SAMSARA Coffee Malang Tempat Nyaman Buat Gali Ide Segar


SAMSARA Coffee Malang Tempat Nyaman Buat Gali Ide Segar (c) Iwan Tantomi
SAMSARA Coffee Malang Tempat Nyaman Buat Gali Ide Segar (c) Iwan Tantomi

SAMSARA Coffee boleh dibilang buah dari kejenuhan saya mencari tempat ngopi yang nyaman buat bekerja saat siang dan sore hari. Mulanya saya mau ke Rahasia Coffee, tetapi pas tiba di lokasi ternyata tutup. Pilihan terdekat akhirnya menuju SAMSARA Coffee yang beralamat di Jalan Lokon No 3, Kota Malang.

Dari depan, SAMSARA Coffee tampak lengang, tetapi di sisi lain juga terlihat sangat nyaman. Masuk ke dalam, suasananya juga nggak begitu berisik. Banyak pilihan meja yang bisa dipilih.

Rata-rata pengunjungnya fokus mengetik di depan laptop. Bisa jadi SAMSARA Coffee memang cocok buat menggali ide, meeting maupun bekerja, sehingga difavoritkan para pekerja kreatif.

Dari sisi menu, cukup lengkap. Mulai beverages, seperti kopi dan smoothies, beragam camilan, hingga makanan berat. Saya pernah mencoba ayam cabai ijo-nya, rasanya ternyata enak, bukan sajian ala-ala layaknya kafe pada umumnya.

Sementara sore itu, saya memilih memesan donat tabur gula serbuk, plus ice latte sebagai mood booster untuk bekerja. Tanpa terasa, hampir sampai malam saya berada SAMSARA Coffee. Suasana yang nyaman dan makanan yang enak, rupanya membuat saya produktif bekerja.

Terlebih SAMSARA Coffee sedang ada promo makanan baru juga, dan ada potongan diskon sekitar 20%, sehingga saya bisa sekalian makan malam di sana. Menu yang saya pesan waktu itu Salted Egg Chicken Katsu.

Selain tempat yang nyaman, SAMSARA Coffee juga menyediakan WiFi yang super cepat. Nggak perlu khawatir pula soal stop contact alias colokan, karena cukup memadai di sekitar meja. Desain interior yang sangat artsy tetapi nggak norak, makin membuat SAMSARA Coffee tampak cantik dan classy.

SAMSARA Coffee Malang Tempat Nyaman Buat Gali Ide Segar (c) Iwan Tantomi
SAMSARA Coffee Malang Tempat Nyaman Buat Gali Ide Segar (c) Iwan Tantomi

Secara rate memang lumayan sih. Minuman coffee mulai Rp22k, non coffee, seperti ice lemon tea dan smoothies mulai Rp30k, camilan mulai Rp9k, menu utama mulai Rp30k. Namun, menurut saya cukup worth it, karena sebanding dengan rasa dan pelayanan yang diberikan.

Lebih-lebih buat kamu yang ingin mencari tempat bekerja nan nyaman, entah itu buat meeting, mengerjakan hal-hal kreatif, atau buat mengerjakan tugas, di mana harga nggak terlalu jadi masalah, cobalah datang ke SAMSARA Coffee Malang.

Note: tersedia musala buat Muslim, tinggal tanya ke pramusaji jika ingin salat, nanti bakal diantarkan.

10 Kuliner Legendaris Solo yang Masih Eksis, Biar Lawas Tetap Bikin Puas


10 Kuliner Legendaris Solo yang Masih Eksis, Biar Lawas Tetap Bikin Puas
Kuliner Legendaris Solo: Timlo yang masih eksis sampai sekarang © Iwan Tantomi

Solo atau Surakarta agaknya selalu spesial buat saya. Biar kecil, kota ini memiliki daya tarik istimewa bagi setiap pengunjungnya. Salah satunya adalah makanan lawas. Ada banyak sekali kuliner legendaris yang masih eksis di Solo.

Baca juga: Baru Pertama ke Solo? Tempat-Tempat Keren Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan!

Nggak sedikit yang berusia di atas 50 tahun. Namun, yang bikin saya kagum, penyajiannya masih nggak berubah dari tahun ke tahun. Bahkan demi mempertahankan rasa, penjualnya sengaja mewariskan resep secara turun temurun hanya dalam lingkup keluarga. Berikut 10 legendaris Solo yang berhasil saya coba, bisa jadi kamu perlu mencobanya pula saat jalan-jalan ke Surakarta. Ingat baik-baik, ya.

