Jazz Gunung Bromo Membosankan?


Jazz Gunung Bromo Membosankan?
Jazz Gunung Bromo 2019 © Iwan Tantomi

Gersangnya pemandangan di sepanjang tol Pasuruan-Probolinggo sempat membuat saya bosan. Apalagi siang itu sangat terik. Beruntung, jalan sangat lengang. Kendaraan baru terlihat agak padat saat keluar dari tol menuju Sukapura, Probolinggo. Perbaikan jalan di beberapa titik sempat membuat kendaraan kami harus berhenti beberapa kali, tetapi tak mengurangi target waktu kami tiba di lokasi Jazz Gunung Bromo 2019.

Tepat jam 14.30 WIB, kami tiba di Java Banana Bromo Lodge, lokasi Jazz Gunung Bromo biasa dilangsungkan. Sekitar 2 jam 15 menit kira-kira kami berangkat dari Malang, keberadaan tol benar-benar terbukti menyingkat waktu perjalanan. Setelah memvalidasi tiket, saya sempatkan mengenyangkan perut sembari menunggu para penampil gladi resik.

Meski baru bisa datang pada hari terakhir, tetapi saya cukup antusias menikmatinya. Bukan saja banyak penampil idola yang saya tunggu aksi panggungnya, tetapi bisa datang ke Jazz Gunung Bromo secara cuma-cuma dari kantor adalah momen langka.

Saya tak perlu liputan, pertama. Kedua, saya tak perlu sibuk mengetik berita dari ponsel untuk dikirimkan ke redaksi saat acara tengah berlangsung. Ketiga, saya bisa duduk dan bersantai menikmati Jazz Gunung Bromo laiknya para penonton untuk pertama kalinya. Itulah kenapa Jazz Gunung Bromo 2019 ini begitu terasa istimewa buat saya.

Namun, di tengah menikmati penampilan Tristan dan Nita Aartsen, justru ada beberapa orang yang sibuk sendiri bermain gawainya. Bermain game lewat tablet saat Sierra Soetedjo menyanyikan Especially For You, bisa dimaklumilah bagi anak-anak, karena besar kemungkinan mereka tak tahu. Akan tetapi, melihat tayangan Korea [ada ponsel saat Sierra Soetedjo menembangkan The Only One secara live di Jazz Gunung Bromo bagi anak seusia kuliah, tentu menimbulkan pertanyaan.

Sebegitu membosankan-nyakah acara Jazz Gunung Bromo ini?

Sebetulnya, saya ingin mengabaikan ‘pemandangan’ tersebut. Namun, apa daya, pria tersebut duduk tepat di bawah saya. Sementara set duduk amfiteater yang bertingkat mengharuskan saya melihat ke bawah, sehingga setiap kali memusatkan pandangan ke arah panggung Jazz Gunung Bromo, apa yang ditonton orang di bawah saya tentu otomatis akan terlihat.

Beruntung saat giliran Ring of Fire feat Didi Kempot, pria tersebut tak lagi bermain ponsel. Beragam lagu-lagu legendaris Didi Kempot yang diaransemen ulang versi Jazz oleh Djaduk Ferianto bisa saya nikmati dengan jelas. Bahkan, suasana kian hangat di tengah hawa dingin pegunungan yang mulai merasuk, kala Djaduk dan Didi mengajak penonton berdiri untuk bernyanyi bersama lagu-lagu legendaris, seperti Sewu Kutho, Stasiun Balapan, Cidro, dan Banyu Langit.

Sayang pemandangan yang cukup mengganggu tadi kembali terulang saat giliran Candra Darusman Project menghentak panggung Jazz Gunung Bromo, dengan maha karya instrumen-instrumen musik jazznya. Tak berselang lama, pria tersebut akhirnya keluar. Namun, bukan itu yang bikin saya kali ini bertanya-tanya, melainkan beberapa penonton Jazz Gunung Bromo yang beranjak pergi justru saat Barry Likumahuwa menunjukkan aksi keren bermain bass.

Sebegitu membosankan-nyakah acara Jazz Gunung Bromo ini?

