Lebih Mudah ke Wisata Lumpur Lapindo dengan Bus Trans Sidoarjo

“Wah, ada Trans Sidoarjo juga ternyata,” sahut Ivan tiba-tiba saat kami berada di Terminal Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo. Siapa kira, Suroboyo Bus yang kami tumpangi dari depan Tunjungan Plaza ternyata berkeliling sampai ke terminal bus terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Namun, kekejutan kami baru benar-benar memuncak saat tahu jika Kabupaten Sidoarjo ternyata sudah memiliki rapid bus seperti Bus Trans Sidoarjo. Lebih tepatnya Ivan dan Akbar yang baru tahu. Tapi, kami bertiga sama-sama belum pernah menaikinya.

“Iya, Sidoarjo memang punya Rapid Bus, cuma aku belum pernah menaikinya,” ucap saya.

“Rutenya kira-kira ke mana saja, ya,” ungkap Akbar lirih, menimpali obrolan kami sekenanya sambil berpangku tangan.

Di luar dugaan, obrolan kami tersebut ternyata didengar petugas Suroboyo Bus.

“Itu lewat Lumpur Lapindo juga, kok, mas,” sahut petugas tersebut.

“Benarkah?” ucap Ivan.

“Iya, betul. Jadi, kalau ingin berkunjung ke Lapindo, dan lagi gak bawa kendaraan, bisa naik Trans Sidoarjo itu. Rutenya jelas mas, gak perlu ganti kendaraan seperti naik angkot. Tinggal naik dari Bungurasih, terus nanti turun di halte Porong,” jelas si petugas itu.

“Kalau harga karcisnya berapa mas?” tanya saya.

“Cukup Rp6 ribuan saja, mas,” pungkas petugas tersebut.

“Terima kasih, mas,” balas saya seraya mengakhiri pembicaraan.

p_20180621_1036291637456934.jpg

Walau tak banyak, informasi yang diberikan oleh petugas tersebut sudah cukup membuat tekad kami membulat. Wajar jika tanpa pikir panjang, kami langsung memutuskan untuk mencoba naik Bus Trans Sidoarjo pada keesokan hari.

Dengan matahari yang perlahan meninggi, kami tiba kembali di Terminal Bungurasih. Hari memang sudah ganti, tapi terminal Purabaya tak pernah sepi. Bus Trans Sidoarjo yang bisa dihitung jari, cukup lama kami nanti. Petugas pun tak luput kami tanyai berulang kali.

“Berapa menit sekali busnya masuk terminal pak?” tanya saya.

“Harusnya 15 menit sekali, tapi belakangan jumlah busnya dikurangi, jadi masa tunggunya semakin lama,” kata petugas dinas perhubungan di Terminal Purabaya.

“Dikurangi?” tanya saya kembali.

“Masyarakat kurang begitu minat naik Bus Trans Sidoarjo ini, hal itu ternyata berdampak pada pada biaya operasional yang terus membengkak. PT Damri selaku pengelola jadi rugi. Mau tak mau, jumlah bus pun dikurangi sebagai solusi, karena tak mungkin menaikkan harga tiket. Bisa-bisa malah tak ada penumpang yang naik. Padahal transportasi massal ini kan ditujukan untuk mengurangi kemacetan, bukan?” jelas sang petugas yang berakhir balik dengan pertanyaan.

Saya hanya mengangguk ringan sebagai respon balasan. Dipikir perlahan, perkataan petugas tersebut memang benar adanya. Namun itu hanya satu sisi, tentu ada alasan kenapa tak semua masyarakat memilih naik Bus Trans Sidoarjo sebagai transportasi untuk mobilitas sehari-hari.

Perbincangan saya dengan petugas sontak berakhir ketika Bus Trans Sidoarjo akhirnya tiba di Terminal Purabaya.

“Itu busnya sudah datang, bisa langsung naik dari tangga di sana, mas,” kata petugas.

“Oh, baik, terima kasih, mari, pak,” pungkas saya.

Ada alasan kenapa perlu tangga, karena deck Bus Trans Sidoarjo ternyata cukup tinggi. Selain itu tak ada lantai halte yang sejajar dengan pintu bus. Bisa dibayangkan betapa susahnya penyandang disabilitas bila ingin menaikinya.

p_20180621_101117-115606105.jpg

Di luar dugaan, Bus Trans Sidoarjo ternyata penuh penumpang di dalam. Kami pun terpaksa harus berdiri sembari memegang handgrip. Tak perlu waktu lama, Bus Trans Sidoarjo akhirnya berjalan meninggalkan Bungurasih.

Bus melaju pelan tapi stabil. Menyusuri jalan protokol hingga jalan tol. Bus sempat singgah di Terminal Larangan, menyilakan penumpang keluar lewat pintu bus yang kali ini sejajar dengan halte. Sebelum penumpang baru masuk, kami langsung buru-buru duduk.

