Lalapan Murah dan Enak dengan Porsi Jumbo di Malang, Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Pilihan Pas Obati Lapar di Malam Hari


Lalapan Murah dan Enak dengan Porsi Jumbo di Malang, Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Pilihan Pas Obati Lapar di Malam Hari
Lalapan Murah dan Enak dengan Porsi Jumbo di Malang, Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Pilihan Pas Obati Lapar di Malam Hari

Lalapan murah, enak dengan porsi nasi yang banyak di Malang sepertinya masih jadi idola. Bukan saja di kalangan mahasiswa, tetapi juga di kalangan anak-anak muda, atau orang-orang yang gemar kulineran di malam hari.

Kriteria ini pun bisa kamu temukan di Warung Gaul depan Plaza Elektronik Blimbing Kota Malang yang hanya buka di malam hari.

Warung Gaul Berupa Warung Tenda Merah Samping Jalan A Yani Blimbing Malang

Warung Gaul ini berupa warung tenda merah yang berdiri samping jalan A Yani Blimbing Kota Malang.

Bentuknya kecil dan sangat sederhana, tetapi kamu bisa makan sambil selonjoran di depan teras Plaza Elektronik Blimbing Kota Malamg setelah tutup di malam hari.

Makanan Favorit Warung Gaul adalah Pete Goreng dan Lele Goreng Sambal Terasi

Lalapan Murah dan Enak dengan Porsi Jumbo di Malang, Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Pilihan Pas Obati Lapar di Malam Hari
Lalapan Murah dan Enak dengan Porsi Jumbo di Malang, Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Pilihan Pas Obati Lapar di Malam Hari

Warung Gaul hanya menjual lalapan alias lauk pauk yang digoreng dan dimakan dengan sambal terasi pedas. Atau, di Jakarta makanan semacam ini biasa disebut Pecel Lele, Ayam, dst, dan disajikan dengan sayuran segar, seperti kubis/kol, irisan timun dan kemangi—yang kemudian disebut sebagai lalapan, dan di Malang nama Lalapan justru menjadi nama sajian utamanya.

Ada banyak lauk yang dijual di Warung Gaul ini. Dari ayam, jerohan, tahu, tempe, mujaer dan lele. Potongan dan ukuran lauknya juga relatif jumbo, dibandingkan beberapa warung lainnya.

Paling favorit adalah lele gorengnya. Makin mantap jika dimakan dengan pete goreng. Sementara untuk sambalnya adalah sambal terasi, yang bisa kamu rikues sesuai tingkat kepedasan. Namun, sambal standarnya tak begitu pedas, jadi masih bisa dinikmati.

Porsi Nasinya Jumbo alias Banyak Banget

Lalapan Murah dan Enak dengan Porsi Jumbo di Malang, Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Pilihan Pas Obati Lapar di Malam Hari
Lalapan Murah dan Enak dengan Porsi Jumbo di Malang, Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Pilihan Pas Obati Lapar di Malam Hari

Selain lauk yang beragam, yang bikin favorit dari Warung Gaul adalah porsi nasinya yang banyak banget alias jumbo. Benar-benar cocok buat kamu yang belum makan seharian atau sangat lapar.

Pernah tanya, apa tak rugi jika menyajikan nasi banyak banget. Jawaban ibunya pun cukup bikin salut.

Rata-rata yang beli di Warung Gaul adalah orang-orang yang habis pulang kerja malam, atau anak-anak muda yang ngekos, merantau dan tak punya banyak uang. Mereka pasti lapar, apalagi ada yang bilang hanya makan sehari sekali, itupun menunggu warung ini buka dulu. Itulah kenapa akhirnya nasinya saya kasih banyak. Saya senang melihat pelanggan saya kenyang dan bahagia setelah makan di sini.

Ibu Penjual Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Kota Malang

Harganya Cocok Buat Kantong Anak Kosan

Meski porsi nasinya banyak banget dan ukuran lauknya relatif besar, nyatanya harga seporsi makanan di Warung Gaul relatif murah dan cocok dengan kantong anak kosan.

Seporsi nasi, lele goreng plus tempe, teh manis dan sepiring pete goreng sekitar 17k saja. Keramahan penjualnya membuat saya tak ragu berlangganan dan beli banyak lauk saat makan di Warung Gaul.

Warung Gaul Buka Malam Hari, Tutup Hari Minggu dan Bisa GoFood

Lalapan Murah dan Enak dengan Porsi Jumbo di Malang, Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Pilihan Pas Obati Lapar di Malam Hari
Lalapan Murah dan Enak dengan Porsi Jumbo di Malang, Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Pilihan Pas Obati Lapar di Malam Hari

Warung Gaul buka setiap hari di malam hari, sekitar jam 7 malam hingga habis. Paling nyaman makan di atas jam 9 malam, karena Plaza Elektronik Blimbing sudah tutup jadi bisa sambil selonjoran di atas tikar yang digelar di depannya.

Warung Gaul hanya tutup hari minggu dan bisa order online via GoFood semisal tak sempat datang langsung ke sana. Kalau makan di tempat hanya menerima pembayaran tunai, jadi jangan lupa bawa uang tunai, dengan pecahan kecil kalau bisa.

Gimana tertarik mencoba pete goreng dan lele goreng dengan sambal terasi pedas di Warung Gaul Depan Plaza Elektronik Blimbing Kota Malang?

HAMUR Dieng Tempat Nyaman Buat Nongkrong Sambil Jajan


HAMUR Dieng bagian luar
HAMUR Dieng bagian luar

HAMUR Dieng hampir selalu saya jadikan tujuan untuk nongkrong sambil jajan, setiap kali ada teman dari luar Malang yang ingin mengajak ketemuan.

Biasanya memang teman-teman dekat saja, yang mengajak saya ke HAMUR Dieng. Selain tempatnya nyaman, di sana saya bisa berlama-lama untuk cerita, mengerjakan projek tertentu, hingga sekadar bercanda gurau.

HAMUR Dieng bagian dalam
HAMUR Dieng bagian dalam

Terlebih lokasi HAMUR Dieng yang jauh dari jalan raya, membuat suasana di sana terasa tenang. Siapapun yang ke sana bisa bicara dengan tenang, tanpa terganggu kebisingan jalan.

Selain itu, HAMUR Dieng bukanya mulai jam 3 sore sampai 12 malam, sehingga cocok dijadikan pilihan berkumpul dengan kawan-kawan selepas beraktivitas, seperti kerja. WiFinya yang cukup kencang juga cocok dijadikan pilihan mengerjakan tugas, termasuk mahasiswa.

HAMUR Dieng bagian dalam
HAMUR Dieng bagian dalam

Di HAMUR Dieng, tempatnya terbagi outdoor dan semi indoor. Keduanya cocok dijadikan tempat berfoto juga. Lebih-lebih saat malam hari, karena ada pohon besar yang dihias dengan lampu-lampu bohlam, sehingga menambah kesan menarik, sekaligus romantis buat kamu yang ingin kencan misalnya.

Di samping tempat, yang bikin saya betah berlama-lama untuk nongkrong di HAMUR Dieng adalah jajannya yang enak-enak. Nggak ada makanan berat, adanya camilan seperti lumpiah, donat, risol, kentang goreng, pisang nugget, kue sus, hingga tahu sambel kecap.

Lumpia HAMUR Dieng
Lumpia HAMUR Dieng

Semua camilan tersebut handmade, jadi selalu fresh dan lezat buat dicoba. Masing-masing camilan dijual mulai Rp17 ribu saja di HAMUR Dieng.

Sementara, untuk minuman, HAMUR Dieng punya beragam pilihan. Mulai Greentealatte, Chocolate, Redvelvet, Tarolatte, Blacktea, Vanillatea, Blackcurrantea, Mangomilk, Milktea, Affogato, Coffeemilk.

Donat, fresh milk, dan rosellatea di HAMUR Dieng
Donat, fresh milk, dan rosellatea di HAMUR Dieng

Favorit saya Rosellatea dan Freshmilk. Bisa dingin, bisa panas pesannya. Masing-masing bisa dibeli mulai Rp12 ribu saja.

Dengan harga yang terjangkau, suasana yang nyaman, nggak salah jika HAMUR Dieng hampir selalu saya jadikan tempat mencari ketenangan maupun bercengkerama dengan kawan-kawan di Malang.

Ngok kucing cakep yang suka diajak foto di HAMUR Dieng
Ngok kucing cakep yang suka diajak foto di HAMUR Dieng

Tertarik ke HAMUR Dieng? Kamu bisa mengunjunginya di Jalan Raya Dieng Atas no. 9, Kecamatan Dau, Malang.

DEMI HONNE


Antrean ke dalam venue HONNE © Iwan Tantomi
Antrean ke dalam venue HONNE © Iwan Tantomi

Honne belakangan ini sangat populer berkat lagu-lagunya yang hits. Termasuk salah satunya, Location Unknown yang mendadak viral gara-gara dinyanyikan sepenggal chorus-nya oleh anak selebritis Tanah Air, Gading Marten dan Gisella Anastasia, Gempita Nora Marten alias Gempi.

Namun, bukan karena Gempi saya ikut-ikutan suka Honne. Justru, saya tahu Honne setelah ramai di pemberitaan media, karena berkolaborasi dengan RM BTS dalam lagu Crying Over You. Kebetulan lagu tersebut enak didengar, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mendengarkan lagu-lagu Honne lainnya.

Berkat popularitas yang makin menanjak, duo beranggotakan James Hatcher dan Andy Clutterbuck ini pun serius menyapa para penggemarnya lewat Love Me/Love Me Not Tour 2019 di Asia, termasuk Indonesia, khususnya Jakarta, tempat lagu Honne pertama kali viral nasional.

Hal yang nggak terduga, Honne ternyata justru menjadikan Surabaya sebagai konser pembuka mereka di Indonesia. Tahu kabar tersebut, euforia pun langsung menyergap ke telinga, dengan cepat saya coba cek penjualan tiketnya. Sayang tiket justru preorder sold out terlalu cepat, hingga menyisakan regular ticket dan reselling ticket yang harganya bikin mikir dua kali.

Dapat Rezeki Tak Terduga

Mendadak Datang ke Konser Honne © Iwan Tantomi
Mendadak Datang ke Konser Honne © Iwan Tantomi

Animo nonton konser Honne sempat meredup karena hingga H-1 tiket pun nggak kunjung dapat. Sempat berpikir ya, sudahlah, mungkin belum rezeki’, tapi di luar dugaan Tuhan justru memberi rezeki yang nggak terduga.

Bak tiada angin tiada hujan, salah seorang kawan tiba-tiba menawari tiket Honne lewat sebuah pesan WhatsApp.

“Tom, mau nonton Honne kah besok? Ayo berangkat sama aku,” Ayu, mengirim pesan tersebut.

Tanpa basa-basi tentu saja saya mau. Bahkan, jika diminta liputan misalnya, akan saya lakukan sebagai balas budi. Nyatanya tiket tersebut diberikan cuma-cuma.

Mendadak Hangout ke Surabaya

Pas hari H, saya akhirnya berangkat ke Surabaya, mengendarai mobil Niko. Kami berangkat berlima, dua di antaranya liputan sebagai media, termasuk Ayu.

Tiket yang kami dapat ini termasuk undangan untuk media, jadi kami harus berangkat lebih awal untuk menukarkannya di ticket box sekitar venue. Karena Honne baru memulai konsernya jam 8.30 malam, sementara kami harus menukar tiketnya siang, maka kami putuskan sekalian hangout di Surabaya.

Hampir Kena Tilang

Setelah berhasil mendapatkan wristband, kami putuskan pergi ke Tunjungan Plaza (TP) sekadar mencari makan dan mencari kesejukan, lantaran cuaca Surabaya siang itu sangat terik.

Kami bergantian menyetir, dan sangat berhati-hati memperhatikan petunjuk jalan. Naas, Google Map yang kami andalkan justru membuat mobil yang kami kendarai harus diberhentikan oleh polisi secara tiba-tiba saat hendak putar balik.