Mereka justru berduyun-duyun pergi, meninggalkan amfiteater, kala para musisi jazz sedang unjuk gigi. Ironis memang, terlebih acara ini jelas berlabel Jazz Gunung Bromo. Terlepas dari apa yang mereka cari, saya cukup salut dengan para penonton yang masih bertahan sampai akhir acara.

Pada akhirnya, ungkapan: tak semua orang bisa menikmati musik jazz, itu pun memang benar adanya. Dan, spesial buat para penggemar musik jazz sejati, saya luangkan membuat sebuah video singkat, walau teramat sederhana dari keseruan Jazz Gunung Bromo 2019. Barangkali bisa memotivasi diri untuk melihat langsung keseruan Jazz Gunung Bromo suatu hari nanti. 🙂

Mungkin Saya Harus Bilang…


Delapan tahun bukan waktu yang sedikit, tapi juga bukan waktu yang lama buat blogging. Dari yang awalnya sekadar tempat pelampiasan tugas sekolah, ‘tong’ mengisi makalah kuliah, tempat curhatan yang entah isinya apa saja, hingga harus saya reset ulang menjadi blog berisi tulisan perjalanan.

Lanjutkan membaca Mungkin Saya Harus Bilang…

Braga Punya Cerita


“Ka Bandung mah belum lengkap kalau belum ka Braga(k),” ungkap Lilis, pemandu gelis yang mendampingi kami berkeliling Bandung menggunakan Bus Bandros.

Lanjutkan membaca Braga Punya Cerita

Halo Bandung


Jembatan Pasopati Kota Bandung

Setelah telat satu jam, Malabar akhirnya tiba ke pemberhentian terujungnya. Tak paham apa yang membuat kereta api tersebut tidak tepat waktu, yang jelas simpang siur informasi sempat terjadi hingga membuat sebagian penumpang waswas sendiri. Beruntung, kereta merapat dengan selamat.

Lanjutkan membaca Halo Bandung

Bandung, Apa Kabar?


Kereta Api Malabar

Lembar demi lembar begitu tak terasa hikmatnya. Masih membaca novel ‘Amba’ yang berkutat dengan fiksi sejarah, rasanya saya menghabiskan hari dengan penuh makna.

Lanjutkan membaca Bandung, Apa Kabar?

I’m Gonna Solo



Derit pintu kaca menandai kedatangan saya di kafe itu. Hujan di luar membuat saya memilih untuk menyeruput kopi di dalam ruangan yang berkonsep industrialis tersebut. Sambil menunggu pesanan Caramel Macchiato tiba, saya mulai kembali membuka buku yang sedang saya baca belakangan. AMBA: novel karya Laksmi Pamuntjak.

Lanjutkan membaca I’m Gonna Solo

Terpaksa Joging Menyusuri Sentosa Loop di Singapura


Badan rasanya langsung terhentak untuk bangun, setelah alarm ponsel berbunyi entah untuk yang ke berapa kali. Dengan kepala agak pening imbas bangun tiba-tiba, saya langsung mengambil ponsel yang sudah tergeletak di lantai. Beruntung lantai kamar Hard Rock Hotel ini berlapis karpet tebal, jadi tak sampai menyebabkan ponsel lecet atau bahkan remuk.

Lanjutkan membaca Terpaksa Joging Menyusuri Sentosa Loop di Singapura

Terjebak Halloween


Setelah lelah beraktivitas seharian, paling pas rasanya pulang ke rumah dan lekas membersihkan diri. Lalu, santai sejenak di sofa, sekadar menghabiskan sisa malam dengan menonton tayangan komedi ringan di televisi.

Lanjutkan membaca Terjebak Halloween

Rasanya Makan Emas…


Special dinner with luxurious dishes made by Michelin Star Chef.

Entah kenapa kalimat tersebut tertulis dalam daftar agenda yang harus saya penuhi hari itu. Bisa dijemput dari Bandara Changi Singapura pakai Alphard saja rasanya sudah istimewa. Pun bisa rehat cuma-cuma di kamar deluxe suite Hard Rock Hotel Resorts World Sentosa (RWS) Singapura, rasanya masih tak percaya.

