Moshi Moshi Ramen Malang Nggak Enak?


Moshi Moshi Ramen Malang
Moshi Moshi Ramen Malang

Moshi Moshi Ramen Malang akhirnya menjadi perhentian, setelah berpikir makan apa enaknya usai joging yang melelahkan.

Seperti biasa, akhir pekan saya khususkan untuk me time, termasuk mentraktir diri dengan makan enak. Namun, pilihan ke Moshi Moshi Ramen Malang bukan semata lapar, tapi justru cenderung penasaran.

Pasalnya, sebagian teman saya—yang suka budaya Jepang, bilang Moshi Moshi Ramen Malang mantap, tapi sebagian lainnya—yang nggak begitu mengikuti atau bahkan suka budaya Jepang, justru bilang nggak enak.

Lantas, mana yang harus saya percaya? Tentu saja nggak ada, karena saya ingin merasakan menu-menu di Moshi Moshi Ramen Malang sendiri, lantaran soal selera setiap lidah manusia nggak pernah sama.

Kebetulannya lagi, Moshi Moshi Ramen Malang ini HALAL. Wajar jika antrean kursinya lumayan panjang. Tempatnya nggak besar, tapi penataan meja dan kursinya cukup compact dan paling penting nggak berisik, sehingga cukup nyaman.

Saya pesan Ramen Spicy Volcano karena juga lagi pengin makan yang pedas-pedas. Sebenarnya ingin makan sushi juga, sayang malam itu sudah habis. Jadi, saya ganti yakitori dan gyoza. Untuk minum, saya pesan yang cepat bikinnya, karena habis joging ceritanya langsung kulineran, lemon-tea iced. :p

Lima belas menit berlalu, Ramen Spicy Volcano yang saya pesan datang, bersamaan dengan gyoza dan minuman. Lima menit berikutnya, yakitori akhirnya tiba juga.

Mula-mula saya coba gyozanya dulu. Teksturnya kenyal dengan isian udang yang dilembutkan. Rasanya nggak berat, cocok buat appetizer. Cuma entah karena AC-nya yang banyak, gyozanya jadi cepat dingin. Selebihnya enak kok, menarik buat dicoba.

Biar nggak keburu dingin juga, saya langsung menyantap Ramen Spicy Volcano. Kuahnya mirip tomyam, asam-pedas-gurih, tambahan irisan rawit segar bikin pedasnya makin nendang. Dari atas, ramennya nggak terlihat karena tertutup telur dadar yang berisi potongan daging ayam goreng, lebar-lebar.

Setelah puas merasakan kuahnya, saya langsung ambil sumpit dan mulai mencoba ramennya. Kenyal, tapi juga lembut diseruput, hingga ditelan. Saat dimakan dengan kuah, benar-benar bikin keringat bercucuran karena saking pedas dan panasnya. Pantas saja dinamakan Ramen Spicy Volcano.

Sebagai pengalih rasa pedas, saya makan yakitori tusuk demi tusuk. Ayam yang dipilih sepertinya masih muda, sehingga tulangnya gampang dikunyah saat digoreng kering. Bumbu yakitori ini juga light banget, nggak terasa banyak rempah, hanya sedikit manis seperti karamel, mirip ayam goreng madu.

Tegukan lemon-tea iced yang segar pun rasanya menyempurnakan semua citarasa yang saya coba di Moshi Moshi Ramen Malang. So far, saya nggak menemukan rasa yang mengecewakan. Bukan karena saya suka budaya Jepang, bukan pula karena lagi lapar, tapi rasa enak muncul apa adanya. Toh saya juga bayar, kalau memang nggak enak, tentu bakal saya sejujurnya. Jadi, buat saya masih worth it kok jajan di Moshi Moshi Ramen Malang.

Lokasi Moshi Moshi Ramen Malang

Alamat:

Kedai 1: Jalan Kawi Atas no 10 Kota Malang

Kedai 2: Jalan Kawi Atas no 37 Kota Malang

Jam Buka Moshi Moshi Ramen Malang

Kedai 1: setiap hari dari jam 11 pagi sampai 9 malam

Kedai 2: setiap hari dari jam 9 pagi sampai 9 malam

Disclaimer: konten ini subjektif karena pereferensi setiap orang pada makanan berbeda-beda.

Masih ragu atau penasaran enak atau nggak, datang saja langsung ke Moshi Moshi Ramen Malang.

RAHASIA Cafe, Tempat Ngopi OK di Tidar Malang


RAHASIA Cafe Tidar Kota Malang
RAHASIA Cafe Tidar Kota Malang

RAHASIA Cafe dari namanya sudah menarik perhatian saya sejak awal. Kafe ini nggak sengaja saya temukan saat lagi sumpek, lalu berkeliling kota, hingga masuk ke wilayah perumahan elite di Kota Malang, tepatnya di kawasan Tidar.

Tahu-tahu ada sebuah bangunan bergaya industrialis, yang didominasi kaca, serta cahaya lampu yang terang di tengah gelap perumahan di Villa Puncak Tidar.

Tepat di depannya, ada plakat kecil bertuliskan RAHASIA. Mulanya saya nggak paham itu tempat apa. Tapi, saya masuk saja, karena lelah berkeliling dan ingin makan juga.

