Bandung, Apa Kabar?

Kereta Api Malabar

Lembar demi lembar begitu tak terasa hikmatnya. Masih membaca novel ‘Amba’ yang berkutat dengan fiksi sejarah, rasanya saya menghabiskan hari dengan penuh makna.

Lanjutkan membaca Bandung, Apa Kabar?

Iklan

I’m Gonna Solo


Derit pintu kaca menandai kedatangan saya di kafe itu. Hujan di luar membuat saya memilih untuk menyeruput kopi di dalam ruangan yang berkonsep industrialis tersebut. Sambil menunggu pesanan Caramel Macchiato tiba, saya mulai kembali membuka buku yang sedang saya baca belakangan. AMBA: novel karya Laksmi Pamuntjak.

Lanjutkan membaca I’m Gonna Solo

Ragam Kuliner Legendaris di Kota ‘Kenangan’ Solo

Ning stasiun balapan

Kuto Solo sing dadi kenangan

Kowe karo aku

Naliko ngeterke lungamu

Rasanya Didi Kempot tak pernah asal menulis lirik dalam setiap lagu-lagunya yang fenomenal. Solo memang memiliki daya tarik tersendiri. Sebagai salah satu ‘Destinasi Branding’ Indonesia Solo tak hanya ‘menjual’ budaya, tetapi kuliner tradisional yang begitu melegenda. Pantas jika Didi Kempot pun mentitahkan Solo sebagai sebagai Kota Kenangan dalam penggalaran lirik lagu Stasiun Balapan: Kuto Solo Sing Dadi Kenangan.

Keunggulan kuliner otentik inilahyang bikin Solo patut dikunjungi oleh setiap wisatawan di Joglosemar. JikaSemarang punya lumpia, dan Yogyakarta memiliki gudeg, maka Solo memilikiberagam kuliner menggiurkan yang nyaris keseluruhannya masih disajikan secaratradisional. Tak sedikit yang berusia di atas 50 tahun. Dengan alas daunpisang, kamu bisa merasakan rasa gurih, asam, manis, asin, pedas, dari sajianpokok hingga camilan lezat berikut ini saat berkunjung ke Solo.

Brambang Asem

Kesegaran daun ubi jalar dan kangkungbercampur dengan rasa pedas-manis-asam bumbu sambal brambang, sejenak tak adayang menyangka jika kuliner tradisional dan langka ini sudah berusia 20 tahunlamanya di Pasar Gedhe. Brambang Asem jadi kudapan favorit yang nikmat disantapantara jam sarapan dan makan siang. Kenikmatan sambal brambang, yang diramudari cabai rawit, gula jawa, asam jawa, daun jeruk, terasi dan bawang merah(brambang), kian terasa saat menyantap Brambang Asem dengan tempe gembus yangdibuat dari ampas tahu. Dengan harga sepincuk daun pisang tak lebih dari Rp5ribu, burulah Brambang Asem ini di Pasar Gedhe saat pagi hari, sebelum lanjutmenjelajahi Surakarta.

Lenjongan

Parutan kelapa yang lembut berpadu denganmanisnya gula aren, terasa nikmat di lidah saat menyantap satu per satu isilenjongan. Jajanan zadul, yang seporsi berisikan tiwul, ketang ireng, ketanhitam, gethuk, sawut, cenil dan klepon ini disajikan dalam bungkus kecil daunpisang. Bahan-bahannya yang masih alami, membuat lenjongan selalu setiadinikmati. Masuklah ke dalam Pasar Gedhe, lenjongan legendaris yang nyarisberusia 30 tahun, masih eksis dijual di sana. Cobalah satu per satu jajannya,apalagi jika sudah lama tak pernah mencobanya. Kamu bakal dibikin kaget dengankelezatan di balik kesederhanaannya, terlebih setelah tahu harganya tak lebihdari Rp5 ribu di Solo.

Dawet Telasih

Pasar Gedhe itu ibarat surga di Solo.Berbagai makanan legendaris seakan terlestarikan dengan baik di dalam sana, takterkecuali dawet telasih. Disajikan dalam mangkuk kecil, dawet yang berusiasekitar tiga dekade ini begitu ramai diantre di Pasar Gedhe. Selain karenarasanya yang tak berubah, dan dijual secara turun-temurun hanya di satu tempat,kelembutan rasa dawet, ketan hitam, juga bisa telasih yang berpadu dengankesegaran kuah santan seolah langsung meluncur ke tenggorokan saat kali pertamadi telan. Es Dawet Telasih Bu Dermi menjadi satu-satunya sajian es dawettelasih legendaris hingga tiga generasi di Pasar Gedhe yang patut dicoba.

Tengkleng Kambing

Tak lengkap rasanya wisata kuliner diSolo, sebelum mencoba kelezatan tengkleng kambing. Rasa bumbunya yang kaya akanrempah-rempah, membuat siapapun bakal tak cukup kalau hanya mencoba sepincuksaja. Apalagi kalau sudah disajikan dengan nasi panas. Dengan cabai rawit rebusyang bisa langsung digigit, suapan daging tengkleng yang lembut bakal membuatberulang kali menelan ludah jika hanya sekadar melihatnya. Salah satu tengklenglegendaris yang patut di coba adalah Warung Tengkleng Bu Edi dekat PasarKlewer, Solo.