Kami dinilai melanggar marka jalan. Kami berusaha tenang, walau teman yang kebetulan dapat jatah menyetir dirundu sedikit kecemasan. Apalagi setelah cek dompet, ternyata SIM-nya ketinggalan.

Namun, dengan tenang salah dua dari kami turun. Kami lalu menjelaskan ke petugas, jika ke Surabaya dalam rangka liputan. Kami pun menunjukkan surat tugas lengkap dengan tiket undangan media.

Terlebih surat kendaraan lengkap dan yang lain masih bawa SIM. Kami hanya berkelit bukan warga asli Surabaya, dan hanya bergantian menyetir biar nggak lelah di jalan. Hasilnya, kami lolos dari tilang.

Sempat Nggak Dapat Tempat Parkir di TP

Setibanya di TP, masalah nggak lantas usai. Berputar melingkar menelusuri tempat parkir dari lantai bawah ke atas, hampir nggak ada yang kosong. Tahu-tahu bablas sampai ke rute keluar mal. Belum juga parkir, kami pun terpaksa harus bayar dulu.

Setelah bertanya ke petugas, di TP2 ada tempat kosong. Kami pun balik menuju ke sana. Sempat ada drama rebutan tempat parkir dengan kendaraan lain. Namun, seorang petugas dengan baik hati, memberi kami tempat baru yang sebelumnya ditutup buat parkir. Walhasil, kami jadi dapat tempat parkir yang strategis dan dekat pintu mal.

Quality Time Bareng Kawan

Rentetan kejadian nggak terduga ini sempat bikin kami kesal, tapi di satu sisi juga jadi lelucon sepanjang hari. Di TP kami menghabiskan waktu untuk makan bersama, belanja, ngemil, hingga berlama-lama dengan canda dan tawa.

Tanpa sadar, momen tersebut jadi ajang quality time bareng kawan. Meski sekantor dan juga kerap main bareng, belakangan kami cukup sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai-sampai jarang banget bisa mengobrol bareng.

Siapa sangka, konser Honne justru jadi momen buat kami untuk kembali bercengkerama sebagai kawan seutuhnya, bukan rekan kerja apalagi mutual dunia maya.

Jamming di Konser Honne Sampai Puas

Setelah menunggu cukup lama, antrean yang membanjiri halaman hingga jalan di sekitar Jatim International Expo, pintu venue akhirnya dibuka sejam sebelum konser dimulai.

Sebelum ke venue kami sempat kesulitan mencari parkir mobil selepas dari TP. Hingga akhirnya menemukan lapangan belantara yang disulap jadi tempat parkir dadakan oleh warga sekitar. Beruntung jarak dengan venue nggak begitu jauh.

Begitu masuk ke dalam venue, di antara kami ada yang sempat membeli official merchandise, sayang packaging dan servisnya kurang bagus. Sama halnya dengan panggung yang kurang tinggi, sehingga membuat kami yang punya tinggi badan di bawah 170cm serta harus berada di belakang sendiri, hanya bisa menatap kepala Honne atau justru bahu penonton di depan.

Sementara seperti diketahui, tiket konser Honne di Surabaya semuanya berkategori festival. Namun, terlepas itu semua, kami menikmati konser malam itu. Merilis stres dengan singalong dari awal sampai akhir. Sesekali juga jamming mengikuti ritme lagu.

Bagaimanapun ada banyak hal yang harus kami lalui demi Honne. Daripada disesali, toh mending dibikin happy. Kapan lagi bisa lihat Honne di daerah sendiri, gratis lagi. 🙂

Sate Enak di Malang, Sate Gule Kambing Pak Sabar Cocok Buat Makan Malam


Sate enak di Malang, Sate Gule Kambing Pak Sabar Malang Paket Komplit Buat Makan Malam
Sate Enak di Malang Sate Gule Kambing Pak Sabar Malang Paket Komplit Buat Makan Malam © Iwan Tantomi

Sate Pak Sabar Malang agaknya memang nggak boleh lagi diragukan kelezatannya. Bukan hanya legendaris, soal rasa sate Pak Sabar Malang hampir nggak pernah berubah. Enak, gurih, empuk, plus dengan harga yang tetap segitu-gitu aja, alias murah.

Jangan heran, jika kualitas yang tetap terjaga, membuat Warung Sate Madura Pak Sabar Malang ini tetap dibanjiri pelanggan. Salah satu menu favorit saya adalah sate kambing. Biasanya saya pesan satu paket dengan gulai kambing.

Kedua menu tersebut begitu sempurna buat makan malam saat berpadu dengan nasi putih yang hangat. Segelas teh tawar panas atau dingin, kian melengkapi paket nikmati sate gula kambing yang saya pesan, setiap kali datang ke Warung Sate Madura Pak Sabar Malag.

baca juga: Belut Enak di Malang Cak Midi Wajib Masuk Daftar Pilihan

Lantas, kenapa saya suka? Pertama, dari sisi bau prengus, sate kambing Pak Sabar Malang, hampir nggak tercium aromanya. Dagingnya benar-benar fresh, serta dipanggang dengan pas, sehingga begitu nikmat saat disantap.

Begitu pula dengan gule kambing di Warung Sate Madura Pak Sabar Malang, nggak ada bau prengus, dan kuahnya sedap karena kaya rasa rempah. Sementara isinya berupa jerohan, daging, serta banyak dikasih tulang sumsum. Jika ingin sensasi pedas, tinggal tambahkan sambal yang disediakan di meja. Dengan penyajian serba panas, rasa gule kambing Pak Sabar Malang, begitu menggoda saat dimakan dengan sate kambingnya.

Warung Sate Madura Pak Sabar Malang ini berlokasi di Jalan Mayjend Panjaitan Kav 1, Penanggungan, Kec Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Bukanya malam saja, sekitar jam 6 sore sampai habis, makanya ini jadi rekomendasi pas buat makan malam saat di Malang.

Seperti namanya, perlu sabar makan di Warung Sate Madura Pak Sabar Malang ini, karena yang beli banyak, sementara tempatnya juga terbatas. Namun, semua terbayar kok, saat sate gule kambing yang dipesan akhirnya datang.

Soal harga, seporsi sate kambing/ayam di Warung Sate Madura Pak Sabar Malang sekitar Rp15 ribu, seporsi nasi atau lontong sekitar Rp2 ribu, gule kambing seporsi sekitar Rp17 ribu, sementara teh tawar Rp1 ribu. Pokoknya total makan di Warung Sate Pak Sabar Malang sepaket tersebut nggak sampai Rp50 ribu kok.

Oya, buat yang nggak suka kambing, tenang ada sate ayam di Warung Sate Madura Pak Sabar Malang. Rasa sate ayam Pak Sabar sama enaknya kok dengan sate kambing Pak Sabar. Tapi, karena cuaca di Kota Malang saat malam cenderung dingin, jadi makan sate gule kambing Pak Sabar rasanya memang jadi paket komplit yang nggak boleh dilewatkan. Cobalah!

Lokasi Warung Sate Ayam dan Kambing Pak Sabar Malang

Solo, Biarkan Aku Kembali


Derit pintu kaca menandai kedatangan saya di sebuah kafe. Hujan di luar membuat saya memilih untuk menyeruput kopi di dalam ruangan yang berkonsep industrialis tersebut. Sambil menunggu pesanan Caramel Macchiato tiba, saya mulai kembali membuka buku yang sedang saya baca belakangan. AMBA: novel karya Laksmi Pamuntjak.

Tumben sekali, waktu itu pengeras suara di kafe tersebut tak memutar lagu. Melihat pramusaji yang tampak kewalahan, saya bisa maklum. Barangkali habis ini I Remember-nya Mocca, Hujan di Mimpi-nya Banda Neira, Tidurlah-nya Payung Teduh, atau Kisah Dari Selatan Jakarta milik WSTCC bakal diputar. Saya membayangkan lagu-lagu indie tersebut sepertinya dianggap paling cocok untuk diputar saat hujan di malam hari.

Alih-alih begitu, justru lagu Korea yang diputar bersamaan dengan pesanan saya yang datang. Suara riuh sebagian pengunjung perempuan yang saya tengarai milenial penikmat KPOP pun langsung menyeruak seantero ruangan. Mereka begitu antusias mengikuti, lebih-lebih kala itu idola mereka. Sudah barang tentu, tak banyak lagu yang saya tahu. Beruntung saya terbiasa fokus baca di tengah gemuruh keramaian. Dengan santai saya menikmati halaman demi halaman bacaan tersebut, tanpa perlu menyumpal telinga.

Fokus baca saya pun mulai runtuh, kala mata terhenti pada satu kata. Seolah menyilakan indera pendengaran menyimak lagu tersebut, otak saya justru mulai mencerna lagu yang sepintas terdengar familier. Apalagi kini hampir semua pengunjung tampak mengenali lagu itu. Meski dengan suara lirih dan terbata, mereka tampak tepat melafalkan penggalan lirik lagu tersebut sesuai ritme musiknya. Tak kunjung ingat judul apalagi artisnya, membuat saya akhirnya gegas membuka Shazam. Dengan tepat, aplikasi pendeteksi lagu itu memunculkan jawabannya: Solo – Jennie (BLACKPINK).

Jennie BLACKPINK dengan Lagu SOLO

Rasanya lagu tersebut sangat adiktif, hingga merasuk ke benak orang yang bukan penggemar KPOP sekalipun. Saya jadi teringat, jika beberapa waktu terakhir orang-orang di kantor nyaris spontan menyanyikan lagu tersebut walau sepenggal-sepenggal. Bahkan, penjual nasi goreng depan rumah yang hampir tak tahu KPOP itu apa, turut menyanyikan bagian chorus-nya. Perlahan tapi pasti, kafe-kafe pun turut teracuni hingga memutar lagu tersebut tanpa pandang bulu suasana hati dan situasi.

I’m going solo lo lo lo lo lo

Kalimat tersebut rasanya terus menggema di telinga, kendati lagu telah berganti. Menariknya, sayup-sayup kata Solo justru mengajak saya bermemorabilia dengan Surakarta, Solo versi Indonesia beberapa waktu sebelumnya.

Menyambut Pagi di Pasar Gede

Tukang becak berlalu-lalang di depan Pasar Gedhe

Kereta yang melaju dari Malang akhirnya melambat dan berhenti tepat waktu di Stasiun Balapan Solo. Terlihat dari jendela beberapa penumpang yang menghambur keluar dengan tergesa. Ada yang semringah lantaran seperti kembali berjumpa dengan orang yang lama tak dilihatnya. Adapula yang gegas keluar sekadar menemukan toilet yang ‘layak’ disinggahi.

Sementara pelana kembali menyuarakan instruksi, saya justru berjalan keluar dengan langkah tak pasti, sebelum akhirnya kereta melanjutkan perjalanan kembali. Boleh dibilang kedatangan saya ke Solo kali ini spontan tanpa persiapan. Pesan tiket malam, sore esoknya langsung berangkat.

Saking tak terencananya, sebagian orang yang saya jumpai di kereta dan sempat mengobrol sejenak sampai bertanya, “Ada apa di Solo?”

Jika bukan karena kebaikan hati Halim, barangkali saya sudah jadi jembel di stasiun malam itu. Halim menyilakan saya bermalam di rumahnya yang tak jauh dari Pasar Gede. Di pasar yang usianya hampir seabad itu pula kenangan akan Solo mulai terbuat. Bangun di pagi hari, Halim langsung mengajak saya menyusuri sisi legendaris lain dari Pasar Gede selain fasad bangunan dan langgam arsitekturnya. Apa lagi kalau bukan kulinernya.

Dari nasi liwet lintas generasi, dawet telasih yang usianya sama tuanya dengan Pasar Gede, hingga jajanan zadul yang masih lestari dan hanya bisa ditemukan di dalam pasar yang dibangun sejak era kompeni ini, hadir menyambut pagi. Dengan ragam aroma yang tercium bergantian, sarapan pagi di Kota Solo saya tutup dengan sepincuk Cabuk Rambak, Brambang Asem, dan Lenjongan.

