Braga Punya Cerita


“Ka Bandung mah belum lengkap kalau belum ka Braga(k),” ungkap Lilis, pemandu gelis yang mendampingi kami berkeliling Bandung menggunakan Bus Bandros.

Lilis memang tak salah bilang, bahkan popularitas Braga sudah sangat moncer, hingga tanpa perlu dikenalkan berulang kali orang seperti otomatis akan memasukkannya dalam daftar agenda kunjungan ke Bandung.

Namun sayang beribu sayang, Braga yang dulu tak lagi sama dengan sekarang.

Bukan jalannya yang konon ditata dengan batu andesit berkualitas tinggi sebagaimana bahan baku utama bangunan candi, diubah paving berbahan semen berkualitas rendah dan sedikit campuran pasir kali.

Bukan pula bangunan lawas yang begitu elok dan bernilai seni tinggi, diruntuhkan lalu diubah menjadi hotel, mal atau kafe bergaya minimalis-industrialis yang lekat sebagai simbol modernitas metropolitan.

Bukan. Braga masih berusaha mempertahankan keautentikannya. Tak banyak berubah, jika dipandang dari arah atapnya. Pun saat mata mulai perlahan menurunkan sedikit pandangan, tak banyak pernik tambahan yang menutupi fasad setiap bangunan, selain mesin parkir elektronik.

Akan tetapi kala pandangan lurus ke depan, bising yang tadinya hanya terdengar kini menyeruak dalam bentuk deru mesin mobil, klakson motor, hingga teriak lengking juru parkir. Di situlah perubahan yang terjadi pada Braga sekarang.

Lalu, apa fungsi mesin parkir elektronik itu kalau tukang parkir masih lalu-lalang?” Tanya saya ke teh Lilis.

“Daerah wisata mah wajar banyak parkirnya,” jawabnya normatif.

Sementara yang lain berburu es krim sesudah turun dari Bandros, saya berharap bisa bersantap siang dengan Sop Buntut dan Tenderloin Grill di Braga Permai. Sayang, antrean panjang memupuskan hasrat menunggu, lantaran harus bersabar sampai waktu makan siang berlalu.

Duduk di bangku tepi trotoar pada akhirnya menjadi pilihan, sembari terpaksa menyesap keriuhan jalan. Sesekali saya mengedarkan pandangan sekadar mengamati wisatawan yang tampak baru pertama kalinya ke Braga.

Mereka begitu sibuk memotret segala yang ditemuinya, tanpa peduli dengan kemacetan di hadapannya. Dari anak ABG dengan tampilan kece, hingga ibu-ibu yang begitu heboh berswafoto.

Kok mau, ya, dia disuruh memotret ibu-ibu itu. Batin saya mengasihani satpam yang tampak bingung tak bisa memenuhi keinginan para ibu yang banyak keletahnya tersebut.

Terlepas hal itu, apa yang mereka lakukan tampak menghibur saat dipandangi dari kejauhan. Sekelompok ibu-ibu tadi lantas menyeberangi jalan dengan kehebohan berapi-api. Mereka kini berganti menyusuri trotoar yang sejalur dengan posisi saya mengamati.

Senyum saya yang tadinya mengembang sekarang mulai berangsur menciut, ketika menyadari mereka bergerak kemari. Gelak tawa yang meledak-ledak, agaknya kini mulai terasa mengganggu ketika jarak kami semakin dekat. Sialnya, sebelum sempat mengubah arah pandangan, mata saya pakai beradu segala dengan salah seorang ibu.

Lemparan senyumnya menyimpan makna terselubung. Tak dinyana, ia pun menghampiri saya. Buru-buru saya mengganti pandangan dengan mengutak-atik setting kamera. Rupanya hal itulah yang justru memancing minat si ibu.

“Mas bisa minta tolong fotoin kita nggak? Masnya kayaknya pintar motret,” pintanya.

Duh, mati. Batin saya jujur menimpali.

