Traveling Hemat ke Bintan Dalam Ingatan

img-20161007-wa0003-01-01

Traveling Hemat ke Bintan Dalam Ingatan [foto: Uus]

Traveling hemat memang begitu menantang, tetapi sebenarnya mampu menciptakan pengalaman yang berkesan.

Itulah yang saya alami sekaligus tertancap dalam ingatan, saat saya melakukan traveling hemat ke Bintan. Dibandingkan tetangganya, Batam, Bintan memang kurang populer. Namun, Bintan sebenarnya punya keindaham alam dan potensi wisata yang mengagumkan.

Continue reading

Breathtaking Views of Senggiling

DSCN2293-001.JPG

Breathtaking views of Senggiling [Fotografer: Uswatun Hasanah]

Satu demi satu perjalanan saya ke Bintan coba saya nikmati. Membaurkan diri dengan masyarakat lokal, memberanikan diri bertanya hal-hal unik di sekitar, juga sekadar ndusel-ndusel agar bisa dikasih info seputar tempat menarik yang layak dikunjungi. Frasa terakhir itulah yang membuat saya selalu beringas setiap kali melakukan perjalanan ke tempat baru. Bagi saya, nggak mungkin nggak ada tempat menarik yang minimal bikin senyum sendiri saat melihatnya. Bahkan, sambil menghibur diri, segersang-gersangnya Bintan, saya yakin ada tempat indah yang tersembunyi di baliknya.

Bukan tanpa alasan, selama enam hari berlalu, saya selalu dibikin takjub dengan tempat-tempat epik yang nggak dinyana-nyana. Bayangkan saja, di balik semak belukar dengan tanah pasir tandus terdapat ceruk besar serupa danau bernama Gongseng. Siapa yang sangka, ada bangunan serupa igloo atau gumuk pasir seperti gurun di tengah desa yang adem ayem bernama Busung? Siapa juga yang mengira di sebuah pulau isolatif bernama Kelong yang tampak gersang dengan selusin anjing liar menyimpan keindahan panorama bak daratan Afrika?

Semuanya bisa saya jumpai langsung berkat adanya kemauan untuk mengenal warga lokal. Andai saja saya acuh dan memilih ikut paket wisata misalnya, yang saya dapat mungkin hanya wisata populer saja, tanpa pernah tahu keindahan Bintan dari sisi lainnya. Begitu halnya dengan destinasi yang akan saya datangi kali ini. Masih di Bintan tepatnya di hari terakhir perjalanan, saya memilih menepati janji saya untuk mengunjungi salah seorang teman SM-3T yang mengabdi di pedesaan bernama Senggiling.

Padahal, dalam itinerary saya masih tersisa Kota Tanjung Pinang yang belum sepenuhnya saya ubek-ubek. Tapi, karena cerita teman saya, bila Senggiling menyimpan pesona alam yang indah dan belum terjamah, saya jadi tertarik untuk melihatnya. Bagi saya, menemukan hal baru selama perjalanan jauh lebih berkesan daripada sebatas mengunjungi wisata populer.

Daydreaming in the Classroom

DSCN2035

Salah satu sisi bangunan SDN 001 Teluk Sebong [Fotografer: Iwan Tantomi]

Perjalanan menuju Senggiling dimulai dari Busung, karena kebetulan homestay saya di sana. Lokasi yang dituju adalah SDN 001 Teluk Sebong. Dari Busung ke SD ini dapat ditempuh sekitar 43 menit. Alasannya menuju ke sekolah, bukan karena ingin mengajar, tapi teman SM-3T yang saya kenal tinggal di sekolah. Masih ingat cerita tentang teman saya yang juga SM-3T di Pulau Kelong? Kondisinya kurang lebih sama dengan teman saya yang ada di Senggiling. Sama-sama tidur di sekolah, bedanya kalau yang Pulau Kelong tidurnya di UKS, yang di Senggiling tidurnya di perpustakaan.

