Teka-Teki Perjalanan ke Sumber Jenon

DSCF6899

Sumber Jenon saat pagi hari [Foto: Iwan Tantomi]

Syahdan. Suatu siang di alun-alun kota Malang, saya berjumpa dengan seorang penjual es puter. Mulanya tak ada yang spesial, lantaran kami hanya sebatas penjual dan pembeli. Namun, ketiadaan pembeli lain waktu itu, membuat saya akhirnya membuka obrolan dengannya.

“Sudah lama berjualan es puter, pak…?”

“Asnawi, panggil saja Nawi, mas. Wah sudah lama, empat tahunlah kira-kira, mas…?” Jawabnya sambil menekan kata terakhir. Kali ini ia balik bertanya, siapa nama saya.

“Oh, Tomi, panggil saja saya Tomi, pak Nawi.”

Saya kemudian bertanya asalnya dan ia menjawabnya dari Gunung Ronggo. Agaknya nama Gunung Ronggo terlampau asing di telinga. Menurutnya, kalau dari Pasar Tajinan, arahnya lurus hingga pertigaan patung kuda, kemudian belok kanan dan lurus lagi. “Di situlah Desa Gunung Ronggo berada,” pungkasnya.

Nawi menahan obrolannya sejenak. Membiarkan saya mencerna teguk demi teguk es puter, sekaligus memahami penjelasannya. Ia kemudian turut duduk di kursi plastik yang tersedia, bersebelahan dengan saya. Lantas, ia mengusap peluh di kening dengan handuk yang melingkar di lehernya. Tanpa mengubah pandangan lurus ke depan, Nawi kemudian berceletuk datar, “Sebenarnya di Gunung Ronggo ada tempat legendaris yang bisa dikunjungi, mas Tomi.”

“Legendaris?” Seketika saya berhenti meneguk es puter, saraya mengarahkan pandangan ke Nawi. Kali ini saya siap mendengar lebih saksama.

DSC04158

Asnawi dan gerobak es puternya di Alun-Alun Malang [Foto: Iwan Tantomi]

“Kami menamainya Sumber Jenon. Kisahnya lekat dengan legenda Rantung Grati dan Irogat. Sepasang suami istri yang hidup di masa Kerajaan Mataram. Peperangan berkepanjangan, konon membuat mereka berdua akhirnya mengungsi ke kaki Gunung Ronggo. Bukan hanya kedamaian yang mereka peroleh, tetapi tanah yang subur juga didapatkan. Berulang kali hasil panen melimpah mereka nikmati. Hanya kemujuran itu tak berlangsung lama.”

Menurut Nawi, Gunung Ronggo tiba-tiba dilanda kemarau panjang, hingga menyebabkan gagal panen. Rantung Grati sadar ia tak bisa sekadar berdiam diri, mengandalkan cadangan makanan, hingga lumbung habis. Ia lantas izin ke Irogat untuk mencari sumber mata air lain.

Rupanya perjalanan Rantung Grati tak kunjung membuahkan hasil. Ia sempat putus asa, sebelum akhirnya memutuskan bertapa di bawah pohon Jenu di puncak Gunung Harimau. Naas, sebuah angin kencang menumbangkan pohon tersebut. Beruntung Rantung Grati selamat. Cuma dia kaget dengan air yang tiba-tiba menyembur dari bawah akar pohon Jenu yang tumbang. Begitu jernihnya, hingga menggenang dan kemudian membentuk mata air yang kini dinamakan Sumber Jenon.

hhjkjkik

Pohon Jenu di Sumber Jenon[Foto: Iwan Tantomi]

Cerita Nawi, berakhir bersamaan dengan teguk terakhir es puter yang saya beli. Tak disangka legenda yang dikisahkannya mampu membuat rasa penasaran saya membuncah. Benar saja, tiga hari pasca perjumpaan dengan Asnawi saya mengunjungi Sumber Jenon, sesuai arahan yang disampaikannya.

Dari pencarian di Google Maps, penulisan nama desa tempat Sumber Jenon berada ini ternyata digabung, yaitu ‘Gunungronggo’, serupa ‘Gunungkidul’. Desa ini masuk wilayah Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Dari pusat Kota Malang, kira-kira membutuhkan 45 menit untuk sampai di Sumber Jenon.

Sesudah Pasar Tajinan, memang akan dijumpai pertigaan dengan patung kuda di bagian tengahnya. Saya sempat bertanya ke penduduk sekitar tentang sosok penunggang kuda pada monumen yang juga disebut Tugu Jaran tersebut. Saya lantas diarahkan ke rumah Mbah Marto, sesepuh Desa Jatisari. Desa ini merupakan tetangga dari Desa Gunungronggo.

Screenshot-2018-2-6 Sumber Jenon

Patung Mbah Jagopati [Foto: Dian Wicaksono]

Mulanya saya mengira tokoh tersebut adalah Pangeran Diponegoro. Namun, dugaan tersebut sedikit agak meleset. Mbah Marto menyebut jika sosok tersebut ternyata Syeh Mahmudi bin Yusuf atau Mbah Jagopati. Beliau merupakan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang berasal dari Serang, Banten. Kehadiran Mbah Jagopati di sana untuk menyiarkan agama Islam di awal 1830-an.