“Oh, boleh,” lisan saya terpaksa merespon sejurus kemudian.

“Eh, sini, difotoin mas fotografer, buruan,” panggil si ibu kepada rekan-rekannya.

“Wah, fotoin yang bagus, ya, mas,” sahut ibu satunya lagi.

Alih-alih meminta difoto pakai tustel, mereka justru menyodorkan ponsel. Belajar dari satpam yang tampak tak berdaya sebelumnya, saya membidik mereka dari beragam sudut. Tak ketinggalan mulut saya merapal aba-aba “1,2,3” biar lebih memuaskan hasrat berpose mereka.

Momen mendebarkan akhirnya tiba ketika mereka mulai memeriksa hasil jepretan saya. Kasak-kasak terdengar dari ibu-ibu genit tersebut menanggapi hasil foto. Jarak kami yang hanya satu meter, membuat saya tahu setidaknya mereka kali ini girang penuh kepuasan. Kelegaan pun muncul sepenuhnya beberapa menit kemudian.

“Wah, terima kasih, ya, mas, fotonya cakep-cakep,” ucap seorang ibu.

“Senang mendengarnya jika begitu,” jawab saya sambil duduk kembali di kursi seiring berlalunya ibu-ibu itu.

Tak berselang lama, teman-teman datang menghampiri. Kami lantas beranjak pergi untuk mencari tempat makan siang. Sembari berjalan, pandangan saya tak sengaja menangkap sebuah plakat. Rasanya kalimat yang tertulis begitu cocok untuk mewakili kisah jenaka yang baru saja saya alami. Maka benar kata teh Lilis jika belum lengkap ke Bandung sebelum mampir ke Braga, karena Braga Punya Cerita.

Diterbitkan oleh

Iwan Tantomi

A strong walker who likes to travel and eat Indonesian foods. Also a professional editor, a blogger, a man behind the camera. And, wanna friendship with me?

20 tanggapan untuk “Braga Punya Cerita”

  1. Nggak bisa nahan ketawa, ini jadi kek semacam emm, biar ngerasain jadi pak satpam πŸ˜‚. Dan aku ngebayangin raut wajah mas Iwan ketika diminta motoin bu ibu 🀣

    Disukai oleh 1 orang

      1. Hahaha.. Aku ketawa aja baca ini.
        Eh tapi mas, itu jadi gimana kan bangunan bernilai seni pada berubah jadi hotel dkknya lah. Lalu apa yang paling menarik di Braga, selain bu Ibu itu?

        Disukai oleh 1 orang

      2. Kuliner sih Han, Braga itu konsepnya mirip Kota Tua Jakarta, atau kalau di Surabaya mirip Jalan Tunjungan. Bangunannya masih bertahan, cuma ya gitu tata parkir yang semrawut bikin wisatawan jadi tak semua merasa nyaman.

        Disukai oleh 1 orang

      3. Ya bener juga. Kalau udah semerawut, alih alih niat buat ngilangin penat malah tambah penat. Betewe Kalbar kayaknya belum pernah diulas ya mas?

        Disukai oleh 1 orang

    1. Ya kalau dimintai foto bareng nolak pasti, nggak etis, apalagi sama emak-emak, dikira apaan lagi nanti, belum lagi kalau dilihat suaminya bisa disangka yang nggak-nggak malah. Tapi kalau sekadar minta tolong difotokan doang, masa mau ditolak? Kan kasihan juga haha

      Suka

    1. wkwkwk, nah yang penting itu. sayang banget memang Braga ini, coba kalau ditata seperti jalan Tunjungan di Surabaya, gak boleh jualan, gak ada parkir, mulus deh trotoarnya buat jalan kaki mirip di luar negeri, penting lagi masyarakatnya mau kooperatif sama pemerintah alias mau diatur. tapi ya namanya beda daerah beda budaya, nikmati ajalah, haha.

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Iwan Tantomi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.