Drama Charger di Bangkok


Tuktuk di kawasan pecinan Bangkok, Thailand

It’s like not legit traveling without getting a drama, but damn tonight’s drama is not cool!

Gerutu tersebut terus berulang, seakan merutuk kebodohan diri yang tiada habis-habisnya. Padahal sejak awal, saya begitu tenang melenggang keluar rumah menuju bandara.

Tak ada sedikit pun gelisah, seolah semua sudah disiapkan secara sempurna. Apalagi sejak awal tiba di Suvarnabhumi saya melangkah dengan yakin dan santai, lantaran ini juga bukan ke Thailand untuk pertama kali.

Sebelum melenggang keliling beragam lokasi, saya ke hotel dulu menaruk barang sekalian check in karena tiba di Bangkok siang hari. Melihat simbol baterai pada ponsel yang berwarna merah, saya putuskan untuk mengisi daya terlebih dulu.

Dengan tenang, charger tinggal saya colokkan tanpa lagi kaget, “loh kok bentuknya beda?” Terlalu ceroboh kalau sudah beberapa kali berkunjung, tetapi tak mengantisipasi hal-hal kecil semacam ini.

Begitu juga saat mengecek kamera yang ternyata dayanya tinggal separuh, tenang saya ambil adaptor untuk menyambungkan charger. Dengan persiapan yang memadai saya pun optimis bisa menjalani pelesiran mandiri kali ini.

Siang berlalu, beberapa tempat berhasil saya kunjungi sesuai itinerary sejak hari pertama. Dari nostalgia ke Wat Pho, Grand Palace, dan Wat Arun hingga kulineran di beberapa pasar tradisional, semua berjalan lancar. Hingga sore di hari kedua, kartu memori pada kamera yang penuh akhirnya memaksa saya mengeluarkan laptop untuk memindah foto.

Andai bukan karena ada urusan pekerjaan, niscaya saya enggan bopong laptop ke luar negeri. Meski baterai pada laptop masih penuh saat saya hidupkan, entah kenapa saya tiba-tiba tertarik merogoh charger dalam tas.

Satu per satu item kabel saya keluarkan. Perasaan pun mulai tidak tenang. Semua barang dalam tas kini mulai saya tumpahkan di atas kasur hotel. Panik pun mulai menggelayut, sampai tas saya jungkir berulang kali demi memastikan kabel yang saya bawa bukan saja charger tustel dan ponsel.

Buru-buru saya langsung mematikan laptop, setelah tahu charger laptop tak ketemu. Sebab, kebutuhan utama menggunakan laptop justru Sabtu dan Minggu. Tujuan membawa laptop pun, agar semua agenda dan urusan di Thailand bisa saya bereskan sembari liburan.

Sayang drama tersebut seketika membuat saya cemas bukan kepalang. Dengan laptop yang sanggup bertahan 9 jam, rasanya saya hanya bisa menggunakannya untuk sehari. Cukup merepotkan jika harus mencari warnet dadakan di luar negeri, terlebih banyak file penting sudah saya siapkan di laptop. Bakal terasa percuma jika laptop saya akhirnya tak bisa digunakan sesuai rencana.

Beruntungnya, setelah berupaya berkoordinasi dengan tim di Indonesia, pekerjaan saya pun dapat di-back-up. Meski saya bisa melanjutkan liburan sesuai jadwal, tetapi setumpuk pekerjaan harus siap saya libas sepulang dari Thailand.


Moral value: jangan gampang yakin dan tenang sebelum benar-benar memastikan persiapan jalan-jalan secara maksimal. Terutama dengan perintilan kecil dan berwarna serupa seperti charger.

Jazz Gunung Bromo Membosankan?


Jazz Gunung Bromo Membosankan?
Jazz Gunung Bromo 2019 © Iwan Tantomi

Gersangnya pemandangan di sepanjang tol Pasuruan-Probolinggo sempat membuat saya bosan. Apalagi siang itu sangat terik. Beruntung, jalan sangat lengang. Kendaraan baru terlihat agak padat saat keluar dari tol menuju Sukapura, Probolinggo. Perbaikan jalan di beberapa titik sempat membuat kendaraan kami harus berhenti beberapa kali, tetapi tak mengurangi target waktu kami tiba di lokasi Jazz Gunung Bromo 2019.

Tepat jam 14.30 WIB, kami tiba di Java Banana Bromo Lodge, lokasi Jazz Gunung Bromo biasa dilangsungkan. Sekitar 2 jam 15 menit kira-kira kami berangkat dari Malang, keberadaan tol benar-benar terbukti menyingkat waktu perjalanan. Setelah memvalidasi tiket, saya sempatkan mengenyangkan perut sembari menunggu para penampil gladi resik.