1. Kuliner Legendaris Solo: Brambang Asem

Kuliner Legendaris Solo: Brambang Asem
Kuliner Legendaris Solo: Brambang Asem © Iwan Tantomi

Kesegaran daun ubi jalar dan kangkung bercampur dengan rasa pedas-manis-asam bumbu sambal brambang, sejenak tak ada yang menyangka jika kuliner tradisional dan langka ini sudah berusia 20 tahun lamanya di Pasar Gedhe.

Brambang Asem jadi kudapan favorit yang nikmat disantap antara jam sarapan dan makan siang. Kenikmatan sambal brambang, yang diramu dari cabai rawit, gula jawa, asam jawa, daun jeruk, terasi dan bawang merah (brambang), kian terasa saat menyantap Brambang Asem dengan tempe gembus yang dibuat dari ampas tahu.

Dengan harga sepincuk daun pisang tak lebih dari Rp5ribu, burulah Brambang Asem ini di Pasar Gedhe saat pagi hari, sebelum lanjut menjelajahi Surakarta.

2. Kuliner Legendaris Solo: Lenjongan

Kuliner Legendaris Solo Lenjongan
Kuliner Legendaris Solo: Lenjongan © Iwan Tantomi

Parutan kelapa yang lembut berpadu dengan manisnya gula aren, terasa nikmat di lidah saat menyantap satu per satu isi lenjongan. Jajanan zadul, yang seporsi berisikan tiwul, ketang ireng, ketan hitam, gethuk, sawut, cenil dan klepon ini disajikan dalam bungkus kecil daun pisang. Bahan-bahannya yang masih alami, membuat lenjongan selalu setia dinikmati.

Masuklah ke dalam Pasar Gedhe, lenjongan legendaris yang nyaris berusia 30 tahun, masih eksis dijual di sana. Cobalah satu per satu jajannya, apalagi jika sudah lama tak pernah mencobanya. Kamu bakal dibikin kaget dengan kelezatan di balik kesederhanaannya, terlebih setelah tahu harganya tak lebih dari Rp5 ribu di Solo.

3. Kuliner Legendaris Solo: Dawet Telasih

Kuliner Legendaris Solo Dawet Telasih
Kuliner Legendaris Solo: Dawet Telasih © Iwan Tantomi

Pasar Gedhe itu ibarat surga di Solo. Berbagai makanan legendaris seakan terlestarikan dengan baik di dalam sana, tak terkecuali dawet telasih. Disajikan dalam mangkuk kecil, dawet yang berusia sekitar tiga dekade ini begitu ramai diantre di Pasar Gedhe.

Selain karena rasanya yang tak berubah, dan dijual secara turun-temurun hanya di satu tempat, kelembutan rasa dawet, ketan hitam, juga bisa telasih yang berpadu dengan kesegaran kuah santan seolah langsung meluncur ke tenggorokan saat kali pertamadi telan.

Es Dawet Telasih Bu Dermi menjadi satu-satunya sajian es dawet telasih legendaris hingga tiga generasi di Pasar Gedhe yang patut dicoba.

4. Kuliner Legendaris Solo: Tengkleng Kambing

Kuliner Legendaris Solo: Tengkleng Kambing
Kuliner Legendaris Solo: Tengkleng Kambing © Iwan Tantomi

Tak lengkap rasanya wisata kuliner di Solo, sebelum mencoba kelezatan tengkleng kambing. Rasa bumbunya yang kaya akan rempah-rempah, membuat siapapun bakal tak cukup kalau hanya mencoba sepincuk saja. Apalagi kalau sudah disajikan dengan nasi panas.

Dengan cabai rawit rebus yang bisa langsung digigit, suapan daging tengkleng yang lembut bakal membuat berulang kali menelan ludah jika hanya sekadar melihatnya. Salah satu tengkleng legendaris yang patut di coba adalah Warung Tengkleng Bu Edi dekat Pasar Klewer, Solo.