Bisa dibayangkan betapa gigihnya perjuangan mereka untuk mengajar di daerah terluar, tertinggal atau terdepan dari batas NKRI. Tapi, dengan melihat mereka langsung, saya justru tak iba dengan keadaan mereka. Sebaliknya, saya salut, takjub dan bangga sekali karena masih ada guru-guru muda yang masih peduli dan bahu-membahu mencerdaskan generasi bangsa Indonesia. Soal kondisi, saya yakin mereka adalah orang-orang yang tangguh dan nggak bakal menyerah hanya karena fasilitas pendidikan yang kurang memadai.

IMG_8934

Jika di sekolah umumnya makan diperpustakaan di larang, di Senggiling dilegalkan, bahkan dijadikan kandang, eh, kosan teman-teman SM3T. Bukan karena nggak kuat ngekos atau ngontrak, tapi karena nggak ada bangunan lain di sekitar yang bisa disewa untuk tempat tinggal. Semangat man teman! [Fotografer: Widyuta]

Oya, bicara tentang fasilitas, bangunan sekolah dasar di Senggiling ini sudah jauh lebih baik. Artinya sudah berbentuk gedung dengan dinding dan atap kokoh yang layak huni. Namun, ketika saya tengok ruang kelasnya yang bisa terlihat dari kaca luar jendela, sedikit terenyuh lantaran dari deretan bangku yang ada bisa ditebak nggak banyak murid yang sekolah di sini. Kebetulan ada ruang kelas yang terbuka, saya masuk dan perhatikan dengan saksama. Satu ruangan yang disekat menjadi dua kelas, berdindingkan kayu. Ruangan sebelah kiri hanya dihiasi tiga bangku, ruangan sebelahnya berisikan lima buah bangku yang berbaris  tiga di kiri dan dua di kanan.

DSCN2023

Bersyukurlah pernah bersekolah dengan banyak teman. Meski kelasnya di sekat 2, semoga murid-muridnya kelak jadi orang besar semua. Amiin! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Masing-masing juga dilengkapi papan tulis, satu meja guru dan yang nggak ketinggalan foto simbol negara, yaitu presiden dan wakil presiden. Di situlah saya mulai diam sejenak, membiarkan pikiran saya dijejali bayangan gelak tawa murid-murid yang sedang antusias masuk kelas. Saya tersenyum, melihat mereka begitu semangat belajar. Satu-satu mengungkapkan cita-citanya di depan kelas. Ada yang mau jadi presiden, dokter, polisi, tentara hingga nelayan seperti orangtuanya.

See and learn....👆😏 #SM3T#SM3TV#SM3T2015#sm3tum2015#SM3TkepRiau#SM3TKabBintan#latepost.

A post shared by widyuta (@wid_widyuta) on

Namun, senyum saya perlahan memudar, tatkala melihat keriangan semu murid-murid yang harus sabar menunggu untuk diajar karena terbatasnya jumlah guru. Saya pun langsung merasa tak tega, saat menatap kepolosan mereka kala menerima fasilitas pendidikan yang – semestinya bisa mereka terima jauh lebih baik dari – ala kadarnya. Terlebih saat tahu kenyataan murid di sini rajin bersekolah, walau hanya berjumlah total 32-an anak dalam satu sekolahan. Semoga nasib mereka bisa lebih baik dari Laskar Pelangi atau bisa seberuntung Lintang yang akhirnya bisa dapat beasiswa kuliah di luar negeri.

