Sate Enak di Malang, Sate Gule Kambing Pak Sabar Cocok Buat Makan Malam


Sate enak di Malang, Sate Gule Kambing Pak Sabar Malang Paket Komplit Buat Makan Malam
Sate Enak di Malang Sate Gule Kambing Pak Sabar Malang Paket Komplit Buat Makan Malam © Iwan Tantomi

Sate Pak Sabar Malang agaknya memang nggak boleh lagi diragukan kelezatannya. Bukan hanya legendaris, soal rasa sate Pak Sabar Malang hampir nggak pernah berubah. Enak, gurih, empuk, plus dengan harga yang tetap segitu-gitu aja, alias murah.

Jangan heran, jika kualitas yang tetap terjaga, membuat Warung Sate Madura Pak Sabar Malang ini tetap dibanjiri pelanggan. Salah satu menu favorit saya adalah sate kambing. Biasanya saya pesan satu paket dengan gulai kambing.

Kedua menu tersebut begitu sempurna buat makan malam saat berpadu dengan nasi putih yang hangat. Segelas teh tawar panas atau dingin, kian melengkapi paket nikmati sate gula kambing yang saya pesan, setiap kali datang ke Warung Sate Madura Pak Sabar Malag.

baca juga: Belut Enak di Malang Cak Midi Wajib Masuk Daftar Pilihan

Lantas, kenapa saya suka? Pertama, dari sisi bau prengus, sate kambing Pak Sabar Malang, hampir nggak tercium aromanya. Dagingnya benar-benar fresh, serta dipanggang dengan pas, sehingga begitu nikmat saat disantap.

Begitu pula dengan gule kambing di Warung Sate Madura Pak Sabar Malang, nggak ada bau prengus, dan kuahnya sedap karena kaya rasa rempah. Sementara isinya berupa jerohan, daging, serta banyak dikasih tulang sumsum. Jika ingin sensasi pedas, tinggal tambahkan sambal yang disediakan di meja. Dengan penyajian serba panas, rasa gule kambing Pak Sabar Malang, begitu menggoda saat dimakan dengan sate kambingnya.

Warung Sate Madura Pak Sabar Malang ini berlokasi di Jalan Mayjend Panjaitan Kav 1, Penanggungan, Kec Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Bukanya malam saja, sekitar jam 6 sore sampai habis, makanya ini jadi rekomendasi pas buat makan malam saat di Malang.

Seperti namanya, perlu sabar makan di Warung Sate Madura Pak Sabar Malang ini, karena yang beli banyak, sementara tempatnya juga terbatas. Namun, semua terbayar kok, saat sate gule kambing yang dipesan akhirnya datang.

Soal harga, seporsi sate kambing/ayam di Warung Sate Madura Pak Sabar Malang sekitar Rp15 ribu, seporsi nasi atau lontong sekitar Rp2 ribu, gule kambing seporsi sekitar Rp17 ribu, sementara teh tawar Rp1 ribu. Pokoknya total makan di Warung Sate Pak Sabar Malang sepaket tersebut nggak sampai Rp50 ribu kok.

Oya, buat yang nggak suka kambing, tenang ada sate ayam di Warung Sate Madura Pak Sabar Malang. Rasa sate ayam Pak Sabar sama enaknya kok dengan sate kambing Pak Sabar. Tapi, karena cuaca di Kota Malang saat malam cenderung dingin, jadi makan sate gule kambing Pak Sabar rasanya memang jadi paket komplit yang nggak boleh dilewatkan. Cobalah!

Lokasi Warung Sate Ayam dan Kambing Pak Sabar Malang

Iklan

Solo, Biarkan Aku Kembali


Derit pintu kaca menandai kedatangan saya di sebuah kafe. Hujan di luar membuat saya memilih untuk menyeruput kopi di dalam ruangan yang berkonsep industrialis tersebut. Sambil menunggu pesanan Caramel Macchiato tiba, saya mulai kembali membuka buku yang sedang saya baca belakangan. AMBA: novel karya Laksmi Pamuntjak.