Beranjak dari Pasar Gede, saya berpamitan dengan Halim untuk check-in lebih dulu ke hotel di Solo, sebelum melanjutkan pelesiran ke beragam destinasi jamak di Solo. Benteng Vastenburg jadi jujukan kedua saya. Ada banyak sekali perbaikan yang tampak dari benteng yang dibangun Belanda pada medio abad ke-18 Itu. Yang jelas kondisinya lebih terawat, nihil vandalisme dan laik dijadikan spot berfoto dibandingkan sejak kali terakhir saya mengunjunginya.

Matahari yang kian meninggi, membuat saya lekas berpindah. Saya cukup menikmati kelana kali ini. Menyusuri trotoar berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, membuat saya merasa sepadan dengan turis asing yang lalu lalang. Perasaan saya semakin riang, karena Halim akhirnya bisa kembali menyusul, setelah membereskan urusan pribadinya. Ia pun menggiring saya ke keraton. Tepatnya, lebih dari satu keraton.

Langgam Klasik Keraton Surakarta

“Kalau ada acara, keraton-keraton ini akan dibuka, pengunjung bisa melihat ke dalam juga,” ungkap Halim di sela kunjungan kami di Keraton Kasunanan Surakarta. Kompleks yang kentara dengan langgam arsitektur Jawa berbalut warna serba biru muda itu pun tampak ramai dikunjungi wisatawan yang hilir mudik dari berbagai kota. “Setidaknya kita bisa masuk dan melihat langsung Panggung Songgo Buwono,” sambungnya sambil menunjuk menara setinggi 30 meter berbentuk segi delapan.

Diingat-ingat beberapa kali berkunjung ke sana, saya memang belum berkesempatan barang sekalipun melihat dari dekat menara yang berada di utara pelataran Keraton Surakarta itu. Namun, gagal masuk ke dalam Keraton Surakarta, kejutan justru menyambut kami saat tiba di Keraton Mangkunegaran.

Puluhan atau mungkin ratusan payung ditata sedemikian rupa, hingga membentang lurus ke pelataran keraton. Payung dengan beragam ukuran dan hiasan itu sontak menyedot pengunjung yang ingin berswafoto. Dari kejauhan pertunjukan tampak digelar di pendapa Keraton Mangkunegaran. Dari lokasi yang sama, gending tembang Jawa beralun suara gamelan seolah memikat saya untuk mendekat. Lentik jemari para penari pada akhirnya membuat saya memilih duduk menikmati pertunjukan secara hikmat.

Masih di Mangkunegaran, saya kemudian tersenyum sendiri saat mengingat bagian ibu-ibu yang menawar salah satu produk pameran di Keraton Mangkunegaran. Sebuah kain bermotif indah buatan tangan yang ditawar dengan harga grosiran bak batik di Pasar Klewer oleh salah seorang pengunjung. Ingatan jenaka tersebut lantas berangsur menjadi memori kekaguman pada Laweyan.

Terpikat Seribu Pintu di Laweyan

Masyhur sebagai Kampung Batik bersama Kauman, Laweyan rupanya tak sekadar surga bagi penikmat batik berkualitas asal Solo. Lewat susur sore yang menyulut penasaran, Halim justru menunjukkan sisa-sisa pintu bersejarah di pemukiman lawas yang telah dibangun sejak 1912 ini. Tak kurang dari 70 plakat butik batik saya jumpai di sepanjang jalan yang membentang di Laweyan. Sesekali kami berpapasan dengan turis asing yang tampak tercekat dengan rumah-rumah lawas di sana.

Jalan makin sepi, jalan beraspal yang kami lalui, kini berubah menjadi jalan setapak. Tanpa banyak penjelasan, Halim mulai menyilakan saya mengamati satu per satu pintu pada beberapa rumah yang tampak tak berpenghuni. Warna yang beragam, hingga desain pintu berjalusi yang mulai ditinggalkan di era sekarang, membuat saya akhirnya paham.

Laweyan berbeda dengan ‘kampung warna’ yang mendadak tenar karena warnanya yang menyolok mata. Cat yang mulai memudar, seakan menegaskan jika Laweyan adalah warisan sejarah. Sisa warna pada setiap pintu jalusi, bahkan hampir jauh dari kesan norak. Paduan warnanya justru begitu presisi seolah pengecatnya adalah pelaku seni. Sungguh, saya terkagum-kagum sendiri dengan pintu-pintu ciamik di Laweyan.

Tak lama setelah itu, Halim mengajak saya berkunjung ke salah satu rumah lawas warga. Sekilas tak ada yang istimewa dari rumah tersebut, selain pintu gerbang warna merah darah yang dilengkapi butulan. Rupanya, rumah tersebut salah satu hunian kuno yang masih mempertahankan bungkernya. Pemilik bahkan menyilakan kami merasakan pengalaman, bagaimana bernapas langsung dalam lubang persembunyian bawah tanah itu.

Terlalu lama berkontemplasi, membuat minuman yang saya pesan sampai dingin. Beberapa seruput kopi dan rintik hujan yang belum juga berhenti, memantik kembali memori. Sambil menyandarkan badan, pikiran seolah terhanyut lagi ke sisa kenangan di Solo. Memori saya lantas mengembara ke bagian ‘jumpa’ dengan Susi Pudjiastuti juga Gesang.

Berjumpa Susi dan Gesang

Sepanjang perjalanan balik, Halim mengajak saya melewati jalan Gatot Subroto Solo. Saya tak pernah menyangka, jika di koridor inilah mural yang viral di Solo belakangan berlokasi. Sontak saya langsung terkesiap saat melihat mural Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia ke-6, Susi Pudjiastuti dalam wujud Wonder Women. Momen itu pun kian melengkapi perburuan mural saya di Solo, usai tak sengaja menemukan mural Gesang di sekitar Pasar Triwindu. Sayang, kami tak sempat membesuk ke makam pun rumah maestro Bengawan Solo tersebut.

Syahdan, sorak sorai pengunjung kafe seketika membuyarkan tafakur. Lamat-lamat saya mulai bisa menebak kenapa suara yang menghentak tersebut melepas serentak. Barangkali playlist yang diatur sudah habis, sampai membuat lagu pertama terputar kembali. Sama seperti sedia kala, satu per satu orang melafalkan penggalan chorus-nya baik sengaja maupun spontan. Tiba pada bagian coda, saya tersenyum sendiri.

Bagaimana bisa sebuah lagu berbahasa Korea, justru membawa saya berkontemplasi ke Surakarta?

Paling tidak, kenangan tersebut jadi alasan tersendiri untuk bilang: Solo, biarkan aku kembali.

Apalagi, liburan ke Solo boleh dibilang amat terjangkau. Bukan saja destinasi wisata dan kulinernya, Solo juga banyak menghadirkan penginapan murah, seperti jaringan OYO Hotel Indonesia. Jaringan hotel terbesar tersebut memang menyediakan 1000 lebih hotel yang tersebar di 100 kota di Indonesia, termasuk Solo #PastiAdaOYO. Jadi, tak ada alasan untuk bosan balik liburan ke Solo, kan?

Bakso Enak di Malang Malam Hari, Bakso Afdhol Blimbing Patut Dipilih, Murah Lagi


Bakso Enak di Malang Malam Hari, Bakso Afdhol Blimbing Bisa Dipilih, Murah Lagi
Bakso Enak di Malang Malam Hari, Bakso Afdhol Blimbing Bisa Dipilih, Murah Lagi

Bakso enak di Malang memang banyak saat siang hari, tapi kalau malam hari agaknya cukup sulit dicari. Apalagi kalau di atas jam 9 malam, yang ada sudah tutup semua.

Beruntungnya, ada teman yang kasih info, jika ada bakso enak di Malang yang bukanya justru malam hari. Namanya, Bakso Afdhol yang berlokasi di sekitar lampu merah depan bekas bangunan PDAM di Jalan A Yani, Blimbing, Kota Malang.

Gampangnya, kalau dari arah Jalan LA Sucipto atau lampu merah Jalan A Yani menuju arah Kota Malang, ada gerobak bakso kecil dan sederhana di kiri jalan dengan kain hijau tak lebar dengan tulisan “Bakso Afdhol”.

Posisinya sesudah warung jamu tradisional pojok ujung Jalan LA Sucipto, dan sebelum Ruko Bank Mandiri KCP Ahmad Yani, Blimbing Kota Malang.

Tempatnya benar-benar kecil, dan sederhana sekali. Jika tak jeli, memang bisa terlewat, padahal lokasinya tepat di samping jalan raya. Namun, di balik kesederhanaannya, Bakso Afdhol Blimbing ini enak sungguhan.

Rasa kuahnya tak berat, tapi kaldu sapinya betul-betul sedap. Baksonya ada kasar dan halus. Yang kasar isi campuran daging dan kikil. Tahu putihnya berisi adonan pentol yang kenyal. Sebagai pelengkap ada mie kuning, suun dan lontong untuk kenyangkan perut.

Tanpa tambahan saus dan kecap, cukup sambal saja Bakso Afdhol Blimbing ini menurut saya sudah cukup enak, juga nggak bikin enek. Paling penting kuahnya betul-betul segar karena dimasak mulai sore hari. Kuahnya sangat panas, jadi makin mantap dilahap.

Yang paling spesial, Bakso Afdhol Blimbing ini murah, betulan terjangkau, sehingga benar-benar cocok dijadikan jujukan makan bakso enak di Malang saat malam hari. Selamat mencoba!

Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang


Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang
Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang © Iwan Tantomi

Kedaishi menjadi pilihan terakhir setelah bingung berkeliling Kota Malang, sekadar mencari makan malam. Udara yang panas, ditambah gerah selepas olahraga membuat saya ingin makan yang pedas-pedas.

Beruntungnya, Kedaishi masih buka. Selain Moshi-Moshi, Kedaishi jadi salah satu tempat makan yang pas buat makan ramen, utamanya udon.

Kali ini saya pilih makan Laksa Ramen dan Niku Udon di Kedaishi. Kebetulan keduanya best seller, tapi ini baru pertama kali saya coba Laksa Ramen, karena biasanya kalau bukan Tomyam Ramen, Tori Katsu Ramen.

Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang
Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang © Iwan Tantomi

Namun, kalau udon, saya selalu memilih Niku Udon, karena lebih segar tanpa tambahan rempah kuat. Cukup ditambah irisan rawit, sudah mantap rasa keduanya.

Dari sisi pelayanan, Kedaishi cukup cepat. Tak lebih 5 menit menanti, semua hidangan yang saya pesan sudah diantarkan ke meja.

Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang
Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang © Iwan Tantomi

Selagi masih panas, saya santap Niku Udon dulu yang lebih light rasanya. Baru kemudian, Laksa Ramen yang lebih kaya rempah saya lahap sampai tak tersisa.

Dari sisi harga, Kedaishi cukup terjangkau, jika dibandingkan Marugame Udon. Padahal citarasa udonnya boleh dibilang 11:12. Harganya mulai Rp28k per porsi ramen, sementara udon mulai Rp30k per porsi.

Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang
Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang © Iwan Tantomi

Oiya, dari sisi interior, Kedaishi ini cukup artsy, tapi juga tak berlebihan. Pencahannya juga cukup terang, ditambah musik yang hanya instrumen sederhana dan cukup chills, jadi bisa menambah mood makan di Kedaishi.

Alamat: Jalan Pulosari, Gading Kasri, Kota Malang.

Jam buka: setiap hari dari jam 10 pagi sampai 10 malam.

SAMSARA Coffee Malang Tempat Nyaman Buat Gali Ide Segar


SAMSARA Coffee Malang Tempat Nyaman Buat Gali Ide Segar (c) Iwan Tantomi
SAMSARA Coffee Malang Tempat Nyaman Buat Gali Ide Segar (c) Iwan Tantomi

SAMSARA Coffee boleh dibilang buah dari kejenuhan saya mencari tempat ngopi yang nyaman buat bekerja saat siang dan sore hari. Mulanya saya mau ke Rahasia Coffee, tetapi pas tiba di lokasi ternyata tutup. Pilihan terdekat akhirnya menuju SAMSARA Coffee yang beralamat di Jalan Lokon No 3, Kota Malang.