“Ayo, terbangkan!”, seketika pikiran saya kembali tersadar saat terhentak suara teriakan. Ketika saya toleh, spesies aneh sedang lari-lari main layang-layang dengan kostum kaus bersepeda bahan lateks warna royal blue, stocking putih, celana kargo selutut warna sea green, flat cap hitam plus sport sunglasses sekonyong-konyong membuyarkan pujian guru muda yang mulia pada teman saya yang mengabdi di Senggiling. Entah sedang pura-pura stres atau gila beneran, yang jelas saya nggak habis pikir dengan ulah konyol makhluk satu ini. Memang sih, sekolah sedang liburan, nggak ada murid pun guru-guru lain, tapi, ya, nggak gitu juga kali mengungkapkan kegembiraan!

Ancene Cah gemblung! (dasar bocah edan!)”, celetuk teman saya yang lain. Tampaknya beberapa pasang mata yang melihat saat itu sepakat memberikan dia gelar ‘edan’! Anyway, sadar sudah ditunggu dari tadi, akhirnya teman saya yang edan itu sudah insaf dan sadar diri bila dari tadi ditunggu untuk menunjukkan tempat yang dielu-elukannya surga dunia itu. Setelah semua kembali normal, eh, sudah siap, kami langsung berangkat ke sebuah pantai bernama Pantai Pasir Panjang.

Breathtaking in Pasir Panjang’s (Long-Sands’s) Beach Senggiling

Seperti beberapa lokasi tersembunyi yang pernah saya jumpai di Bintan, perjalanan menuju pantai di Senggiling ini saya pasrahkan pada si empunya jalan. Sebagai lokasi yang belum saya kenal, apalagi belum terjamah, saya nggak berekspektasi berlebihan. Bahkan, googling pun sengaja nggak saya lakukan biar saya benar-benar mendapatkan kejutan. Malahan, saya dapat SMS roaming dari operator seluler karena sudah masuk wilayah Malaysia. Helloooo.. sejak kapan saya terbang ke Malaysia?

Sepanjang perjalanan, jalur perlintasan berubah dari aspal, makadam ke tanah berpasir. Medannya pun demikian. Dari naik-turun perbukitan, membelah sabana hingga menerobos hutan. Semua perlu dilalui dengan sabar, walau sesekali bikin misuh-misuh lantaran terjerembap di jalan yang rusak. Awalnya, nggak ada yang bikin spesial. Sejauh mata memandang hanya kegersangan yang melintang. Namun, saat memasuki sabana, senyum ringan terbentuk dengan sendirinya. Betapa terpananya kala mata disuguhi perbukitan hijau yang mengitari sabana luas dengan batuan granit dari kecil ke besar yang menyembul di antara padang ilalang.

“Gila!”, hanya itu kata yang bisa saya ucapkan. Tapi, saya masih belum menganggap ini WOW karena pemandangan serupa juga pernah saya jumpai saat menyusuri Pantai Banyu Anjlok di Malang. Aha! Mungkin sebentar lagi pantai yang indah benar-benar terlihat jelas di depan mata. Sebelum itu, rupanya harus menerobos hutan yang sunyi-sunyi angker sekitar 10 menit. Barulah setelah muncul dari hutan, mulut saya nggak bisa berkata apapun dan napas saya seolah berhenti sejenak. Gila! Saya baru merasakan breathtaking, Men!

Sebuah kombinasi panorama yang sempurna, langit yang menjulang tinggi dengan warna biru cerah dan sedikit gumpalan awan putih yang mirip kapas-lembut-yang-melayang. Di bawahnya, pasir pantai yang memanjang berwarna keemasan berpadu dengan batuan granit yang berceceran layaknya pantai di Pulau Belitung. Lautan luas yang bergradasi dari biru, ke biru muda, hingga tosca saat mencium bibir pantai semakin mempercantik tampilannya. Pemandangan kian sempurna dengan ilalang hijau yang menari-nari karena dibelai angin laut, di perbukitan tempat saya berdiri tercengang yang langsung menghadap lautan. Sungguh, inikah surga dunia?

