“Panggil Saya Mbok Jum”

10

Ilustrasi Mbok Jum [Foto: Dewan Irawan/500px.com]

Ada yang bilang kerja sesuai passion itu tak begitu terasa. Sampai-sampai berangkat pagi pulang malam sudah menjadi hal yang biasa. Mungkin itulah yang saya rasakan. Sejak berkarir di dunia tulis-menulis, serasa melakukan hobi yang digaji. Apalagi jika suasana kantornya begitu nyaman dan rekan-rekan kerja juga begitu menyenangkan. Disuruh nginep sekalipun mungkin saya akan tetap enjoy menikmatinya – untungnya nggak pernah sampai nginep beneran. Hee.

Continue reading

Advertisements

Terpaksa Tajir

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bingung nyari angkot nggak nemu-nemu, akhirnya langsung masuk taksi, hanya untuk datang ke tempat tes masuk kuliah

Lalu lalang anak-anak lulusan SMA yang berbondong-bondong masuk ke kampus, seketika mengingatkan saya dengan momen tes masuk kuliah tahun 2009 silam. Ada yang lari-lari karena telat, ada yang bingung mencari ruangan tes, bahkan ada yang mondar-mandir kebingungan nggak tahu mau naik apa menuju tempat tes. Biasanya yang seperti ini banyak dialami oleh anak-anak dari luar daerah. Lantaran datangnya mepet pas tes, juga tidak ada kenalan yang bisa diandalkan, jatuh-jatuhnya bingung kayak orang kesasar.

Hal itulah yang pernah saya alami. Dulu tes masuk kuliah disebut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Sama halnya dengan UN, tes masuk kuliah ini ternyata sudah bergonta-ganti istilahnya. Yang paling baru adalah Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Cuma kata ‘Nasional’ yang berganti ‘Bersama’, secara teknis tampaknya nggak jauh beda dengan sebelum-sebelumnya. Kayaknya, soal gonti-ganti istilah memang sudah membudaya di Indonesia.

Sebenarnya, sejak SMA saya sudah di Malang, tetapi bukan di kotanya. Saya tinggal dan bersekolah di Singosari, wilayah Malang bagian utara. Sebagai perantau, aktivitas saya selain belajar di sekolah ya mengaji di asrama. Jarang sekali pergi ke pusat kota, kecuali untuk membeli buku yang memang kebetulan hanya bisa ditemukan di toko buku, seperti Gramedia. Itupun kadang rombongan. Nah, tiba saat tes kuliah, saya hanya pergi dengan dua orang teman.

Kami berangkat dari Pasar Singosari. Kabar buruknya, baik saya dan dua teman lainnya nggak ada yang hafal jalur angkot menuju ke pusat kota atau ke tempat tes kuliah. Duh! Tanya pedagang pasar katanya naik angkot warna hijau muda, tanya tukang parkir katanya naik angkot jurusan terminal Arjosari. Apesnya, 15 menit menunggu nggak ada satu pun angkot berwarna hijau muda atau yang ke arah terminal. Sebaliknya, angkot warna merah justru yang banyak seliweran. Ada angkot warna hijau tapi tua, jalurnya pun nggak menuju terminal.

Dikatakan nggak ada kendaraan umum, sebenarnya dari tadi, kami berdiri di dekat kendaraan umum – warna hijau muda lagi. Tapi, itu bukan angkot, melainkan taksi. Benar saja nggak kami perhatikan, karena uang saku yang pas-pasan. Namun, karena waktu yang terus mepet dan terik matahari yang kian membuat tubuh berkeringat, mulailah kami melirik mobil sedan itu. Mungkin karena tahu kami berdiri lama, menunggu angkot hijau muda yang nggak kunjung tiba, supir taksi mulai melancarkan aksinya.

Si Supir mulai mengiming-imingi kami dengan tawaran taksi yang lebih cepat, nggak panas lah, nggak berdesakan, juga nggak pakai nunggu lama-lama. Sial! Dipikir-pikir memang benar sih, tapi bisa langsung bikin dompet lipat kosong. Karena merasa terdesak, kami pun akhirnya memutuskan pergi ke tempat tes kuliah menggunakan taksi. Apalagi si Supir benar-benar mengantarkan kami tepat di depan pintu gedung tempat tes kuliah. Sontak saja, setiap pasang mata melihat kami yang turun dari taksi. Aww!

Maunya sambil melambaikan tangan, biar lebih dramatis. Tapi, apa daya pakaian kami yang super duper ndeso sangat nggak mendukung penampilan. Bahkan, sangat nggak match bila digabungkan dengan kendaraan semacam taksi. Bagi yang melihat, mungkin mereka menyangka kami tajir. Padahal, aslinya kami hanya terpaksa tajir. Hahaha! 😀

Kucing Jomblo

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Sebagai orang yang pernah belajar Biologi, saya lumayan paham tentang siklus reproduksi, khususnya pada hewan seperti kucing.

Berbeda dengan manusia yang menunjukkan ‘hasrat kawinnya’ secara malu-malu, kucing justru blak-blakan saat dirinya benar-benar kebelet kawin. Tentu saja bukan dengan menyatakan cinta layaknya reality show bertajuk Marry Me, tetapi dengan ritual perkawinan khas umat mereka. Nah, hal unik yang berhasil saya ketahui dari ritual perkawinan kucing adalah mereka ternyata juga main gombal-gombalan dulu sebelum akhirnya kawin sungguhan.

Anehnya, aksi gombal-menggombal ini sangat berkebalikan dengan cara menggombalnya manusia. Bila ada pria yang tertarik pada wanita, biasanya yang memulai gombalan adalah pria. Mereka akan sepenuh hati merayu agar cintanya bisa diterima. Sementara tugas wanita, hanyalah memberikan jawaban apakah dia mau menerima atau tidak – walau sebagian besar akan diterima, karena wanita umumnya bakal menganggap pria yang seperti ini amat serius ingin mendapatkan cintanya. Hihihihi!

Lain wanita, lain pula betina. Kucing betina cenderung angkuh, selektif dan berani memasang target ‘harga diri’ yang tinggi. Mereka tidak asal menerimanya, justru bakal menggelar sayembara agar semakin banyak pejantan yang tergila-gila padanya. Aww! Saat ada satu kucing jantan yang tertarik padanya, si betina tidak langsung mau menerimanya. Doi justru mengeong dengan sekeras-kerasnya agar didengar oleh jantan-jantan lain. Tujuannya sih agar lebih banyak yang berjuang untuk mendapatkan cinta sejatinya. Aiks!

Sebalnya, sounding ngeong si betina ini nggak cukup sekali. Doi bakal melancarkannya berhari-hari, baik pagi, siang maupun malam. Saya yang kebetulan tinggal di teritorial kerajaan kucing, terkena imbasnya juga. Mulanya, saya pikir, kenapa sih tuh kucing kok seharian teriak-teriak mulu. Apa nggak dower mulutnya atau nggak kendor tuh pita suaranya? Saking totalitasnya, saya pelototin pun dia nggak terusik, bahkan makin keras aja mengeongnya.

Tiap hari saya amati, dia mondar-mandir sendiri. Loncat dari satu atap ke atap lainnya. Sesekali mampir di depan teras rumah. Herannya, meski sudah teriak-teriak histeris, si betina ini nggak diikutin jantan satupun. Padahal, bila ada sayembara seperti ini, biasanya beberapa kucing jantan bakal saling mengejar sambil kucing-kucingan di belakang si betina. Hmm, si jantan lagi nggak selera kali ya sama dia. Hahahaha! Dasar kucing jomblo!

Walhasil, bukannya mengundang para pejantan tangguh, suara ngeong si betina malah mendatangkan sandal melayang. Akibat suara yang memekakkan telinga, penghuni kosan begitu terusik, sampai rela melemparkan apapun dilihat mata ke arah betina kesepian tersebut. Weleh! Bahkan, ada satu warga yang marah-marah karena dirinya nggak bisa tidur nyenyak gara-gara kucing betina ini teriak-teriak terus setiap malam. Namanya, juga kucing, dikatain pakai bahasa apapun tetap saja nyelonong tanpa dosa. Bukannya takut digampar sapu lidi, doi malah balik menyanyi lagi. Hush!

Setelah berhari-hari, akhirnya ada pemandangan berbeda di suatu pagi. Si betina nggak lagi mengeong keras, karena sudah dikawal dengan beberapa jantan di belakangnya. Sesekali doi menggerakkan ekornya, agar membuat para jantan lebih bergairah. Namun, konflik utama ritual perkawinan baru dimulai di sini. Para pejantan mulai saling adu kekuatan. Pastinya, bukan yang pandai menggombal yang bakal dapat cinta si doi. Tapi, siapa yang paling perkasa, dialah yang bakal mendapatkan pujaan hatinya. So sweeeeeeeeeet!

Cakar-cakaran sampai gigit-gigitan pun nggak terelakkan dalam duel ini. Saya pun cukup terhibur melihatnya – mungkin mereka bakal bilang, “Sial luh”, jika bisa bicara. Hahahaha! Akhirnya, kucing dengan warna garis-garis cokelat berpadu sedikit warna oranye, keluar sebagai pemenang. Doi pun sukses mendapatkan hati si betina. Layaknya para gladiator di film-film besutan Hollywood, mereka langsung merayakan momen istimewanya dengan adegan dewasa. Tanpa pikir panjang, apalagi memperhatikan lingkungan sekitar, mereka berdua segera  mempertontonkan bulan madu di  TKP tanpa sensor sedikitpun. Sial!

Nggak kebayang apa jadinya bila manusia punya ritual perkawinan seperti kucing. Bukannya jadi kawin, yang ada prianya saling bacok-bacokan demi memperebutkan wanita idaman. Untungnya lagi, jumlah wanita cenderung lebih banyak daripada pria. Selain nggak perlu sampai setor nyawa, bisa jadi suatu saat para wanita yang saling berkompetisi memperebutkan pria. Hihihi! Peace! 😀