Dari depan, SAMSARA Coffee tampak lengang, tetapi di sisi lain juga terlihat sangat nyaman. Masuk ke dalam, suasananya juga nggak begitu berisik. Banyak pilihan meja yang bisa dipilih.

Rata-rata pengunjungnya fokus mengetik di depan laptop. Bisa jadi SAMSARA Coffee memang cocok buat menggali ide, meeting maupun bekerja, sehingga difavoritkan para pekerja kreatif.

Dari sisi menu, cukup lengkap. Mulai beverages, seperti kopi dan smoothies, beragam camilan, hingga makanan berat. Saya pernah mencoba ayam cabai ijo-nya, rasanya ternyata enak, bukan sajian ala-ala layaknya kafe pada umumnya.

Sementara sore itu, saya memilih memesan donat tabur gula serbuk, plus ice latte sebagai mood booster untuk bekerja. Tanpa terasa, hampir sampai malam saya berada SAMSARA Coffee. Suasana yang nyaman dan makanan yang enak, rupanya membuat saya produktif bekerja.

Terlebih SAMSARA Coffee sedang ada promo makanan baru juga, dan ada potongan diskon sekitar 20%, sehingga saya bisa sekalian makan malam di sana. Menu yang saya pesan waktu itu Salted Egg Chicken Katsu.

Selain tempat yang nyaman, SAMSARA Coffee juga menyediakan WiFi yang super cepat. Nggak perlu khawatir pula soal stop contact alias colokan, karena cukup memadai di sekitar meja. Desain interior yang sangat artsy tetapi nggak norak, makin membuat SAMSARA Coffee tampak cantik dan classy.

SAMSARA Coffee Malang Tempat Nyaman Buat Gali Ide Segar (c) Iwan Tantomi
SAMSARA Coffee Malang Tempat Nyaman Buat Gali Ide Segar (c) Iwan Tantomi

Secara rate memang lumayan sih. Minuman coffee mulai Rp22k, non coffee, seperti ice lemon tea dan smoothies mulai Rp30k, camilan mulai Rp9k, menu utama mulai Rp30k. Namun, menurut saya cukup worth it, karena sebanding dengan rasa dan pelayanan yang diberikan.

Lebih-lebih buat kamu yang ingin mencari tempat bekerja nan nyaman, entah itu buat meeting, mengerjakan hal-hal kreatif, atau buat mengerjakan tugas, di mana harga nggak terlalu jadi masalah, cobalah datang ke SAMSARA Coffee Malang.

Note: tersedia musala buat Muslim, tinggal tanya ke pramusaji jika ingin salat, nanti bakal diantarkan.

10 Kuliner Legendaris Solo yang Masih Eksis, Biar Lawas Tetap Bikin Puas


10 Kuliner Legendaris Solo yang Masih Eksis, Biar Lawas Tetap Bikin Puas
Kuliner Legendaris Solo: Timlo yang masih eksis sampai sekarang © Iwan Tantomi

Solo atau Surakarta agaknya selalu spesial buat saya. Biar kecil, kota ini memiliki daya tarik istimewa bagi setiap pengunjungnya. Salah satunya adalah makanan lawas. Ada banyak sekali kuliner legendaris yang masih eksis di Solo.

Baca juga: Baru Pertama ke Solo? Tempat-Tempat Keren Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan!

Nggak sedikit yang berusia di atas 50 tahun. Namun, yang bikin saya kagum, penyajiannya masih nggak berubah dari tahun ke tahun. Bahkan demi mempertahankan rasa, penjualnya sengaja mewariskan resep secara turun temurun hanya dalam lingkup keluarga. Berikut 10 legendaris Solo yang berhasil saya coba, bisa jadi kamu perlu mencobanya pula saat jalan-jalan ke Surakarta. Ingat baik-baik, ya.

1. Kuliner Legendaris Solo: Brambang Asem

Kuliner Legendaris Solo: Brambang Asem
Kuliner Legendaris Solo: Brambang Asem © Iwan Tantomi

Kesegaran daun ubi jalar dan kangkung bercampur dengan rasa pedas-manis-asam bumbu sambal brambang, sejenak tak ada yang menyangka jika kuliner tradisional dan langka ini sudah berusia 20 tahun lamanya di Pasar Gedhe.

Brambang Asem jadi kudapan favorit yang nikmat disantap antara jam sarapan dan makan siang. Kenikmatan sambal brambang, yang diramu dari cabai rawit, gula jawa, asam jawa, daun jeruk, terasi dan bawang merah (brambang), kian terasa saat menyantap Brambang Asem dengan tempe gembus yang dibuat dari ampas tahu.

Dengan harga sepincuk daun pisang tak lebih dari Rp5ribu, burulah Brambang Asem ini di Pasar Gedhe saat pagi hari, sebelum lanjut menjelajahi Surakarta.

2. Kuliner Legendaris Solo: Lenjongan

Kuliner Legendaris Solo Lenjongan
Kuliner Legendaris Solo: Lenjongan © Iwan Tantomi

Parutan kelapa yang lembut berpadu dengan manisnya gula aren, terasa nikmat di lidah saat menyantap satu per satu isi lenjongan. Jajanan zadul, yang seporsi berisikan tiwul, ketang ireng, ketan hitam, gethuk, sawut, cenil dan klepon ini disajikan dalam bungkus kecil daun pisang. Bahan-bahannya yang masih alami, membuat lenjongan selalu setia dinikmati.

Masuklah ke dalam Pasar Gedhe, lenjongan legendaris yang nyaris berusia 30 tahun, masih eksis dijual di sana. Cobalah satu per satu jajannya, apalagi jika sudah lama tak pernah mencobanya. Kamu bakal dibikin kaget dengan kelezatan di balik kesederhanaannya, terlebih setelah tahu harganya tak lebih dari Rp5 ribu di Solo.

3. Kuliner Legendaris Solo: Dawet Telasih

Kuliner Legendaris Solo Dawet Telasih
Kuliner Legendaris Solo: Dawet Telasih © Iwan Tantomi

Pasar Gedhe itu ibarat surga di Solo. Berbagai makanan legendaris seakan terlestarikan dengan baik di dalam sana, tak terkecuali dawet telasih. Disajikan dalam mangkuk kecil, dawet yang berusia sekitar tiga dekade ini begitu ramai diantre di Pasar Gedhe.

Selain karena rasanya yang tak berubah, dan dijual secara turun-temurun hanya di satu tempat, kelembutan rasa dawet, ketan hitam, juga bisa telasih yang berpadu dengan kesegaran kuah santan seolah langsung meluncur ke tenggorokan saat kali pertamadi telan.

Es Dawet Telasih Bu Dermi menjadi satu-satunya sajian es dawet telasih legendaris hingga tiga generasi di Pasar Gedhe yang patut dicoba.

4. Kuliner Legendaris Solo: Tengkleng Kambing

Kuliner Legendaris Solo: Tengkleng Kambing
Kuliner Legendaris Solo: Tengkleng Kambing © Iwan Tantomi

Tak lengkap rasanya wisata kuliner di Solo, sebelum mencoba kelezatan tengkleng kambing. Rasa bumbunya yang kaya akan rempah-rempah, membuat siapapun bakal tak cukup kalau hanya mencoba sepincuk saja. Apalagi kalau sudah disajikan dengan nasi panas.

Dengan cabai rawit rebus yang bisa langsung digigit, suapan daging tengkleng yang lembut bakal membuat berulang kali menelan ludah jika hanya sekadar melihatnya. Salah satu tengkleng legendaris yang patut di coba adalah Warung Tengkleng Bu Edi dekat Pasar Klewer, Solo.

5. Kuliner Legendaris Solo: Timlo

Kuliner Legendaris Solo: Timlo
Kuliner Legendaris Solo: Timlo © Iwan Tantomi

Kuah kaldu beningnya yang gurih, menjadikan timlo cocok dinikmati sebagai sajian sarapan berkuah. Dengan nasi panas, ragam jeroan ayam, sosis solo, suwiran ayam, telur hingga pindang, begitu sedap dilahap.

Semakin mantap, jika ditambahkan sambal cabai segar yang disediakan. Tak jauh dari Pasar Gedhe, datanglah ke Timlo Sastro. Kuliner khas Solo nan legendaris ini tak pernah berubah rasanya sejak 1952 di warung tersebut.

6. Kuliner Legendaris Solo: Bakmi Thoprak

Kuliner Legendaris Solo: Bakmi Thoprak
Kuliner Legendaris Solo: Bakmi Thoprak © Iwan Tantomi

Pastikan perut benar-benar kosong sebelum menyantap bakmi thoprak. Porsinya yang besar bakal membuat perutmu kenyang dengan bihun, mie kuning, irisan daging sapi, cakwe, tahu, tempe, kubis, taoge, kacang goreng, juga yang tak terlewat sosis solo.

Rasa kaldu pada kuah beningnya tidak sekuat timlo, sehingga tak akan membuat eneg meski porsinya jumbo. Rasa bakmi thoprak ini pun semakin segar dan menggugah selera setelah ditambahkan perasan jeruk nipis dan potongan cabai rawit.

Bakmi Thoprak Yu Nani jadi salah satu bakmi thoprak legendaris yang patut dicoba saat main ke Solo.

7. Kuliner Legendaris Solo: Cabuk Rambak

Kuliner Legendaris Solo: Cabuk Rambak
Kuliner Legendaris Solo: Cabuk Rambak © Iwan Tantomi

Namanya tampak unik, tetapi saat menikmati irisan ketupat bercampur sambal wijen, kamu bakal terkesiap dengan kelezatannya. Cabuk rambak memang memiliki keunikan pada bumbunya. Walau sekilas mirip seperti saus kacang, nyatanya sambal wijen ini diramu dari wijen, kemiri dan kelapa parut yang disangrai lebih dulu.

Tambahan karak atau kerupuk beras yang renyah kian menyempurnakan rasa dari kudapan khas Solo ini. Meski makanan zadul dan langka, tetapi cabuk rambak masih bisa ditemukan secara mudah di Pasar Gedhe.

8. Kuliner Legendaris Solo: Sego Liwet

Kuliner Legendaris Solo: Sego Liwet
Kuliner Legendaris Solo: Sego Liwet © Iwan Tantomi

Sego atau nasi liwet ini begitu sederhana penyajiannya dengan pincuk kecil daun pisang. Namun, saat mulai memakannya pada suapan pertama, kamu akan menjumpai rasa gurih dari nasi yang bercampur dengan suwiran ayam kampung rebus, sayur labu, juga telur pindang.

Tambahan areh yang begitu khas, membuat rasa nasi liwet begitu pas di lidah. Tak sulit menemukan sego liwet di Solo. Namun, kalau ingin yang mantap, cobalah nasi liwet Bu Sri yang ada di pojokan luar Pasar Gedhe.

Resep legendaris yang diwariskan secara turun temurun, membuat sego liwet ini begitu tersohor walau dijual di meja dan kursi plastik sederhana.

9. Kuliner Legendaris Solo: Tahu Kupat

Kuliner Legendaris Solo: Tahu Kupat © Iwan Tantomi
Kuliner Legendaris Solo: Tahu Kupat © Iwan Tantomi

Sajiannya yang tak terlalu berat, membuat tahu kupat solo, nikmat disantap sebagai sajian makan siang atau sore hari. Manis gurih bumbu kacang ditambah kelembutan tahu goreng dan kupat, membaur jadi satu rasa sedap saat dilumat bersamaan.

Kehadiran mie kuning kian memperkaya citarasa dari tahu kupat ini. Lebih-lebih jika ditambahkan ulekan rawit, rasa pedas tahu kupat kian mantap dengan gurih kerupuk sebagai pelengkapnya.

10. Kuliner Legendaris Solo: Gempol Pleret

Kuliner Legendaris Solo: Gempol Pleret © Iwan Tantomi

Gempol pleret nikmat disantap dalam kondisi dingin. Teksturnya yang unik saat dikunyah, membaur dengan rasa manis santan bercampur dengan gula jawa.