DSCN2256.JPG

Hanya di sini aja, sabana bercampur pasir pantai dan lautan biru bebas kerumunan manusia [Fotografer: Iwan Tantomi]

DSCN2285.JPG

Langit biru, pepohonan rindang, bebatuan granit, pasir keemasan, lautan bersih dan ombak yang beriak pelan. Ah, damainya! [Fotografer: Iwan Tantomi]

DSCN2338.JPG

Sore hari yang tenang, lengang dan menyejukkan, Pantai Pasir Panjang memang jempolan! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Nggak saya sia-siakan, sisa sehari di Bintan saya nikmati dengan berlama-lama di pantai yang jika ditag di Instagram bernama Pantai Segala Sri Bintan, Teluk Sebong, Kabupaten Riau, Kepulauan Riau ini. Nyemplung di laut dan guling-guling di pasir pantai pun jadi kegiatan yang nggak terlewatkan. Sejenak pula saya sunbathing, hingga tertidur dan tahu-tahu kulit saya jadi gosong. Lalu, bangun lagi untuk island-hopping dan melihat batu yang katanya berlafaskan Allah, menjumpai batu granit raksasa seperti pantai di Belitung, hingga kaki saya terkena benda hitam yang lengket di kulit.

Mulanya, saya pikir sejenis alga atau Echinodermata yang bisa mengeluarkan tinta lengket sebagai pertahanan diri. Tapi, setelah saya pegang kok berminyak. Alamak! Kaki saya ketempelan tumpahan minyak mentah. Yup, keindahan pantai ini memang sedikit ternoda dengan ceceran minyak mentah dari kapal di lepas pantai. Karena sedang musim angin utara, gelombang besar akhirnya membawa ceceran minyak mentah tersebut hingga ke pantai. Untung, warga sekitar menyarankan saya membersihkannya dengan minyak goreng dan sabun cair, jadinya saya dan sebagian teman-teman yang juga kena jebakan batman ini, bisa bersih kembali dari noda minyak mentah.

DSCN2341-001.JPG

Baru di sini, perbukitan dengan sabana luas menghadap langsung ke lautan lepas. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Namun, secara keseluruhan keindahan alami dan keasrian pantai-yang-apapun-namanya di Senggiling ini, bikin liburan ke Bintan berhasil dipungkasi dengan penuh kesan. Satu lagi keindahan Indonesia berhasil saya renggut dalam memori di Bintan.

One Fine Day in Batam

Sepuas-puasnya menikmati view indah dari beragam spot di Jembatan Barelang, akhirnya saya hanya mampu bertahan nggak lebih dari satu jam. Teriknya matahari Batam yang seolah sekilan di atas kepala, lama-lama membuat kepala saya puyeng sendiri akibat kepanasan. Sampai-sampai menelan ludah saja seretnya nggak keruan, karena tenggorokan ikutan kering kerontang. Setelah rembukan bareng-bareng, akhirnya kami memutuskan untuk menuju destinasi lain di Batam. Sempat terjadi ‘adu kepala’, karena masing-masing punya ide memilih destinasi di Batam selanjutnya.

Saya sih cuma menyimak sambil bergumam dalam hati, “Semoga mimpi kedua saya ikut terwujudkan!”. Saat ada yang mengusulkan ke Nagoya Hill, lagi-lagi saya berdialog dalam hati, “Yah, masa dua kali ke Batam, dua kali juga melihat deretan ruko di Nagoya Hill”. Namun, ketika teman saya bilang ke Batam Center, karena pertimbangan ada lebih banyak spot yang bisa dikunjungi, saya pun langsung jingkrak-jingkrak kegirangan dalam angan! Masih mengundang keraguan, tapi kala mulut saya – yang kadang saya benci karena suka nyeletuk nggak sekehendak hati, bilang, “Aku traktir nonton deh, kalau di Batam Center ada bioskop!”, serentak kecuali saya bilang, “YEIY!”, mengiyakan setuju semua ke Batam Center. Sialan!