Tumben sekali, waktu itu pengeras suara di kafe tersebut tak memutar lagu. Melihat pramusaji yang tampak kewalahan, saya bisa maklum. Barangkali habis ini I Remember-nya Mocca, Hujan di Mimpi-nya Banda Neira, Tidurlah-nya Payung Teduh, atau Kisah Dari Selatan Jakarta milik WSTCC bakal diputar. Saya membayangkan lagu-lagu indie tersebut sepertinya dianggap paling cocok untuk diputar saat hujan di malam hari.

Alih-alih begitu, justru lagu Korea yang diputar bersamaan dengan pesanan saya yang datang. Suara riuh sebagian pengunjung perempuan yang saya tengarai milenial penikmat KPOP pun langsung menyeruak seantero ruangan. Mereka begitu antusias mengikuti, lebih-lebih kala itu idola mereka. Sudah barang tentu, tak banyak lagu yang saya tahu. Beruntung saya terbiasa fokus baca di tengah gemuruh keramaian. Dengan santai saya menikmati halaman demi halaman bacaan tersebut, tanpa perlu menyumpal telinga.

Fokus baca saya pun mulai runtuh, kala mata terhenti pada satu kata. Seolah menyilakan indera pendengaran menyimak lagu tersebut, otak saya justru mulai mencerna lagu yang sepintas terdengar familier. Apalagi kini hampir semua pengunjung tampak mengenali lagu itu. Meski dengan suara lirih dan terbata, mereka tampak tepat melafalkan penggalan lirik lagu tersebut sesuai ritme musiknya. Tak kunjung ingat judul apalagi artisnya, membuat saya akhirnya gegas membuka Shazam. Dengan tepat, aplikasi pendeteksi lagu itu memunculkan jawabannya: Solo – Jennie (BLACKPINK).

Jennie BLACKPINK dengan Lagu SOLO

Rasanya lagu tersebut sangat adiktif, hingga merasuk ke benak orang yang bukan penggemar KPOP sekalipun. Saya jadi teringat, jika beberapa waktu terakhir orang-orang di kantor nyaris spontan menyanyikan lagu tersebut walau sepenggal-sepenggal. Bahkan, penjual nasi goreng depan rumah yang hampir tak tahu KPOP itu apa, turut menyanyikan bagian chorus-nya. Perlahan tapi pasti, kafe-kafe pun turut teracuni hingga memutar lagu tersebut tanpa pandang bulu suasana hati dan situasi.

I’m going solo lo lo lo lo lo

Kalimat tersebut rasanya terus menggema di telinga, kendati lagu telah berganti. Menariknya, sayup-sayup kata Solo justru mengajak saya bermemorabilia dengan Surakarta, Solo versi Indonesia beberapa waktu sebelumnya.

Menyambut Pagi di Pasar Gede

Tukang becak berlalu-lalang di depan Pasar Gedhe

Kereta yang melaju dari Malang akhirnya melambat dan berhenti tepat waktu di Stasiun Balapan Solo. Terlihat dari jendela beberapa penumpang yang menghambur keluar dengan tergesa. Ada yang semringah lantaran seperti kembali berjumpa dengan orang yang lama tak dilihatnya. Adapula yang gegas keluar sekadar menemukan toilet yang ‘layak’ disinggahi.

Sementara pelana kembali menyuarakan instruksi, saya justru berjalan keluar dengan langkah tak pasti, sebelum akhirnya kereta melanjutkan perjalanan kembali. Boleh dibilang kedatangan saya ke Solo kali ini spontan tanpa persiapan. Pesan tiket malam, sore esoknya langsung berangkat.

Saking tak terencananya, sebagian orang yang saya jumpai di kereta dan sempat mengobrol sejenak sampai bertanya, “Ada apa di Solo?”

Jika bukan karena kebaikan hati Halim, barangkali saya sudah jadi jembel di stasiun malam itu. Halim menyilakan saya bermalam di rumahnya yang tak jauh dari Pasar Gede. Di pasar yang usianya hampir seabad itu pula kenangan akan Solo mulai terbuat. Bangun di pagi hari, Halim langsung mengajak saya menyusuri sisi legendaris lain dari Pasar Gede selain fasad bangunan dan langgam arsitekturnya. Apa lagi kalau bukan kulinernya.