“Selamat datang di RAHASIA Cafe, silakan mau pesan apa, kak?” Tanya kasir.

“Emm, signature-nya apa nih, mas? Baru pertama ke sini, nih.” Jawab saja.

“Kalau minuman, ada Kopi RAHASIA, produk favorit customer kita. Kalau camilan, kita punya Poffertjes, french fries with special mayo, dan ada main dish, rice box, ada ayam cabai garam atau sambal dabu-dabu,” jelasnya ramah.

Setelah beres memesan dan bayar di muka, saya memilih duduk di luar. Sekitar 15 menit berlalu, satu per satu hidangan yang saya pesan datang. Es Kopi RAHASIA hadir lebih dulu dengan poffertjes.

Saya tekejut ketika menyeruput es Kopi RAHASIA yang berasa kopi-susu-karamel seperti Caramel Macchiato milik brand kopi fancy. Pas, nggak manis banget, atau pahit kopinya berlebihan.

Kemudian, poffertjes-nya juga yang tampak sederhana, tersaji 4 buah. Berbalur serbuk gula putih, bola-bola keju itu ternyata manis-gurih tapi tetap light, nggak bikin bosan untuk memakannya. Saya merekomendasikan yang orisinal ini jika datang ke RAHASIA Cafe.

Setelah itu, french fries akhirnya datang bersamaan dengan rice box ayam cabai-garam yang saya pesan. Saya coba dulu ayam cabai garamnya. Selain ayam, ada telur mata sapi di bagian bawah, baru nasi di dasar sendiri dalam kemasan kotak.

Rasanya yang simpel, tetapi tetap mengenyangkan, membuat sajian rice box ini terasa pas disajikan untuk melengkapi suasana kafe yang tenang, dan jauh dari hiruk pikuk kebisingan jalan.

Terakhir, ada french fries yang crunchy dan nggak oversalt. Racikan mayo dengan rasa pedas manis rupanya jadi paduan sempurna dengan french fries tadi. Pantas, jika menu ini banyak digemari.

Tahu saya sendiri, kasir yang tadi melayani lantas meminta izin untuk gabung di meja saya. Ternyata ia ingin meminta pendapat saya tentang rasa dari menu-menu yang saya pesan tadi. Saya terkejut mereka mencatat, bahkan dengan senang hati berdiskusi untuk kemajuan RAHASIA Cafe.

Hal yang bikin saya kaget lagi, ternyata RAHASIA Cafe ini didirikan plus dikelola ramai-ramai oleh mahasiswa. Namun, jiwa enterpreneur dan usia yang relatif muda, nyatanya nggak membuat mereka lalai mengutamakan servis, di samping rasa. Kahadiran WiFi yang cepat kian menyempurnakan RAHASIA Cafe sebagai tempat kerja yang tepat di kawasan Tidar, Kota Malang.

Lokasi RAHASIA Cafe

Alamat: Jl. Villa Puncak Tidar VE2/2A Kota Malang.

Jam Buka RAHASIA Cafe Malang

Minggu-Kamis jam 4 sore sampai 11 malam

Jumat-Sabtu jam 1 siang sampai 12 malam

Disclaimer: konten ini sangat subjektif, karena preferensi setiap orang pada makanan berbeda-beda, jadi silakan coba mana yang paling diminati.

Warung Pedas Tangkilsari Malang Baru, Kini Lebih Nyaman dan Gampang Dituju


Para Pegawai Melayani Pelanggan di Warung Pedas Tangkilsari Baru
Para Pegawai Melayani Pelanggan di Warung Pedas Tangkilsari Malang Baru

Warung Pedas Tangkilsari Malang kembali dibicarakan setelah beberapa waktu lalu viral lagi lewat tayangan beberapa food vlogger di YouTube. Seperti namanya, sajian utama di Warung Pedas Tangkilsari Malang adalah beragam lauk, seperti ayam, bebek, ikan tuna, cumi-cumi, kikil, udang dengan bumbu kuning super pedas.

Kabar baiknya, Warung Pedas Tangkilsari Malang baru saja pindah. Jika dulu menempati sebuah rumah kecil dan bahkan kalau makan harus antre sampai ke dapurnya yang masih berupa pawon, kini sudah pindah ke bangunan baru yang lebih nyaman dan gampang dituju.

Menu-menu di Warung Pedas Tangkilsari Malang baru
Pengunjung antre di Warung Pedas Tangkilsari Malang baru

Jarak Warung Pedas Tangkilsari Malang yang baru sebenarnya tak berjauhan dengan rumah yang lama. Masih sama-sama beralamat di Jalan Raya Tangkilsari, Tajinan, Kabupaten Malang, hanya pengunjung tak perlu sampai masuk jauh ke tengah desa.

Dari Jalan Mayjen Sungkono ke arah Bululawang, tinggal belok ke kiri setelah melihat Tugu Tangkilsari, lalu susuri Jalan Raya Tangkilsari sekitar 5 menit. Setelah melewati ladang tebu di kiri-kanan jalan, barulah kemudian ada sebuah bangunan besar bertuliskan Warung Pedas Tangkilsari di kiri jalan. Tak perlu khawatir tersesat, karena banyak petugas parkir yang siaga mengarahkan di pinggir jalan.

