DEMI HONNE


Antrean ke dalam venue HONNE © Iwan Tantomi
Antrean ke dalam venue HONNE © Iwan Tantomi

Honne belakangan ini sangat populer berkat lagu-lagunya yang hits. Termasuk salah satunya, Location Unknown yang mendadak viral gara-gara dinyanyikan sepenggal chorus-nya oleh anak selebritis Tanah Air, Gading Marten dan Gisella Anastasia, Gempita Nora Marten alias Gempi.

Namun, bukan karena Gempi saya ikut-ikutan suka Honne. Justru, saya tahu Honne setelah ramai di pemberitaan media, karena berkolaborasi dengan RM BTS dalam lagu Crying Over You. Kebetulan lagu tersebut enak didengar, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mendengarkan lagu-lagu Honne lainnya.

Berkat popularitas yang makin menanjak, duo beranggotakan James Hatcher dan Andy Clutterbuck ini pun serius menyapa para penggemarnya lewat Love Me/Love Me Not Tour 2019 di Asia, termasuk Indonesia, khususnya Jakarta, tempat lagu Honne pertama kali viral nasional.

Hal yang nggak terduga, Honne ternyata justru menjadikan Surabaya sebagai konser pembuka mereka di Indonesia. Tahu kabar tersebut, euforia pun langsung menyergap ke telinga, dengan cepat saya coba cek penjualan tiketnya. Sayang tiket justru preorder sold out terlalu cepat, hingga menyisakan regular ticket dan reselling ticket yang harganya bikin mikir dua kali.

Dapat Rezeki Tak Terduga

Mendadak Datang ke Konser Honne © Iwan Tantomi
Mendadak Datang ke Konser Honne © Iwan Tantomi

Animo nonton konser Honne sempat meredup karena hingga H-1 tiket pun nggak kunjung dapat. Sempat berpikir ya, sudahlah, mungkin belum rezeki’, tapi di luar dugaan Tuhan justru memberi rezeki yang nggak terduga.

Bak tiada angin tiada hujan, salah seorang kawan tiba-tiba menawari tiket Honne lewat sebuah pesan WhatsApp.

“Tom, mau nonton Honne kah besok? Ayo berangkat sama aku,” Ayu, mengirim pesan tersebut.

Tanpa basa-basi tentu saja saya mau. Bahkan, jika diminta liputan misalnya, akan saya lakukan sebagai balas budi. Nyatanya tiket tersebut diberikan cuma-cuma.

Mendadak Hangout ke Surabaya

Pas hari H, saya akhirnya berangkat ke Surabaya, mengendarai mobil Niko. Kami berangkat berlima, dua di antaranya liputan sebagai media, termasuk Ayu.

Tiket yang kami dapat ini termasuk undangan untuk media, jadi kami harus berangkat lebih awal untuk menukarkannya di ticket box sekitar venue. Karena Honne baru memulai konsernya jam 8.30 malam, sementara kami harus menukar tiketnya siang, maka kami putuskan sekalian hangout di Surabaya.

Hampir Kena Tilang

Setelah berhasil mendapatkan wristband, kami putuskan pergi ke Tunjungan Plaza (TP) sekadar mencari makan dan mencari kesejukan, lantaran cuaca Surabaya siang itu sangat terik.

Kami bergantian menyetir, dan sangat berhati-hati memperhatikan petunjuk jalan. Naas, Google Map yang kami andalkan justru membuat mobil yang kami kendarai harus diberhentikan oleh polisi secara tiba-tiba saat hendak putar balik.

Kami dinilai melanggar marka jalan. Kami berusaha tenang, walau teman yang kebetulan dapat jatah menyetir dirundu sedikit kecemasan. Apalagi setelah cek dompet, ternyata SIM-nya ketinggalan.

Namun, dengan tenang salah dua dari kami turun. Jurus sakti pun dikeluarkan. ID PERS yang selalu kami bawa ke mana-mana, jadi barang bukti jika kami memang hendak liputan. Sebagai bukti penguat, kami pun menunjukkan surat tugas lengkap dengan tiket undangan media.

Terlebih surat kendaraan lengkap dan yang lain masih bawa SIM. Kami hanya berkelit bukan warga asli Surabaya, dan hanya bergantian menyetir biar nggak lelah di jalan. Hasilnya, kami lolos dari tilang.

Sempat Nggak Dapat Tempat Parkir di TP

Setibanya di TP, masalah nggak lantas usai. Berputar melingkar menelusuri tempat parkir dari lantai bawah ke atas, hampir nggak ada yang kosong. Tahu-tahu bablas sampai ke rute keluar mal. Belum juga parkir, kami pun terpaksa harus bayar dulu.

Setelah bertanya ke petugas, di TP2 ada tempat kosong. Kami pun balik menuju ke sana. Sempat ada drama rebutan tempat parkir dengan kendaraan lain. Namun, seorang petugas dengan baik hati, memberi kami tempat baru yang sebelumnya ditutup buat parkir. Walhasil, kami jadi dapat tempat parkir yang strategis dan dekat pintu mal.

Quality Time Bareng Kawan

Rentetan kejadian nggak terduga ini sempat bikin kami kesal, tapi di satu sisi juga jadi lelucon sepanjang hari. Di TP kami menghabiskan waktu untuk makan bersama, belanja, ngemil, hingga berlama-lama dengan canda dan tawa.

Tanpa sadar, momen tersebut jadi ajang quality time bareng kawan. Meski sekantor dan juga kerap main bareng, belakangan kami cukup sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai-sampai jarang banget bisa mengobrol bareng.

Siapa sangka, konser Honne justru jadi momen buat kami untuk kembali bercengkerama sebagai kawan seutuhnya, bukan rekan kerja apalagi mutual dunia maya.

