Jazz Gunung Bromo Membosankan?


Jazz Gunung Bromo Membosankan?
Jazz Gunung Bromo 2019 ยฉ Iwan Tantomi

Gersangnya pemandangan di sepanjang tol Pasuruan-Probolinggo sempat membuat saya bosan. Apalagi siang itu sangat terik. Beruntung, jalan sangat lengang. Kendaraan baru terlihat agak padat saat keluar dari tol menuju Sukapura, Probolinggo. Perbaikan jalan di beberapa titik sempat membuat kendaraan kami harus berhenti beberapa kali, tetapi tak mengurangi target waktu kami tiba di lokasi Jazz Gunung Bromo 2019.

Tepat jam 14.30 WIB, kami tiba di Java Banana Bromo Lodge, lokasi Jazz Gunung Bromo biasa dilangsungkan. Sekitar 2 jam 15 menit kira-kira kami berangkat dari Malang, keberadaan tol benar-benar terbukti menyingkat waktu perjalanan. Setelah memvalidasi tiket, saya sempatkan mengenyangkan perut sembari menunggu para penampil gladi resik.

Meski baru bisa datang pada hari terakhir, tetapi saya cukup antusias menikmatinya. Bukan saja banyak penampil idola yang saya tunggu aksi panggungnya, tetapi bisa datang ke Jazz Gunung Bromo secara cuma-cuma dari kantor adalah momen langka.

Saya tak perlu liputan, pertama. Kedua, saya tak perlu sibuk mengetik berita dari ponsel untuk dikirimkan ke redaksi saat acara tengah berlangsung. Ketiga, saya bisa duduk dan bersantai menikmati Jazz Gunung Bromo laiknya para penonton untuk pertama kalinya. Itulah kenapa Jazz Gunung Bromo 2019 ini begitu terasa istimewa buat saya.

Namun, di tengah menikmati penampilan Tristan dan Nita Aartsen, justru ada beberapa orang yang sibuk sendiri bermain gawainya. Bermain game lewat tablet saat Sierra Soetedjo menyanyikan Especially For You, bisa dimaklumilah bagi anak-anak, karena besar kemungkinan mereka tak tahu. Akan tetapi, melihat tayangan Korea [ada ponsel saat Sierra Soetedjo menembangkan The Only One secara live di Jazz Gunung Bromo bagi anak seusia kuliah, tentu menimbulkan pertanyaan.

Sebegitu membosankan-nyakah acara Jazz Gunung Bromo ini?

Sebetulnya, saya ingin mengabaikan ‘pemandangan’ tersebut. Namun, apa daya, pria tersebut duduk tepat di bawah saya. Sementara set duduk amfiteater yang bertingkat mengharuskan saya melihat ke bawah, sehingga setiap kali memusatkan pandangan ke arah panggung Jazz Gunung Bromo, apa yang ditonton orang di bawah saya tentu otomatis akan terlihat.

Beruntung saat giliran Ring of Fire feat Didi Kempot, pria tersebut tak lagi bermain ponsel. Beragam lagu-lagu legendaris Didi Kempot yang diaransemen ulang versi Jazz oleh Djaduk Ferianto bisa saya nikmati dengan jelas. Bahkan, suasana kian hangat di tengah hawa dingin pegunungan yang mulai merasuk, kala Djaduk dan Didi mengajak penonton berdiri untuk bernyanyi bersama lagu-lagu legendaris, seperti Sewu Kutho, Stasiun Balapan, Cidro, dan Banyu Langit.

Sayang pemandangan yang cukup mengganggu tadi kembali terulang saat giliran Candra Darusman Project menghentak panggung Jazz Gunung Bromo, dengan maha karya instrumen-instrumen musik jazznya. Tak berselang lama, pria tersebut akhirnya keluar. Namun, bukan itu yang bikin saya kali ini bertanya-tanya, melainkan beberapa penonton Jazz Gunung Bromo yang beranjak pergi justru saat Barry Likumahuwa menunjukkan aksi keren bermain bass.

Sebegitu membosankan-nyakah acara Jazz Gunung Bromo ini?

Mereka justru berduyun-duyun pergi, meninggalkan amfiteater, kala para musisi jazz sedang unjuk gigi. Ironis memang, terlebih acara ini jelas berlabel Jazz Gunung Bromo. Terlepas dari apa yang mereka cari, saya cukup salut dengan para penonton yang masih bertahan sampai akhir acara.

Pada akhirnya, ungkapan: tak semua orang bisa menikmati musik jazz, itu pun memang benar adanya. Dan, spesial buat para penggemar musik jazz sejati, saya luangkan membuat sebuah video singkat, walau teramat sederhana dari keseruan Jazz Gunung Bromo 2019. Barangkali bisa memotivasi diri untuk melihat langsung keseruan Jazz Gunung Bromo suatu hari nanti. ๐Ÿ™‚

Seupil Drama Berjumpa Raisa


2016_1022_08523200-01.jpeg

Konser Raisa di Malang memang sudah berlalu semalam, tetapi ada sedikit drama menarik yang ingin saya ceritakan.

Nama Malang dari hari ke hari kian dikenali. Bukan saja karena keindahan alamnya, tetapi belakangan jadi salah satu destinasi wisata konser yang cukup diperhitungkan. Hadirnya venue yang memadai membuat promotor nggak pernah bosan menggelar konser hampir setiap bulan di Malang.

Lanjutkan membaca Seupil Drama Berjumpa Raisa

Berbekal Instagram, Jelajahi Musi Triboatton


musi triboatton-001
Berbekal Instagram, Jelajahi Musi Triboatton [Hak Milik Foto: Yogi Wirawan]

Sumatera Selatan kian hari kian getol mengukuhkan diri sebagai daerah percontohan di segala bidang. Masih teringat momen megahnya opening dan closing ceremony SEA Games 2011. Berkat kesuksesannya menyelenggarakan pesta olahraga terbesar se-ASEAN tersebut, nama Palembang dan Sumatera Selatan kian dikenal.

Lanjutkan membaca Berbekal Instagram, Jelajahi Musi Triboatton

Sabang Berbinar, Pariwisata Aceh Berkibar


Sabang.jpg
Sabang Berbinar Pariwisata Aceh Berkibar [Hak Milik Foto: Oaktour.id

Siapa sih yang nggak kenal Sabang? Kota paling utara Indonesia ini cukup terkenal lantaran sering disenandungkan di lagu wajib nasional ‘Dari Sabang Sampai Merauke’.

Lanjutkan membaca Sabang Berbinar, Pariwisata Aceh Berkibar

Earth Hour 2016: Rasa Jawa Ala Atria


DSCF0271.JPG
Earth Hourย  2016: Rasa Jawa Ala Atria [Fotografer: Iwan Tantomi]

Kita adalah generasi pertama yang merasakan perubahan iklim dan kita adalah generasi terakhir yang dapat mengubahnya โ€“ Barack Obama

Sudah dua kali dalam sebulan ini saya datang ke Atria. Dua kali pula saya ke sana bukan untuk reservasi, tetapi karena undangan. Jika undangan pertama dapat dari acara ulang tahun elfara, undangan ke dua dapat dari acara Earth Hour 2016 yang diadakan Atria. Nah, berkat undangan Atria inilah, selebrasi Earth Hour saya tahun ini menjadi berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Lanjutkan membaca Earth Hour 2016: Rasa Jawa Ala Atria