Bangunan Baru Warung  Pedas Tangkilsari Malang
Bangunan Baru Warung Pedas Tangkilsari Malang

Warung Pedas Tangkilsari baru menyediakan lahan parkir yang sangat luas, bahkan untuk mobil sekalipun. Meski bangunan utamanya belum sepenuhnya jadi, tetapi seperti biasa penikmat kuliner pedas di Warung Pedas Tangkilsari harus sabar mengantre. Apalagi saya ke sana di akhir pekan, sehingga harus waspada tak kebagian kursi maupun lauk-lauknya yang lengkap.

Beruntung di Warung Pedas Tangkilsari baru pengunjungnya lebih tertib. Setelah mengantre panjang, akhirnya saya mendapatkan giliran. Nasinya saya pilih separuh nasi putih dan separuh lagi nasi jagung, dengan sayur urap-urap, sejenis salad dari sayuran yang sudah direbus layaknya bahan-bahan pecel, tetapi tak disiram dengan sambal kacang. Sebaliknya, sayuran-sayuran, seperti sawi, taoge, kacang panjang dan kubis yang direbus dicampur dengan parutan kelapa yang sudah diurap dengan sambal. Entah kalau di daerah kalian disebut apa. 🙂

Warung  Pedas Tangkilsari Malang
Rupa sajian di Warung Pedas Tangkilsari Malang

Lauk-lauk di Warung Pedas Tangkilsari baru ditata rapi, dan pengunjung disediakan baki plastik untuk membawa setiap piring pesanan layaknya restoran cepat saji. Meski cukup banyak pengunjung, siang itu lauknya masih lengkap.

Sebenarnya, semua lauknya ingin saya coba karena lumayan lama tak ke Warung Pedas Tangkilsari Malang. Namun, yang paling ingin saya makan kemarin adalah kikil dan udang pedas di Warung Pedas Tangkilsari. Makin sempurna dengan tambahan gorengan mendol dan tempe kacang. Sebagai pelengkap saya sekalian pesan es kelapa muda.

Kikil pedas dan mendol panas di Warung Pedas Tangkilsari Malang
Kikil pedas dan mendol panas di Warung Pedas Tangkilsari Malang

Pegawai-pegawai yang gesit membuat pelayanan di Warung Tangkilsari Malang baru jadi tidak lambat. Bahkan di meja yang sama dengan lauk-lauk ditempatkan, sudah menanti pegawai khusus yang sigap mencatat jumlah dan harga satu baki makanan yang dipilih. Setelah bayar di muka, nampan lantas dikasih nomor, sebagai penanda pegawai lainnya mengantarkan minuman yang telah dipesan. Harga per porsi lauk dari 10-20 ribu Rupiah, nasi 5 ribu Rupiah, dan minuman 5-15 ribu Rupiah.

Saya sempat khawatir tak dapat kursi, tetapi hal tersebut urung terjadi karena jumlah meja dan kursi di Warung Pedas Tangkilsari Malang baru ini cukup banyak. Bahkan ada yang lesehan. Setelah dapat tempat duduk, satu per satu makanan saya lahap. Rasa gurih pedas kikil, maupun udangnya masih sama. Lebih-lebih saat disantap menggunakan tangan langsung. Suapan nasi berpadu sayur urap-urap, lauk-lauk pedas, juga cuilan gorengan mendol atau tempe kacang panas begitu nikmat dilahap. Makanya, jika kalian suka banget makan pedas dan sedang jalan-jalan ke Malang, jangan lupa mampir ke Warung Pedas Tangkilsari Malang baru.

Lokasi Warung Pedas Tangkilsari Malang

Tips Kulineran di Warung Pedas Tangkilsari Malang:

  1. Warung Pedas Tangkilsari Malang baru lumayan jauh dari pusat kota Malang, biar lebih gampang menuju ke sana, bisa manfaatkan transportasi online seperti Grab/Gojek.
  2. Warung Pedas Tangkilsari Malang baru masih tidak melayani pembayaran non-tunai, jadi siapkan uang tunai secukupnya, ya.
  3. Hindari datang terlalu siang apalagi sore ke Warung Pedas Tangkilsari Malang baru, karena selain antrean sangat panjang, beberapa pilihan lauknya mungkin habis, lebih-lebih saat akhir pekan. Waktu terbaik datang ke Warung Pedas Tangkilsari Malang adalah jam 10 pagi hingga 12 siang.
  4. Pilih kuah tak pedas, jika memang ragu akan kepedasan. Jika suka pedas, tinggal bilang pakai kuah pedas. Sebab, tak ada level-level kepedasan di Warung Pedas Tangkilsari Malang.
  5. Tak perlu berebut kursi di Warung Pedas Tangkilsari Malang. Beberapa pengunjung yang datang rombongan mungkin akan mencari tempat lebih dulu, tetapi ini akan merugikan pengunjung lain yang sudah mendapatkan makanan lebih dulu. Jika posisinya begitu, tinggal bilang ke pelayan di Warung Pedas Tangkilsari Malang, nanti mereka yang akan mencarikan.
  6. Rapikan piring sesudah makan di Warung Pedas Tangkilsari Malang, agar pelayan lebih gampang mengambil dan membersihkan meja, sehingga meja yang bersih bisa dipakai lagi oleh tamu yang lain. Sebenarnya ini belum diinstruksikan di Warung Pedas Tangkilsari Malang, tetapi tak ada salahnya menerapkan budaya self-service, demi meringankan tugas para pegawai di Warung Pedas Tangkilsari Malang.
Suasana di Warung Pedas Tangkilsari Malang yang baru
Suasana di Warung Pedas Tangkilsari Malang yang baru

Jadi, kapan mau mencoba makan pedas-pedas di Warung Pedas Tangkilsari Malang?