5. Kuliner Legendaris Solo: Timlo

Kuliner Legendaris Solo: Timlo
Kuliner Legendaris Solo: Timlo © Iwan Tantomi

Kuah kaldu beningnya yang gurih, menjadikan timlo cocok dinikmati sebagai sajian sarapan berkuah. Dengan nasi panas, ragam jeroan ayam, sosis solo, suwiran ayam, telur hingga pindang, begitu sedap dilahap.

Semakin mantap, jika ditambahkan sambal cabai segar yang disediakan. Tak jauh dari Pasar Gedhe, datanglah ke Timlo Sastro. Kuliner khas Solo nan legendaris ini tak pernah berubah rasanya sejak 1952 di warung tersebut.

6. Kuliner Legendaris Solo: Bakmi Thoprak

Kuliner Legendaris Solo: Bakmi Thoprak
Kuliner Legendaris Solo: Bakmi Thoprak © Iwan Tantomi

Pastikan perut benar-benar kosong sebelum menyantap bakmi thoprak. Porsinya yang besar bakal membuat perutmu kenyang dengan bihun, mie kuning, irisan daging sapi, cakwe, tahu, tempe, kubis, taoge, kacang goreng, juga yang tak terlewat sosis solo.

Rasa kaldu pada kuah beningnya tidak sekuat timlo, sehingga tak akan membuat eneg meski porsinya jumbo. Rasa bakmi thoprak ini pun semakin segar dan menggugah selera setelah ditambahkan perasan jeruk nipis dan potongan cabai rawit.

Bakmi Thoprak Yu Nani jadi salah satu bakmi thoprak legendaris yang patut dicoba saat main ke Solo.

7. Kuliner Legendaris Solo: Cabuk Rambak

Kuliner Legendaris Solo: Cabuk Rambak
Kuliner Legendaris Solo: Cabuk Rambak © Iwan Tantomi

Namanya tampak unik, tetapi saat menikmati irisan ketupat bercampur sambal wijen, kamu bakal terkesiap dengan kelezatannya. Cabuk rambak memang memiliki keunikan pada bumbunya. Walau sekilas mirip seperti saus kacang, nyatanya sambal wijen ini diramu dari wijen, kemiri dan kelapa parut yang disangrai lebih dulu.

Tambahan karak atau kerupuk beras yang renyah kian menyempurnakan rasa dari kudapan khas Solo ini. Meski makanan zadul dan langka, tetapi cabuk rambak masih bisa ditemukan secara mudah di Pasar Gedhe.

8. Kuliner Legendaris Solo: Sego Liwet

Kuliner Legendaris Solo: Sego Liwet
Kuliner Legendaris Solo: Sego Liwet © Iwan Tantomi

Sego atau nasi liwet ini begitu sederhana penyajiannya dengan pincuk kecil daun pisang. Namun, saat mulai memakannya pada suapan pertama, kamu akan menjumpai rasa gurih dari nasi yang bercampur dengan suwiran ayam kampung rebus, sayur labu, juga telur pindang.

Tambahan areh yang begitu khas, membuat rasa nasi liwet begitu pas di lidah. Tak sulit menemukan sego liwet di Solo. Namun, kalau ingin yang mantap, cobalah nasi liwet Bu Sri yang ada di pojokan luar Pasar Gedhe.

Resep legendaris yang diwariskan secara turun temurun, membuat sego liwet ini begitu tersohor walau dijual di meja dan kursi plastik sederhana.

9. Kuliner Legendaris Solo: Tahu Kupat

Kuliner Legendaris Solo: Tahu Kupat © Iwan Tantomi
Kuliner Legendaris Solo: Tahu Kupat © Iwan Tantomi

Sajiannya yang tak terlalu berat, membuat tahu kupat solo, nikmat disantap sebagai sajian makan siang atau sore hari. Manis gurih bumbu kacang ditambah kelembutan tahu goreng dan kupat, membaur jadi satu rasa sedap saat dilumat bersamaan.

Kehadiran mie kuning kian memperkaya citarasa dari tahu kupat ini. Lebih-lebih jika ditambahkan ulekan rawit, rasa pedas tahu kupat kian mantap dengan gurih kerupuk sebagai pelengkapnya.

10. Kuliner Legendaris Solo: Gempol Pleret

Kuliner Legendaris Solo: Gempol Pleret © Iwan Tantomi

Gempol pleret nikmat disantap dalam kondisi dingin. Teksturnya yang unik saat dikunyah, membaur dengan rasa manis santan bercampur dengan gula jawa.