Lanjutkan membaca Rasanya Makan Emas…

Raja Sehari di Singapura


 

Sebelum Terminal 4 dioperasikan, penerbangan low cost carrier ke Singapura mengharuskan saya mendarat di Terminal 1 Bandara Changi. Usai itu, saya masih perlu bergegas ke stasiun skytrain menuju Terminal 2, atau kalau tak memungkinkan ke Terminal 3. Hanya di dua terminal itulah, stasiun mass rapid transit (MRT) menuju pusat kota Singapura dari Changi, sementara berada.

Lanjutkan membaca Raja Sehari di Singapura

Lucy SuperBand JTBC, Grup Band yang Jago Bikin Lagu Catchy


SuperBand Lucy | From left: Shin Ye Chan, Shin Gwan Il, Cho Won Sang, Lee Ju Hyuk © NILON KOREA
SuperBand Lucy | From left: Shin Ye Chan, Shin Gwan Il, Cho Won Sang, Lee Ju Hyuk © NILON KOREA

Selalu ada tim kuda hitam dalam setiap kompetisi, dan di SuperBand JTBC Lucy adalah the dark horse. Lucy bermakna ‘sinar’, mereka berharap bisa menerangi dunia dengan lagu dan musik yang mereka ciptakan bersama Lucy. SuperBand Lucy digawangi oleh Shin Gwang Il (Vocal/Drum), Lee Ju Hyuk (Vocal/Guitar), Shin Ye Chan (Violin) dan Cho Won Sang (Bass).

Kombinasi suara unik Lee Ju Hyuk, yang diimbangi vokal Shin Gwang Il, ditambah permainan bass Cho Won Sang dan violin Shin Ye Chan, ternyata menghasilkan aransemen musik yang cukup ciamik. Hasilnya, mereka mampu melenggang ke final dengan skor yang cukup tinggi.

Walau harus puas menjadi runner up, tetapi Lucy membuktikan jika musik-musik yang mereka buat bisa membuat good mood, dengan melodi yang light but catchy. Persis seperti yang mereka harapkan, musik yang sanggup menerangi, membuat segalanya terasa lebih baik dan mendamaikan.

Di final SuperBand JTBC, Lucy membawakan lagu-lagu yang diaransemen sangat indah dengan sentuhan suara alam, seperti Cry Bird milik Tennyson, hingga lagu ciptaan Lucy sendiri untuk SuperBand JTBC yang rasanya cocok buat relaksasi, seperti Swim, Sleep (선잠: seonjam), serta Flare [새로운 출발의 신호탄: saeloun chulbal-ui sinhotan (signal of a new start)]

Cry Bird – Tennyson by Lucy (Cover)

Swim by Lucy (Self Composed)

Sleep (선잠) by Lucy (Self Composed)

Flare (새로운 출발의 신호탄) by Lucy (Self Composed)



Iklan

Dua Kali, 3 Album BTS Kompak Bertengger di Chart Billboard 200


BTS Album © Big Hit Entertainment
BTS Album © Big Hit Entertainment

BTS kembali melanjutkan pencapaian mereka di industri musik global. Minggu ini, BTS menjadi artis Korea, atau bahkan Asia, pertama yang ketiga albumnya kompak bertengger dalam chart album musik bergengsi dunia, Billboard Hot 200.

Pencapaian tersebut didapat setelah, BTS World, album yang berisi soundtrack untuk mobile game dengan nama serupa, berada di peringkat 26, di susul Map of The Soul: PERSONA pada peringkat 110, dan Love Yourself: Answer pada peringkat 118 dalam chart Billboard Hot 200.

Menariknya, rekor ini bukan yang pertama bagi BTS. Sebelumnya, BTS juga pernah menempatkan ketiga albumnya dalam Billboard Hot 200 secara berturut-turut, yaitu Map of the Soul: PERSONA, ditambah duo Love Yourself: Answer dan Love Yourself: Tear.