Drama Charger di Bangkok


Tuktuk di kawasan pecinan Bangkok, Thailand

It’s like not legit traveling without getting a drama, but damn tonight’s drama is not cool!

Gerutu tersebut terus berulang, seakan merutuk kebodohan diri yang tiada habis-habisnya. Padahal sejak awal, saya begitu tenang melenggang keluar rumah menuju bandara.

Tak ada sedikit pun gelisah, seolah semua sudah disiapkan secara sempurna. Apalagi sejak awal tiba di Suvarnabhumi saya melangkah dengan yakin dan santai, lantaran ini juga bukan ke Thailand untuk pertama kali.

Sebelum melenggang keliling beragam lokasi, saya ke hotel dulu menaruk barang sekalian check in karena tiba di Bangkok siang hari. Melihat simbol baterai pada ponsel yang berwarna merah, saya putuskan untuk mengisi daya terlebih dulu.

Dengan tenang, charger tinggal saya colokkan tanpa lagi kaget, “loh kok bentuknya beda?” Terlalu ceroboh kalau sudah beberapa kali berkunjung, tetapi tak mengantisipasi hal-hal kecil semacam ini.

Begitu juga saat mengecek kamera yang ternyata dayanya tinggal separuh, tenang saya ambil adaptor untuk menyambungkan charger. Dengan persiapan yang memadai saya pun optimis bisa menjalani pelesiran mandiri kali ini.

Siang berlalu, beberapa tempat berhasil saya kunjungi sesuai itinerary sejak hari pertama. Dari nostalgia ke Wat Pho, Grand Palace, dan Wat Arun hingga kulineran di beberapa pasar tradisional, semua berjalan lancar. Hingga sore di hari kedua, kartu memori pada kamera yang penuh akhirnya memaksa saya mengeluarkan laptop untuk memindah foto.

Andai bukan karena ada urusan pekerjaan, niscaya saya enggan bopong laptop ke luar negeri. Meski baterai pada laptop masih penuh saat saya hidupkan, entah kenapa saya tiba-tiba tertarik merogoh charger dalam tas.

Satu per satu item kabel saya keluarkan. Perasaan pun mulai tidak tenang. Semua barang dalam tas kini mulai saya tumpahkan di atas kasur hotel. Panik pun mulai menggelayut, sampai tas saya jungkir berulang kali demi memastikan kabel yang saya bawa bukan saja charger tustel dan ponsel.

Buru-buru saya langsung mematikan laptop, setelah tahu charger laptop tak ketemu. Sebab, kebutuhan utama menggunakan laptop justru Sabtu dan Minggu. Tujuan membawa laptop pun, agar semua agenda dan urusan di Thailand bisa saya bereskan sembari liburan.

Sayang drama tersebut seketika membuat saya cemas bukan kepalang. Dengan laptop yang sanggup bertahan 9 jam, rasanya saya hanya bisa menggunakannya untuk sehari. Cukup merepotkan jika harus mencari warnet dadakan di luar negeri, terlebih banyak file penting sudah saya siapkan di laptop. Bakal terasa percuma jika laptop saya akhirnya tak bisa digunakan sesuai rencana.

Beruntungnya, setelah berupaya berkoordinasi dengan tim di Indonesia, pekerjaan saya pun dapat di-back-up. Meski saya bisa melanjutkan liburan sesuai jadwal, tetapi setumpuk pekerjaan harus siap saya libas sepulang dari Thailand.


Moral value: jangan gampang yakin dan tenang sebelum benar-benar memastikan persiapan jalan-jalan secara maksimal. Terutama dengan perintilan kecil dan berwarna serupa seperti charger.

Jazz Gunung Bromo Membosankan?


Jazz Gunung Bromo Membosankan?
Jazz Gunung Bromo 2019 © Iwan Tantomi

Gersangnya pemandangan di sepanjang tol Pasuruan-Probolinggo sempat membuat saya bosan. Apalagi siang itu sangat terik. Beruntung, jalan sangat lengang. Kendaraan baru terlihat agak padat saat keluar dari tol menuju Sukapura, Probolinggo. Perbaikan jalan di beberapa titik sempat membuat kendaraan kami harus berhenti beberapa kali, tetapi tak mengurangi target waktu kami tiba di lokasi Jazz Gunung Bromo 2019.

Tepat jam 14.30 WIB, kami tiba di Java Banana Bromo Lodge, lokasi Jazz Gunung Bromo biasa dilangsungkan. Sekitar 2 jam 15 menit kira-kira kami berangkat dari Malang, keberadaan tol benar-benar terbukti menyingkat waktu perjalanan. Setelah memvalidasi tiket, saya sempatkan mengenyangkan perut sembari menunggu para penampil gladi resik.

