Potret Perajin Bambu Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto

IMG-20170715-WA0010

Ada yang unik dengan kampung ini. Begitu batin saya saat kali pertama menginjakkan kaki di sana. Sepintas tatanan rumah yang saling berhadapan dengan jalan makadam di bagian tengahnya mengingatkan saya akan konsep Desa Wisata Penglipuran, Bali.

Tapi tentu, desa ini amatlah berbeda dengan Penglipuran. Bukan saja dari banyaknya jumlah wisatawan, dari sisi kemakmuran juga cukup berkebalikan. Namun, ada harapan yang terlihat di sini.

Kreativitas Tak Terbatas Perajin Bambu

Sebelumnya, di rumah singgah tempat saya menginap di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto, sebagian rumahnya juga dijadikan pusat kerajinan bambu. Masih teringat di benak saya, seorang bernama Kiwil. Usianya 26 tahun. Waktu itu, ia tampak sibuk menempelkan beberapa helai daun bambu artifisial. Tak berjauhan, ada pula Heri. Usianya 4 tahun lebih tua dari Kiwil. Tugas Heri berbeda, ia lebih fokus mengecet pelitur potongan bambu yang sudah dikreasikan hingga tampak lebih mengilap.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.44 (2)

Kiwil menjadi satu dari sekian pemuda di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto yang mengisi kesehariannya dengan membuat kerajinan bambu. Membuat pohon bambu hias menjadi salah satu keahliannya. [Foto: Iwan Tantomi]

Benar, keduanya sedang membuat pohon bambu hias. Butuh 3-4 hari bagi mereka untuk merangkai potongan pohon bambu yang tak terpakai, mengecat hingga menempelinya dengan daun buatan. Setidaknya ada 20 orang seumuran mereka yang digerakkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto. Selain pohon hias, Kiwil dan rekan-rekannya juga membuat asbak hingga replika kapal pesiar. Beragam kerajinan ini pun menjadi cinderamata khas Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto, di samping telur asin asap yang begitu mantap.

(Baca juga: Cerita Telur Asin Asap dari Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto)

Kisah dari Kampung Anyar

Dari rumah singgah, sebut saja namanya Rodi, Ketua Pokdarwis Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto, mengajak saya menuju ke sebuah dusun. Kampung Anyar, begitu Rodi mengungkapkan. Dusun ini merupakan bagian dari Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto. Secara administratif disebut Dusun Kertomulyo. Menurut Rodi pada 1950, dusun ini hanya didiami tak lebih dari 10 orang. Namun, yang tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang adalah aktivitas masyarakatnya yang tidak terlepas dari bambu. Kekayaan alam warisan leluhur di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.42

Di Kampung Anyar inilah potongan batang bambu dibuat menjadi tusuk, sementara sisanya diubah menjadi kerajinan. [Foto: Iwan Tantomi]

Rodi lalu mengajak saya berkeliling Kampung Anyar sambil lanjut bercerita. Menurutnya, sekalipun dusun ini sudah didiami sejak 5 tahun pasca kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi Rodi mengakui inisiatif membuat kerajinan bambu di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto ini belum begitu lama. “Sejak 2012 tepatnya,” pungkasnya.

Tenaga yang Tak Sebanding Upah

Perjalanan berkeliling dusun berhenti pertama di sebuah rumah. Rodi membawa saya ke rumah Jumiasih. Di rumahnya yang sederhana, ia duduk di sebuah kayu panjang. Bagian ujung kayu tersebut ditancapi alat sederhana yang difungsikan sebagai rautan. Bermodalkan cahaya dari pintu yang dibuka, perempuan 42 tahun tersebut menarik satu persatu potongan bambu menjadi tusuk yang agak panjang. Dua kali panjang tusuk sate kira-kira.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.43

Di rumahnya yang sederhana, Jumiasih sekuat tenaga meraut potongan bambu kasar secara manual menjadi tusuk. [Foto: Iwan Tantomi]

Dengan cara manual itu, Jumiasih mampu membuat 5kg tusuk bambu nyaris setiap hari. Ia coba jelaskan dengan bahasa Indonesia saat saya tanya apa fungsinya. “Dibuat tusuk sate atau dupa,” begitu jawabnya. Begitu takjub melihat aktivitasnya, tetapi begitu miris ketika mendengar pendapatannya. Betapa tidak, per kilo tusuk bambu hanya dihargai Rp5 ribu saja. Begitu murah untuk pekerjaan yang menguras tenaga. Tak ingin mengganggu kesibukannya, saya izin undur diri dari kediaman Jumiasih.

