Pesona Alam Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto

WhatsApp Image 2017-07-13 at 21.18.30

Fajar perlahan merekah. Kokok ayam terdengar bersahutan memecah kesunyian. Dari balik kamar, tirai saya singkap, daun jendela saya buka. Seakan ditarik ke dalam, udara pagi pun langsung menerpa wajah penuh kesejukan. Sisanya memilih langsung menerobos masuk, memenuhi seisi kamar.

Pagi itu, saya sudah bersiap diri lebih awal. Sebab, di malam sebelumnya, Rudi berjanji akan mengajak saya menjelajahi pesona alam Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto pagi-pagi sekali. Setelah membuka jendela, sebuah tas selempang berisikan tustel dan topi saya kenakan. Keluar dari kamar, saya memilih menanti Rudi di teras homestay.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.40

Berkeliling embung dengan perahu motor menjadi salah satu atraksi wisata yang tak boleh dilewatkan saat ke Waduk Andeman [Foto: Nasirullah Sitam | nasirullahsitam.com ]

Seperti halnya dua desa wisata di kabupaten Malang yang saya kunjungi sebelumnya, yaitu Desa Wisata Gubugklakah dan Desa Wisata Poncokusumo, Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto juga memberdayakan rumah penduduk sebagai penginapan. Homestay tersebut dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto. Tak hanya menjual kenyamanan, pemilik homestay juga menawarkan keramahan dan beragam kuliner pedesaan khas lokal. Itulah yang menjadi ciri khas homestay di desa wisata, termasuk di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto ini.

(baca juga: Gubugklakah dalam Sehari, Apa yang Bisa Dinikmati?)

Tak berselang lama, Rudi akhirnya datang menjemput. Menemani saya melihat keindahan alam Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto.

Ekowisata Hutan Bambu, Mirip Arashiyama?

WhatsApp Image 2017-07-13 at 21.20.16

Walau infrastrukturnya belum sebagus Arashiyama, tetapi hutan bambu di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto punya harapan untuk dikembangkan lebih baik sebagai ekowisata kelas dunia [Foto: Iwan Tantomi]

“Nah, ini mas kebun bambunya,” ungkap Rudi setibanya di lokasi. Desa Wisata Sanankerto punya kekayaan alam unik berupa hutan bambu. Menariknya, keberadaan hutan bambu ini menurut Rudi hasil tanam leluhur desa. Statusnya pun dijadikan hutan desa, sehingga tak sembarang bambu boleh ditebang seenaknya.

Terbukti, cara tersebut tak hanya menambah nilai sakral hutan bambu, melainkan juga mampu mempertahankan kelestariannya dari waktu ke waktu. Banyaknya rumpun bambu yang tumbuh, juga membuat akar-akarnya mampu mengikat air tanah dalam jumlah besar. Dampak positifnya, di sekitar hutan bambu jadi banyak dijumpai embung yang menjadi sumber mata air utama di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto.

WhatsApp Image 2017-07-13 at 21.20.16(2)

Bukan hanya orang tua dan muda-mudi, anak-anak juga antusias mengisi akhir pekannya dengan liburan hemat ke hutan bambu di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto [Foto: Iwan Tantomi]

Kekaguman saya pun tak berhenti sampai di situ. Paham jika alam sudah memberikan banyak manfaat kehidupan, penduduk melalui Pokdarwis tak serta merta membuat destinasi wisata tematik dengan cara menebang bambu. Sebaliknya, mereka lebih memilih membuat ekowisata yang berorientasi pada konservasi ekosistem hutan bambu dalam jangka panjang.

Sebuah pilihan tepat dalam mengelola potensi hutan bambu sebagai destinasi wisata, sebagaimana yang sukses diterapkan di Hutan Bambu Sagano, Kyoto, Jepang. Hanya hutan bambu di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto ini butuh pengoptimalan infrastruktur agar di kemudian hari bisa setaraf Arashiyama.

Namun, hutan bambu Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto – yang notabene ada di wilayah tropis, punya keragaman jenis bambu yang lebih banyak. Rudi mengungkapkan setidaknya ada empat jenis bambu yang sudah teridentifikasi hidup di sini, mulai Bambu Ori (Bambusa arundinacea), Bambu Petung (Dendrocalamus asper), Bambu Awi Ampel (Bambusa vulgaris Schard.) dan Bambu Apus (Gigantochloa apus).