Meski baru bisa datang pada hari terakhir, tetapi saya cukup antusias menikmatinya. Bukan saja banyak penampil idola yang saya tunggu aksi panggungnya, tetapi bisa datang ke Jazz Gunung Bromo secara cuma-cuma dari kantor adalah momen langka.

Saya tak perlu liputan, pertama. Kedua, saya tak perlu sibuk mengetik berita dari ponsel untuk dikirimkan ke redaksi saat acara tengah berlangsung. Ketiga, saya bisa duduk dan bersantai menikmati Jazz Gunung Bromo laiknya para penonton untuk pertama kalinya. Itulah kenapa Jazz Gunung Bromo 2019 ini begitu terasa istimewa buat saya.

Namun, di tengah menikmati penampilan Tristan dan Nita Aartsen, justru ada beberapa orang yang sibuk sendiri bermain gawainya. Bermain game lewat tablet saat Sierra Soetedjo menyanyikan Especially For You, bisa dimaklumilah bagi anak-anak, karena besar kemungkinan mereka tak tahu. Akan tetapi, melihat tayangan Korea [ada ponsel saat Sierra Soetedjo menembangkan The Only One secara live di Jazz Gunung Bromo bagi anak seusia kuliah, tentu menimbulkan pertanyaan.

Sebegitu membosankan-nyakah acara Jazz Gunung Bromo ini?

Sebetulnya, saya ingin mengabaikan ‘pemandangan’ tersebut. Namun, apa daya, pria tersebut duduk tepat di bawah saya. Sementara set duduk amfiteater yang bertingkat mengharuskan saya melihat ke bawah, sehingga setiap kali memusatkan pandangan ke arah panggung Jazz Gunung Bromo, apa yang ditonton orang di bawah saya tentu otomatis akan terlihat.

Beruntung saat giliran Ring of Fire feat Didi Kempot, pria tersebut tak lagi bermain ponsel. Beragam lagu-lagu legendaris Didi Kempot yang diaransemen ulang versi Jazz oleh Djaduk Ferianto bisa saya nikmati dengan jelas. Bahkan, suasana kian hangat di tengah hawa dingin pegunungan yang mulai merasuk, kala Djaduk dan Didi mengajak penonton berdiri untuk bernyanyi bersama lagu-lagu legendaris, seperti Sewu Kutho, Stasiun Balapan, Cidro, dan Banyu Langit.

Sayang pemandangan yang cukup mengganggu tadi kembali terulang saat giliran Candra Darusman Project menghentak panggung Jazz Gunung Bromo, dengan maha karya instrumen-instrumen musik jazznya. Tak berselang lama, pria tersebut akhirnya keluar. Namun, bukan itu yang bikin saya kali ini bertanya-tanya, melainkan beberapa penonton Jazz Gunung Bromo yang beranjak pergi justru saat Barry Likumahuwa menunjukkan aksi keren bermain bass.

Sebegitu membosankan-nyakah acara Jazz Gunung Bromo ini?

Mereka justru berduyun-duyun pergi, meninggalkan amfiteater, kala para musisi jazz sedang unjuk gigi. Ironis memang, terlebih acara ini jelas berlabel Jazz Gunung Bromo. Terlepas dari apa yang mereka cari, saya cukup salut dengan para penonton yang masih bertahan sampai akhir acara.

Pada akhirnya, ungkapan: tak semua orang bisa menikmati musik jazz, itu pun memang benar adanya. Dan, spesial buat para penggemar musik jazz sejati, saya luangkan membuat sebuah video singkat, walau teramat sederhana dari keseruan Jazz Gunung Bromo 2019. Barangkali bisa memotivasi diri untuk melihat langsung keseruan Jazz Gunung Bromo suatu hari nanti. 🙂

Mungkin Saya Harus Bilang…


Delapan tahun bukan waktu yang sedikit, tapi juga bukan waktu yang lama buat blogging. Dari yang awalnya sekadar tempat pelampiasan tugas sekolah, ‘tong’ mengisi makalah kuliah, tempat curhatan yang entah isinya apa saja, hingga harus saya reset ulang menjadi blog berisi tulisan perjalanan.

Lanjutkan membaca Mungkin Saya Harus Bilang…

Braga Punya Cerita


“Ka Bandung mah belum lengkap kalau belum ka Braga(k),” ungkap Lilis, pemandu gelis yang mendampingi kami berkeliling Bandung menggunakan Bus Bandros.

Lanjutkan membaca Braga Punya Cerita

Halo Bandung


Jembatan Pasopati Kota Bandung

Setelah telat satu jam, Malabar akhirnya tiba ke pemberhentian terujungnya. Tak paham apa yang membuat kereta api tersebut tidak tepat waktu, yang jelas simpang siur informasi sempat terjadi hingga membuat sebagian penumpang waswas sendiri. Beruntung, kereta merapat dengan selamat.

Lanjutkan membaca Halo Bandung

Bandung, Apa Kabar?