Dibandingkan dengan Suroboyo Bus kursinya lebih sedikit. Semua diposisikan di samping serupa Trans Jakarta. Penumpangnya pun duduk berhadapan seperti KRL. Di tengah proses itu, petugas baru mendatangi kami untuk menarik uang karcis. Enam ribu per orang, persis sebagaimana yang disampaikan petugas Suroboyo Bus.

Secara umum kondisi bus cukup nyaman, walau tak ada tempat duduk prioritas, baik untuk lansia, perempuan hamil maupun penyandang disabilitas. Kami cukup menikmatinya hingga tahu-tahu sudah tiba di halte Porong.

Dari halte kami tinggal menyeberang jalan raya menuju tanggul. Dari kejauhan, Farid terlihat melambaikan tangan. Ia anak pakde dari pihak Ayah saya. Saya dan Farid pernah hidup seatap, karena saat SMP saya bersekolah di Renokenongo, desa yang kini lenyap terendam Lumpur Lapindo.

Selain hendak mampir ke rumah pakde di Desa Glagaharum, tujuan saya menghubungi Farid agar kami bisa berkunjung ke Lumpur Lapindo secara gratis dan leluasa. Ironis saja, saya yang masih menjadi korban, tetapi harus dipungut biaya kala hendak membesuk bekas kampung halaman.

Namun dengan mengajak Farid kekhawatiran tersebut tak terjadi. Sekalipun sekolah saya sirna, tapi pakde dan keluarganya masih tinggal bertetangga dengan tanggul-tanggul raksasa milik PT Lapindo Brantas. Karena hal itu pula, Farid masih mengenal baik, warga-warga yang kini membanting tulang sebagai tukang ojek di lahan bencana yang kini mereka jadikan objek wisata.

“Kenalin, ini Akbar dan yang ini Ivan,” jelas saya ke Farid sambil saling bersalaman.

Sebelum datang saya sudah bercerita banyak tentang mereka satu sama lain. Namun, di siang yang terik itu, Akbar, Ivan dan Farid berjumpa untuk pertama kalinya.

Farid lantas mengajak kami ke menaiki tangga ke puncak tanggul. Ternyata musim kemarau turut membuat air surut. Bahkan beberapa bagian ‘kolam’ Lapindo mengering. Menyisakan rekahan tanah.

“Itu patung apa, mas?” tanya Ivan.

“Kalau tak salah itu patung instalasi peringatan 8 tahun semburan lumpur Lapindo. Benar gitu gak, Rid?” jawab saya.

“Benar, patung itu ditempatkan di Lapindo ini sejak 2015. Cuma karena terendam lumpur, terus kena pengaruh cuaca yang bergonta-ganti, akhirnya patungnya banyak yang rusak. Mungkin kualitasnya juga kurang bagus, jadi tak bisa bertahan lama,” sambung Farid.

Sementara Akbar memilih beteduh di tenda sederhana di sekitar tanggul. Saya lantas mendekatinya karena sudah kepanasan pula. Tanpa basa-basi, Akbar lalu melempar pertanyaan yang tidak saya duga.

“Bagaimana perasaanmu melihat tempat ini, mas?” tanya Akbar.

Saya diam sejenak, sebelum melepas senyum dan memandang titik terjauh danau lumpur yang mengering itu.

“Kalau diingat-ingat lagi, sedih sih. Sedih karena tak ada lagi sekolah lama yang bisa dikunjungi untuk bernostalgia. Makin sedih lagi, aku tak pernah tahu bagaimana keadaan teman dan guru-guruku hingga sekarang. Yang aku ingat saat bencana ini datang, semua orang sibuk mengungsi. Sekolah diliburkan, padahal waktu itu aku baru selesai UN dan belum tahu lulus atau tidak. Orangtuaku menjemput dari Surabaya, hingga akhirnya aku disekolahkan di Malang. Kembali dititipkan pada kerabat yang lain. Ya, aku menjalaninya dengan penuh ketidakpercayaan. Begitu bingung, walau kehidupan baru mengisi hari-hariku perlahan,” jawabku secara refleks, lantas tertawa sendiri saat mengingat kembali segala hal sengkarut yang pernah terjadi. “Yang jelas aku tak lagi terbebani dengan berbagai kenangan di sini, walau mungkin masih terasa membingungkan, aku berupaya tetap berjalan agar tak terdiam dalam kekelaman. Kuharap engkau mengerti.”

Akbar hanya tersenyum lebar penuh kemantapan. Seolah ia mendapatkan jawaban yang memuaskan. Ia kemudian berdiri seraya memanggil Ivan dan Farid yang asyik berfoto di kejauhan, “Ayo, cari minum dulu, haus banget nih.”

Rasanya begitu berharga punya saudara seperti mereka. Mungkin inilah hikmah berwisata ke lumpur Lapindo dengan Bus Trans Sidoarjo. 🙂

Advertisements

Published by

Iwan Tantomi

A strong walker who likes to travel and eat Indonesian foods. Also a professional editor, a blogger, a man behind the camera. And, wanna friendship with me?

5 thoughts on “Lebih Mudah ke Wisata Lumpur Lapindo dengan Bus Trans Sidoarjo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.