Tambahan dawet dan cendol membuat, rasa gempol pleret semakin kaya. Menariknya, tak semua orang bisa membuat gempol pleret, inilah kenapa saat ke Solo kamu perlu mencoba jajanan khas dan langka ini. Citarasanya yang tak biasa, bakal meninggalkan kesan tersendiri kala liburan ke Solo.

Dari 10 kuliner legendaris Solo tersebut adakah yang pernah kamu coba? Atau, kamu punya rekomendasi lainnya? Jangan ragu membagikan ragam kuliner legendaris Solo lainnya di kolom komentar ya. Selamat berlibur dan mencicipi langsung lezatnya kuliner legendaris Solo!

Moshi Moshi Ramen Malang Nggak Enak?


Moshi Moshi Ramen Malang
Moshi Moshi Ramen Malang

Moshi Moshi Ramen Malang akhirnya menjadi perhentian, setelah berpikir makan apa enaknya usai joging yang melelahkan.

Seperti biasa, akhir pekan saya khususkan untuk me time, termasuk mentraktir diri dengan makan enak. Namun, pilihan ke Moshi Moshi Ramen Malang bukan semata lapar, tapi justru cenderung penasaran.

Pasalnya, sebagian teman saya—yang suka budaya Jepang, bilang Moshi Moshi Ramen Malang mantap, tapi sebagian lainnya—yang nggak begitu mengikuti atau bahkan suka budaya Jepang, justru bilang nggak enak.

Lantas, mana yang harus saya percaya? Tentu saja nggak ada, karena saya ingin merasakan menu-menu di Moshi Moshi Ramen Malang sendiri, lantaran soal selera setiap lidah manusia nggak pernah sama.

Kebetulannya lagi, Moshi Moshi Ramen Malang ini HALAL. Wajar jika antrean kursinya lumayan panjang. Tempatnya nggak besar, tapi penataan meja dan kursinya cukup compact dan paling penting nggak berisik, sehingga cukup nyaman.

Saya pesan Ramen Spicy Volcano karena juga lagi pengin makan yang pedas-pedas. Sebenarnya ingin makan sushi juga, sayang malam itu sudah habis. Jadi, saya ganti yakitori dan gyoza. Untuk minum, saya pesan yang cepat bikinnya, karena habis joging ceritanya langsung kulineran, lemon-tea iced. :p

Lima belas menit berlalu, Ramen Spicy Volcano yang saya pesan datang, bersamaan dengan gyoza dan minuman. Lima menit berikutnya, yakitori akhirnya tiba juga.

Mula-mula saya coba gyozanya dulu. Teksturnya kenyal dengan isian udang yang dilembutkan. Rasanya nggak berat, cocok buat appetizer. Cuma entah karena AC-nya yang banyak, gyozanya jadi cepat dingin. Selebihnya enak kok, menarik buat dicoba.

Biar nggak keburu dingin juga, saya langsung menyantap Ramen Spicy Volcano. Kuahnya mirip tomyam, asam-pedas-gurih, tambahan irisan rawit segar bikin pedasnya makin nendang. Dari atas, ramennya nggak terlihat karena tertutup telur dadar yang berisi potongan daging ayam goreng, lebar-lebar.

Setelah puas merasakan kuahnya, saya langsung ambil sumpit dan mulai mencoba ramennya. Kenyal, tapi juga lembut diseruput, hingga ditelan. Saat dimakan dengan kuah, benar-benar bikin keringat bercucuran karena saking pedas dan panasnya. Pantas saja dinamakan Ramen Spicy Volcano.

Sebagai pengalih rasa pedas, saya makan yakitori tusuk demi tusuk. Ayam yang dipilih sepertinya masih muda, sehingga tulangnya gampang dikunyah saat digoreng kering. Bumbu yakitori ini juga light banget, nggak terasa banyak rempah, hanya sedikit manis seperti karamel, mirip ayam goreng madu.

Tegukan lemon-tea iced yang segar pun rasanya menyempurnakan semua citarasa yang saya coba di Moshi Moshi Ramen Malang. So far, saya nggak menemukan rasa yang mengecewakan. Bukan karena saya suka budaya Jepang, bukan pula karena lagi lapar, tapi rasa enak muncul apa adanya. Toh saya juga bayar, kalau memang nggak enak, tentu bakal saya sejujurnya. Jadi, buat saya masih worth it kok jajan di Moshi Moshi Ramen Malang.

Lokasi Moshi Moshi Ramen Malang

Alamat:

Kedai 1: Jalan Kawi Atas no 10 Kota Malang

Kedai 2: Jalan Kawi Atas no 37 Kota Malang

Jam Buka Moshi Moshi Ramen Malang

Kedai 1: setiap hari dari jam 11 pagi sampai 9 malam

Kedai 2: setiap hari dari jam 9 pagi sampai 9 malam

Disclaimer: konten ini subjektif karena pereferensi setiap orang pada makanan berbeda-beda.

Masih ragu atau penasaran enak atau nggak, datang saja langsung ke Moshi Moshi Ramen Malang.

RAHASIA Cafe, Tempat Ngopi OK di Tidar Malang


RAHASIA Cafe Tidar Kota Malang
RAHASIA Cafe Tidar Kota Malang

RAHASIA Cafe dari namanya sudah menarik perhatian saya sejak awal. Kafe ini nggak sengaja saya temukan saat lagi sumpek, lalu berkeliling kota, hingga masuk ke wilayah perumahan elite di Kota Malang, tepatnya di kawasan Tidar.

Tahu-tahu ada sebuah bangunan bergaya industrialis, yang didominasi kaca, serta cahaya lampu yang terang di tengah gelap perumahan di Villa Puncak Tidar.

Tepat di depannya, ada plakat kecil bertuliskan RAHASIA. Mulanya saya nggak paham itu tempat apa. Tapi, saya masuk saja, karena lelah berkeliling dan ingin makan juga.

“Selamat datang di RAHASIA Cafe, silakan mau pesan apa, kak?” Tanya kasir.

“Emm, signature-nya apa nih, mas? Baru pertama ke sini, nih.” Jawab saja.

“Kalau minuman, ada Kopi RAHASIA, produk favorit customer kita. Kalau camilan, kita punya Poffertjes, french fries with special mayo, dan ada main dish, rice box, ada ayam cabai garam atau sambal dabu-dabu,” jelasnya ramah.

Setelah beres memesan dan bayar di muka, saya memilih duduk di luar. Sekitar 15 menit berlalu, satu per satu hidangan yang saya pesan datang. Es Kopi RAHASIA hadir lebih dulu dengan poffertjes.

Saya tekejut ketika menyeruput es Kopi RAHASIA yang berasa kopi-susu-karamel seperti Caramel Macchiato milik brand kopi fancy. Pas, nggak manis banget, atau pahit kopinya berlebihan.

Kemudian, poffertjes-nya juga yang tampak sederhana, tersaji 4 buah. Berbalur serbuk gula putih, bola-bola keju itu ternyata manis-gurih tapi tetap light, nggak bikin bosan untuk memakannya. Saya merekomendasikan yang orisinal ini jika datang ke RAHASIA Cafe.

Setelah itu, french fries akhirnya datang bersamaan dengan rice box ayam cabai-garam yang saya pesan. Saya coba dulu ayam cabai garamnya. Selain ayam, ada telur mata sapi di bagian bawah, baru nasi di dasar sendiri dalam kemasan kotak.

Rasanya yang simpel, tetapi tetap mengenyangkan, membuat sajian rice box ini terasa pas disajikan untuk melengkapi suasana kafe yang tenang, dan jauh dari hiruk pikuk kebisingan jalan.

Terakhir, ada french fries yang crunchy dan nggak oversalt. Racikan mayo dengan rasa pedas manis rupanya jadi paduan sempurna dengan french fries tadi. Pantas, jika menu ini banyak digemari.

Tahu saya sendiri, kasir yang tadi melayani lantas meminta izin untuk gabung di meja saya. Ternyata ia ingin meminta pendapat saya tentang rasa dari menu-menu yang saya pesan tadi. Saya terkejut mereka mencatat, bahkan dengan senang hati berdiskusi untuk kemajuan RAHASIA Cafe.

Hal yang bikin saya kaget lagi, ternyata RAHASIA Cafe ini didirikan plus dikelola ramai-ramai oleh mahasiswa. Namun, jiwa enterpreneur dan usia yang relatif muda, nyatanya nggak membuat mereka lalai mengutamakan servis, di samping rasa. Kahadiran WiFi yang cepat kian menyempurnakan RAHASIA Cafe sebagai tempat kerja yang tepat di kawasan Tidar, Kota Malang.

Lokasi RAHASIA Cafe

Alamat: Jl. Villa Puncak Tidar VE2/2A Kota Malang.

Jam Buka RAHASIA Cafe Malang

Minggu-Kamis jam 4 sore sampai 11 malam

Jumat-Sabtu jam 1 siang sampai 12 malam

Disclaimer: konten ini sangat subjektif, karena preferensi setiap orang pada makanan berbeda-beda, jadi silakan coba mana yang paling diminati.

Warung Pedas Tangkilsari Malang Baru, Kini Lebih Nyaman dan Gampang Dituju


Para Pegawai Melayani Pelanggan di Warung Pedas Tangkilsari Baru
Para Pegawai Melayani Pelanggan di Warung Pedas Tangkilsari Malang Baru

Warung Pedas Tangkilsari Malang kembali dibicarakan setelah beberapa waktu lalu viral lagi lewat tayangan beberapa food vlogger di YouTube. Seperti namanya, sajian utama di Warung Pedas Tangkilsari Malang adalah beragam lauk, seperti ayam, bebek, ikan tuna, cumi-cumi, kikil, udang dengan bumbu kuning super pedas.

Kabar baiknya, Warung Pedas Tangkilsari Malang baru saja pindah. Jika dulu menempati sebuah rumah kecil dan bahkan kalau makan harus antre sampai ke dapurnya yang masih berupa pawon, kini sudah pindah ke bangunan baru yang lebih nyaman dan gampang dituju.

Menu-menu di Warung Pedas Tangkilsari Malang baru
Pengunjung antre di Warung Pedas Tangkilsari Malang baru

Jarak Warung Pedas Tangkilsari Malang yang baru sebenarnya tak berjauhan dengan rumah yang lama. Masih sama-sama beralamat di Jalan Raya Tangkilsari, Tajinan, Kabupaten Malang, hanya pengunjung tak perlu sampai masuk jauh ke tengah desa.

Dari Jalan Mayjen Sungkono ke arah Bululawang, tinggal belok ke kiri setelah melihat Tugu Tangkilsari, lalu susuri Jalan Raya Tangkilsari sekitar 5 menit. Setelah melewati ladang tebu di kiri-kanan jalan, barulah kemudian ada sebuah bangunan besar bertuliskan Warung Pedas Tangkilsari di kiri jalan. Tak perlu khawatir tersesat, karena banyak petugas parkir yang siaga mengarahkan di pinggir jalan.

Bangunan Baru Warung  Pedas Tangkilsari Malang
Bangunan Baru Warung Pedas Tangkilsari Malang

Warung Pedas Tangkilsari baru menyediakan lahan parkir yang sangat luas, bahkan untuk mobil sekalipun. Meski bangunan utamanya belum sepenuhnya jadi, tetapi seperti biasa penikmat kuliner pedas di Warung Pedas Tangkilsari harus sabar mengantre. Apalagi saya ke sana di akhir pekan, sehingga harus waspada tak kebagian kursi maupun lauk-lauknya yang lengkap.

