Kangkang Kapokmu Kapan

Tumpang, yang tadinya hanya saya kenal sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Malang, mendadak meninggalkan kesan mendalam. Semua terjadi sejak International Mask Festival beberapa waktu lalu.

“Tom, hari minggu ada acara nggak?” tanya Tami.

Tami yang selalu ceria, menelepon dengan tawa renyahnya. Terbayang tangannya yang selalu memilin rambut setiap kali berbicara. Mengutarakan kata demi kata, yang kali ini berupa ajakan tak biasa. Tami mengajak saya keluar di akhir pekan untuk kali pertamanya. Padahal, relasi kami selama ini sebatas teman bisnis semata.

Lebih mengejutkannya lagi, Tami menawari saya ke Tumpang. Malam-malam pula. Ngapain? Setahu saya Tumpang kalau malam cukup gulita. Nyaris tak ada hiburan malam yang menarik hati sebegitunya, hingga perlu dibela-belain berkendara jauh ke sana. Kecuali, hendak mendaki. “Sebentar, kamu mau mengajakku ke Bromo?”

“Bromo? Bukan!” sanggahnya.

“Kalau bukan Bromo, berarti mau hiking ke… Semeru?!”

“Enggak juga, kok. Kamu mau kuajak ke Tumpang International Mask Festival.” Akhirnya ia menjawab dengan penuh kegemasan.

Tumpang. International Mask Festival. Rasanya dua hal tersebut masih terdengar tak masuk akal. Betulan ada festival semacam itu di sana? Tumpang sebelah mana yang punya gedung pertunjukan berstandar internasional, hingga didapuk jadi tuan rumah dibandingkan Kota Malang? Beruntung sebelum Tami saya bombardir dengan rentetan pertanyaan tersebut, ia lebih dulu menjelaskan.

“Halo… Tom… Haloo?!”

“Oh, iya, Tam, sorry… sorry.”

“Yaelah, malah bengong. Bagaimana, bisa nggak? Nanti bareng-bareng, kok. Ada teman-temanku juga. Kita dapat akses VIP gratis. Tinggal kamunya bisa atau enggak. Kalau bisa, nanti kita berangkat bersama ke Museum Topeng Pandji di Tumpang.”

Museum Topeng Pandji. Akhirnya Tami mengucapkan kata-kata yang bisa memantapkan hati. Tempat yang jadi relokasi Museum Malang Tempoe Doeloe itu agaknya lama ingin saya kunjungi. Lokasi yang jauh dan terpencil, membuat waktu luang yang tak begitu banyak belakangan ini, hampir selalu menyulitkan saya untuk merealisasikan keinginan tersebut. Dan, tanpa aral melintang, Tami tiba-tiba menghubungi dan mengajak saya ke sana. Sungguh, sebuah kebetulan yang pantang untuk dilewatkan.

“Ok, Tam. Aku ikut. Betulan tak perlu bayar tiket VIP dulu, kan?” Saya mengonfirmasi balik Tami dengan bergurau.

“Ah, beres soal itu. Percaya deh, kamu cukup bawa diri dan tampil keren aja.” Selorohnya lewat telepon. Tak berselang lama, Tami terdengar menyahut panggilan atasannya. Ia pun lekas mengakhiri percakapan Jumat sore itu. “Sampai ketemu minggu malam, ya.”

Waktu mengikis jam setiap hari dengan cepat, hingga tahu-tahu menyeruak dalam bentuk suara notifikasi ponsel di Minggu siang. Tami mengirim pesan.

Nanti aku hampiri jam 4 sore, ya, Tom. Rutenya agak jauh nih, acaranya mulai jam 6 sore. Siap-siap, ya. Nanti kukabari lagi kalau sampai di tempatmu.

Tanpa diingatkan Tami, sebenarnya saya sudah set alarm untuk acara hari itu. Hanya notifikasinya masih 30 menit lagi, sejak Tami mengirim pesan tersebut pada jam 3 sore. Daripada mendengar omelan Tami, saya memilih lekas membalas pesannya dan bersiap lebih awal.

OK.

Bip… bip… bip… bip… Getar ponsel di meja lekas saya periksa. Sesuai dugaan, Tami ternyata sudah di depan rumah. Tak banyak barang yang saya bawa selain tas selempang kecil berisi tustel biasa.