Bersama-sama KH Abdul Wahab (Buyut Timah), Buyut Sareh, Buyut Marwie, Buyut Jumah, Buyut Landou, juga KH Umar (Buyut Sambisari), Mbah Jagopati membabat habis alas jati untuk dijadikan perkampungan. Tak ada yang tersisa, selain sarinya. Tak jelas apa maksud kata ‘sari’ di sini. Mbah Marto hanya menegaskan jika dari situlah ‘Jatisari’ terbentuk sebagai nama sebuah desa hingga sekarang.

Selepas dari kediaman Mbah Marto, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Gunungronggo. Setibanya di Sumber Jenon, kendaraan perlu diparkirkan lebih dulu dengan biaya parkir sebesar Rp3 ribu untuk motor dan Rp5 ribu untuk mobil. Sementara biaya retribusinya sebesar Rp2 ribu per kepala. Baru kemudian bisa meniti anak tangga untuk menuju sumber mata airnya.

DSCF6913

Tangga ke Sumber Jenon [Foto: Iwan Tantomi]

Rupanya mata air yang ditemukan Rantung Grati itu, kini sudah menjadi sebuah pemandian. Pinggirannya sudah dibatasi plesteran batako, agar air yang tertampung tak meluber ke mana-mana. Dengan kedalaman sekitar 4 meter, air Sumber Jenon begitu jernih. Saking beningnya, sebuah pohon besar yang tenggelam di dasar kolam begitu terlihat jelas. Konon, itulah Pohon Jenu yang tumbang dihempas angin kala Rantung Grati melakukan pertapaan di bawahnya.

Hal itu pun diiyakan Mistari, salah seorang pengelola Sumber Jenon saat saya tanyai. Sampai sini, saya percaya jika yang dikisahkan Asnawi benar adanya. Hanya saya tak sepaham itu adalah Pohon Jenu yang saya tahu.

Jenu yang saya pahami merupakan akar tuba bernama Derris elliptica. Tanaman rambat dari familia Fabaceae tak mungkin punya diameter sebesar Akasia apalagi pohon Oak. Mungkin Jenu di sini, adalah jenis pohon yang lain. Harusnya saat itu saya mengajak pakar Botani untuk mengidentifikasinya.

Namun, hal itu teralihkan saat melihat beberapa ikan besar berwarna kehitaman. Ikan-ikan itu tampak tak terganggu dengan kecipak para pengunjung Sumber Jenon yang mandi, menyelam, atau menyeburkan diri sambil meloncat dari pinggiran kolam. Saya hanya tahu ikan-ikan itu dari Familia Cyprinidae karena hidup di air tawar.

sumber jenon

Pohon Jenu dan bagian bawah air Sumber Jenon [Foto: Kopral Kids]

Sementara Mistari, menyebutnya sebagai ikan Sengkaring. Menurut informasi dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Malang yang disampaikan ke Mistari, ikan Sengkaring termasuk ikan purba yang bisa tumbuh antara 50-170 centimeter. Di Sumber Jenon ikan tersebut berjumlah sekitar 37 ekor.

Informasi ini pun akhirnya dibenarkan oleh teman sejawat saya, Diaz, usai saya konfirmasikan kepadanya. Ia merupakan seorang peneliti Biologi Kelautan. Menurutnya ikan Sengkaring merupakan jenis ikan purba dari familia Cyprinidae. Masih berkerabat dengan ikan emas, tepatnya dari genus Tor, spesies Tor Tambra atau Tor Soro.

Ikan Sengkaring sendiri merupakan omnivora, yang banyak hidup di perairan Jawa dan Sumatera. Setidaknya hal itu saya ketahui dari buku identifikasi Pisces karya Saanin (1984). Sekalipun hidup di air tawar, ikan ini tak lazim dikonsumi. Sebaliknya, ikan Sengkaring acap dikeramatkan.

Menurut Mistari, banyak orang meyakini jika ikan Sengkaring merupakan jelmaan prajurit Majapahit, sebagaimana yang ada di Pemandian Banyubiru Winongan, Pasuruan; dan Telaga Rambut Monte, Kabupaten Blitar. Lebih jauh, ia meyakini jika jumlah ikan Sengkaring di Sumber Jenon dari dulu tak pernah berubah, yaitu tetap 37 ekor.

DSCF6881

Pengunjung Sumber Jenon [Foto: Iwan Tantomi]

Selain itu, sebagian masyarakat masih percaya jika mandi di Sumber Jenon bisa menyembuhkan beragam jenis penyakit, termasuk penyakit kulit. Tak heran jika beberapa pengunjung ada yang melakukan ritual di sana. Semacam menaburkan bunga tujuh rupa sembari berdoa di sebuah petilasan tak jauh dari kolam. Baru kemudian mereka menyeburkan diri, dan bersenang-senang.

Pada akhirnya, terlepas dari mitologi yang ada, kunjungan saya ke Sumber Jenon waktu itu membuahkan banyak hal baru. Berkat penelusuran ke Sumber Jenon, saya jadi tahu jika Tugu Jaran ternyata punya nilai sejarah. Walau Rantung Grati tak diketahui rimbanya, setidaknya jejak Pohon Jenu masih bisa dijumpai di Sumber Jenon dengan mata kepala. Bahkan yang sungguh tidak saya kira, Sumber Jenon ternyata menjadi habitat ikan purba di Bumi Arema. Semua hal itu mungkin tak akan pernah saya ketahui jika saya tak bertemu dengan Asnawi, hulu dari teka-teki perjalanan ke Sumber Jenon kali ini.

Advertisements

11 thoughts on “Teka-Teki Perjalanan ke Sumber Jenon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s