Rekor itu pun kian mengukuhkan BTS, sebagai artis Korea pun Asia, yang mendapatkan pencapaian serupa selama dua kali dalam kurun waktu kurang dari setahun.

Selain itu, minggu ini album Love Yourself: Answer genap bertengger dalam Billboard Hot 200 selama 50 minggu. Pencapaian ini menjadikan album yang dirilis pada 8 September 2018 tersebut sebagai album BTS terlama sejauh ini pada Billboard Hot 200.

Sementara di Billboard World Album, BTS juga mencetak rekor sendiri dengan album-albumnya. Total, hingga saat ini BTS sudah mengoleksi 9 album yang mampu bertengger di urutan pertama pada Billboard World Album secara bergantian.

Kesembilan album tersebut, antara lain The Most Beautiful Moment in Life part 2, WINGS, You Never Walk Alone, Love Yourself: Her, Face Yourself, Love Yourself: Tear, Love Yourself: Answer, Map of the Soul: Persona dan yang paling baru, BTS World Soundtrack.

Rekor Lagu ‘Boy With Luv’ Milik BTS, Raih 12 Juta Likes di YouTube Salah Satunya


RM of BTS © Big Hit Entertainment
RM of BTS © Big Hit Entertainment

Boy With Luv milik BTS ft Halsey, baru saja mencetak rekor baru. Pasalnya, music video (MV) BTS yang menjadi salah satu megahits pada 2019 ini telah mampu meraup 12 juta likes di YouTube.

Pencapaian ini bukan saja menjadi yang pertama untuk title track maupun lagu-lagu BTS, tetapi juga menjadi BTS sebagai grup musisi pertama asal Korea yang meraihnya.

Sementara sampai saat ini, lagu Boy With Luv sudah ditonton hingga 513 juta kali. Lagu yang dirilis sejak 12 April 2019 ini juga menorehkan rekor sebagai MV yang paling banyak ditonton selama 24 jam pertama dalam sejarah YouTube.

Total, Boy With Luv ditonton sebanyak 74,5 juta kali pada 24 jam pertama sejak dirilis di YouTube. Boy With Luv juga menjadi lagu yang paling cepat meraih 100 juta views sejak debutnya di YouTube. Rekor ini pun membuat BTS bukan hanya sebagai musisi Korea pertama yang meraihnya, tetapi musisi dunia dalam sejarah YouTube sampai sejauh ini.

baca: Susul The Beatles, BTS Cetak Sejarah Baru di Chart Billboard 200

Selain YouTube, Boy With Luv juga sukses merajai urutan pertama chart iTunes di 50 negara, termasuk di Amerika Serikat. Lagu ini pun debut di tangga lagu paling bergengsi di dunia, yaitu Billboard Hot 100 pada urutan 8. Menjadikannya, sebagai lagu berbahasa Korea pertama yang dengan posisi debut paling tinggi dalam sejarah Billboard Hot 100 sejauh ini.

Di Amerika Serikat, lagu Boy With Luv bahkan mendapatkan sertifikat Platinum dari Recording Industry Association of America (RIAA), karena terjual hingga lebih dari satu juta kopi.

Sementara di Korea Selatan, Boy With Luv menjadi lagu pertama dalam sejarah music shows di sana, yang menang hingga 21 kali. Padahal, BTS hanya melakukan promo untuk lagu tersebut di acara music shows di Korea Selatan tak lebih dari seminggu.

baca: Tak Cukup Sekali, BTS Tempatkan 16 Lagunya di Puncak Billboard World Single Sales Secara Bergantian

Bukan itu saja, lagu Boy With Luv juga menjadi lagu pertama sejauh ini yang menyandang status Perfect All Kill (PAK) selama 2019 di Korea Selatan. Status tersebut diberikan untuk single yang mampu bertengger para urutan pertama selama 24 jam pertama, seminggu pertama, hingga sebulan pertama di seluruh chart musik yang ada di Negeri Ginseng.