Kemudahan Bagi Mereka yang ‘Mampu’

Rodi lalu mengajak saya berpindah ke rumah Sukatiah. Perempuan 59 tahun ini juga punya profesi tak jauh beda dengan Jumiasih. Hanya, ia membuatnya dengan mesin diesel yang dimodifikasi menjadi peraut. Selain Sukatiah, ada pula suaminya, Pujianwar yang menggunakan cara serupa. Lelaki 63 tahun tersebut mengakui dalam sehari bisa menghasilkan 40 ribu tusuk bambu dengan rautan mesin.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.41 (2)

Daripada Jumiasih, perempuan yang enggan disebutkan namanya ini, lebih santai dalam membuat tusuk. Sayang mesin peraut ini hanya bisa dimiliki oleh warga yang mampu beli saja. [Foto: Iwan Tantomi]

Ada juga tetangga Sukatiah dan Pujianwar, yang juga melakukan cara serupa. Sayang, ia enggan menyebutkan nama, apalagi usianya. Namun, saya tetap menghormati privasinya, karena itu adalah haknya. Sengaja saya tak bertanya banyak karena mereka terlihat konsentrasi dengan pekerjaannya. Sambil berlalu, saya bertanya ke Rodi, kenapa tak semua warga memanfaatkan alat peraut bermesin tersebut?

Ada ‘Harga’ yang Harus Dibayar

“Butuh cukup dana untuk membeli sebuah mesin diesel,” jawab Rodi. Ada keibaan yang tampak di matanya. Rasanya saya ingin mengakhiri keingintahuan itu, mengingat belum mampu saya sumbangkan dana untuk sebagian warga yang butuh mesin diesel itu. Namun, Rodi justru lanjut menjelaskan. “Tapi, dari segi hasil, tusuk yang diraut manual lebih bagus, lebih diminati pembeli,” ungkapnya. Lalu, siapa pembeli itu?

Rodi mengungkapkan kebanyakan pengusaha dupa, maupun pedagang makanan dalam skala besar, seperti sate atau sempol, gorengan khas Malang yang disajikan dengan tusuk panjang. Hanya upah yang harus diperoleh oleh pembuat tusuk bambu itu tetaplah tak sebanding dengan usaha yang mereka lakukan. “Kalau yang diproduksi dengan mesin, hitungannya bukan lagi kiloan. Per seribu tusuk dihargai Rp1000,-,” pungkas Rodi. Tetap, ada ‘harga’ yang harus dibayar.

Dedikasi Sepenuh Hati

Keibaan mendengar penjelasan Rodi, sejenak terjeda saat langkah kami terhenti di sebuah rumah. Terlihat perempuan paruh baya sedang membelah bambu di teras rumahnya. Partini namanya. Perempuan berusia 45 tahun tersebut terlihat sibuk membelah potongan bambu. Rupanya, dari tangan Partinilah potongan bambu yang akan diraut menjadi tusuk bambu bermula. Sekalipun tampak sepele, perlu ketelitian dan konsentrasi untuk membuat potongan bambu begitu presisi.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.41 (3)

Tanpa mempertimbangkan upah yang diterimanya, dua tahun lebih lamanya Partini memotong bambu untuk tusuk. Tanpa penggaris, ia bisa memotong secara presisi. Ia hanya bermodalkan yakin dari hati. [Foto: Iwan Tantomi]

“Sebelum diraut, potongan bambu-bambu ini perlu dijemur dulu 3-4 hari,” jelas Rodi sembari jongkok bersama saya memandangi Partini bekerja. Salut memandangi perempuan-perempuan giat ini. Meski upah tak seberapa, tetapi mereka melakukannya dengan penuh dedikasi. Kalau menurut Partini membuat tusuk-tusuk bambu harus pakai hati.

Srikandi Ahli dari Kampung Anyar

Rumah Partini saya kira menjadi yang terakhir dikunjungi, tak tahunya Rodi mengajak saya mampir lagi di salah satu rumah perajin bambu. Kali ini ada Mujiati. Perempuan berusia 50 tahun tersebut ternyata perajin bambu ulung di Kampung Anyar. Hampir 20 tahun hidupnya ia gunakan untuk menganyam bambu menjadi rinjing, tampah, tumbu, besek, juga bakul.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.41

Duapuluh tahun berkarya dari bambu membuat Partini begitu ahli di bidangnya. Sayang lamanya bekerja tak mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya. [Foto: Iwan Tantomi]

Di masa lalu, benda-benda tersebut tak hanya jadi pajangan, melainkan dibutuhkan karena fungsinya sebagai peralatan dapur. Bahkan, saking tingginya permintaan, tangan terampil Mujiati bisa menganyam bambu menjadi 20 bakul per minggu. Tapi, itu dulu. Sejak munculnya bakul plastik yang diproduksi masal oleh pabrik, bakul bambu mulai tak lagi diminati. Harga bakul plastik yang lebih murah, kian merongrong kejayaan perajin bambu di desa ini.

