Terperangah Sudirman Raksasa di Pacitan

Komplek Monumen Jenderal Sudirman Pacitan

Patung Jenderal Sudirman di Pacitan ramai dikunjungi wisatawan [Foto: Iwan Tantomi]

Tak banyak hal yang saya lakukan dalam perjalanan sore hari menuju daerah Sobo, Pacitan. Selain beristirahat, saya juga menghubungi Aji, rekan kuliah yang asli Pacitan. Dalam hitungan jam lagi, saya bakal reuni dengannya. Ia pula yang akan menemani saya berkunjung ke salah satu monumen jenderal pertama di negeri ini. Bahkan, ia menyilakan saya untuk bermalam di rumahnya selama berada di Pacitan. Wajar jika saya antusias dalam perjalanan kali ini. Beberapa jam kemudian, akhirnya saya tiba di Pacitan waktu subuh keesokan harinya.

“Akhire, ketemu maneh karo konco lawas,” sambut Aji sambil tertawa. (Akhirnya, berjumpa lagi dengan kawan lama)

Agak tak enak hati sebenarnya, lantaran merepotkan Aji subuh-subuh begini. Tapi, kami saling kenal bukan sejak kemarin sore, melainkan sudah lima tahun lamanya. Keluarganya pun cukup ramah, lantaran saya pernah beberapa kali ke rumahnya. Setelah mandi dan sarapan, kami pun langsung tancap kendaraan menuju lokasi. Sobo, sapa yang kira-kira menarik dari daerah tersebutTiba-tiba rasa penasaran tersebut menyeruak dalam benak.

DSC06611-01

Gapura Selamat Datang Kota Pacitan [Foto: Iwan Tantomi]

Rupanya lokasi Sobo ini sangat jauh, sekitar 34 kilometer dari pusat kota Pacitan. “Makanya, kalau bukan ingin ke Sudirman Raksasa, aku agak malas main ke Sobo, Tom,” sambung Aji, di sela pembicaraan kami sambil berkendara ke lokasi.

“Sudirman Raksasa?” sahut saya penuh tanda tanya.

“Lho kamu belum tahu? Daerah Sobo sebenarnya terkenal dengan komplek wisata sejarah. Salah satu daya tariknya, ya, Patung Sudirman alias Jenderal Sudirman berukuran raksasa. Sekitar 8 meteranlah kira-kira tingginya. Konon, untuk memudahkan anak-anak mengingatnya, orang tua di sini menyebutnya sebagai Sudirman Raksasa,” jelas Aji.

“Wah, sosok Jenderal Sudirman kenapa jadi terdengar sangar gitu, ya?” canda saya menimpali Aji.

“Aku juga mikirnya gitu, kok, Tom. Bahkan saat keponakanku menangis dan tak kunjung diam, ibunya langsung menakutinya dengan Sudirman Raksasa. ‘Kowe nek gak meneng, digondol Raksasa Sudirman lho’ (Kamu kalau tidak mau berhenti menangis, nanti dibawa pergi Raksasa Sudirman lho). Absurd banget, kan? Masa pahlawan dibuat nakut-nakuti anak kecil gitu,” pungkas Aji.

Patung Jenderal Sudirman Pacitan

Patung Besar Jenderal Sudirman di Pacitan [Foto: Iwan Tantomi]

Mendengar kelakar Aji, sontak saya langsung tertawa sejadi-jadinya. Sifatnya yang jenaka, nyaris tak berubah walau kami setahun berpisah. Aji tetaplah Aji, humoris dan apa adanya. Beberapa waktu kemudian, kami akhirnya tiba di perkampungan Sobo. Jarak antara satu rumah dengan lainnya begitu berjauhan. Demikian pula dengan bangunannya, tampak sederhana dengan dinding yang masih terbuat dari pilar dan anyaman bambu.

Perjalana ke Sobo ini benar-benar jauh, dengan medan yang begitu terjal. Tikungan tajam, nyaris menjumpai di setiap detik perjalanan kami. Syukur akhirnya ketika kami akhirnya tiba di lokasi tujuan dengan selamat. Jadi di sinikah Sudirman Raksasa itu berada? Gumam saya dalam hati. Tak berlama-lama, Aji langsung mengajak saya masuk ke kompleks Monumen Besar Jenderal Sudirman.