Berbeda dengan Balerang yang memang sama-sama nggak tahu, kali ini beberapa di antara rombongan yang ikut mbolang ke Batam, ada yang pernah berkunjung dan pastinya tahu arah jalan menuju Batam Center. Otomatis saya pun harus bilang ke Google Maps!, “Kali ini sampai di sini saja, ya, terimakasih!”. Dari Jembatan Barelang tinggal balik menyusuri Jalan Trans Balerang, melalui Jalan LetJend Suprapto dan Jalan Jend. A. Yani. Karena saya agak ragu dengan daya ingat mereka, akhirnya saya mendadak labil dan memohon bantuan lagi pada Mbah Google Maps!

Mulai saya tarik koordinat dengan lokasi tujuan adalah Masjid Raya Batam. Dari review yang saya baca, masjid termegah se-kota Batam ini berada di satu kompleks Batam Center. Setelah menemukan titik koordinatnya, rupanya dari perempatan Jalan Jenderal Sudirman, tinggal menyusuri Jalan Jend. A. Yani sampai ujung. Sejak di perempatan Jalan Jenderal Sudirman bakal melewati 3 perempatan, namun abaikan saja dan tetap lurus. Hingga perempatan ke-4 di Jalan Engku Putri, tengoklah ke kanan jalan ada Masjid Raya Batam dengan menaranya yang menjulang. Tapi, nggak bisa langsung belok ke masjid, karena perlu putar balik di bundaran Jalan Engku Putri. Baru deh bisa masuk Masjid Raya Batam.

Welcome to Batam’s Sign!

Karena waktu zuhur masih kurang sekitar 30 menit, kami nggak langsung ke masjid. Teman saya malah merekomendasikan ke landmark paling terkenal di pusat Kota Batam. Apalagi kalau bukan tulisan ‘WELCOME TO BATAM’ yang terinsipirasi dari landmark pusat kota Los Angeles, California, ‘HOLLYWOOD’. Baru saja mengeluarkan kamera, belum sempat jepret, sudah dibikin melongo dengan tingkah emak-emak sosialita yang selfie berlama-lama plus menguasai area berfoto. Kelar satu rombongan, giliran bapak-ibu pejabat berpakaian batik ikutan resek selfie berlama-lama mengabaikan saya yang berdiri kepanasan dengan menenteng kamera! Mbokyah kasih kesempatan yang jauh-jauh dari Malang ini!

Mungkin karena lapangan beton yang menjadi spot favorit untuk foto berlatar tulisan ‘WELCOME TO BATAM’ ini memantulkan terik matahari yang panas, lama-lama bapak-ibu yang ke-alay-annya 11:12 dengan ABG tersebut enyah dengan sendirinya. Sontak, saya yang sudah mirip jemuran basah karena berpeluh keringat, langsung menjepret sepuas-puasnya dan secepat-cepatnya mengantisipasi alayers jilid dua, tiga dan seterusnya. Demi dapatkan hasil terbaik, beragam angle pun saya bidik, sampai dibelain ndlosor-ndlosor segala.

No Sarung Inside Mosque!

Kebetulan pas jeprat-jepret saya kelar, suara azan zuhur dari menara Masjid Raya Batam berkumandang. Kebetulan lagi, nggak jauh dari lokasi saya membidik landmark kota Batam, ada orang jualan Es Cincau. Serunya, yang jualan orang Jawa, jadi kami sempat bersenda gurau menggunakan Bahasa Jawa! Baru setelahnya kami bergegas ke masjid. Nggak seperti kebanyakan masjid yang berkubah, bagian atap Masjid Raya Batam justru berbentuk limas segi-empat serupa piramida. Tepat di sampingnya berdiri terpisah menara masjid yang nggak kalah unik bentuknya setinggi 66 meter.