Dari nasi liwet lintas generasi, dawet telasih yang usianya sama tuanya dengan Pasar Gede, hingga jajanan zadul yang masih lestari dan hanya bisa ditemukan di dalam pasar yang dibangun sejak era kompeni ini, hadir menyambut pagi. Dengan ragam aroma yang tercium bergantian, sarapan pagi di Kota Solo saya tutup dengan sepincuk Cabuk Rambak, Brambang Asem, dan Lenjongan.

Beranjak dari Pasar Gede, saya berpamitan dengan Halim untuk check-in lebih dulu ke hotel di Solo, sebelum melanjutkan pelesiran ke beragam destinasi jamak di Solo. Benteng Vastenburg jadi jujukan kedua saya. Ada banyak sekali perbaikan yang tampak dari benteng yang dibangun Belanda pada medio abad ke-18 Itu. Yang jelas kondisinya lebih terawat, nihil vandalisme dan laik dijadikan spot berfoto dibandingkan sejak kali terakhir saya mengunjunginya.

Matahari yang kian meninggi, membuat saya lekas berpindah. Saya cukup menikmati kelana kali ini. Menyusuri trotoar berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, membuat saya merasa sepadan dengan turis asing yang lalu lalang. Perasaan saya semakin riang, karena Halim akhirnya bisa kembali menyusul, setelah membereskan urusan pribadinya. Ia pun menggiring saya ke keraton. Tepatnya, lebih dari satu keraton.

Langgam Klasik Keraton Surakarta

“Kalau ada acara, keraton-keraton ini akan dibuka, pengunjung bisa melihat ke dalam juga,” ungkap Halim di sela kunjungan kami di Keraton Kasunanan Surakarta. Kompleks yang kentara dengan langgam arsitektur Jawa berbalut warna serba biru muda itu pun tampak ramai dikunjungi wisatawan yang hilir mudik dari berbagai kota. “Setidaknya kita bisa masuk dan melihat langsung Panggung Songgo Buwono,” sambungnya sambil menunjuk menara setinggi 30 meter berbentuk segi delapan.

Diingat-ingat beberapa kali berkunjung ke sana, saya memang belum berkesempatan barang sekalipun melihat dari dekat menara yang berada di utara pelataran Keraton Surakarta itu. Namun, gagal masuk ke dalam Keraton Surakarta, kejutan justru menyambut kami saat tiba di Keraton Mangkunegaran.

Puluhan atau mungkin ratusan payung ditata sedemikian rupa, hingga membentang lurus ke pelataran keraton. Payung dengan beragam ukuran dan hiasan itu sontak menyedot pengunjung yang ingin berswafoto. Dari kejauhan pertunjukan tampak digelar di pendapa Keraton Mangkunegaran. Dari lokasi yang sama, gending tembang Jawa beralun suara gamelan seolah memikat saya untuk mendekat. Lentik jemari para penari pada akhirnya membuat saya memilih duduk menikmati pertunjukan secara hikmat.

Masih di Mangkunegaran, saya kemudian tersenyum sendiri saat mengingat bagian ibu-ibu yang menawar salah satu produk pameran di Keraton Mangkunegaran. Sebuah kain bermotif indah buatan tangan yang ditawar dengan harga grosiran bak batik di Pasar Klewer oleh salah seorang pengunjung. Ingatan jenaka tersebut lantas berangsur menjadi memori kekaguman pada Laweyan.

Terpikat Seribu Pintu di Laweyan

Masyhur sebagai Kampung Batik bersama Kauman, Laweyan rupanya tak sekadar surga bagi penikmat batik berkualitas asal Solo. Lewat susur sore yang menyulut penasaran, Halim justru menunjukkan sisa-sisa pintu bersejarah di pemukiman lawas yang telah dibangun sejak 1912 ini. Tak kurang dari 70 plakat butik batik saya jumpai di sepanjang jalan yang membentang di Laweyan. Sesekali kami berpapasan dengan turis asing yang tampak tercekat dengan rumah-rumah lawas di sana.

Jalan makin sepi, jalan beraspal yang kami lalui, kini berubah menjadi jalan setapak. Tanpa banyak penjelasan, Halim mulai menyilakan saya mengamati satu per satu pintu pada beberapa rumah yang tampak tak berpenghuni. Warna yang beragam, hingga desain pintu berjalusi yang mulai ditinggalkan di era sekarang, membuat saya akhirnya paham.