Tambahan dawet dan cendol membuat, rasa gempol pleret semakin kaya. Menariknya, tak semua orang bisa membuat gempol pleret, inilah kenapa saat ke Solo kamu perlu mencoba jajanan khas dan langka ini. Citarasanya yang tak biasa, bakal meninggalkan kesan tersendiri kala liburan ke Solo.

Dari 10 kuliner legendaris Solo tersebut adakah yang pernah kamu coba? Atau, kamu punya rekomendasi lainnya? Jangan ragu membagikan ragam kuliner legendaris Solo lainnya di kolom komentar ya. Selamat berlibur dan mencicipi langsung lezatnya kuliner legendaris Solo!

Moshi Moshi Ramen Malang Nggak Enak?


Moshi Moshi Ramen Malang
Moshi Moshi Ramen Malang

Moshi Moshi Ramen Malang akhirnya menjadi perhentian, setelah berpikir makan apa enaknya usai joging yang melelahkan.

Seperti biasa, akhir pekan saya khususkan untuk me time, termasuk mentraktir diri dengan makan enak. Namun, pilihan ke Moshi Moshi Ramen Malang bukan semata lapar, tapi justru cenderung penasaran.

Pasalnya, sebagian teman saya—yang suka budaya Jepang, bilang Moshi Moshi Ramen Malang mantap, tapi sebagian lainnya—yang nggak begitu mengikuti atau bahkan suka budaya Jepang, justru bilang nggak enak.

Lantas, mana yang harus saya percaya? Tentu saja nggak ada, karena saya ingin merasakan menu-menu di Moshi Moshi Ramen Malang sendiri, lantaran soal selera setiap lidah manusia nggak pernah sama.

Kebetulannya lagi, Moshi Moshi Ramen Malang ini HALAL. Wajar jika antrean kursinya lumayan panjang. Tempatnya nggak besar, tapi penataan meja dan kursinya cukup compact dan paling penting nggak berisik, sehingga cukup nyaman.

Saya pesan Ramen Spicy Volcano karena juga lagi pengin makan yang pedas-pedas. Sebenarnya ingin makan sushi juga, sayang malam itu sudah habis. Jadi, saya ganti yakitori dan gyoza. Untuk minum, saya pesan yang cepat bikinnya, karena habis joging ceritanya langsung kulineran, lemon-tea iced. :p

Lima belas menit berlalu, Ramen Spicy Volcano yang saya pesan datang, bersamaan dengan gyoza dan minuman. Lima menit berikutnya, yakitori akhirnya tiba juga.

Mula-mula saya coba gyozanya dulu. Teksturnya kenyal dengan isian udang yang dilembutkan. Rasanya nggak berat, cocok buat appetizer. Cuma entah karena AC-nya yang banyak, gyozanya jadi cepat dingin. Selebihnya enak kok, menarik buat dicoba.

Biar nggak keburu dingin juga, saya langsung menyantap Ramen Spicy Volcano. Kuahnya mirip tomyam, asam-pedas-gurih, tambahan irisan rawit segar bikin pedasnya makin nendang. Dari atas, ramennya nggak terlihat karena tertutup telur dadar yang berisi potongan daging ayam goreng, lebar-lebar.

Setelah puas merasakan kuahnya, saya langsung ambil sumpit dan mulai mencoba ramennya. Kenyal, tapi juga lembut diseruput, hingga ditelan. Saat dimakan dengan kuah, benar-benar bikin keringat bercucuran karena saking pedas dan panasnya. Pantas saja dinamakan Ramen Spicy Volcano.

Sebagai pengalih rasa pedas, saya makan yakitori tusuk demi tusuk. Ayam yang dipilih sepertinya masih muda, sehingga tulangnya gampang dikunyah saat digoreng kering. Bumbu yakitori ini juga light banget, nggak terasa banyak rempah, hanya sedikit manis seperti karamel, mirip ayam goreng madu.