Beruntung di Warung Pedas Tangkilsari baru pengunjungnya lebih tertib. Setelah mengantre panjang, akhirnya saya mendapatkan giliran. Nasinya saya pilih separuh nasi putih dan separuh lagi nasi jagung, dengan sayur urap-urap, sejenis salad dari sayuran yang sudah direbus layaknya bahan-bahan pecel, tetapi tak disiram dengan sambal kacang. Sebaliknya, sayuran-sayuran, seperti sawi, taoge, kacang panjang dan kubis yang direbus dicampur dengan parutan kelapa yang sudah diurap dengan sambal. Entah kalau di daerah kalian disebut apa. 🙂

Warung  Pedas Tangkilsari Malang
Rupa sajian di Warung Pedas Tangkilsari Malang

Lauk-lauk di Warung Pedas Tangkilsari baru ditata rapi, dan pengunjung disediakan baki plastik untuk membawa setiap piring pesanan layaknya restoran cepat saji. Meski cukup banyak pengunjung, siang itu lauknya masih lengkap.

Sebenarnya, semua lauknya ingin saya coba karena lumayan lama tak ke Warung Pedas Tangkilsari Malang. Namun, yang paling ingin saya makan kemarin adalah kikil dan udang pedas di Warung Pedas Tangkilsari. Makin sempurna dengan tambahan gorengan mendol dan tempe kacang. Sebagai pelengkap saya sekalian pesan es kelapa muda.

Kikil pedas dan mendol panas di Warung Pedas Tangkilsari Malang
Kikil pedas dan mendol panas di Warung Pedas Tangkilsari Malang

Pegawai-pegawai yang gesit membuat pelayanan di Warung Tangkilsari Malang baru jadi tidak lambat. Bahkan di meja yang sama dengan lauk-lauk ditempatkan, sudah menanti pegawai khusus yang sigap mencatat jumlah dan harga satu baki makanan yang dipilih. Setelah bayar di muka, nampan lantas dikasih nomor, sebagai penanda pegawai lainnya mengantarkan minuman yang telah dipesan. Harga per porsi lauk dari 10-20 ribu Rupiah, nasi 5 ribu Rupiah, dan minuman 5-15 ribu Rupiah.

Saya sempat khawatir tak dapat kursi, tetapi hal tersebut urung terjadi karena jumlah meja dan kursi di Warung Pedas Tangkilsari Malang baru ini cukup banyak. Bahkan ada yang lesehan. Setelah dapat tempat duduk, satu per satu makanan saya lahap. Rasa gurih pedas kikil, maupun udangnya masih sama. Lebih-lebih saat disantap menggunakan tangan langsung. Suapan nasi berpadu sayur urap-urap, lauk-lauk pedas, juga cuilan gorengan mendol atau tempe kacang panas begitu nikmat dilahap. Makanya, jika kalian suka banget makan pedas dan sedang jalan-jalan ke Malang, jangan lupa mampir ke Warung Pedas Tangkilsari Malang baru.

Lokasi Warung Pedas Tangkilsari Malang

Tips Kulineran di Warung Pedas Tangkilsari Malang:

  1. Warung Pedas Tangkilsari Malang baru lumayan jauh dari pusat kota Malang, biar lebih gampang menuju ke sana, bisa manfaatkan transportasi online seperti Grab/Gojek.
  2. Warung Pedas Tangkilsari Malang baru masih tidak melayani pembayaran non-tunai, jadi siapkan uang tunai secukupnya, ya.
  3. Hindari datang terlalu siang apalagi sore ke Warung Pedas Tangkilsari Malang baru, karena selain antrean sangat panjang, beberapa pilihan lauknya mungkin habis, lebih-lebih saat akhir pekan. Waktu terbaik datang ke Warung Pedas Tangkilsari Malang adalah jam 10 pagi hingga 12 siang.
  4. Pilih kuah tak pedas, jika memang ragu akan kepedasan. Jika suka pedas, tinggal bilang pakai kuah pedas. Sebab, tak ada level-level kepedasan di Warung Pedas Tangkilsari Malang.
  5. Tak perlu berebut kursi di Warung Pedas Tangkilsari Malang. Beberapa pengunjung yang datang rombongan mungkin akan mencari tempat lebih dulu, tetapi ini akan merugikan pengunjung lain yang sudah mendapatkan makanan lebih dulu. Jika posisinya begitu, tinggal bilang ke pelayan di Warung Pedas Tangkilsari Malang, nanti mereka yang akan mencarikan.
  6. Rapikan piring sesudah makan di Warung Pedas Tangkilsari Malang, agar pelayan lebih gampang mengambil dan membersihkan meja, sehingga meja yang bersih bisa dipakai lagi oleh tamu yang lain. Sebenarnya ini belum diinstruksikan di Warung Pedas Tangkilsari Malang, tetapi tak ada salahnya menerapkan budaya self-service, demi meringankan tugas para pegawai di Warung Pedas Tangkilsari Malang.
Suasana di Warung Pedas Tangkilsari Malang yang baru
Suasana di Warung Pedas Tangkilsari Malang yang baru

Jadi, kapan mau mencoba makan pedas-pedas di Warung Pedas Tangkilsari Malang?

Drama Charger di Bangkok


Tuktuk di kawasan pecinan Bangkok, Thailand

It’s like not legit traveling without getting a drama, but damn tonight’s drama is not cool!

Gerutu tersebut terus berulang, seakan merutuk kebodohan diri yang tiada habis-habisnya. Padahal sejak awal, saya begitu tenang melenggang keluar rumah menuju bandara.

Tak ada sedikit pun gelisah, seolah semua sudah disiapkan secara sempurna. Apalagi sejak awal tiba di Suvarnabhumi saya melangkah dengan yakin dan santai, lantaran ini juga bukan ke Thailand untuk pertama kali.

Sebelum melenggang keliling beragam lokasi, saya ke hotel dulu menaruk barang sekalian check in karena tiba di Bangkok siang hari. Melihat simbol baterai pada ponsel yang berwarna merah, saya putuskan untuk mengisi daya terlebih dulu.

Dengan tenang, charger tinggal saya colokkan tanpa lagi kaget, “loh kok bentuknya beda?” Terlalu ceroboh kalau sudah beberapa kali berkunjung, tetapi tak mengantisipasi hal-hal kecil semacam ini.

Begitu juga saat mengecek kamera yang ternyata dayanya tinggal separuh, tenang saya ambil adaptor untuk menyambungkan charger. Dengan persiapan yang memadai saya pun optimis bisa menjalani pelesiran mandiri kali ini.

Siang berlalu, beberapa tempat berhasil saya kunjungi sesuai itinerary sejak hari pertama. Dari nostalgia ke Wat Pho, Grand Palace, dan Wat Arun hingga kulineran di beberapa pasar tradisional, semua berjalan lancar. Hingga sore di hari kedua, kartu memori pada kamera yang penuh akhirnya memaksa saya mengeluarkan laptop untuk memindah foto.

Andai bukan karena ada urusan pekerjaan, niscaya saya enggan bopong laptop ke luar negeri. Meski baterai pada laptop masih penuh saat saya hidupkan, entah kenapa saya tiba-tiba tertarik merogoh charger dalam tas.

Satu per satu item kabel saya keluarkan. Perasaan pun mulai tidak tenang. Semua barang dalam tas kini mulai saya tumpahkan di atas kasur hotel. Panik pun mulai menggelayut, sampai tas saya jungkir berulang kali demi memastikan kabel yang saya bawa bukan saja charger tustel dan ponsel.

Buru-buru saya langsung mematikan laptop, setelah tahu charger laptop tak ketemu. Sebab, kebutuhan utama menggunakan laptop justru Sabtu dan Minggu. Tujuan membawa laptop pun, agar semua agenda dan urusan di Thailand bisa saya bereskan sembari liburan.

Sayang drama tersebut seketika membuat saya cemas bukan kepalang. Dengan laptop yang sanggup bertahan 9 jam, rasanya saya hanya bisa menggunakannya untuk sehari. Cukup merepotkan jika harus mencari warnet dadakan di luar negeri, terlebih banyak file penting sudah saya siapkan di laptop. Bakal terasa percuma jika laptop saya akhirnya tak bisa digunakan sesuai rencana.

Beruntungnya, setelah berupaya berkoordinasi dengan tim di Indonesia, pekerjaan saya pun dapat di-back-up. Meski saya bisa melanjutkan liburan sesuai jadwal, tetapi setumpuk pekerjaan harus siap saya libas sepulang dari Thailand.


Moral value: jangan gampang yakin dan tenang sebelum benar-benar memastikan persiapan jalan-jalan secara maksimal. Terutama dengan perintilan kecil dan berwarna serupa seperti charger.

Jazz Gunung Bromo Membosankan?


Jazz Gunung Bromo Membosankan?
Jazz Gunung Bromo 2019 © Iwan Tantomi

Gersangnya pemandangan di sepanjang tol Pasuruan-Probolinggo sempat membuat saya bosan. Apalagi siang itu sangat terik. Beruntung, jalan sangat lengang. Kendaraan baru terlihat agak padat saat keluar dari tol menuju Sukapura, Probolinggo. Perbaikan jalan di beberapa titik sempat membuat kendaraan kami harus berhenti beberapa kali, tetapi tak mengurangi target waktu kami tiba di lokasi Jazz Gunung Bromo 2019.

Tepat jam 14.30 WIB, kami tiba di Java Banana Bromo Lodge, lokasi Jazz Gunung Bromo biasa dilangsungkan. Sekitar 2 jam 15 menit kira-kira kami berangkat dari Malang, keberadaan tol benar-benar terbukti menyingkat waktu perjalanan. Setelah memvalidasi tiket, saya sempatkan mengenyangkan perut sembari menunggu para penampil gladi resik.

Meski baru bisa datang pada hari terakhir, tetapi saya cukup antusias menikmatinya. Bukan saja banyak penampil idola yang saya tunggu aksi panggungnya, tetapi bisa datang ke Jazz Gunung Bromo secara cuma-cuma dari kantor adalah momen langka.

Saya tak perlu liputan, pertama. Kedua, saya tak perlu sibuk mengetik berita dari ponsel untuk dikirimkan ke redaksi saat acara tengah berlangsung. Ketiga, saya bisa duduk dan bersantai menikmati Jazz Gunung Bromo laiknya para penonton untuk pertama kalinya. Itulah kenapa Jazz Gunung Bromo 2019 ini begitu terasa istimewa buat saya.

Namun, di tengah menikmati penampilan Tristan dan Nita Aartsen, justru ada beberapa orang yang sibuk sendiri bermain gawainya. Bermain game lewat tablet saat Sierra Soetedjo menyanyikan Especially For You, bisa dimaklumilah bagi anak-anak, karena besar kemungkinan mereka tak tahu. Akan tetapi, melihat tayangan Korea [ada ponsel saat Sierra Soetedjo menembangkan The Only One secara live di Jazz Gunung Bromo bagi anak seusia kuliah, tentu menimbulkan pertanyaan.

Sebegitu membosankan-nyakah acara Jazz Gunung Bromo ini?

Sebetulnya, saya ingin mengabaikan ‘pemandangan’ tersebut. Namun, apa daya, pria tersebut duduk tepat di bawah saya. Sementara set duduk amfiteater yang bertingkat mengharuskan saya melihat ke bawah, sehingga setiap kali memusatkan pandangan ke arah panggung Jazz Gunung Bromo, apa yang ditonton orang di bawah saya tentu otomatis akan terlihat.

Beruntung saat giliran Ring of Fire feat Didi Kempot, pria tersebut tak lagi bermain ponsel. Beragam lagu-lagu legendaris Didi Kempot yang diaransemen ulang versi Jazz oleh Djaduk Ferianto bisa saya nikmati dengan jelas. Bahkan, suasana kian hangat di tengah hawa dingin pegunungan yang mulai merasuk, kala Djaduk dan Didi mengajak penonton berdiri untuk bernyanyi bersama lagu-lagu legendaris, seperti Sewu Kutho, Stasiun Balapan, Cidro, dan Banyu Langit.

Sayang pemandangan yang cukup mengganggu tadi kembali terulang saat giliran Candra Darusman Project menghentak panggung Jazz Gunung Bromo, dengan maha karya instrumen-instrumen musik jazznya. Tak berselang lama, pria tersebut akhirnya keluar. Namun, bukan itu yang bikin saya kali ini bertanya-tanya, melainkan beberapa penonton Jazz Gunung Bromo yang beranjak pergi justru saat Barry Likumahuwa menunjukkan aksi keren bermain bass.