Kereta Api Malabar

Lembar demi lembar begitu tak terasa hikmatnya. Masih membaca novel ‘Amba’ yang berkutat dengan fiksi sejarah, rasanya saya menghabiskan hari dengan penuh makna.

Lanjutkan membaca Bandung, Apa Kabar?

I’m Gonna Solo



Derit pintu kaca menandai kedatangan saya di kafe itu. Hujan di luar membuat saya memilih untuk menyeruput kopi di dalam ruangan yang berkonsep industrialis tersebut. Sambil menunggu pesanan Caramel Macchiato tiba, saya mulai kembali membuka buku yang sedang saya baca belakangan. AMBA: novel karya Laksmi Pamuntjak.

Lanjutkan membaca I’m Gonna Solo

Terpaksa Joging Menyusuri Sentosa Loop di Singapura


Badan rasanya langsung terhentak untuk bangun, setelah alarm ponsel berbunyi entah untuk yang ke berapa kali. Dengan kepala agak pening imbas bangun tiba-tiba, saya langsung mengambil ponsel yang sudah tergeletak di lantai. Beruntung lantai kamar Hard Rock Hotel ini berlapis karpet tebal, jadi tak sampai menyebabkan ponsel lecet atau bahkan remuk.

Lanjutkan membaca Terpaksa Joging Menyusuri Sentosa Loop di Singapura

Terjebak Halloween


Setelah lelah beraktivitas seharian, paling pas rasanya pulang ke rumah dan lekas membersihkan diri. Lalu, santai sejenak di sofa, sekadar menghabiskan sisa malam dengan menonton tayangan komedi ringan di televisi.

Lanjutkan membaca Terjebak Halloween

Rasanya Makan Emas…


Special dinner with luxurious dishes made by Michelin Star Chef.

Entah kenapa kalimat tersebut tertulis dalam daftar agenda yang harus saya penuhi hari itu. Bisa dijemput dari Bandara Changi Singapura pakai Alphard saja rasanya sudah istimewa. Pun bisa rehat cuma-cuma di kamar deluxe suite Hard Rock Hotel Resorts World Sentosa (RWS) Singapura, rasanya masih tak percaya.

Lanjutkan membaca Rasanya Makan Emas…

Raja Sehari di Singapura


 

Sebelum Terminal 4 dioperasikan, penerbangan low cost carrier ke Singapura mengharuskan saya mendarat di Terminal 1 Bandara Changi. Usai itu, saya masih perlu bergegas ke stasiun skytrain menuju Terminal 2, atau kalau tak memungkinkan ke Terminal 3. Hanya di dua terminal itulah, stasiun mass rapid transit (MRT) menuju pusat kota Singapura dari Changi, sementara berada.

Lanjutkan membaca Raja Sehari di Singapura

Konser BTS di Arab Saudi Bertabur Rekor, Apresiasi dan Histori


TS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment
BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment

BTS baru saja rampung menggelar konser di Riyadh, Arab Saudi. Konser yang dilangsungkan pada 11 Oktober 2019 itu menjadi konser perdana BTS di Timur Tengah.

Di luar dugaan, konser yang termasuk bagian dari rangkaian stadium tour bertajuk LOVE YOURSELF: SPEAK YOURSELF justru menuai apresiasi, rekor, hingga mencetak histori baru.

BTS Jadi Artis Luar Negeri Pertama yang Menggelar Konser Tunggal di King Fahd International Stadium di Riyadh, Arab Saudi

BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment
BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment

Setelah memecahkan rekor sebagai artis Korea atau bahkan Asia pertama yang menggelar stadium tour baik di Amerika Serikat, seperti Rose Bowl Stadium, California, maupun Wembley Stadium di London, Inggris, BTS melanjutkan raihan rekornya di Timur Tengah.

BTS menjadi artis luar negeri pertama dalam sejarah yang menggelar konser tunggal di King Fahd International Stadium, Riyadh, Arab Saudi. Rangkaian konser LOVE YOURSELF: SPEAK YOURSELF itu pun sukses mengundang sekitar 70 ribu penonton.

Konser BTS di Arab Saudi Sempat Menuai Pro-Kontra

BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment

Arab Saudi boleh dibilang salah satu negara yang masih cukup konservatif dalam menyikapi perkembangan industri hiburan, termasuk musik. Namun, popularitas BTS di kancah global, rupanya dipandang lain.

Bahkan, antusias konser BTS di Arab Saudi mendapatkan sambutan beragam. ARMY dan masyarakat Arab di Timur Tengah menilai keberanian BTS menggelar konser di Riyadh, mampu mendobrak tradisi pelarangan konser di Arab Saudi selama bertahun-tahun.

BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment
BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment

Di sisi lain, pemerintah Riyadh juga ingin pariwisata di Arab Saudi berkembang, sehingga kedua pihak saling sepakat, hingga berbuah konser BTS di jazirah Arab.

Meski sempat ada sebagian pihak yang kontra bahkan mencoba politisasi BTS sebagai duta PBB, terkait citra Arab Saudi sebagai negara dengan pelanggaran HAM berat, tetapi hal tersebut tak membuat konser BTS sepi peminat. Tiket bahkan sold out dan mampu mengundang ARMY di seantero negara-negara Arab.