Jamming di Konser Honne Sampai Puas

Setelah menunggu cukup lama, antrean yang membanjiri halaman hingga jalan di sekitar Jatim International Expo, pintu venue akhirnya dibuka sejam sebelum konser dimulai.

Sebelum ke venue kami sempat kesulitan mencari parkir mobil selepas dari TP. Hingga akhirnya menemukan lapangan belantara yang disulap jadi tempat parkir dadakan oleh warga sekitar. Beruntung jarak dengan venue nggak begitu jauh.

Begitu masuk ke dalam venue, di antara kami ada yang sempat membeli official merchandise, sayang packaging dan servisnya kurang bagus. Sama halnya dengan panggung yang kurang tinggi, sehingga membuat kami yang punya tinggi badan di bawah 170cm serta harus berada di belakang sendiri, hanya bisa menatap kepala Honne atau justru bahu penonton di depan.

Sementara seperti diketahui, tiket konser Honne di Surabaya semuanya berkategori festival. Namun, terlepas itu semua, kami menikmati konser malam itu. Merilis stres dengan singalong dari awal sampai akhir. Sesekali juga jamming mengikuti ritme lagu.

Bagaimanapun ada banyak hal yang harus kami lalui demi Honne. Daripada disesali, toh mending dibikin happy. Kapan lagi bisa lihat Honne di daerah sendiri, gratis lagi. 🙂

Wahai Sendu, Kuharap Kau Lalu


seorang tampak sendu menyendiri di rumah sakit, pemandangan serupa yang saya alami saat ini

Pagi ini ada rasa yang begitu melekat. Saking tak enaknya, hati seolah dirundung sendu. Entah apa penyebabnya, yang jelas begitu tak nyaman rasanya.

Coba tetap optimis jalani hari, dengan membuka rutinitas seperti biasa. Apalagi ini Jumat, saya coba perbanyak doa, barangkali bisa menentramkan jiwa yang sedang gundah gulana.

Namun, simpul senyum seolah tak mengembang sedikit pun. Coba jauhkan rasa curiga, lagi-lagi saya berpikir, “Ah, ini hanya perasaanku saja, semoga tak terjadi apa-apa.”

Saya percaya prasangka baik akan berakhir dengan baik. Alih-alih bebas dari jerat sendu, saya coba tetap ceria seperti biasa dengan tawa palsu. Segala informasi yang saya baca lewat ponsel pun nyaris positif semua, hingga segalanya terasa buyar saat telepon datang jam 4 sore.

Tawa saya kini meredup. Sendu yang seolah terpendam, sekarang makin memuncak bak magma yang siap keluar dari puncak gunung berapi. Emosi mulai bercampur aduk usai telepon saya akhiri.

Berita dari sepupu yang tiba-tiba itu, membuat tubuh saya gemetar. Saya tak lagi fokus bekerja. Layar monitor yang saya pandang kini mulai buram. Sungguh, saat itu perasaan saya benar-benar tak nyaman.

Puncaknya, saya tak dapat menahan lagi emosi, setelah atasan mengizinkan saya pulang lebih dulu. Air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk mata, akhirnya berlinang juga.

Sembari berderai air mata, saya lari sejadi-jadinya, menaiki bus yang bisa membawa saya ke Surabaya secepatnya. Kabar ayah masuk UGD karena muntah darah, sungguh membuat saya khawatir bukan kepalang. Sepanjang perjalanan saya hanya menangis bak perawan diputus pacar.

Entahlah, kenapa hal itu bisa terjadi pada saya. Namun, di benak saya berkecamuk hal terburuk yang harus saya hadapi. Apalagi saat di rumah sakit, ayah belum siuman, dengan selang yang dimasukkan hidung serta beberapa jarum infus dan tranfusi darah yang menancap di tangan.

Pemandangan pilu itu begitu menyayat hati. Saya hanya terisak tanpa suara. Memohon doa agar masih diberi kesempatan bercengkerama bersamanya. Alhamdulillah, pejaman mata yang saya nanti akhirnya saya temui. Ayah saya siuman dan pelukan erat pun tak bisa saya hindari.

Sungguh, hari itu Tuhan benar-benar membolak-balikkan perasaan saya. Namun, hal terbesar yang saya syukuri Ia masih mengizinkan saya bersamanya. Meski kelabu di kalbu masih belum lenyap sepenuhnya, “Wahai sendu, kuharap kau berlalu.”

Mungkin Saya Harus Bilang…


Delapan tahun bukan waktu yang sedikit, tapi juga bukan waktu yang lama buat blogging. Dari yang awalnya sekadar tempat pelampiasan tugas sekolah, ‘tong’ mengisi makalah kuliah, tempat curhatan yang entah isinya apa saja, hingga harus saya reset ulang menjadi blog berisi tulisan perjalanan.

Lanjutkan membaca Mungkin Saya Harus Bilang…

Braga Punya Cerita


“Ka Bandung mah belum lengkap kalau belum ka Braga(k),” ungkap Lilis, pemandu gelis yang mendampingi kami berkeliling Bandung menggunakan Bus Bandros.

Lanjutkan membaca Braga Punya Cerita

Bandung, Bandros dan Batagor


Gedung Sate Kota Bandung

Sudah di depan Gedung Sate saja. Padahal kemarin cuma iseng doang.

Rasanya batin berdialog sendiri kala menatapi kantor Gubernur Jawa Barat itu. Kedatangan saya ke Bandung kali ini sangatlah berbeda dengan sebelumnya. Tak lagi seorang diri, juga tidak sejembel biasanya.

Lanjutkan membaca Bandung, Bandros dan Batagor