Sebegitu membosankan-nyakah acara Jazz Gunung Bromo ini?

Mereka justru berduyun-duyun pergi, meninggalkan amfiteater, kala para musisi jazz sedang unjuk gigi. Ironis memang, terlebih acara ini jelas berlabel Jazz Gunung Bromo. Terlepas dari apa yang mereka cari, saya cukup salut dengan para penonton yang masih bertahan sampai akhir acara.

Pada akhirnya, ungkapan: tak semua orang bisa menikmati musik jazz, itu pun memang benar adanya. Dan, spesial buat para penggemar musik jazz sejati, saya luangkan membuat sebuah video singkat, walau teramat sederhana dari keseruan Jazz Gunung Bromo 2019. Barangkali bisa memotivasi diri untuk melihat langsung keseruan Jazz Gunung Bromo suatu hari nanti. 🙂

Mungkin Saya Harus Bilang…


Delapan tahun bukan waktu yang sedikit, tapi juga bukan waktu yang lama buat blogging. Dari yang awalnya sekadar tempat pelampiasan tugas sekolah, ‘tong’ mengisi makalah kuliah, tempat curhatan yang entah isinya apa saja, hingga harus saya reset ulang menjadi blog berisi tulisan perjalanan.

Lanjutkan membaca Mungkin Saya Harus Bilang…

Braga Punya Cerita


“Ka Bandung mah belum lengkap kalau belum ka Braga(k),” ungkap Lilis, pemandu gelis yang mendampingi kami berkeliling Bandung menggunakan Bus Bandros.

Lanjutkan membaca Braga Punya Cerita

Halo Bandung


Jembatan Pasopati Kota Bandung

Setelah telat satu jam, Malabar akhirnya tiba ke pemberhentian terujungnya. Tak paham apa yang membuat kereta api tersebut tidak tepat waktu, yang jelas simpang siur informasi sempat terjadi hingga membuat sebagian penumpang waswas sendiri. Beruntung, kereta merapat dengan selamat.

Lanjutkan membaca Halo Bandung

Bandung, Apa Kabar?


Kereta Api Malabar

Lembar demi lembar begitu tak terasa hikmatnya. Masih membaca novel ‘Amba’ yang berkutat dengan fiksi sejarah, rasanya saya menghabiskan hari dengan penuh makna.

Lanjutkan membaca Bandung, Apa Kabar?

Terpaksa Joging Menyusuri Sentosa Loop di Singapura


Badan rasanya langsung terhentak untuk bangun, setelah alarm ponsel berbunyi entah untuk yang ke berapa kali. Dengan kepala agak pening imbas bangun tiba-tiba, saya langsung mengambil ponsel yang sudah tergeletak di lantai. Beruntung lantai kamar Hard Rock Hotel ini berlapis karpet tebal, jadi tak sampai menyebabkan ponsel lecet atau bahkan remuk.

Lanjutkan membaca Terpaksa Joging Menyusuri Sentosa Loop di Singapura

Terjebak Halloween


Setelah lelah beraktivitas seharian, paling pas rasanya pulang ke rumah dan lekas membersihkan diri. Lalu, santai sejenak di sofa, sekadar menghabiskan sisa malam dengan menonton tayangan komedi ringan di televisi.

Lanjutkan membaca Terjebak Halloween

Rasanya Makan Emas…


Special dinner with luxurious dishes made by Michelin Star Chef.

Entah kenapa kalimat tersebut tertulis dalam daftar agenda yang harus saya penuhi hari itu. Bisa dijemput dari Bandara Changi Singapura pakai Alphard saja rasanya sudah istimewa. Pun bisa rehat cuma-cuma di kamar deluxe suite Hard Rock Hotel Resorts World Sentosa (RWS) Singapura, rasanya masih tak percaya.

Lanjutkan membaca Rasanya Makan Emas…

Raja Sehari di Singapura


 

Sebelum Terminal 4 dioperasikan, penerbangan low cost carrier ke Singapura mengharuskan saya mendarat di Terminal 1 Bandara Changi. Usai itu, saya masih perlu bergegas ke stasiun skytrain menuju Terminal 2, atau kalau tak memungkinkan ke Terminal 3. Hanya di dua terminal itulah, stasiun mass rapid transit (MRT) menuju pusat kota Singapura dari Changi, sementara berada.

Lanjutkan membaca Raja Sehari di Singapura

Daftar Rekor Agust D ‘D-2’: Dari Tembus Billboard 200, Official UK Chart, Sampai Bikin Suga BTS Cetak Sejarah


Daftar Rekor Agust D 'D-2': Dari Tembus Billboard 200, Official UK Chart, Sampai Bikin Suga BTS Cetak Sejarah

Suga BTS meraih banyak prestasi dan rekor gemilang berkat mixtape solo terbarunya, Agust D ‘D-2’.

Padahal mixtape berisi 10 lagu tersebut dirilis secara cuma-cuma dengan link download yang bisa diunduh siapa saja.

baca: Daftar 10 Lagu Agust D ‘D-2’, Mixtape SUGA BTS dengan Daechwita Sebagai Andalannya

Namun, alih-alih mendengarkan lagu daechwita yang merupakan title track dengan makna dalam, serta lagu-lagu lainnya dalam mixtape Agust D ‘D-2’, fans dalam hal ini ARMY, lebih memilih cara lain.

baca: Arti Daechwita, Lagu SUGA BTS di Mixtape Agust D ‘D-2’, Kental Budaya Korea Lho

Demi mengapresiasi karya terbaik Suga BTS setelah 4 tahun berkarya dengan mixtape solo perdananya, Agust D, ARMY lebih memilih membelinya lewat beragam platform musik, seperti iTunes.

baca: Arti Nama Agust D dan Sejarahnya,Wajib Banget Tahu Sebelum Mendengarkan Mixtape SUGA BTS

Hasilnya, sejak dirilis pada 22 Mei 2020 kemarin, Agust D ‘D-2’ meraih sejumlah rekor mengejutkan. Padahal Suga BTS sendiri nggak berharap pencapaian yang muluk-muluk.

Dari Billboard 200, tembus Official UK Chart, hingga membuat Suga BTS cetak sejarah baru, berikut daftar torehan rekor Agust D ‘D-2’:

  1. Agust D ‘D-2’ sukses debut di urutan 11 Billboard 200 setelah terjual 33.1 ribu unit pekan perdana.
  2. Daechwita debut di urutan Billboard Hot 100.
  3. Daechwita debut di urutan 2 Billboard Digital Song Sales Chart dengan 17.4 ribu sales.
  4. 10 lagu Agust D ‘D-2’ debut di Top 25 Billboard Digital Song Sales Chart.
  5. Daechwita debut di urutan 1 Billboard World Digital Song Sales Chart, dengan penjualan 17.4 ribu unit, menjadi lagu kedua Suga setelah Eight dengan IU.

baca: SUGA BTS X IU Hadirkan Eight, Kolaborasi Manis Kandidat Song of The Year 2020

  1. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 10 Rolling Stone Album Chart dengan penjualan 33.2 ribu unit dan 93.9 ribu song sales.
  2. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 18 Slovakia Album Chart.
  3. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 29 Czech Republic Album Chart.
  4. Daechwita debut di urutan 57 Greece Digital Song Chart.
  5. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 1 Lithuanian Album Chart.
  6. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 32 French Album Chart.
  7. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 4 Finland Album Chart.
  8. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 2 UK Official Independent Albums Chart.
  9. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 7 UK Official Album Chart.
  10. Daechwita debut di urutan 68 UK Official Single Chart.
  11. Daechwita debut di urutan 6 UK Single Sales Chart.
  12. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 2 Australian ARIA Album Chart.
  13. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 1 Australian ARIA Urban Albums Chart.
  14. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 10 New Zealand Album Chart.
  15. Daechwita debut di urutan 6 New Zealand Hot 40 Singles.
  16. Daechwita debut di urutan 8 Scottish Singles Chart.
  17. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 6 Scottish Album Chart.
  18. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 10 Irish Album Chart.
  19. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 2 Irish Independent Albums Chart.
  20. Daechwita debut di urutan 83 Irish Singles Chart.
  21. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 7 Norway Album Chart.
  22. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 19 Swedish Album Chart.
  23. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 16 Netherlands Album Chart.
  24. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 12 Belgium Album Chart.
  25. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 15 Belgium Flandre Album Chart.
  26. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 16 Spain Streaming Album Chart.
  27. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 1 Estonian Album Chart.
  28. Daechwita debut di urutan 25 Estonian Singles Chart.
  29. Agust D ‘D-2’ debut di urutan 2 German Top Download Albums.
  30. Daechwita debut di urutan 22 German Top Download Singles.
  31. Daechwita debut di urutan 30 Tophit Russia Singles Chart.
  32. Daechwita debut urutan 1 iTunes di 62 Negara.
  33. Agust D ‘D-2’ debut urutan 1 iTunes di 84 Negara.

Sebagian besar dari beberapa rekor tersebut menjadikan Suga BTS sebagai solois pertama dari Korea pun Asia yang mencapainya.

Sementara di Billboard 200, Suga BTS menyusul J-Hope dengan Hope World debut di urutan 38 dan RM dengan mono debut di urutan 26. Ketiganya kini menjadi artis solo Korea maupun Asia yang mampu menembus Billboard 200.

BTS X SYSTEM Hadirkan 20 Koleksi Pakaian dan 5 Aksesoris dari MV Blood Sweat & Tears Lho


BTS X SYSTEM menjadi kolaborasi BTS berikutnya dengan brand kenamaan Korea. SYSTEM sendiri merupakan brand pakaian dan aksesoris kenamaan asal Negeri Ginseng.

Lewat kolaborasi ini, SYSTEM pun menghadirkan 20 koleksi pakaian dan 5 aksesoris yang terinspirasi dari Music Video (MV) lagu BTS Blood, Sweat & Tears.

Merchandise resmi ini pun dapat dibeli melalui:

  • Weverse Shop mulai 14 Mei 2020
  • SYSTEM online shop mulai 18 Mei 2020
  • Offline store SYSTEM di Korea mulai 27 Mei 2020

Bagi yang belum tahu, Blood, Sweat & Tears menjadi salah satu lagu ikonik BTS dari album WINGS. Lagu tersebut dirilis pada 16 Oktober 2016. Konsep MV lagu tersebut didasarkan dari buku Demian: The Story of Emil Sinclair’s Youth karya Hermann Hesse.

Buku tersebut masih berkaitan dengan Jungian archetypes dan Jungian symbols, karya psikolog dunia Carl Jung. Secara umum, konsep ini menjabarkan krisis identitas yang kerap dialami saat usia muda, di mana kebingungan kerap menghampiri antara menentukan jati diri sendiri, atau mengikuti aturan orangtua.

Semua konsep tersebut diaplikasikan dalam lirik dan MV lagu BTS Blood, Sweat & Tears. Menariknya, BTS pun mengonsep MV lagu tersebut dengan detail fashion dan aksesoris yang menarik, sehingga bikin fans juga kepincut untuk memilikinya.

Nah, lewat kolaborasi BTS X SYSTEM ini keinginan lama para fans tersebut akhirnya bisa terwujud. Kalau kamu gimana, ARMY, siap shopping haul koleksi BTS X SYSTEM juga nggak nih?

Daftar 10 Lagu Agust D ‘D-2’, Mixtape SUGA BTS dengan Daechwita Sebagai Andalannya


SUGA BTS akhirnya rilis kembali mixtape Agust D. Setelah beberapa waktu akun Big Hit Entertainment merilis countdown, akhirnya pada 22 Mei 2020, mixtape Agust D ‘D-2’ resmi dirilis.

Menariknya, Agust D ‘D-2’ dirilis tanpa promo dan bisa diunduh secara gratis. Namun, seperti biasa, ARMY lebih memilih membeli mixtape member BTS di platform musik, seperti Spotify, iTunes dan Apple Music.