Kira-kira rekor baru apa lagi yang akan dicetak lagu Boy With Luv milik BTS ft Halsey tersebut? Nantikan kabar baik berikutnya, ARMY!

6 Tim SuperBand JTBC yang Perlu Kamu Tahu


6 Tim SuperBand JTBC dan Penampilannya yang Mengagumkan Poster Resmi © SuperBand JTBC
Poster Resmi © SuperBand JTBC

SuperBand JTBC memang sudah berakhir, bahkan sudah mengumumkan pemenangnya, yaitu Hoppipolla. Namun, acara musik super gokil ini, rasanya masih belum kehilangan penikmatnya. Betapa tidak, jika musik Korea selama ini kerap direpresentasikan lewat Korean Popular Music alias KPOP yang banyak didominasi idol grup dan sebagian kecil lainnya solois, JTBC justru menghadirkan cara baru dalam menyuguhkan acara musik.

Lewat tayangan berjudul SuperBand, JTBC memboyong semua produser, instrumentalis, pemain musik, hingga vokalis muda bertalenta. Mereka diacak secara random, lalu ditantang memproduksi sebuah aransemen baru yang segar dari beberapa lagu terkenal di dunia. Walhasil, setiap tim mampu membuat pasang mata, termasuk juri, berdecak kagum melihat penampilan mereka.

baca: SuperBand JTBC dan Rekomendasi Seorang Kawan

Memasuki babak 6 besar, aturan baru pun diterapkan SuperBand JTBC. Setiap frontman, sebutan untuk musisi, produser, maupun vokalis yang kaya pengalaman di industri musik Korea dan turut berkompetisi di SuperBand, didapuk menjadi pentolan dan diberi wewenang memilih personel.

Hasilnya, dari 120 peserta, tersisa beberapa kontestan yang kemudian dibentuk dalam 6 tim dan berkompetisi di SuperBand JTBC hingga sampai ke final. Dari urutan pemenangnya, berikut 6 tim SuperBand JTBC yang perlu kamu tahu:

1. Hoppípolla

SuperBand Hoppipolla | From left: Kim Young So, Ha Hyun Sang, I'IL, Hong Jin Ho © NYLON KOREA
SuperBand Hoppipolla | From left: Kim Young So, Ha Hyun Sang, I’IL, Hong Jin Ho © NYLON KOREA

Hoppípolla digawangi oleh I’LL (Vocal/Piano), Ha Hyun Sang (Vocal), Kim Young So (Guitar) dan Hong Jin Ho (Cello). Kemampuan I’LL menangani tim cukup diacungi jempol. Kehebatannya bukan saja mampu meramu musik-musik yang brilian, tetapi I’LL menjadi pentolan yang mampu memaksimalkan potensi setiap personel Hoppípolla.

Berkat I’LL pula Hyun Sang yang sempat minder, menjadi salah satu vokalis dengan penjiwaan terbaik di SuperBand JTBC. Hyun Sang dan I’LL bahkan jago banget mengaduk emosi penonton dengan penjiwaan pada setiap lagu yang mereka berikan.

baca: 10 Lagu Populer Ini Diaransemen Super Ciamik oleh Hoppipolla dari SuperBand JTBC

Permainan cello Jin Ho dan petikan melodi gitar Young So yang begitu berbakat, kian menjadikan Hoppípolla leluasa memikat hati para juri dan penonton SuperBand JTBC.

Hasilnya, mereka mengantongi nilai paling tinggi dan dinobatkan sebagai juara pertama SuperBand JTBC, setelah membawakan lagu More Light milik Linkin Park, Wake Me Up milik Aviici, serta Hoppipolla milik musisi Islandia, Sigur Rós.

