunjungi wisatawan yang hilir mudik dari berbagai kota. “Setidaknya kita bisa masuk dan melihat langsung Panggung Songgo Buwono,” sambungnya sambil menunjuk menara setinggi 30 meter berbentuk segi delapan.

Diingat-ingat beberapa kali berkunjung ke sana, saya memang belum berkesempatan barang sekalipun melihat dari dekat menara yang berada di utara pelataran Keraton Surakarta itu. Namun, gagal masuk ke dalam Keraton Surakarta, kejutan justru menyambut kami saat tiba di Keraton Mangkunegaran.

Puluhan atau mungkin ratusan payung ditata sedemikian rupa, hingga membentang lurus ke pelataran keraton. Payung dengan beragam ukuran dan hiasan itu sontak menyedot pengunjung yang ingin berswafoto. Dari kejauhan pertunjukan tampak digelar di pendapa Keraton Mangkunegaran. Dari lokasi yang sama, gending tembang Jawa beralun suara gamelan seolah memikat saya untuk mendekat. Lentik jemari para penari pada akhirnya membuat saya memilih duduk menikmati pertunjukan secara hikmat.

Masih di Mangkunegaran, saya kemudian tersenyum sendiri saat mengingat bagian ibu-ibu yang menawar salah satu produk pameran di Keraton Mangkunegaran. Sebuah kain bermotif indah buatan tangan yang ditawar dengan harga grosiran bak batik di Pasar Klewer oleh salah seorang pengunjung. Ingatan jenaka tersebut lantas berangsur menjadi memori kekaguman pada Laweyan.

Terpikat Seribu Pintu di Laweyan

Masyhur sebagai Kampung Batik bersama Kauman, Laweyan rupanya tak sekadar surga bagi penikmat batik berkualitas asal Solo. Lewat susur sore yang menyulut penasaran, Halim justru menunjukkan sisa-sisa pintu bersejarah di pemukiman lawas yang telah dibangun sejak 1912 ini. Tak kurang dari 70 plakat butik batik saya jumpai di sepanjang jalan yang membentang di Laweyan. Sesekali kami berpapasan dengan turis asing yang tampak tercekat dengan rumah-rumah lawas di sana.

Jalan makin sepi, jalan beraspal yang kami lalui, kini berubah menjadi jalan setapak. Tanpa banyak penjelasan, Halim mulai menyilakan saya mengamati satu per satu pintu pada beberapa rumah yang tampak tak berpenghuni. Warna yang beragam, hingga desain pintu berjalusi yang mulai ditinggalkan di era sekarang, membuat saya akhirnya paham.

Laweyan berbeda dengan ‘kampung warna’ yang mendadak tenar karena warnanya yang menyolok mata. Cat yang mulai memudar, seakan menegaskan jika Laweyan adalah warisan sejarah. Sisa warna pada setiap pintu jalusi, bahkan hampir jauh dari kesan norak. Paduan warnanya justru begitu presisi seolah pengecatnya adalah pelaku seni. Sungguh, saya terkagum-kagum sendiri dengan pintu-pintu ciamik di Laweyan.

Tak lama setelah itu, Halim mengajak saya berkunjung ke salah satu rumah lawas warga. Sekilas tak ada yang istimewa dari rumah tersebut, selain pintu gerbang warna merah darah yang dilengkapi butulan. Rupanya, rumah tersebut salah satu hunian kuno yang masih mempertahankan bungkernya. Pemilik bahkan menyilakan kami merasakan pengalaman, bagaimana bernapas langsung dalam lubang persembunyian bawah tanah itu.

Terlalu lama berkontemplasi, membuat minuman yang saya pesan sampai dingin. Beberapa seruput kopi dan rintik hujan yang belum juga berhenti, memantik kembali memori. Sambil menyandarkan badan, pikiran seolah terhanyut lagi ke sisa kenangan di Solo. Memori saya lantas mengembara ke bagian ‘jumpa’ dengan Susi Pudjiastuti juga Gesang.

Berjumpa Susi dan Gesang

Sepanjang perjalanan balik, Halim mengajak saya melewati jalan Gatot Subroto Solo. Saya tak pernah menyangka, jika di koridor inilah mural yang viral di Solo belakangan berlokasi. Sontak saya langsung terkesiap saat melihat mural Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia ke-6, Susi Pudjiastuti dalam wujud Wonder Women. Momen itu pun kian melengkapi perburuan mural saya di Solo, usai tak sengaja menemukan mural Gesang di sekitar Pasar Triwindu. Sayang, kami tak sempat membesuk ke makam pun rumah maestro Bengawan Solo tersebut.

Syahdan, sorak sorai pengunjung kafe seketika membuyarkan tafakur. Lamat-lamat saya mulai bisa menebak kenapa suara yang menghentak tersebut melepas serentak. Barangkali playlist yang diatur sudah habis, sampai membuat lagu pertama terputar kembali. Sama seperti sedia kala, satu per satu orang melafalkan penggalan chorus-nya baik sengaja maupun spontan. Tiba pada bagian coda, saya tersenyum sendiri.

Bagaimana bisa sebuah lagu berbahasa Korea, justru membawa saya berkontemplasi ke Surakarta?

Paling tidak, kenangan tersebut jadi alasan tersendiri untuk bilang: Solo, biarkan aku kembali.

Apalagi, liburan ke Solo boleh dibilang amat terjangkau. Bukan saja destinasi wisata dan kulinernya, Solo juga banyak menghadirkan penginapan murah, seperti jaringan OYO Hotel Indonesia. Jaringan hotel terbesar tersebut memang menyediakan 1000 lebih hotel yang tersebar di 100 kota di Indonesia, termasuk Solo #PastiAdaOYO. Jadi, tak ada alasan untuk bosan balik liburan ke Solo, kan?

Sehari di Taman Safari


Deru mobil yang melaju pagi itu mewujudkan rencana tak spontan semalam sebelumnya. Perbincangan ringan dengan topik ala kadarnya rupanya bermuara pada pertanyaan satu orang. “Besok libur, enggak ada rencana main ke mana gitu?” Tutur Yudith.

Lanjutkan membaca Sehari di Taman Safari

Bukan Outing yang Gitu-Gitu Aja


Rasanya saya masih tak percaya bisa duduk dalam mini bus yang melaju sedang pagi itu. Tak hanya diam menikmati jalan, tetapi ikut nimbrung menimpali setiap obrolan. Padahal, beberapa waktu sebelumnya saya sempat ragu hendak ikut atau merelakan uang yang telanjur keluar untuk iuran.

Lanjutkan membaca Bukan Outing yang Gitu-Gitu Aja

Bandung, Bandros dan Batagor


Gedung Sate Kota Bandung

Sudah di depan Gedung Sate saja. Padahal kemarin cuma iseng doang.

Rasanya batin berdialog sendiri kala menatapi kantor Gubernur Jawa Barat itu. Kedatangan saya ke Bandung kali ini sangatlah berbeda dengan sebelumnya. Tak lagi seorang diri, juga tidak sejembel biasanya.

Lanjutkan membaca Bandung, Bandros dan Batagor