Tegukan lemon-tea iced yang segar pun rasanya menyempurnakan semua citarasa yang saya coba di Moshi Moshi Ramen Malang. So far, saya nggak menemukan rasa yang mengecewakan. Bukan karena saya suka budaya Jepang, bukan pula karena lagi lapar, tapi rasa enak muncul apa adanya. Toh saya juga bayar, kalau memang nggak enak, tentu bakal saya sejujurnya. Jadi, buat saya masih worth it kok jajan di Moshi Moshi Ramen Malang.

Lokasi Moshi Moshi Ramen Malang

Alamat:

Kedai 1: Jalan Kawi Atas no 10 Kota Malang

Kedai 2: Jalan Kawi Atas no 37 Kota Malang

Jam Buka Moshi Moshi Ramen Malang

Kedai 1: setiap hari dari jam 11 pagi sampai 9 malam

Kedai 2: setiap hari dari jam 9 pagi sampai 9 malam

Disclaimer: konten ini subjektif karena pereferensi setiap orang pada makanan berbeda-beda.

Masih ragu atau penasaran enak atau nggak, datang saja langsung ke Moshi Moshi Ramen Malang.

RAHASIA Cafe, Tempat Ngopi OK di Tidar Malang


RAHASIA Cafe Tidar Kota Malang
RAHASIA Cafe Tidar Kota Malang

RAHASIA Cafe dari namanya sudah menarik perhatian saya sejak awal. Kafe ini nggak sengaja saya temukan saat lagi sumpek, lalu berkeliling kota, hingga masuk ke wilayah perumahan elite di Kota Malang, tepatnya di kawasan Tidar.

Tahu-tahu ada sebuah bangunan bergaya industrialis, yang didominasi kaca, serta cahaya lampu yang terang di tengah gelap perumahan di Villa Puncak Tidar.

Tepat di depannya, ada plakat kecil bertuliskan RAHASIA. Mulanya saya nggak paham itu tempat apa. Tapi, saya masuk saja, karena lelah berkeliling dan ingin makan juga.

“Selamat datang di RAHASIA Cafe, silakan mau pesan apa, kak?” Tanya kasir.

“Emm, signature-nya apa nih, mas? Baru pertama ke sini, nih.” Jawab saja.

“Kalau minuman, ada Kopi RAHASIA, produk favorit customer kita. Kalau camilan, kita punya Poffertjes, french fries with special mayo, dan ada main dish, rice box, ada ayam cabai garam atau sambal dabu-dabu,” jelasnya ramah.

Setelah beres memesan dan bayar di muka, saya memilih duduk di luar. Sekitar 15 menit berlalu, satu per satu hidangan yang saya pesan datang. Es Kopi RAHASIA hadir lebih dulu dengan poffertjes.

Saya tekejut ketika menyeruput es Kopi RAHASIA yang berasa kopi-susu-karamel seperti Caramel Macchiato milik brand kopi fancy. Pas, nggak manis banget, atau pahit kopinya berlebihan.

Kemudian, poffertjes-nya juga yang tampak sederhana, tersaji 4 buah. Berbalur serbuk gula putih, bola-bola keju itu ternyata manis-gurih tapi tetap light, nggak bikin bosan untuk memakannya. Saya merekomendasikan yang orisinal ini jika datang ke RAHASIA Cafe.

Setelah itu, french fries akhirnya datang bersamaan dengan rice box ayam cabai-garam yang saya pesan. Saya coba dulu ayam cabai garamnya. Selain ayam, ada telur mata sapi di bagian bawah, baru nasi di dasar sendiri dalam kemasan kotak.

Rasanya yang simpel, tetapi tetap mengenyangkan, membuat sajian rice box ini terasa pas disajikan untuk melengkapi suasana kafe yang tenang, dan jauh dari hiruk pikuk kebisingan jalan.

Terakhir, ada french fries yang crunchy dan nggak oversalt. Racikan mayo dengan rasa pedas manis rupanya jadi paduan sempurna dengan french fries tadi. Pantas, jika menu ini banyak digemari.

Tahu saya sendiri, kasir yang tadi melayani lantas meminta izin untuk gabung di meja saya. Ternyata ia ingin meminta pendapat saya tentang rasa dari menu-menu yang saya pesan tadi. Saya terkejut mereka mencatat, bahkan dengan senang hati berdiskusi untuk kemajuan RAHASIA Cafe.