2. Lucy (루시)

SuperBand Lucy | From left: Shin Ye Chan, Shin Gwan Il, Cho Won Sang, Lee Ju Hyuk © NILON KOREA
SuperBand Lucy | From left: Shin Ye Chan, Shin Gwan Il, Cho Won Sang, Lee Ju Hyuk © NILON KOREA

Selalu ada tim kuda hitam dalam setiap kompetisi, dan di SuperBand JTBC Lucy adalah the dark horse. Lucy bermakna ‘sinar’, mereka berharap bisa menerangi dunia dengan lagu dan musik yang mereka ciptakan bersama Lucy. SuperBand Lucy digawangi oleh Shin Gwang Il (Vocal/Drum), Lee Ju Hyuk (Vocal/Guitar), Shin Ye Chan (Violin) dan Cho Won Sang (Bass).

baca: Jago Bikin Lagu Catchy, SuperBand JTBC Makin Asyik Berkat Lucy

Di final SuperBand JTBC, Lucy membawakan lagu-lagu yang diaransemen sangat indah dengan sentuhan suara alam, seperti Cry Bird milik Tennyson, hingga lagu ciptaan Lucy sendiri untuk SuperBand JTBC yang rasanya cocok buat relaksasi, seperti Swim, Sleep (선잠: seonjam), serta Flare [새로운 출발의 신호탄: saeloun chulbal-ui sinhotan (signal of a new start)]

3. Purple Rain (퍼플레인)

SuperBand PURPLE RAIN | From left: Yang Ji Wan, Inau, Jeong Gwang Hyeon, Chae Bo Hoon, Kim Ha Jin © NYLON KOREA
SuperBand PURPLE RAIN | From left: Yang Ji Wan, Inau, Jeong Gwang Hyeon, Chae Bo Hoon, Kim Ha Jin © NYLON KOREA

Bicara rock di SuperBand JTBC rasanya nggak bisa dilepaskan dari Purple Rain. Tim SuperBand ini digawangi Lee Na U/Inau (Piano), Jeong Gwang Hyeon (Drum), Chae Bo Hoon (Vocal), Yang Ji Wan (Guitar) dan Kim Ha Jin (Bass). Kombinasi suara rock Bo Hoon dengan aransemen musik yang cadas dari Inau dan tim, membuat aura rockstar Purple Rain nyaris selalu terpancar setiap kali tampil.

Berkat aura rockstar ini pula, Purple Rain sanggup melaju ke final, meski harus puas menjadi juara ketiga. Selama di SuperBand JTBC, Purple Rain telah membawakan lagu-lagu seperti Dream On milik Aerosmith, Old and Wise milik The Alan Parsons Project, hingga Never Enough yang dinyanyikan Loren Allred untuk soundtrack film The Greatest Showman.

4. Moné (모네)

SuperBand Moné|Clockwise, from left: Hoong Isaac, Zairo, Kim Woo Sung, Hwang Min Jae, Benji © NYLON KOREA
SuperBand Moné|Clockwise, from left: Hoong Isaac, Zairo, Kim Woo Sung, Hwang Min Jae, Benji © NYLON KOREA

Di SuperBand JTBC, Moné menjadi salah satu tim yang cukup difavoritkan. Terlebih hampir semua personelnya pernah menjadi frontman. Sebut saja Hong Isaac (Vocal/Keyboard), Kim Woo Sung (Guitar), Zairo (Vocal/Guitar), Hwang Min Jae (Drum) dan juga Benji (Vocal/Violin).

Meski akhirnya popularitas tetap nggak mampu menjadikan mereka sebagai pemenang. Namun penampilan Moné yang intimate sekaligus enerjik selama di SuperBand JTBC nyaris sulit dilupakan. Terlebih Moné membawakan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri untuk SuperBand JTBC, seperti Take Me Away (가져가: ga jyeo ga) dan Wooing (우잉), hingga I don’t Care ‘idc’.

5. After Moon (애프터문)

SuperBand After Moon | From left: Kevin Oh, Lee Jung Hoon, Choi Young Jin, DPOLE © NYLON KOREA
SuperBand After Moon | From left: Kevin Oh, Lee Jung Hoon, Choi Young Jin, DPOLE © NYLON KOREA

Nggak sedikit yang menjagokan After Moon karena ada Kevin Oh (Guitar/Vocal), penyanyi muda multi talenta yang sudah malang melintang di industri musik Korea. Terlebih sebagai frontman, Kevin Oh juga meracik tim yang unik. Ia bahkan menggaet DPOLE (DJ/Special Instrument), selain Choi Young Jin (Drum) dan bassist band Rock Korea, NELL, Lee Jung Hoon (Bass) dalam After Moon, demi menghasilkan format band dengan warna yang berbeda.