Mixtape yang sudah lama ditunggu para penggemar ini pun hadir dengan beberapa lagu. Berikut daftar 10 lagu dalam mixtape SUGA BTS, Agust D ‘D-2’:

  1. Moonlight
  2. Daechwita
  3. What Do You Think?
  4. Strange (feat RM)
  5. 28 (feat NiiHWA)
  6. Burn IT (feat MAX)
  7. People
  8. Honsool
  9. Interlude: Set Me Free
  10. Dear My Friend (feat Kim Jong Wan)

Daechwita dipilih sebagai lagu utama alias lagu andalan di mixtape SUGA BTS Agust D ‘D-2’. Rupanya Daechwita ini lekat dengan budaya Korea lho.

baca: Arti Daechwita, Lagu SUGA BTS di Mixtape Agust D ‘D-2’, Kental Budaya Korea Lho

Uniknya, SUGA BTS bukan tanpa sebab lho memilih menggunakan nama Agust D. Makanya, jangan sampai lupa mengetahui arti nama dan sejarah Agust D dulu, ya ARMY.

baca: Arti Nama Agust D dan Sejarahnya,Wajib Banget Tahu Sebelum Mendengarkan Mixtape SUGA BTS

Gimana, sudah mendengarkan lagu-lagu SUGA BTS di mixtape Agust D ‘D-2’ belum ARMY? Cek langsung di bawah ini:

Arti Nama Agust D dan Sejarahnya,Wajib Banget Tahu Sebelum Mendengarkan Mixtape SUGA BTS


SUGA BTS baru saja merilis mixtape Agust D ‘D-2’. Di mana, dalam mixtape terbaru tersebut lagu Daechwita dipilih sebagai lagu andalan. Bukan saja namanya yang unik, rupanya Daechwita sarat budaya tradisional Korea lho.

baca: Arti Daechwita, Lagu SUGA BTS di Mixtape Agust D ‘D-2’, Kental Budaya Korea Lho

Namun, kamu sendiri sudah tahu belum sih arti dari nama Agust D?

Jika belum tahu, Agust D berasal dari nama SUGA yang dibalik menjadi Agus. Sementara TD merupakan kebalikan dari DT yang merupakan akronim dari Daegu Town, kota kelahiran SUGA. Dua kata tersebut lantas digabungkan menjadi Agust D yang nggak lain menjadi nama mixtape sekaligus alter ego SUGA BTS.

Agust D sendiri berisi lagu-lagu raw rap dengan hip-hop beats. Sebagian besar liriknya menjelaskan tentang kritik sosial dan mental health.

Empat tahun berikut, tepatnya pada 22 Mei 2020, SUGA BTS kembali seri kedua dari Agust D ‘D-2’.

baca: Daftar 10 Lagu Agust D ‘D-2’, Mixtape SUGA BTS dengan Daechwita Sebagai Andalannya

Uniknya, ‘D-2‘ ini merujuk hari kedua dalam hitung mundur (countdown) yang dirilis Big Hit Entertainment. SUGA BTS sengaja merilisnya pada ‘D-2’ bukan sekadar sebagai penanda seri kedua Agust D, tetapi juga kejutan buat fans, karena orang bakal berpikir rilis Mixtape-nya bakal di hari-H.

Agust D dan SUGA BTS adalah Dua Karakter Berbeda

Menurut SUGA BTS dalam wawancara bersama TIME, SUGA BTS dan Agust D adalah dua karakter berbeda.

SUGA BTS mengaku lebih mengekspresikan perasaan dan sisi ‘liar’ dari dirinya dalam Agust D. Namun, keduanya sama-sama memiliki kesamaan, yaitu menyanyi tentang mimpi dan harapan.

Bagi SUGA BTS, saat menjadi Agust D ia memiliki kebebasan untuk membuat lagu yang sesuai keinginannya, tanpa harus pilih-pilih genre.

Ia juga yakin jika musik yang dibuat dengan baik, makan bisa didengarkan pula dengan baik. Hal ini sebagaimana motto hidupnya:

What’s good is good

Agust D aka SUGA BTS

Sekarang sudah tahu kan, arti nama dan sejarah Agust D, yuk sekarang langsung dengarkan musiknya di bawah ini:

Arti Daechwita, Lagu SUGA BTS di Mixtape Agust D ‘D-2’, Kental Budaya Korea Lho


SUGA BTS baru saja merilis mixtape berjudul Agust D ‘D-2’. Selain berisi 10 lagu, mixtape kedua dari Agust D ini juga merilis single atau lagu andalan Daechwita berserta Music Video (MV).

baca: Daftar 10 Lagu Agust D ‘D-2’, Mixtape SUGA BTS dengan Daechwita Sebagai Andalannya

Rupanya Daechwita ini sendiri merupakan nama dari musik tradisional Korea, dengan iringan perkusi Kkwaengwari dan lirik cerita Pansori. Daerchwita sendiri biasanya dimainkan untuk mengiri langkah raja dalam sebuah ritual atau upacara kerajaan.

Dalam perkembangannya Daechwita kini dipakai sebagai musik pengiring militer dan dimainkan dalam formasi marching band.

SUGA BTS Kepikiran Daechwita saat Membuat Mixtape Agust D ‘D-2’

Sementara dalam wawancara bersama TIME, SUGA BTS mengungkapkan jika ia kepikiran Daechwita saat membuat lagu ini pertama kali. Baru kemudian ia memutuskan untuk benar-benar menambahkan elemen musik tradisional Korea dalam lagunya. Nggak berlebihan, lantaran SUGA dan BTS sendiri didapuk sebagai Korea’s Pride.

baca: Ada BTS di Rekaman Video Lagu Nasional saat Peringatan Gerakan 1 Maret Kemerdekaan Korea Selatan yang Mendadak Viral, Jadi Bukti Kebanggaan Negeri Ginseng?

Music Video (MV) Daechwita Berlatar Penjara Dinasti Joseon

Musik tradisional Korea ini pun kemudian disempurnakan dengan MV Daechwita yang juga mengambil elemen Korea lainnya, yaitu berlatar penjara dari Dinasti Joseon.

Makna Lagu Daechwita di Agust D ‘D-2’

Daechwita sendiri menggambarkan sisi SUGA BTS dalam alter ego Agust D sebagai dirinya yang sekarang. Jika di mixtape pertama ia fokus rap dan bikin musik yang lebih baik, di mixtape Agust D ‘D-2’ ini ia hanya berusaha yang terbaik, dan nggak menjadi sempurna.

Sebab, menurut SUGA BTS, kesempurnaan itu sulit dipahami.

I’ve worked on a lot more projects since then and didn’t really try to become perfect. Perfection is an elusive term. I simply just did my best.

Agust D aka SUGA BTS

Secara garis besar, Daechwita ini tradisional tapi asyik didengar, makna lagunya dalam tapi keren, liriknya kelam tapi kaya wawasan dan pelajaran hidup, serta banyak menampilkan ‘kematian’ tapi kalau dicermati justru bisa jadi penyemangat hidup yang lebih baik.

baca: Arti Nama Agust D dan Sejarahnya,Wajib Banget Tahu Sebelum Mendengarkan Mixtape SUGA BTS

Apakah kamu setuju dengan interpretasi tersebut, ARMY? Atau, kamu punya pendapat lain? Jangan sungkan membagikannya di kolom komentar ya.

Yuk, tonton dan dengarkan MV Daechwita di bawah ini:

Album TXT The Dream Chapter: ETERNITY Bukan Seri Terakhir, Soobin Ungkap Masih Ada Kelanjutannya


TXT baru saja merilis album baru The Dream Chapter: ETERNITY. Seri ketiga dari The Dream Chapter tersebut menjadi penerus The Dream Chapter: STAR dan The Dream Chapter: MAGIC. Album baru tersebut berisikan 6 lagu.

baca: TXT Rilis 6 Lagu di Album The Dream Chapter: ETERNITY

Can’t You See Me? yang nggak lain salah satu lagu di album The Dream Chapter: ETERNITY didapuk sebagai lead single atau title track alias lagu andalan. Lagu bergenre pop dengan trap-rap berbalut melodi catchy, tersebut justru menyimpan makna kelam, sebagaimana konsep Music Video (MV)-nya.

baca: Makna Lagu TXT “Can’t You See Me?”: Sisi Gelap Persahabatan

Menariknya, jika MOA menduga The Dream Chapter: ETERNITY ini sebagai seri terakhir, mengingat selama ini Big Hit Entertainment selalu mengangkat konsep trilogi dalam album-album BTS, tampaknya hal ini nggak lagi berlaku di TXT.

Menurut Soobin TXT dalam press conference comeback show, The Dream Chapter: ETERNITY bukan seri terakir dari The Dream Chapter. Jalan cerita dari seri album ini masih panjang, dan TXT masih menyiapkan beberapa lagu baru untuk melengkapinya.

TXT juga menjelaskan tentang garis besar dari The Dream Chapter: ETERNITY. Jika The Dream Chapter: STAR mengangkat pengenalan sebagai seorang ‘bintang’, dan The Dream Chapter: MAGIC mengangkat imajinasi, petualangan dan kesenangan dalam persahabatan lima orang remaja, maka The Dream Chapter: ETERNITY menjelaskan bagaimana TXT yang kini mulai beranjang dewasa menghadapi kenyataan hidup, yang kadang nggak semenangkan yang dibayangkan.

Konflik mungkin akan mereka hadapi, tetapi TXT yakin persahabatan yang kekal, dapat membuat mereka semakin kuat saat berjalan bersama. Hal itu pun tergambarkan dalam setiap lagu di album The Dream Chapter: ETERNITY.

baca: BTS Dukung TXT Comeback dengan Album The Dream Chapter: ETERNITY

Kalau menurut kamu gimana MOA? Bagikan juga pendapatmu dalam kolom komentar sembari mendengarkan lagu-lagu terbaik di album terbaru TXT The Dream Chapter: ETERNITY.

Makna Lagu TXT “Can’t You See Me?”: Sisi Gelap Persahabatan


TXT baru saja merilis lagu baru berjudul Can’t You See Me?. Lagu tersebut merupakan title track atau lead single dari album terbaru TXT, The Dream Chapter: ETERNITY.

baca: TXT Rilis 6 Lagu di Album The Dream Chapter: ETERNITY

Lantas, apa makna dari lagu TXT Can’t You See Me? ini?

Music Video (MV) Can’t You See Me? mengambil konsep dark, tetapi nggak menampilkan sisi seksi sebagaimana yang biasa ditemukan dalam MV KPOP.

Sebaliknya, TXT tetap membenamkan ciri khas mereka dalam MV Can’t You See Me?, yaitu cheerful. Kombinasi konsep dark dan musik yang cheerful inilah yang membuat lagu-lagu TXT tetap unik.

baca: TXT Pilih “Can’t You See Me?” Sebagai Lagu Andalan di Album The Dream Chapter: ETERNITY

Sementara dari sisi lirik, Can’t You See Me? mengisahkan sisi gelap persahabatan TXT. Maksudnya, selama ini mereka menjalani hari-hari bersama dengan gembira dan berkesan, tetapi masa-masa sebagai anak muda bakal berakhir, sementara harus tetap bersama.

Nah, di fase menuju dewasa inilah konflik kerap terjadi, sehingga mereka perlu membangun kembali persahabatan sekokoh di awal.

Dalam press conference comeback show TXT pun menjelaskan jika Can’t You See Me? bercerita tentang kesendirian akibat konflik dengan para sahabatnya. Ia hanya berharap sahabatnya bisa kembali menyelematkannya, di tengah kondisi pasrah dan rasa gundah yang menyelimuti.

Can’t you see me?

Like on that magical day say ‘Believe me’

My heart incinerated

Come and feel me

Feel me…

My friends don’t understand me anymore

Nukilan lirik lagu TXT Can’t You See Me?

Yang jelas, lagu TXT ini saling berkesinambungan jalan ceritanya dengan lagu-lagu sebelumnya, termasuk CROWN di album The Dream Chapter: STAR dan Run Away di album The Dream Chapter: MAGIC.

Kalau menurut kamu gimana, MOA?