Meski baru bisa datang pada hari terakhir, tetapi saya cukup antusias menikmatinya. Bukan saja banyak penampil idola yang saya tunggu aksi panggungnya, tetapi bisa datang ke Jazz Gunung Bromo secara cuma-cuma dari kantor adalah momen langka.

Saya tak perlu liputan, pertama. Kedua, saya tak perlu sibuk mengetik berita dari ponsel untuk dikirimkan ke redaksi saat acara tengah berlangsung. Ketiga, saya bisa duduk dan bersantai menikmati Jazz Gunung Bromo laiknya para penonton untuk pertama kalinya. Itulah kenapa Jazz Gunung Bromo 2019 ini begitu terasa istimewa buat saya.

Namun, di tengah menikmati penampilan Tristan dan Nita Aartsen, justru ada beberapa orang yang sibuk sendiri bermain gawainya. Bermain game lewat tablet saat Sierra Soetedjo menyanyikan Especially For You, bisa dimaklumilah bagi anak-anak, karena besar kemungkinan mereka tak tahu. Akan tetapi, melihat tayangan Korea [ada ponsel saat Sierra Soetedjo menembangkan The Only One secara live di Jazz Gunung Bromo bagi anak seusia kuliah, tentu menimbulkan pertanyaan.

Sebegitu membosankan-nyakah acara Jazz Gunung Bromo ini?

Sebetulnya, saya ingin mengabaikan ‘pemandangan’ tersebut. Namun, apa daya, pria tersebut duduk tepat di bawah saya. Sementara set duduk amfiteater yang bertingkat mengharuskan saya melihat ke bawah, sehingga setiap kali memusatkan pandangan ke arah panggung Jazz Gunung Bromo, apa yang ditonton orang di bawah saya tentu otomatis akan terlihat.

Beruntung saat giliran Ring of Fire feat Didi Kempot, pria tersebut tak lagi bermain ponsel. Beragam lagu-lagu legendaris Didi Kempot yang diaransemen ulang versi Jazz oleh Djaduk Ferianto bisa saya nikmati dengan jelas. Bahkan, suasana kian hangat di tengah hawa dingin pegunungan yang mulai merasuk, kala Djaduk dan Didi mengajak penonton berdiri untuk bernyanyi bersama lagu-lagu legendaris, seperti Sewu Kutho, Stasiun Balapan, Cidro, dan Banyu Langit.

Sayang pemandangan yang cukup mengganggu tadi kembali terulang saat giliran Candra Darusman Project menghentak panggung Jazz Gunung Bromo, dengan maha karya instrumen-instrumen musik jazznya. Tak berselang lama, pria tersebut akhirnya keluar. Namun, bukan itu yang bikin saya kali ini bertanya-tanya, melainkan beberapa penonton Jazz Gunung Bromo yang beranjak pergi justru saat Barry Likumahuwa menunjukkan aksi keren bermain bass.

Sebegitu membosankan-nyakah acara Jazz Gunung Bromo ini?

Mereka justru berduyun-duyun pergi, meninggalkan amfiteater, kala para musisi jazz sedang unjuk gigi. Ironis memang, terlebih acara ini jelas berlabel Jazz Gunung Bromo. Terlepas dari apa yang mereka cari, saya cukup salut dengan para penonton yang masih bertahan sampai akhir acara.

Pada akhirnya, ungkapan: tak semua orang bisa menikmati musik jazz, itu pun memang benar adanya. Dan, spesial buat para penggemar musik jazz sejati, saya luangkan membuat sebuah video singkat, walau teramat sederhana dari keseruan Jazz Gunung Bromo 2019. Barangkali bisa memotivasi diri untuk melihat langsung keseruan Jazz Gunung Bromo suatu hari nanti. 🙂

Sale Datang, THR Pulang


Lega tiba sesudah 50 menit melalui tol Malang-Surabaya yang baru buka, binar lampu gedung pencakar langit di Kota Pahlawan kini justu membuat saya deg-degan. Baru siang tadi THR dibagikan, tetapi malam ini justru siap dihamburkan.

Lanjutkan membaca Sale Datang, THR Pulang

Sehari di Taman Safari


Deru mobil yang melaju pagi itu mewujudkan rencana tak spontan semalam sebelumnya. Perbincangan ringan dengan topik ala kadarnya rupanya bermuara pada pertanyaan satu orang. “Besok libur, enggak ada rencana main ke mana gitu?” Tutur Yudith.

Lanjutkan membaca Sehari di Taman Safari