Kini, untuk menyambung hidup, Mujiati juga membuka toko kelontong sederhana di rumahnya. Sesekali ia juga masih menerima pesanan bakul atau besek bambu. Tak banyak, kadang hanya satu. Itupun dibeli seharga Rp7 ribu. Padahal, sosok perajin bambu seperti Mujiati tak banyak lagi dewasa ini. Ia pun layak disebut sebagai ahli, tepatnya srikandi yang ahli mengubah batang bambu menjadi barang berguna.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.40 (2)

Ironi: bakul plastik yang dibikin lebih mudah oleh mesin justru dihargai lebih mahal dari bakul bambu yang dibuat sekuat tenaga hingga berhari-hari lamanya. [Foto: Iwan Tantomi]

Itulah akhir safari di Kampung Anyar, sedikit gagasan saya sampaikan ke Rodi. Memang, seiring berjalannya waktu peradaban akan ditinggalkan kala dianggap tak lagi relevan. Tapi, setelah melihat para Srikandi Perajin Bambu tadi, rasanya kampung ini masih punya harapan.

Bukan sekadar memproduksi tusuk atau besek bambu besar-besaran, tetapi menjadikan Kampung Anyar sebagai wisata pendidikan. Salah satunya bisa dilakukan dengan membuat tur dari rumah ke rumah melihat bagaimana para perajin mengolah bambu menjadi barang layak guna. Jika bisa dikemas dengan baik, niscaya bisa menambah pengalaman wisatawan saat berlibur ke Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto, selain menikmati keindahan alamnya.

(Baca juga: Pesona Alam Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto)

Manfaat lainnya, perekonomian desa jadi berjalan, penduduknya pun bisa dientaskan perlahan dari ceruk kemiskinan. Dengan begitu, para srikandi terampil di Kampung Anyar ini bisa hidup lebih layak di kemudian hari. Meski apa yang saya sampaikan, diaplikasikan atau tidak, tapi besar harapan saya jika suatu saat bisa kembali lagi ke sini, ingin rasanya melihat Kampung Anyar di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto ini bisa semakmur Desa Wisata Penglipuran. Semoga terwujudkan.

10 thoughts on “Potret Perajin Bambu Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto

  1. kalau ditanya tenaga tak sebanding upah, betul. beberapa usaha seperti in memang perlu diangkat. tempo itu aku ke pengrajin rokok nipah yang mana nipah itu mereka akan eksport lagi ke luar negeri, ternyata upahnya juga minim.

    lalu mereka juga ada bikin kayak piring dari nipah, dijual 1500 – 3000, lalu orang jual bisa 10x lipat.

    Liked by 1 person

    • Perlu dibantu memang koh, perajin seperti mereka. Setidaknya dengan nulis ini, banyak mata melihat, siapa tahu ada hati pejabat yang terbuka dan bisa mendorong kesejahteraan orang² seperti mereka. 😀

      Like

  2. wah ceritanya enak banget dibaca. mengalir, lengkap dengan data umur narasumber. top dah!

    soal kerajinan bambu, yakin deh..dengan strategi marketing yang pas dan peningkatan mutu kerajinan, hasilnya bisa menembus pasar internasional.

    meski semua serba moderen, tapi kan masih ada juga orang-orang yang mencintai hal-hal klasik seperti kerajinan bambu. apalagi di kota-kota besar, banyak orang yang tertarik untuk kembali ke alam. kerajinan bambu bisa jadi salah satu cara untuk menghidupkan romantisme alam bebas mereka.

    Liked by 1 person

    • Betul, itulah kenapa saya menaruh harapan besar untuk kelestarian bambu dan beragam kerajinannya, di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto Kabupaten Malang ini.

      Terimakasih daeng apresiasinya, senang bisa dikunjungi. Oya, sudah pernah main ke Malang belum? 😀

      Like

    • Betul mas, sepertinya memang sudah waktunya melakukan regenerasi, salah satunya dengan wisata edukasi agar juga bisa menambah nilai jual jasa pun hasil kerajinan para perajin tersebut.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s