Laweyan berbeda dengan ‘kampung warna’ yang mendadak tenar karena warnanya yang menyolok mata. Cat yang mulai memudar, seakan menegaskan jika Laweyan adalah warisan sejarah. Sisa warna pada setiap pintu jalusi, bahkan hampir jauh dari kesan norak. Paduan warnanya justru begitu presisi seolah pengecatnya adalah pelaku seni. Sungguh, saya terkagum-kagum sendiri dengan pintu-pintu ciamik di Laweyan.

Tak lama setelah itu, Halim mengajak saya berkunjung ke salah satu rumah lawas warga. Sekilas tak ada yang istimewa dari rumah tersebut, selain pintu gerbang warna merah darah yang dilengkapi butulan. Rupanya, rumah tersebut salah satu hunian kuno yang masih mempertahankan bungkernya. Pemilik bahkan menyilakan kami merasakan pengalaman, bagaimana bernapas langsung dalam lubang persembunyian bawah tanah itu.

Terlalu lama berkontemplasi, membuat minuman yang saya pesan sampai dingin. Beberapa seruput kopi dan rintik hujan yang belum juga berhenti, memantik kembali memori. Sambil menyandarkan badan, pikiran seolah terhanyut lagi ke sisa kenangan di Solo. Memori saya lantas mengembara ke bagian ‘jumpa’ dengan Susi Pudjiastuti juga Gesang.

Berjumpa Susi dan Gesang

Sepanjang perjalanan balik, Halim mengajak saya melewati jalan Gatot Subroto Solo. Saya tak pernah menyangka, jika di koridor inilah mural yang viral di Solo belakangan berlokasi. Sontak saya langsung terkesiap saat melihat mural Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia ke-6, Susi Pudjiastuti dalam wujud Wonder Women. Momen itu pun kian melengkapi perburuan mural saya di Solo, usai tak sengaja menemukan mural Gesang di sekitar Pasar Triwindu. Sayang, kami tak sempat membesuk ke makam pun rumah maestro Bengawan Solo tersebut.

Syahdan, sorak sorai pengunjung kafe seketika membuyarkan tafakur. Lamat-lamat saya mulai bisa menebak kenapa suara yang menghentak tersebut melepas serentak. Barangkali playlist yang diatur sudah habis, sampai membuat lagu pertama terputar kembali. Sama seperti sedia kala, satu per satu orang melafalkan penggalan chorus-nya baik sengaja maupun spontan. Tiba pada bagian coda, saya tersenyum sendiri.

Bagaimana bisa sebuah lagu berbahasa Korea, justru membawa saya berkontemplasi ke Surakarta?

Paling tidak, kenangan tersebut jadi alasan tersendiri untuk bilang: Solo, biarkan aku kembali.

Apalagi, liburan ke Solo boleh dibilang amat terjangkau. Bukan saja destinasi wisata dan kulinernya, Solo juga banyak menghadirkan penginapan murah, seperti jaringan OYO Hotel Indonesia. Jaringan hotel terbesar tersebut memang menyediakan 1000 lebih hotel yang tersebar di 100 kota di Indonesia, termasuk Solo #PastiAdaOYO. Jadi, tak ada alasan untuk bosan balik liburan ke Solo, kan?

Bakso Enak di Malang Malam Hari, Bakso Afdhol Blimbing Patut Dipilih, Murah Lagi


Bakso Enak di Malang Malam Hari, Bakso Afdhol Blimbing Bisa Dipilih, Murah Lagi
Bakso Enak di Malang Malam Hari, Bakso Afdhol Blimbing Bisa Dipilih, Murah Lagi

Bakso enak di Malang memang banyak saat siang hari, tapi kalau malam hari agaknya cukup sulit dicari. Apalagi kalau di atas jam 9 malam, yang ada sudah tutup semua.

Beruntungnya, ada teman yang kasih info, jika ada bakso enak di Malang yang bukanya justru malam hari. Namanya, Bakso Afdhol yang berlokasi di sekitar lampu merah depan bekas bangunan PDAM di Jalan A Yani, Blimbing, Kota Malang.

Gampangnya, kalau dari arah Jalan LA Sucipto atau lampu merah Jalan A Yani menuju arah Kota Malang, ada gerobak bakso kecil dan sederhana di kiri jalan dengan kain hijau tak lebar dengan tulisan “Bakso Afdhol”.