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.38 (1)

Berkat kelestarian hutan bambunya yang terjaga dengan baik, mata air segar di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto begitu berlimpah. Bahkan, bisa diminum langsung. [Foto: Iwan Tantomi]

Banyaknya peneliti Botani, khususnya yang punya spesifikasi keilmuan tentang bambu, menambah khazanah temuan jenis bambu baru di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto. Dari situlah, Pokdarwis bisa mendapatkan informasi ilmiah tentang bambu lebih lengkap, sehingga bisa melakukan upaya konservasi yang lebih terarah.

“Jadi, kalau Bambu Petung misalnya di sini dikategorikan langka, maka warga akan berbondong melakukan penanaman jenis bambu itu, sesuai arahan peneliti (ahli),” ungkap Rudi mencontohkan.

Lalu, Bagaimana dengan Asal Kata ‘Boonpring’?

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.38 (2)

Air tanah yang diikat dalam jumlah besar dari akar-akar bambu berkumpul dalam satu ceruk yang akhirnya menjadi embung. Selain sebagai sumber penghidupan, juga dimanfaatkan untuk irigasi [Foto: Iwan Tantomi]

Pertanyaan tersebut akhirnya saya lontarkan kepada Rudi sembari berjalan menyusuri hutan bambu. “Kalau ‘Boonpring’ itu apa berasal dari kebon pring?” Tanya saya lebih rinci ke Rudi. Ia lantas membenarkan, jika ‘Boonpring’ diramu dari dua kata bahasa Jawa ‘kebon’ dan ‘pring’ yang artinya ‘kebun’ dan ‘bambu’.

“Dipilih ‘kebun’ bukan alas (hutan; bahasa Jawa) karena bambu-bambu di sini mulanya ditanam, tidak tumbuh liar,” sambung Rudi, “Lalu, warga sepakat menjadikannya sebagai hutan desa, agar tak ada yang merasa ini milik perorangan. Jadi, bisa dikelola bersama.”

Sementara secara harfiah, ‘Boonpring’ memiliki makna anugerah dari bambu yang terus mengalir. Setidaknya, jawaban itu nyaris sama setiap saya coba tanyakan ke Pokdarwis Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto.

Ada Fenomena Pagi di Balik Rindangnya Hutan Bambu ‘Boonpring’

WhatsApp Image 2017-07-13 at 19.33.52

ROL menjadi atraksi utama yang tak boleh dilewatkan saat pergi ke hutan bambu di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto [Foto: Iwan Tantomi]

Oleh karena sedari awal sibuk bicara dan bertanya seputar filosofi ‘Boonpring’ bersama Rudi, tanpa saya sadari kaki ternyata sudah masuk jauh ke dalam hutan bambu. Hingga pada satu titik, Rudi tiba-tiba meminta saya berhenti dan menatap serumpun tanaman bambu.

Sesaat saya bingung, tetapi melihat Rudi yang menatap lekat rumpun bambu tersebut, saya jadi ikut memfokuskan pandangan. Menanti, kira-kira kejutan apa yang bakal terjadi. Rasanya mata seolah membelalak perlahan, dan mulut refleks melongo buah ketakjuban. Sinar matahari yang lembut menghangatkan menerobos embun pagi di sela-sela pohon bambu. Membentuk beberapa garis cahaya lurus yang begitu elok dan dramatis. “Itulah alasan saya ajak ke hutan bambu pagi-pagi,” sahut Rudi sambil tersenyum, “Supaya bisa melihat ROL (Rays of Light) di sini.”

(baca juga: Desa Wisata Poncokusumo, Bukan Sekadar Pintasan Menuju Bromo)

Sadar fenomena ROL sempurna di hutan bambu saat itu adalah momen langka, tustel yang sedari ada dalam tas saya keluarkan untuk mengabadikannya. Tak lupa jarum pada jam tangan saya lihat. Pukul 6.30 pagi. Dan, benar, menurut Rudi, waktu terbaik berburu ROL di hutan bambu Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto memang dari pukul 6 sampai 6.30 pagi.

Jangan Lupakan Waduk Andeman

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.37 (1)

Jembatan ikonik penghubung Pulau Putri Sekarsari dan daratan di sekitar Waduk Andeman. Berfotolah di sini saat kemari. [Foto: Iwan Tantomi]

Puas menjelahi hutan bambu dan berburu ROL, Rudi lantas mengajak saya berpindah lokasi. Tak begitu jauh, cukup ditempuh dengan beberapa langkah kaki. Dari kejauhan, terlihat sebuah embung besar, muara dari beberapa embung kecil yang ada di sekitar hutan bambu Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto.