Menurut Aji, Pacitan sebenarnya tidak hanya menyuguhkan keindahan pantai, seperti Pantai Teleng Ria, Pantai Srau, Pantai Karang Bolong, hingga dua pantai fenomenal, yaitu Klayar dan Banyutibo. Pacitan juga punya wisata alam berupa Gua Gong, Gua Tabuhan, juga susur Sungai Maron yang berair jernih. Pesonanya pun kian terlengkapi dengan Monumen Jenderal Sudirman ini. Makanya tak lengkap rasanya, berjelajah di Pacitan jika tak mampir ke sana, kendati lokasinya jauh dari pusat kota.

Benar saja, seperti penjelasan Aji, wujud Patung Jenderal Sudirman di Pacitan benar-benar besar. Terlihat raksasa saat saya pandang dengan mata kepala. Posisinya pun kian megah, lantaran di pasang di puncak pelataran berbentuk trapesium. Kegundahan saya akan Idrus dan kakeknya, sempat tergantikan dengan rasa takjub dengan komplek monumental yang dilengkapi perpustakaan dan ruang audio visual ini. Apalagi di sini juga ada pasar seni, kafetaria, juga beragam diorama perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949 melawan Belanda.

Monumen Jenderal Sudirman

Komplek Monumen Besar Jenderal Sudirman di Pacitan [Foto: Iwan Tantomi]

Aji lantas menginformasikan jika sebuah rumah yang ada di komplek tersebut pernah ditempati Jenderal Sudirman saat melakukan perang gerilya. Menurut informasi yang tersedia di sana, rumah tersebut didiami Jenderal Sudirman selama 107 hari. Terhitung dari 1 April 1949 hingga 7 Juli 1949. Menariknya, delapan gerbang yang ada di komplek ini menginterpretasikan delapan provinsi di awal kemerdekaan Indonesia pada kurun 1948-1949, yaitu provinsi Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Kalimantan dan Sulawesi.

Lalu, kami menuju puncak patung Jenderal Sudirman yang ternyata terdiri tiga undakan. Menurut Aji, masing-masing terdiri dari 45, 8, dan 17 anak tangga, merefleksikan tahun, bulan dan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia. Sejenak, saya menenangkan hati, sembari melihat langsung Patung Jenderal Sudirman raksasa ini. Begitu megah, hingga membuat saya terperangah memandang Sudirman Raksasa.

Advertisements

22 thoughts on “Terperangah Sudirman Raksasa di Pacitan

  1. fotoin rumahnya dong Tom hehehe, apakah rumah itu masih dirawat sama warga sekitar? aku pacitan cuma dengar yg pantai2 sama goa, terus rumah kelahiran SBY, kapan2 ke pacitan kayaknya boleh kesini, kalo ada waktu berlebih 🙂

    Liked by 1 person

    • Rumahnya bentuk joglo sederhana, khas rumah orang Jawa pada umumnya. Kalau ditanya masih dirawat atau tidak, masih kok mas. Soalnya sudah dijadikan cagar budaya. Cuma karena lokasinya yang jauh, kompleks monumen ini jadi kurang terjamah wisatawan secara luas. Sebenarnya ada helipad, tapi ya siapa yang mau bayar ke sana, helikopternya juga gak ada. Haha.

      Sebenarnya sempat motret, cuma kulihat lagi di folder gak ada, entah salah mindah, soalnya waktu itu baterai kameraku habis, terus pinjam kamera teman, seingatku fotonya udah kupindah. Cuma lupa di mana, ubek² foto di hardisk juga belum nemu, makanya jadi gak aku sertakan di sini. 😂

      Iya, mas mampirlah ke sana, cocok buat liburan keluarga. Cuma pas kemarau biasanya gersang dan panas banget.

      Liked by 1 person

      • Weh, Ngawi rumah siapa lagi mas?
        Banyak kali kerabatmu di Jawa, selain Ambarawa ternyata masih tersebar di banyak kota. Haha.

        Yap, semoga kesampaian, jangan lupa bismillah juga pas motret, biar gak hilang fotonya. 🙂

        Liked by 1 person

    • Dari pusat kota ke arah timur lewat Jalan Basuki Rahmat, kemudian tembus Jalan Raya Pacitan – Ponorogo itu ke arah utara, entah berapa belokan dan tikungan berikutnya yang harus dilewati. Hati-hati kalau ke sana, lebih baik mengajak orang yang tahu jalan atau pernah ke sana, jadi lebih aman. 😀

      Like

    • Wiik, cuma pengen coba tol baru rela ke Ngawi? Wagelaseh!

      Paling ke situ atau ke Surabaya mudiknya, orang kerabatnya juga di situ-situ aja. Itupun sehari dua hari paling, mas, habis itu balik ke Malang lagi, kalau gak ada yang menarik. Haha

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s