Posisinya sesudah warung jamu tradisional pojok ujung Jalan LA Sucipto, dan sebelum Ruko Bank Mandiri KCP Ahmad Yani, Blimbing Kota Malang.

Tempatnya benar-benar kecil, dan sederhana sekali. Jika tak jeli, memang bisa terlewat, padahal lokasinya tepat di samping jalan raya. Namun, di balik kesederhanaannya, Bakso Afdhol Blimbing ini enak sungguhan.

Rasa kuahnya tak berat, tapi kaldu sapinya betul-betul sedap. Baksonya ada kasar dan halus. Yang kasar isi campuran daging dan kikil. Tahu putihnya berisi adonan pentol yang kenyal. Sebagai pelengkap ada mie kuning, suun dan lontong untuk kenyangkan perut.

Tanpa tambahan saus dan kecap, cukup sambal saja Bakso Afdhol Blimbing ini menurut saya sudah cukup enak, juga nggak bikin enek. Paling penting kuahnya betul-betul segar karena dimasak mulai sore hari. Kuahnya sangat panas, jadi makin mantap dilahap.

Yang paling spesial, Bakso Afdhol Blimbing ini murah, betulan terjangkau, sehingga benar-benar cocok dijadikan jujukan makan bakso enak di Malang saat malam hari. Selamat mencoba!

Belut Enak di Malang Cak Midi Wajib Masuk Daftar Pilihan


Lalapan Belut Cak Midi Malang Tanpa Nasi © Iwan Tantomi
Lalapan Belut Cak Midi Malang Tanpa Nasi © Iwan Tantomi

“Belut enak di Malang di mana, ya?” Pertanyaan tersebut nyaris selalu tanyakan, setiap kali ingin makan belut goreng. Warung yang jual belut goreng memang banyak, tapi cukup sulit menemukan rasa belut goreng yang benar-benar pas.

Kadang ada yang belutnya besar kayak ular, sampai geli sendiri mau makan. Sekalinya ada yang ukuran kecil, belut sawah misalnya, harusnya enak, ternyata sambalnya biasa saja. Paling sering dapat belut goreng yang tepungnya tebal, keras, bergelimang minyak pula.

Itulah kenapa dari dulu saya nggak kunjung menulis belut enak di Malang yang betul-betul pas untuk direkomendasikan. Meski rasa memang subjektif, tapi saya percaya ada rasa ‘enak’ yang kadang membuat beberapa orang sepakat untuk mengakuinya.

Lalapan Belut Cak Midi Malang Bisa Dipesan Lewat GrabFood/GoFood
Lalapan Belut Cak Midi Malang Bisa Dipesan Lewat GrabFood/GoFood © Iwan Tantomi

Ketemulah Lalapan Belut Cak Midi. Ketemunya pun awalnya dari promo di GrabFood. Bermula dari coba-coba, saya akhirnya pesan. Di luar dugaan lalapan belut goreng plus nasi seharga Rp13k itu sanggup memenuhi ekspektasi saya.

Tampilan boleh biasa saja, tapi belut goreng di Lalapan Belut Cak Midi sangat renyah, bukan hanya adonan tepungnya yang gurih, tetapi daging belutnya juga terasa. Belutnya dibelah dan dipisahkan tulang kerasnya, sehingga hanya tersisa bagian dagingnya, nihil kepala.

Entah kenapa, rasa Lalapan Belut Cak Midi ini jadi enak saja gitu, nggak capai mengunyah, dan pas menjadi lauk pendamping nasi panas. Jadi, yang makan juga nggak cepat enek karena tepung goreng bergelimang minyak berlebihan, seperti belut-belut goreng yang pernah saya coba.

Lalapan Belut Cak Midi dengan Nasi © Iwan Tantomi
Lalapan Belut Cak Midi dengan Nasi © Iwan Tantomi

Makin mantap, Lalapan Belut Cak Midi ini menghadirkan sambal bawang yang cukup nendang pedasnya. Jika suka sambal yang cenderung manis, bisa pilih sambal bajak. Apabila pesan via GrabFood/GoFood bisa tulis di catatan untuk pilihan sambal yang diinginkan.