DSC03320.JPG

Meski kece abis, tempat ibadat segede Masjid Raya Batam nggak menyediakan sarung untuk salat! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Saya akui arsitektur outdoor maupun indoor masjid ini sangat indah. Pemilihan bahan marmer sebagai lantainya, membuat suasana dingin begitu terasa, kontras dengan hawa panas di Batam yang menyengat ubun-ubun. Tapi, kekaguman saya sedikit tergores kelimpungan tatkala masjid segede ini nggak menyediakan sarung. Bukan salah takmirnya pula sih nggak menyediakan sarung. Saya-nya saja yang nggak cepat memahami kondisi. Muslim Melayu sangat tabu mengenakan sarung untuk salat apalagi jalan-jalan keluar.

Mereka menganggap sarung sebagai sandangan untuk melakukan hubungan suami-istri, sehingga saat saya menanyakan sarung ke takmir, si takmirnya langsung melotot. Begonya, saya melotot balik karena nggak bisa mencerna ketabuan si takmir. Sebagai ganti ketiadaan sarung, masjid justru menyediakan jubah untuk salat. Jadilah dandanan saya mendadak ala bangsawan Timur Tengah yang mengenakan dishdasha atau jubah putih panjang menjuntai, tanpa Shemagh dan Igal (kain penutup kepala khas Arab berbentuk persegi motif kotak-kotak putih-merah dan tali kepala warna hitam).

DSC03331

Interior Masjid Raya Batam. Sekalinya masuk sini, saya (kudu) salat pakai jubah! Truly, it was an unforgettable day! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Meski jamaah seisi masjid nggak menatap saya aneh, tapi pas salat seolah dari segala penjuru menatap saya sambil tertawa cekikikan. Haish! Salat pun jadi nggak tenang. Duh Gusti, mugi Panjenengan maklumi lan nerami ibadat kulo! (Ya Tuhan, semoga Engkau memaklumi dan menerima ibadat saya!) Pelajaran yang bisa dipetik: bila seorang Muslim, bawalah sarung sendiri untuk keperluan salat saat plesir ke Batam atau lebih amannya pakai celana panjang. Catet!

Ujung-ujungnya Nge-mall!

Usai salat zuhur, mata saya tertuju dengan beragam bangunan yang ada di kompleks Batam Center. Nggak jauh dari Masjid Raya Batam, terdapat kompleks gedung-gedung perkantoran pemerintah Kota Batam. Dari semua gedung, yang paling ikonik adalah gedung Wali Kota Batam yang tampak modern. Di dekatnya terdapat Astaka MTQ Nasional ke-XXV di Dataran Engku Putri, Batam Center. Sekadar informasi, kompleks bangunan yang mengadopsi rancang bangun, khususnya bagian kubah yang mirip Raudah (kubah hijau) Masjid Nabawi Madinah ini merupakan venue perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) – semacam seni baca alQuran atau qiraah dengan lantunan nada yang telah disesuaikan, tahun 2014 silam. Kompleks ini memiliki 3 pintu gerbang dan menara kembar gerbang selatannya terlihat jelas dari Masjid Raya Batam.

DSC03342

Kantor Wali Kota Batam dan menara kembar Astaka MTQ Dataran Engku Putri menjadi landmark Batam Center selain Masjid Raya Batam [Fotografer: Iwan Tantomi]

Kawasan di jalan Engku Putri boleh dibilang Central Business District-nya Batam. Ada banyak gedung perkantoran yang nggak kalah jangkungnya dengan Jakarta, termasuk mall. Teringat tawaran traktiran nonton, teman-teman akhirnya menggiring saya ke Mega Mall Batam Center. Selain ukurannya yang lumayan gede, kenyataan pahit melihat bioskop di sini ternyata XXI membuat saya bergidik. Dalam hati saya berdialog, “Buset, kalo jadi beneran traktir selusin orang nonton di XXI, apa kabarnya kehidupan gue yang masih 5 hari lagi di Bintan?”.