Timlo

Kuah kaldu beningnya yang gurih,menjadikan timlo cocok dinikmati sebagai sajian sarapan berkuah. Dengan nasipanas, ragam jeroan ayam, sosis solo, suwiran ayam, telur hingga pindang, begitusedap dilahap. Semakin mantap, jika ditambahkan sambal cabai segar yangdisediakan. Tak jauh dari Pasar Gedhe, datanglah ke Timlo Sastro. Kuliner khasSolo nan legendaris ini tak pernah berubah rasanya sejak 1952 di warungtersebut.

Bakmi Thoprak

Pastikan perut benar-benar kosongsebelum menyantap bakmi thoprak. Porsinya yang besar bakal membuat perutmukenyang dengan bihun, mie kuning, irisan daging sapi, cakwe, tahu, tempe,kubis, taoge, kacang goreng, juga yang tak terlewat sosis solo. Rasa kaldu padakuah beningnya tidak sekuat timlo, sehingga tak akan membuat eneg meskiporsinya jumbo. Rasa bakmi thoprak ini pun semakin segar dan menggugah selerasetelah ditambahkan perasan jeruk nipis dan potongan cabai rawit. Bakmi ThoprakYu Nani jadi salah satu bakmi thoprak legendaris yang patut dicoba saat main keSolo.

Cabuk Rambak

Namanya tampak unik, tetapi saatmenikmati irisan ketupat bercampur sambal wijen, kamu bakal terkesiap dengankelezatannya. Cabuk rambak memang memiliki keunikan pada bumbunya. Walausekilas mirip seperti saus kacang, nyatanya sambal wijen ini diramu dari wijen,kemiri dan kelapa parut yang disangrai lebih dulu. Tambahan karak atau kerupukberas yang renyah kian menyempurnakan rasa dari kudapan khas Solo ini. Meskimakanan zadul dan langka, tetapi cabuk rambak masih bisa ditemukan secara mudahdi Pasar Gedhe.

Sego Liwet

Sego atau nasi liwet ini begitusederhana penyajiannya dengan pincuk kecil daun pisang. Namun, saat mulaimemakannya di suapan pertama, kamu akan menjumpai rasa gurih dari nasi yangbercampur dengan suwiran ayam kampung rebus, sayur labu, juga telur pindang.Tambahan areh yang begitu khas, membuat rasa nasi liwet begitu pas di lidah.Tak sulit menemukan sego liwet di Solo. Namun, kalau ingin yang mantap, cobalahnasi liwet Bu Sri yang ada di pojokan luar Pasar Gedhe. Resep legendaris yangdiwariskan secara turun temurun, membuat sego liwet ini begitu tersohor walaudijual di meja dan kursi plastik sederhana.

Tahu Kupat

Sajiannya yang tak terlalu berat,membuat tahu kupat solo, nikmat disantap sebagai sajian makan siang atau sorehari. Manis gurih bumbu kacang ditambah kelembutan tahu goreng dan kupat,membaur jadi satu rasa sedap saat dilumat bersamaan. Kehadiran mie kuning kianmemperkaya citarasa dari tahu kupat ini. Lebih-lebih jika ditambahkan ulekanrawit, rasa pedas tahu kupat kian mantap dengan gurih kerupuk sebagaipelengkapnya.

Gempol Pleret

Gempol pleret nikmat disantap dalamkondisi dingin. Teksturnya yang unik saat dikunyah, membaur dengan rasa manissantan bercampur dengan gula jawa. Tambahan dawet dan cendol membuat, rasagempol pleret semakin kaya. Menariknya, tak semua orang bisa membuat gempolpleret, inilah kenapa saat ke Solo kamu perlu mencoba jajanan khas dan langkaini. Citarasanya yang tak biasa, bakal meninggalkan kesan tersendiri kalaliburan ke Solo.

Ragam kekayaan kuliner tersebut padaakhirnya, memberikan khazanah baru bagi wisatawan, jika Solo sebagai bagiandari Destinasi Branding Joglosemar, tak hanya menarik secara atraksi wisata,terutama yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa. Lebih dari itu, Solo juga layakdijadikan jujukan destinasi kuliner legendaris yang masih terjaga keaslian rasadan bentuknya. Tak heran siapapun yang berwisata kuliner di Solo, akan jatuhcinta pada pandangan pertama, hingga berniat ingin balik lagi di kemudian hari.Dari Stasiun Balapan, selamat menjelajahi kuliner di Kota Kenangan.

Kangkang Kapokmu Kapan

Tumpang, yang tadinya hanya saya kenal sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Malang, mendadak meninggalkan kesan mendalam. Semua terjadi sejak International Mask Festival beberapa waktu lalu.

Lanjutkan membaca Kangkang Kapokmu Kapan

Mugen Tsukuyomi di Langit Ma Chung

WhatsApp Image 2018-09-19 at 23.18.08

Saya tak mengira Jumat saat itu bakal menjadi hari yang berbeda. Semula, saya melakoni rutinitas seperti biasa. Bangun tidur, olahraga, menunaikan ibadah, bekerja hingga kembali pulang saat malam hari. Namun, sebelum 24 jam terpenuhi, kegiatan saya mendadak berubah. Amal, rekan saya, tiba-tiba mengajak pergi untuk melihat gerhana bulan.

Lanjutkan membaca Mugen Tsukuyomi di Langit Ma Chung