BTS Hanya Ingin Bertemu ARMY

BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment
BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment

Menariknya, seperti biasa, baik BTS maupun Big Hit Entertainment sebagai agensi, enggan menggubris isu-isu yang kontra dengan mereka. BTS bahkan mengungkapkan jika mereka hanya ingin ketemu ARMY, fans loyal mereka.

Suga BTS, salah satu member BTS bahkan mengungkapkan dalam konser BTS di Riyadh, “Di mana ada ARMY, BTS akan selalu siap mengunjungi.” V BTS pun juga mengungkapkan kegembiraannya jika konser di King Fahd International Stadium terjadi berkat ikatan kuat BTS dan ARMY, “ARMY, we made it!”

Penantian Panjang ARMY di Jazirah Arab, Berakhir!

BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment
BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment

ARMY, fans BTS, boleh dibilang tersebar di seantero dunia. Saking banyaknya, ARMY BTS menjadi salah satu fanbase terbesar di dunia. Sayang, belum semua negara atau region, bisa dikunjungi BTS.

Bagi yang sudah menjadi ARMY sejak BTS debut pada 2013 silam, tentu menanti kedatangan RM, Jin, Suga, J-Hope, Jimin, V, dan Jungkook, lebih dari 5 tahun lamanya. Itulah kenapa konser BTS di Arab Saudi, akhirnya menjadi angin segar buat ARMY di Jazirah Arab.

Sampai-sampai bukan saja ARMY dari Arab Saudi, tetapi negara-negara Arab lainnya, seperti Kuwait, Uni Emirate Arab, dan Qatar berbondong-bondong untuk datang.

Sambutan Antusias Pemerintah Arab Saudi

BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment
BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment

Bak menyambut tamu penting, Pemerintah Arab Saudi pun menyiapkan secara matang konser BTS di sana. Selain dianggap sebagai titik sejarah, Arab Saudi juga ingin menunjukkan kepada dunia jika mereka siap menyambut wisatawan kapan saja datang.

Sejak kedatangannya, BTS pun mendapatkan pengawalan ketat di Bandara King Khalid International, Riyadh, Arab Saudi. Bahkan, untuk pertama kalinya, pemerintah Arab Saudi mengizinkan perempuan masuk stadion di konser BTS. ARMY malah dijamu bak tamu agung kerajaan, dengan penjagaan super aman, serta pelayanan terbaik.

Kingdom Tower di Riyadh berwarna ungu untuk menyambut BTS konser di Arab Saudi
Kingdom Tower di Riyadh berwarna ungu untuk menyambut BTS konser di Arab Saudi

Bukan saja King Fahd International Stadium yang memasang tulisan ‘BTS’ raksasa di depan stadion, tetapi gedung-gedung ikonik di Riyadh pun menyalakan lampu berwarna ungu, termasuk gedung tertinggi di Riyadh, Kingdom Tower tak ketinggalan menyala dalam warna ungu, sebagai bentuk ucapan selamat datang kepada BTS.

Sebagai informasi, ungu identik sebagai warna BTS, sejak V BTS mengungkapkan “I Purple You” sebagai bentuk lain dari “I Love You”. Menurutnya, warna ungu yang tak lain warna terakhir pelangi, merepresentasikan rasa percaya sekaligus cintanya kepada ARMY untuk selama-lamanya.

Penghormatan BTS untuk Arab

BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment
BTS Konser di King Fahd International Stadium Riyadh Arab Saudi (c) Big Hit Entertainment

Mendapatkan sambutan dan penghormatan sebegitu besar baik dari ARMY maupun pemerintah Arab Saudi, BTS dan Big Hit Entertainment pun balik membalas dengan penghormatan yang begitu bikin banyak orang kagum.

  1. BTS mematikan suara sound ketika azan berkumandang di Riyadh, termasuk saat rehearsal. Itu juga yang menjadi alasan kenapa konser BTS baru dimulai setelah isya.
  2. BTS mengurangi penampilan yang dianggap terlalu intim, seduktif, atau yang dianggap kurang sopan dalam budaya Arab maupun Islam. Sebagai ganti, BTS pun tampil dengan lebih fun dan interaktif dengan ARMY.
  3. BTS tidak membungkukkan badan sebagai penghormatan terakhir sebagaimana yang lazim dalam budaya Korea, karena dalam budaya Arab maupun Islam, membungkukkan badan, seperti rukuk dalam salat, hanya diperuntukkan kepada Tuhan/
  4. BTS dan Big Hit Entertainment bahkan menggelar training dan workshop berulang kali seputar budaya Arab dan Islam, sampai-sampai staf perempuan dalam konser BTS, rela mengenakan Abaya atau pakaian tertutup untuk menghormati budaya di Arab Saudi.

Tak heran jika konser penuh sejarah BTS di Arab Saudi pun mendapatkan sambutan positif dari banyak kalangan. Setelah dari Riyadh, BTS akan mengakhiri rangkaian tur konser mereka dengan menggelar LOVE YOURSELF: SPEAK YOUR [THE FINAL] di Seoul Olympic Stadium selama 3 hari.