Nah, saat itu saya pesan beberapa porsi Lalapan Belut Cak Midi, dan beberapa teman di kantor bilang memang enak. Nggak puas di situ, hari berikutnya saya mengajak beberapa kawan untuk langsung datang ke Lalapan Belut Cak Midi yang beralamat di Jalan Cengger Ayam No 6, Lowokwaru, Kota Malang, yang menempati sebuah ruko.

Rupanya, selain belut, Lalapan Cak Midi juga menjual varian lauk goreng tepung lainnya, seperti udang, jamur, lele, mujair, tahu-tempe, usus, dan ampela hati. Ada juga beragam sayuran yang bisa dipilih. Malah lebih lengkap, daripada menu yang tersedia di GrabFood/GoFood.

Saya kembali memesan belut goreng. Menariknya, jika membeli langsung di warung Lalapan Belut Cak Midi, harga per porsi Rp10k, baik pakai nasi maupun belut saja. Bedanya hanya jumlah belutnya lebih banyak apabila membeli tanpa nasi.

Teman-teman yang penasaran rasanya, usai saya beritahu pun akhirnya turut memesan belut. Ada yang pakai nasi, ada pula yang memilih memesan belut goreng saja buat ngemil. Belum sempat saya bertanya, mereka sudah saling bersahutan bilang Lalapan Belut Cak Midi enak. Mereka juga sepakat sambalnya nikmat. Enaknya jika makan langsung di warung Lalapan Belut Cak Midi, sambalnya tersedia di meja, jadi bisa ambil sesuai selera.

Paling baru, salah satu teman saya yang juga hobi banget kulineran, bahkan sampai berulang kali dapat endorsement beragam produk makanan, juga bilang Lalapan Belut Cak Midi juga enak. Sepertinya, saya nggak berlebihan jika menyebut Lalapan Belut Cak Midi ini memang enak, sedari awal bukan?

Disclaimer: preferensi rasa enak secara detail setiap orang saya yakin berbeda, dan hal tersebut sukar digambarkan secara absolut, jadi saya hanya pilih kata ‘enak’ untuk mewakali pengakuan beberapa orang akan rasa asli dari makanan tersebut, biar lebih netral.

Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang


Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang
Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang © Iwan Tantomi

Kedaishi menjadi pilihan terakhir setelah bingung berkeliling Kota Malang, sekadar mencari makan malam. Udara yang panas, ditambah gerah selepas olahraga membuat saya ingin makan yang pedas-pedas.

Beruntungnya, Kedaishi masih buka. Selain Moshi-Moshi, Kedaishi jadi salah satu tempat makan yang pas buat makan ramen, utamanya udon.

Kali ini saya pilih makan Laksa Ramen dan Niku Udon di Kedaishi. Kebetulan keduanya best seller, tapi ini baru pertama kali saya coba Laksa Ramen, karena biasanya kalau bukan Tomyam Ramen, Tori Katsu Ramen.

Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang
Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang © Iwan Tantomi

Namun, kalau udon, saya selalu memilih Niku Udon, karena lebih segar tanpa tambahan rempah kuat. Cukup ditambah irisan rawit, sudah mantap rasa keduanya.

Dari sisi pelayanan, Kedaishi cukup cepat. Tak lebih 5 menit menanti, semua hidangan yang saya pesan sudah diantarkan ke meja.

Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang
Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang © Iwan Tantomi

Selagi masih panas, saya santap Niku Udon dulu yang lebih light rasanya. Baru kemudian, Laksa Ramen yang lebih kaya rempah saya lahap sampai tak tersisa.

Dari sisi harga, Kedaishi cukup terjangkau, jika dibandingkan Marugame Udon. Padahal citarasa udonnya boleh dibilang 11:12. Harganya mulai Rp28k per porsi ramen, sementara udon mulai Rp30k per porsi.

Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang
Kedaishi Pilihan Pas Makan Ramen dan Udon di Malang © Iwan Tantomi

Oiya, dari sisi interior, Kedaishi ini cukup artsy, tapi juga tak berlebihan. Pencahannya juga cukup terang, ditambah musik yang hanya instrumen sederhana dan cukup chills, jadi bisa menambah mood makan di Kedaishi.

Alamat: Jalan Pulosari, Gading Kasri, Kota Malang.

Jam buka: setiap hari dari jam 10 pagi sampai 10 malam.