Suara riuh pun langsung menyambar saat saya masuk ke mobil. Tami dan kawan-kawannya yang tiada saya kenal, menyambut dengan ramah. Basa-basi tak luput kami lakukan, hingga tahu-tahu sudah tiba di Tumpang.

Jalan makadam nan berliku ditambah penerangan yang sangat minim membuat perjalanan menuju Museum Topeng Pandji sempat menuai jalan buntu. Terlebih tak ada satu pun dari kami yang pernah pergi ke sana. Beruntung masih ada yang sudi turun dari mobil dan bersedia tanya langsung ke warga.

Kendati rute yang pasti sudah diketahui, bukan berarti kami bisa melintas ke Museum Topeng Pandji dengan mulus di malam hari. Benar saja, jalannya cukup sulit ditengarai. Nyaris spanduk acara terbungkus gulita. Namun, suasana senyap tak ada lagi, saat kami berhasil sampai di lokasi.

Turun dari mobil kami sungguh tak perlu mengantre. Tinggal jalan menuju meja paling depan, lengkap dengan kawalan, sebagaimana tamu VIP. Sempat saya penasaran, siapa sebenarnya teman-teman Tami ini. Walau berulang kali hanya menyebut sebagai dosen dan pebisnis muda biasa, tapi mereka disilakan duduk di tempat yang ada tulisan ‘khusus pejabat’-nya. Lantas, saya pejabat macam apa?

Kegamangan itu lantas berlalu, setelah saya duduk dan mendengarkan alunan musik yang mulai diputar. Cahaya temaram, kemudian berganti lampu sorot beragam warna. Instrumen musik Jawa dengan merdu mengiringi para penari topeng pembuka. Tari Bapang, begitu MC mengenalkannya.

Sebagian besar tarian-tarian berikutnya berkisah tentang perjumpaan Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji. Banyak sekali nilai moral dan etika kehidupan yang disajikan sebagai tuntunan, di samping seni tari tradisional yang bisa dinikmati sebagai tontonan.

Pertunjukan pun kian semarak saat tontonan mulai menghadirkan para penari dari luar negeri secara bergantian. Para penampil dari Thailand misalnya, dengan mistis muncul dari belakang penonton menggunakan kostum tradisional yang dilengkapi sayap serupa kipas di punggung. Ia menari dengan ritme lambat, lengkap dengan topeng yang menyiratkan kebengisan.

Seritme dengan penari Meksiko, ia justru mengawali penampilannya dengan menyulut sesajen dan kemenyan. Tarian topeng yang ditampilkannya pun lekat aura magis ala Suku Maya. Tak melulu tradisional, suguhan tarian kontemporer pun turut dihadirkan oleh penari Polandia dan Spanyol. Mendekati akhir acara, giliran penari Filipina dan Timor Leste yang justru mengundang gemuruh tawa dan tepuk tangan dengan tarian beritme cepat serta musik bop, seperti lagu Gemu Fa Mi Re dari Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Tami dan warga lainnya pun tampak antusias hingga pengujung acara. Terlebih sebagai pemungkas, tersaji tarian kolosal lengkap dengan atraksi kecipak air di kolam renang, tepat depan panggung terbuka yang dibuat serupa pelataran candi. Gemuruh tepuk tangan pun tak luput diberikan di setiap jeda penampilan tanpa pandang bulu. Tumpang benar-benar membuat saya terkesima malam itu.

Sayang, ketiadaan penerjemah, atau minimal rilis yang bisa dibaca, membuat para pengunjung sebatas puas menikmati tontonan. Jangankan pesan yang disampaikan, nama peserta dan tarian yang ditampilkan saja sulit dipaham. Wajar jika mayoritas dari kami, khususnya saya dan Tami, hanya ingat satu pertunjukan anekdot Joko Lumut berbahasa Jawa-Malangan oleh para siswa dari SMA 10 Malang, yakni Kangkang Kapokmu Kapan.

TEMPLATE BLOG

Advertisements

Published by

Iwan Tantomi

A strong walker who likes to travel and eat Indonesian foods. Also a professional editor, a blogger, a man behind the camera. And, wanna friendship with me?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.