Hal yang bikin saya kaget lagi, ternyata RAHASIA Cafe ini didirikan plus dikelola ramai-ramai oleh mahasiswa. Namun, jiwa enterpreneur dan usia yang relatif muda, nyatanya nggak membuat mereka lalai mengutamakan servis, di samping rasa. Kahadiran WiFi yang cepat kian menyempurnakan RAHASIA Cafe sebagai tempat kerja yang tepat di kawasan Tidar, Kota Malang.

Lokasi RAHASIA Cafe

Alamat: Jl. Villa Puncak Tidar VE2/2A Kota Malang.

Jam Buka RAHASIA Cafe Malang

Minggu-Kamis jam 4 sore sampai 11 malam

Jumat-Sabtu jam 1 siang sampai 12 malam

Disclaimer: konten ini sangat subjektif, karena preferensi setiap orang pada makanan berbeda-beda, jadi silakan coba mana yang paling diminati.

Warung Pedas Tangkilsari Malang Baru, Kini Lebih Nyaman dan Gampang Dituju


Para Pegawai Melayani Pelanggan di Warung Pedas Tangkilsari Baru
Para Pegawai Melayani Pelanggan di Warung Pedas Tangkilsari Malang Baru

Warung Pedas Tangkilsari Malang kembali dibicarakan setelah beberapa waktu lalu viral lagi lewat tayangan beberapa food vlogger di YouTube. Seperti namanya, sajian utama di Warung Pedas Tangkilsari Malang adalah beragam lauk, seperti ayam, bebek, ikan tuna, cumi-cumi, kikil, udang dengan bumbu kuning super pedas.

Kabar baiknya, Warung Pedas Tangkilsari Malang baru saja pindah. Jika dulu menempati sebuah rumah kecil dan bahkan kalau makan harus antre sampai ke dapurnya yang masih berupa pawon, kini sudah pindah ke bangunan baru yang lebih nyaman dan gampang dituju.

Menu-menu di Warung Pedas Tangkilsari Malang baru
Pengunjung antre di Warung Pedas Tangkilsari Malang baru

Jarak Warung Pedas Tangkilsari Malang yang baru sebenarnya tak berjauhan dengan rumah yang lama. Masih sama-sama beralamat di Jalan Raya Tangkilsari, Tajinan, Kabupaten Malang, hanya pengunjung tak perlu sampai masuk jauh ke tengah desa.

Dari Jalan Mayjen Sungkono ke arah Bululawang, tinggal belok ke kiri setelah melihat Tugu Tangkilsari, lalu susuri Jalan Raya Tangkilsari sekitar 5 menit. Setelah melewati ladang tebu di kiri-kanan jalan, barulah kemudian ada sebuah bangunan besar bertuliskan Warung Pedas Tangkilsari di kiri jalan. Tak perlu khawatir tersesat, karena banyak petugas parkir yang siaga mengarahkan di pinggir jalan.

Bangunan Baru Warung  Pedas Tangkilsari Malang
Bangunan Baru Warung Pedas Tangkilsari Malang

Warung Pedas Tangkilsari baru menyediakan lahan parkir yang sangat luas, bahkan untuk mobil sekalipun. Meski bangunan utamanya belum sepenuhnya jadi, tetapi seperti biasa penikmat kuliner pedas di Warung Pedas Tangkilsari harus sabar mengantre. Apalagi saya ke sana di akhir pekan, sehingga harus waspada tak kebagian kursi maupun lauk-lauknya yang lengkap.

Beruntung di Warung Pedas Tangkilsari baru pengunjungnya lebih tertib. Setelah mengantre panjang, akhirnya saya mendapatkan giliran. Nasinya saya pilih separuh nasi putih dan separuh lagi nasi jagung, dengan sayur urap-urap, sejenis salad dari sayuran yang sudah direbus layaknya bahan-bahan pecel, tetapi tak disiram dengan sambal kacang. Sebaliknya, sayuran-sayuran, seperti sawi, taoge, kacang panjang dan kubis yang direbus dicampur dengan parutan kelapa yang sudah diurap dengan sambal. Entah kalau di daerah kalian disebut apa. 🙂

Warung  Pedas Tangkilsari Malang
Rupa sajian di Warung Pedas Tangkilsari Malang

Lauk-lauk di Warung Pedas Tangkilsari baru ditata rapi, dan pengunjung disediakan baki plastik untuk membawa setiap piring pesanan layaknya restoran cepat saji. Meski cukup banyak pengunjung, siang itu lauknya masih lengkap.