Sayangnya After Moon harus pulang sebelum sampai ke final, setelah membawakan lagu Time After Time milik Cyndi Lauper dan lagu ciptaan After Moon untuk SuperBand JTBC: Before Sunrise.

6. People on The Bridge (피플 온 더 브릿지)

SuperBand People on The Bridge|From left: Lee Chan Sol, Kang Kyung Yoon, Lim Hyun Bin, Kim Jun Hyup, Kim Hyung Woo © NYLON KOREA
SuperBand People on The Bridge|From left: Lee Chan Sol, Kang Kyung Yoon, Lim Hyun Bin, Kim Jun Hyup, Kim Hyung Woo © NYLON KOREA

Vocal yang kuat membuat Lee Chan Sol (Vocal) akhirnya didapuk menjadi frontman untuk tim terakhir SuperBand JTBC, People on The Bridge. Band ini digawangi Kim Jun Hyup (Guitar), Kang Kyung Yoon (Drum), Lim Hyun Bin (Guitar), dan Kim Hyung Woo (Bass).

Meski mereka selalu percaya diri dan kerap memunculkan musik-musik yang fresh, sayang harus berpuas berada di urutan buncit. People on The Bridge pun tereliminasi sebelum masuk final bersama After Moon, setelah mereka membawakan lagu Best of You milik Foo Fighters dan lagu ciptaan People on The Bridge sendiri untuk SuperBand JTBC, Find You Again.

Dari keenam SuperBand JTBC tersebut, kira-kira mana tim yang musiknya kalian sukai?

BTS Akhirnya Berjumpa The Beatles dan The Monkees Berkat ‘Map of The Soul: Persona’


BTS Akhirnya Berjumpa The Beatles dan The Monkee Berkat 'Map of The Soul: Persona'
BTS © Big Hit Entertainment

BTS akhirnya memuncaki Billboard 200 setelah album terbaru mereka Map of The Soul: Persona kembali berada di urutan pertama. Sejak perilisan pertama, Map of The Soul: Persona terjual sebanyak 230.000 unit di Amerika Serikat berdasarkan laporan Nielsen Music.

Keberhasilan Map of The Soul: Persona bertengger di urutan pertama Billboard 200, hanya berselang sekitar 11 bulan sejak Love Yourself: Answer menduduki urutan satu Billboard 200 pada 8 September 2018, dan Love Yourself: Tear mendapatkan pencapaian serupa lebih dulu pada 2 Juni 2018.

Berkat pencapaian tersebut BTS akhirnya berjumpa dengan The Beatles dan The Monkees, sebagai grup dalam sejarah yang berhasil menduduki peringkat 1 pada Billboard 200 selama 3 kali berturut-turut dalam waktu tak lebih dari setahun.

Namun, jika dirunut secara lebih detail, BTS unggul seminggu lebih cepat mencetak rekor tersebut dari The Beatles yang berhasil bertengger di Billboard 200 dengan ketiga albumnya selama 11 bulan lebih satu minggu. Ketiga album The Beatles tersebut adalah Anthology 1, Anthology 2, dan Anthology 3 pada kurun waktu 9 Desember 1995 dan 16 November 1996.

baca: BTS Jadi Pemuncak Sejarah di Billboard World Digital Song Sales

BTS hanya kalah lebih cepat dari The Monkees yang menempatkan ketiga albumnya di urutan nomor satu Billboard 200 pada 1967 hanya dalam waktu 9 bulan lebih 3 minggu. Ketiga album The Monkees tersebut, antara lain More of the Monkees (11 Februari 1967), Headquarter (24 June 1967), dan Pisces, Aquarius, Capricon, and Jones LTD (2 Desember 1967).

Dengarkan lagu-lagu dari album Map of the Soul: Persona karya BTS di sini: