Liburan Bareng Sepupu

Saya tak menyangka jika lebaran tahun ini terasa berbeda. Padahal sebelumnya, momen Idul Fitri terasa hampa. Tak ada keriaan berarti, selain tawa palsu menanggapi sindiran berselimut pujian. Tanpa persiapan jawaban maupun sangkalan logis yang mampu meredam debat tak mutu para sesepuh, saya hanya pasrah melalui lebaran dengan santainya.

Biarlah mereka menganggap saya apa, orang tak guna atau hal tak penting lainnya. “Terserah,” begitu gumam saya dalam sukma. Yang jelas saya hanya pulang ke desa, berjumpa nenek, orang tua yang menemani hari-hari saya tumbuh, selain kakek yang kini di alam baka.

Nenek sudah teramat senja, tetapi ia tak kelihatan renta. Tenaganya masih mumpuni untuk memasak, bersih-bersih, hingga bolak-balik berjalan pergi ke musala. Ialah satu-satunya orang yang bisa saya ajak tertawa, bercerita atau sekadar bersantai menyeruput kopi sambil menatap hamparan sawah di saung belakang rumah.

Akan tetapi lebaran kemarin berbeda. Sepupu dari jauh meramaikan rumah nenek. Lama tak jumpa membuat kami perlu adaptasi sejenak. Sekadar menyelaraskan bahasa, lantaran sepupu saya yang dari Jakarta tak lancar berbahasa Jawa. Tak ada masalah buat saya, juga bagi nenek sepanjang berkomunikasi dengan cucu-cucunya.

Kami sebenarnya tak asing, lantaran semasa kecil acap bermain bersama. Hanya agak canggung, lantaran saat berjumpa tahu-tahu sudah dewasa. Namun, rasa kikuk tersebut berhasil diurai Nenek, saat ia berkata, “Akbar dan Ivan itu juga suka bertualang loh, Tom, sama seperti kamu.”

Sontak saya langsung mendongak ke arah nenek yang duduk di kursi, sementara kami bertiga duduk di tikar di bawahnya.

“Benarkah? Sudah ke mana saja kalian?” tanya saya. Selisih umur kami sebenarnya tak berjauhan. Hanya silsilah keluarga, membuat saya dianggap lebih tua, lantaran kedua orang tua mereka adalah adik ibu saya.

“Kalau saya seringnya ke gunung, mas,” jawab Akbar.

“Kalau kamu, Van?” tanya saya. Sambil malu-malu Ivan menjawab baru pulang dari Danau Toba. Takjub, sudah pasti. Saya tak menyangka jika punya sepupu yang suka berkelana. Padahal, saya sempat putus asa mengajak saudara, pun sepupu yang sering terlihat mata. Apa daya, hobi yang berbeda, membuat ajakan saya selalu berakhir dengan bertualang seorang diri.

Nenek pun punya solusi jitu untuk membuat kami kembali akrab. Ia menyarankan saya untuk mengajak Akbar dan Ivan berkeliling Surabaya. Apalagi info dari paman, kini ada Suroboyo Bus yang bisa dinaiki cukup membayar pakai sampah plastik.

(baca juga: Suroboyo Bus Bayarnya Pakai Sampah Plastik, Beneran?)

Kendati bertualang sendiri bukanlah hal tabu, tapi buat saya jalan bersama kerabat adalah pengalaman baru. Praduga pun mulai menggelayuti pikiran saya. Bagaimana nanti kalau kerabat saya tak senang?

Syahdan, Suroboyo Bus datang. Kami mulai berkeliling Surabaya. Membayar bus pakai botol plastik bekas cukup membuat saya salut untuk pertama kalinya. Tanpa diduga, sepupu saya pun takjub melakukannya. Saya mulai agak tenang, saat mereka terlihat senang.

Setibanya di Halte Pasar Turi, saya mengajak mereka menyusuri trotoar Surabaya yang layak jalan. Lantas, menyeberangi jalan menuju Tugu Pahlawan. Sesuai dugaan saya, mereka ternyata tak paham jika di bawah Tugu Pahlawan terdapat Museum 10 November.

Relasi kami pun mulai cair saat satu sama lain bergantian motret, juga foto bersama. Museum 10 November Surabaya pun sukses menjadi saksi bisu keakraban kami yang mulai terajut kembali. Supaya lebih berkesan, saya ajak mereka berkeliling ke kota tua Surabaya. Lagi-lagi mereka mengaku jika baru tahu kota tua Surabaya masih terawat bangunannya.

“Sungguh, kita baru tahu kalau Surabaya sebagus ini,” ungkap Ivan.

“Kamu belum tahu tempat ini juga, Bar?” tanya saya.

“Suer, baru kali ini tahu kota tua Surabaya ini,” sambung Akbar.

Lega. Begitulah perasaan saya saat tahu mereka terkesan dengan apa yang saya tunjukkan. Senyum mereka pun kian merekah kala saya ajak bernostalgia makan pecel semanggi juga rujak cingur.

“Jadi ingat masa kecil, usai lari-lari mengejar layang-layang putus, biasanya nenek akan membuatkan pecel semanggi…,” ungkap Akbar, yang langsung disela Ivan, “Atau dibelikan rujak cingur.”

Kami tertawa bersama. Kenangan masa kecil yang sempat hiatus akibat jarak domisili yang berjauhan, kini perlahan mulai kembali. Kami sudah tak canggung lagi. Saling lempar celaan kini murni terdengar candaan.

Sebagai paripurna, saya ajak mereka ke Surabaya North Quay penuh kebingungan. Saya hanya meminta mereka mengikuti, berjalan di antara orang-orang yang bersiap naik kapal. Di kompleks Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Perak itu, Akbar dan Ivan tak paham apa yang hendak saya tunjukkan. Setibanya di puncak gedung, mereka terkejut ternyata ada kafe dan juga spot menarik untuk melihat Selat Madura. Dari dermaga pula, Jembatan Suramadu terlihat jelas di kejauhan sana.

Beruntung cuaca cerah, hingga saat senja tiba, saya minta mereka melihat ke arah barat. Mereka terkesiap melihat matahari berayun ke peraduannya.

“Keren banget sumpah,” ucap Ivan.

Akbar yang mulanya terpaku, tak berselang lama juga mengucapkan sesuatu, “Makasih banyak loh, mas, sudah bikin liburan kita berkesan.”

Kata-kata yang tak terduga itu, sontak membuat saya tertegun seperintang waktu. Inilah kenapa saya begitu haru berkisah, jika lebaran saya tahun ini begitu berkesan usai pergi liburan bareng sepupu. See you.

Advertisements

Published by

Iwan Tantomi

A strong walker who likes to travel and eat Indonesian foods. Also a professional editor, a blogger, a man behind the camera. And, wanna friendship with me?

16 thoughts on “Liburan Bareng Sepupu”

    1. Mungkin karena sudah berkeluarga, ya, mas? Aku malah gak pernah sama sekali, pas kecil dulu paling, ya, main, dibilang liburan ya kayak kurang tepat, orang setiap hari ketemu dan main. Haha. Cuma kami mulai terpisah sejak SMP, baru kemarin itu ketemu. Haha.

      Liked by 1 person

    1. Udah dotcom ini maksudnya apa? Blog ini? Udah 2 tahun berlalu, mas. Ah, kamu kurang perhatian. Haha.

      Liburan bareng om, tante, pakde atau orang yang lebih tua aku belum pernah sih, di samping begah rempong. πŸ˜€

      Liked by 1 person

    1. Mungkin karena pakai aplikasi WordPress di hape itu kali ya, jadi setiap ada comment masuk ada notifikasi, jadi balasnya ya macam main sosmed gitu, haha.

      Dua postingan terakhir aku tulis via aplikasi di hape saja mas, fotonya juga apa yang ada di hape. Belum sempat mindahin foto di kamera, juga belum sempat buka laptop. Jadi, nanti aku tambahin fotonya biar ciamik. Awalnya juga ragu mau posting foto jelek gitu, tapi biarlah, namanya juga lagi mood, publish aja dah. Haha.

      Liked by 1 person

    1. Haha, betul-betul, beruntung aja sih, walau kemarin sebenarnya ada sepupu yang lebih kecil ingin ikut, tapi kita tolak, haha, karena jatuhnya mungkin bakal gak lagi asyik. :)))

      Like

  1. Ikut terharu :’)

    Bapak selalu pesan pentingnya silaturahmi keluarga, dan memanfaatkan betul masa libur lebaran. Reuni dengan kerabat dari jauh. Soalnya tahu-tahu udah gede, udah tua, tanpa tahu lebih dekat.

    Aku malah belum nyoba bus Suroboyo itu dan North Quay. Wkwkwk.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s