Sebenarnya, semua lauknya ingin saya coba karena lumayan lama tak ke Warung Pedas Tangkilsari Malang. Namun, yang paling ingin saya makan kemarin adalah kikil dan udang pedas di Warung Pedas Tangkilsari. Makin sempurna dengan tambahan gorengan mendol dan tempe kacang. Sebagai pelengkap saya sekalian pesan es kelapa muda.

Kikil pedas dan mendol panas di Warung Pedas Tangkilsari Malang
Kikil pedas dan mendol panas di Warung Pedas Tangkilsari Malang

Pegawai-pegawai yang gesit membuat pelayanan di Warung Tangkilsari Malang baru jadi tidak lambat. Bahkan di meja yang sama dengan lauk-lauk ditempatkan, sudah menanti pegawai khusus yang sigap mencatat jumlah dan harga satu baki makanan yang dipilih. Setelah bayar di muka, nampan lantas dikasih nomor, sebagai penanda pegawai lainnya mengantarkan minuman yang telah dipesan. Harga per porsi lauk dari 10-20 ribu Rupiah, nasi 5 ribu Rupiah, dan minuman 5-15 ribu Rupiah.

Saya sempat khawatir tak dapat kursi, tetapi hal tersebut urung terjadi karena jumlah meja dan kursi di Warung Pedas Tangkilsari Malang baru ini cukup banyak. Bahkan ada yang lesehan. Setelah dapat tempat duduk, satu per satu makanan saya lahap. Rasa gurih pedas kikil, maupun udangnya masih sama. Lebih-lebih saat disantap menggunakan tangan langsung. Suapan nasi berpadu sayur urap-urap, lauk-lauk pedas, juga cuilan gorengan mendol atau tempe kacang panas begitu nikmat dilahap. Makanya, jika kalian suka banget makan pedas dan sedang jalan-jalan ke Malang, jangan lupa mampir ke Warung Pedas Tangkilsari Malang baru.

Lokasi Warung Pedas Tangkilsari Malang

Tips Kulineran di Warung Pedas Tangkilsari Malang:

  1. Warung Pedas Tangkilsari Malang baru lumayan jauh dari pusat kota Malang, biar lebih gampang menuju ke sana, bisa manfaatkan transportasi online seperti Grab/Gojek.
  2. Warung Pedas Tangkilsari Malang baru masih tidak melayani pembayaran non-tunai, jadi siapkan uang tunai secukupnya, ya.
  3. Hindari datang terlalu siang apalagi sore ke Warung Pedas Tangkilsari Malang baru, karena selain antrean sangat panjang, beberapa pilihan lauknya mungkin habis, lebih-lebih saat akhir pekan. Waktu terbaik datang ke Warung Pedas Tangkilsari Malang adalah jam 10 pagi hingga 12 siang.
  4. Pilih kuah tak pedas, jika memang ragu akan kepedasan. Jika suka pedas, tinggal bilang pakai kuah pedas. Sebab, tak ada level-level kepedasan di Warung Pedas Tangkilsari Malang.
  5. Tak perlu berebut kursi di Warung Pedas Tangkilsari Malang. Beberapa pengunjung yang datang rombongan mungkin akan mencari tempat lebih dulu, tetapi ini akan merugikan pengunjung lain yang sudah mendapatkan makanan lebih dulu. Jika posisinya begitu, tinggal bilang ke pelayan di Warung Pedas Tangkilsari Malang, nanti mereka yang akan mencarikan.
  6. Rapikan piring sesudah makan di Warung Pedas Tangkilsari Malang, agar pelayan lebih gampang mengambil dan membersihkan meja, sehingga meja yang bersih bisa dipakai lagi oleh tamu yang lain. Sebenarnya ini belum diinstruksikan di Warung Pedas Tangkilsari Malang, tetapi tak ada salahnya menerapkan budaya self-service, demi meringankan tugas para pegawai di Warung Pedas Tangkilsari Malang.
Suasana di Warung Pedas Tangkilsari Malang yang baru
Suasana di Warung Pedas Tangkilsari Malang yang baru

Jadi, kapan mau mencoba makan pedas-pedas di Warung Pedas Tangkilsari Malang?