“Kami menamakannya Waduk Andeman,” tutur Rudi. Menurutnya, ‘Andeman’ diambil dari bahasa Jawa petuturan lokal, semakna dengan ‘Endeman’ yang berarti genangan. Akan tetapi, karena sumber utama waduk ini dari air hujan yang diserap dan disalurkan lewat jaringan akar bambu, serta terbentuk secara alami, Andeman sebenarnya lebih tepat disebut embung daripada waduk.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.39

Biar sederhana tetapi gapura ini selalu ramai wisatawan yang ingin berpose di sekitar Waduk Andeman Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto [Foto: Iwan Tantomi]

Namun, itu hanyalah sebutan, tak jadi masalah, yang terpenting warga setempat bisa mengelolanya sebagai sumber utama mata air desa, baik untuk minum, irigasi maupun keperluan lainnya. Termasuk wanawisata berkeliling waduk, yang kini bisa dinikmati siapa pun yang rekreasi di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto.

Tepat di tengah embung, ada sebuah daratan serupa pulau beranama Pulau Putri Sekarsari. Unik, karena untuk menuju ke tengah pulau, disediakan jembatan yang cukup memikat wisatawan untuk berfoto. Rudi menemani saya sampai ke tengah pulau. Ia lalu menunjuk sebuah pohon besar berjenis Ficus racemosa L. Sejenis pohon Ara yang oleh masyarakat lokal Jawa disebut sebagai Pohon Lo.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.38

Pohon Lo, salah satu pohon tertua dan terbesar di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto [Foto: Iwan Tantomi]

Sebagai pemungkas, Rudi juga menyilakan saya bersama rekan #EksplorDeswitaMalang mencoba berkeliling danau menggunakan perahu motor. Sekalipun luas embung Andeman ini tidak seluas waduk Selorejo, tetapi rimbunnya pepohonan membuat sensasi berkeliling embung serasa menjelajahi sungai di tengah hutan tropis. Bolehlah kalau disematkan julukan Amazone van Malang untuk waduk Andeman.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.41.37

Jika luang, sempatkanlah ziarah di makam Mbah Singorejo, pembuka lahan di Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto [Foto: Iwan Tantomi]

Sebelum berpisah Rudi lantas mengajak saya berkunjung ke sebuah makam. Tertulis ‘Makam Mbah Singorejo’, orang yang babat alas di Desa Sanankerto sejak 1910. Tak jauh dari makam tersebut ada kolam renang umum anak yang bisa dinikmati wisatawan. Ada pula musala, tempat makan, hingga fasilitas parkir luas penunjang indahnya potensi alam Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto.

Dengan segala kelengkapannya, tak perlu lagi rasanya berlama-lama untuk menunda datang ke Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto. Jadi, kapan mau pergi ke sana?

Tambahan: untuk reservasi homestay maupun informasi terbaru tentang harga tiket sewa perahu berkeliling Waduk Andeman, bisa menghubungi Rudi: 083848824802 atau Wahyudi: 085331674242

68 thoughts on “Pesona Alam Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto

  1. kece banget ini, dari hanya kebon pring tapi ternyata punya keindahan tersendiri, membayangkan semilir angin yang berhembus dari sela-sela daun pring dan batangnya hingga mengeluarkan suara gesekan yang menyejukan

    Liked by 1 person

    • Betul, betul, SDA-nya sudah memenuhi, tinggal SDM-nya memang yang perlu ditingkatkan, agar Desa Wisata ‘Boonpring’ Sanankerto ini bisa lebih menasional, atau mendunialah. Kan, seneng kalo di Indonesia juga ada Arashiyama jilid 2. 😀

      Like

  2. dwisusantii says:

    Mungkin yang akhir-akhir ini suka “panasan” akan pertanyaan² khas lebaran kemarin, boleh kali melipir ke sini. Dari fotonya saja ademm lho rasanya.

    Menarik sih mas, keberadaan kebon bambu berdampingan dengan beberapa sumber air begitu :)) semoga kelak, keberadaan Boonpring teruss terjaga, juga menyediakan sebuah laboraturium alam bagi siapapun yg ingin belajar 🙂

    Liked by 1 person

    • Semoga. Dengar² juga mau dibangun museum alam bambu kok di sini. Rencananya mau ditanam beragam varietas bambu dari berbagi daerah gitu. Semoga saja terealisasikan. 🙂

      Like

  3. Tempat hunting foto paling keren selama trip nih. Bisa banyak gaya ala -ala di sana, juga banyak spot landscape menarik di sela rerimbunan pohon bambu Boonpring. Sayang nggak nginep dua malam di sana. Hiks

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s