Herannya, hal yang sempat mengernyitkan kening tersebut nggak benar-benar kejadian. Entah sebuah keberuntungan atau bukan, yang jelas kali pertama masuk mall, kami langsung hilang, mencar muterin mall 4 lantai ini sendiri-sendiri. Bahkan, saat saya sudah beneran di depan XXI, cuma satu orang yang bareng sama saya. Sampai akhirnya saya menawarkan diganti makan saja, mereka nurut sih, tapi, ya, begitu selama hampir sejaman nggak kumpul-kumpul. Ada yang shopping bajulah, sepatulah dan lain-lain. Lama-lama saya bosan sendiri dan capek mencari mereka, hingga akhirnya berhenti di toko merchandise, beli deh sedikit oleh-oleh khas Batam.

DSCN1662.JPG

Karena lagi Natal-an, pernik di Mega Mall Batam Center bertaburan bintang dan berhamburan diskon, hingga bikin rekan mbolang saya yang tadinya ngirit jadi bablas gesek kartu debit. Halah! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Setelah kaki saya gempor naik-turun eskalator dan balik lagi ke basement dengan niatan menanti mereka di pintu keluar-masuk mall, eh, lha kok langsung balik ketemu, lengkap lagi personelnya! Beginilah jadinya kalau masuk mall bareng manusia yang doyan shopping, habis ngilang nongol-nongol bawa belanjaan. Selain sebagai ikon belanja, mall di Batam juga menjadi ikon kemajemukan penduduknya. Saya pikir dengan banyaknya bangunan bernuansakan Islam, dandanan pengunjung mall-nya syariat banget. Nggak tahunya, baik yang Islam maupun bukan, Melayu, Tionghoa, Jawa hingga India, tumplek blek membaur dalam mall. Bahkan, pengunjung berpakaian ngirit seperti yang gampang ditemui di mall-mall Jakarta, juga bisa dijumpai dengan mudah di Mega Mall Batam Center.

Kelamaan ngemall tahu-tahu sudah mau asar, kami pun akhirnya bergegas balik ke Pelabuhan Telaga Punggur, agar nggak ketinggalan kapal terakhir menuju Bintan. Gelak tawa selama perjalanan pun nggak bisa terlepaskan hingga kami berada di kapal RoRo. Kendati plesir saya ke Batam kali ini lebih singkat, nggak lebih dari 9 jam, saya cukup senang karena mimpi untuk melihat langsung Jembatan Balerang dan foto berlatar tulisan ‘WELCOME TO BATAM’ akhirnya terkabulkan. Yang nggak kalah penting, mbolang singkat saya ke Batam kali ini benar-benar menambah banyak cerita, banyak pengalaman dan pastinya banyak kenalan!

IMG_8550.JPG

Pertemuan 9 jam bareng mereka di Batam bikin perjalanan saya penuh cerita, kenangan dan pastinya menambah daftar kenalan. Ugh, jadi rindu deh! [Hak Milik Foto: Widyuta]

Sekembalinya di Tanjung Uban, saya menunaikan janji mentraktir mereka. Bukan di XXI sih, bukan restoran mahal pula. Tapi di warung sederhana pilihan mereka. Duh, pokoknya mereka pengertian banget deh dengan traveling budget saya! Meski hanya jamuan sederhana, paling nggak pertemuan singkat ini bisa memberikan kenangan sekaligus selipan kegembiraan buat mereka yang sedang menjalankan sebuah pengabdian. Oh, Guys, all you had made my journey more meaningful than I guessed. Proud of you and I thankful I could have met some heroes of SM-3T. It was a one fine day, indeed. Contrary to popular believe, traveling alone to Batam isn’t that bad, after all.


Terimakasih sudah mengikuti sekuel perjalanan saya di Batam 🙂

sekuel 1: Hello (Again) Batam! | sekuel 2: Find Balerang, Help Me Google Maps! | sekuel 3: One Fine Day in Batam