Iklan

TXT Rilis 8 Lagu di Album The Dream Chapter: MAGIC


TXT member dari kiri ke kanan: Soobin, Taehyun, Yeonjun, Beomgyu, Huening Kai
TXT member dari kiri ke kanan: Soobin, Taehyun, Yeonjun, Beomgyu, Huening Kai © Big Hit Entertainment

TXT atau Tomorrow x Together semakin dekat dengan waktu comeback. Menariknya jelang comeback pada 21 Oktober 2019 nanti, TXT melalui agensinya, Big Hit Entertainment terus merilis beragam kejutan.

Dari nama album terbaru TXT, The Dream Chapter: MAGIC, kemudian disusul dengan perilisan concept trailer yang mengagumkan dengan video trippy berkonsep projection map dance, serta foto konsep bertajuk ARCADIA dan SANCTUARY yang mengangkat sisi dark dari Yeonjun, Soobin, Beomgyu, Taehyun, dan Huening Kai.

TXT pun akhirnya merilis daftar lagu atau tracklist dari full album perdana mereka sejak debut. Dalam posting terbarunya di akun twitter resmi Big Hit Entertainment, album terbaru TXT, The Dream Chapter: MAGIC berisi 8 lagu.

Dalam bahasa Inggris, ke-8 lagu dalam album TXT, The Dream Chapter: MAGIC, sebagai berikut:

  1. New Rules
  2. I wait for you at platform 9 and 3/4 [Run Away]
  3. Roller Coaster
  4. Poppin’ Star
  5. Is it wrong to just let a monster live
  6. Magic Island
  7. 20cm
  8. Angel or Devil

MOA, nama fans TXT, yang mengetahui kabar mengejutkan ini pun tentu langsung gembira. Bahkan, nggak sedikit MOA yang menduga jika konsep The Dream Chapter: MAGIC ini mendapatkan inspirasi dari kisah Harry Potter. Hal ini semakin dikuatkan judul track nomor 2 yang dianggap berkaitan Hogwarts dengan platform 9 3/4.

Selain itu, konsep terbaru The Dream Chapter: MAGIC juga banyak menampilkan foto-foto TXT dengan pakaian seragam sekolah, serta nuansa magic yang kental layaknya dalam Harry Potter. Apalagi di Korea Selatan sendiri, comeback TXT ini sangat dinanti, bahkan diantisipasi. Terlebih Big Hit nggak main-main dalam mempromosikan monster rookie ini.

Meski masih dalam bentuk tracklist tetapi MOA sudah nggak sabar menanti dari lagu-lagu terbaik TXT dalam The Dream Chapter: MAGIC itu.

TXT Rilis Trailer The Dream Chapter: MAGIC dengan Konsep Projection Mapping Dance


TXT The Dream Chapter: MAGIC Trailer © Big Hit Entertainment
TXT The Dream Chapter: MAGIC Trailer © Big Hit Entertainment

TXT atau Tomorrow x Together kembali merilis konsep comeback pertama mereka sejak debut. Setelah kemarin mengunggah video singkat tentang konsep album baru, The Dream Chapter: MAGIC, yang terbaru TXT kembali merilis video bertajuk The Dream Chapter: Magic Concept Trailer.

Boleh dibilang untuk sebuah ukuran trailer, video tersebut cukup panjang. Dengan durasi sepanjang 4 menit 14 detik, TXT menampilkan konsep video yang terbilang baru di industri KPOP. Dengan konsep psychedelic art, TXT hadir dengan projection mapping dance.

baca: TXT Siap Comeback dengan The Dream Chapter: MAGIC

Konsep tersebut menggabungkan teknologi projection mapping yang selama ini digunakan untuk pertunjukan seni dengan latar bangunan, dan gerakan tari yang mengikuti ritme musik serta proyeksi dari video mapping itu sendiri.

Jika gerakannya tidak benar-benar tepat, konsep projection mapping dance bakal jadi aneh. Namun, TXT menghadirkannya dengan berbagai gerakan dance unik, termasuk salah satunya adalah gerakan tari bawah air. Lewat trailer ini pula, TXT seolah ingin membuktikan talenta mereka sebagai global super rookie, sehingga siap comeback pada 21 Oktober 2019 nanti, dengan konsep yang benar-benar fresh dan ikonik.

baca: Nggak Mau Kalah, TXT ikutan Chicken Noodle Soup Challenge, Dapat Apresiasi dari J-Hope BTS

Menariknya, lagi ada part dalam musik video The Dream Chapter: MAGIC ini yang cukup terngiang di kepala. Apalagi kalau bukan lirik “let me go” yang diulang-ulang dan tampak dilafalkan oleh suara anak-anak. Dari sisi visual, TXT terlihat lebih mature, dibandingkan video debut mereka pada lagu Crown dalam EP The Dream Chapter: STAR.

Selain gerakan dance yang harmonis, dengan ciri khas “menyatukan tangan” seperti pada video Crown, The Dream Chapter: MAGIC sepertinya bakal hadir dengan title track yang cukup ciamik. Di akhir video, MOA dikejutkan dengan ucapan Huening Kai, “Shall we run away?” dalam bahasa Korea.

Tonton video The Dream Chapter: MAGIC Teaser langsung di bawah ini: