Anjangsana di Depan Tabebuya

DSCF2276

Pohon Tabebuya [Foto: © Iwan Tantomi]

Minggu sore di sebuah warung sederhana, sambil berteduh menikmati seporsi kupat tahu. Oktober menjadi penanda datangnya musim hujan, apalagi di Malang tampak tak menentu. Tiba-tiba panas terik, seketika pula bisa langsung hujan deras.

“Kalau di Bogor, namanya doclang, Tom,” ucap Ken.

Saya langsung teringat, jika Ken pernah bekerja sebagai peneliti botani di Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, sebelum dipindahkan ke Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur.

Sore itu menjadi waktu reuni bagi kami, berdua saja. Ken sedang mengisi akhir pekannya. Kebetulan jarak Pasuruan dan Malang sekitar 1 jam jika kondisi jalan lengang. Kami janjian datang ke festival buku yang sedang digelar di kota Malang, sebelum akhirnya makan kupat tahu.

“Doclang? Rasanya sama?” tanya saya.

“Sama. Cuma kalau kupat di Bogor disebut pesor. Kalau enggak salah masaknya dibungkus daun patat. Nama Latin-nya Phrynium capitatum, sejenis tanaman liar endemik di kaki Gunung Salak. Bukan janur kayak di sini. Masaknya juga lama, beberapa jam, miriplah seperti kupat. Beda nama saja,” terangnya sembari melumat irisan kupat dan tahu goreng yang berbalut bumbu kacang lembut dalam sekali suap.

Saya hanya diam menyimak, sambil merasakan nikmatnya kupat tahu atau doclang ini. Di seberang jalan, terlihat pohon Tabebuya warna merah mudah bermekaran. Tanaman yang acap disebut Sakura Jawa tersebut, sepemahaman saya berasal dari Brasil. Bunganya beraneka warna, dari kuning, putih hingga merah muda. Di Indonesia, Tabebuya kerap bermekaran di bulan Oktober.

“Ken, di Kebun Raya Cibodas bukannya ada pohon Sakura, ya?” tiba-tiba saya teringat sesuatu saat memandangi pohon bernama latin Tabebuia rosea tersebut.

“Masih. Seingatku, sekarang sudah ada 4 spesies, Tom.”
“Nah, mekarnya bulan apa saja?”
“Kalau Prunus Cerasoides bisa mekar 2 kali di Cibodas. Dari bulan Januari sampai Februari, juga Agustus sampai September. Kalau yang lain, seperti Prunus Lannesiana, Prunus Yedoensis, dan Prunus Jamasakura, hanya mekar sekali di periode pertama.”
“Enggak, pas lihat Tabebuya itu, jadi ingat beberapa orang sering menyebutnya Sakura Jawa.”

Ken lantas tertawa. Maklum ilmu botaninya sudah nyaris sempurna, sehingga kalau ada orang yang membandingkan dua tanaman yang dipaksakan sama, jadi mudah bikin dia tertawa.

“Serupa tapi tak sama, lebih tepatnya begitu. Tabebuya ikut familia Bignoniaceae, dari ordo Lamiales. Kalau Prunus atau Sakura itu dari familia Rosaceae. Lebih dekat ke mawar,” jelasnya, “Makanya, ayo tahun baruan ke Bogor, nanti sekalian ke Cibodas, lihat Sakura.”

“Jangan tahun barulah, macet, agak pertengahan dikit, aku OK. Eh, tapi kalau naik kereta ribet kayaknya, Ken.”
“Coba cek tiket pesawat dulu.”

Saya lalu mengecek tiket pesawat dari bandara Juanda Surabaya ke Jakarta. Saya pilih turun di Halim Perdanakusuma untuk 19 Januari 2018, via pencarian Google. Ketemulah harga tiket pesawat yang lumayan terjangkau. Kemudian, saya mulai mencari hotel di sekitar Bogor. Ketemu juga hotel yang cukup murah. Hanya, saya pikir-pikir, sedikit agak merepotkan jika harus membayar tiket pesawat dan hotel secara terpisah di dua situs berbeda. Belum lagi kalau situsnya bermasalah.

Untung Ken mengingatkan saya, jika di Traveloka tersedia pilihan pembayaran untuk tiket pesawat dan hotel sekaligus dalam satu paket. Saya lalu mencoba fitur tersebut. Rasanya memang lebih praktis. Bagi orang yang terburu-buru misalnya, fitur ini juga cukup memudahkan dan tak banyak menyita waktu.

Selanjutnya, saya memasukkan tiket pesawat dan hotel untuk 2 orang dewasa. Tak berselang lama, hasil pencarian pun keluar. Saya langsung tersenyum lebar, “Ternyata cara pesan paket pesawat dan hotel ini jauh lebih murah daripada memesannya secara terpisah, Ken.”

Buat saya, tentu ini menjadi keuntungan tersendiri, karena saya bisa mengalihkan sisa dana untuk berkunjung ke destinasi lain di Bogor, selain ke Kebun Raya Cibodas. Bisa pula untuk mencoba kuliner khas Bogor, seperti asinan dan juga doclang.

“Tapi, bayarnya gak ribet, kan, Tom? Aku belum pernah coba juga, soalnya.”

“Enggak, masih sama seperti biasanya,” sembari saya menunjukkan beberapa pilihan pembayaran di TravelokaPay kepada Ken. Ada banyak pilihan pembayaran, bisa pakai kartu kredit, bisa pula transfer langsung, baik via internet banking maupun mesin ATM. Bahkan, jika jauh dari mesin ATM misalnya, kita bisa melunasi pembayaran di Alfamart dan Indomart.

This slideshow requires JavaScript.

Intinya, beberapa manfaat tersebut juga bisa kalian nikmati, jika memesan tiket pesawat dan hotel lewat fitur satu paket di Traveloka. Asyik banget, kan?

“Oya, Ken, ada referensi tempat-tempat lain di Bogor yang bisa kita kunjungi gak? Masa jauh-jauh ke sana mau ke Kebun Raya Cibodas saja?”
“Sebentar. Aku sempat baca-baca wisata menarik di Bogor enggak salah barusan. Coba kamu cek: wisata Bogor di Blog Traveloka.”

Kupat tahu kami pun akhirnya habis. Hujan juga sudah reda. Namun, kami masih sama-sama memandangi Tabebuya menggugurkan bunganya. “Mungkin reuni kita kali ini akan pas jika dinamakan ‘anjangsana di depan Tabebuya’,” celetuk Ken. Saya hanya tertawa.

Advertisements

17 thoughts on “Anjangsana di Depan Tabebuya

  1. Ooh jadi bunga serupa sakura itu namanya tabebuya. Di depan Stasiun Malang seingat saya juga ada. Kemarin sempat melamun-melamun cantik (haha) di tamannya untuk membunuh waktu, hehe. Setuju, Malang minggu-minggu ini cuacanya sedang seru. Tapi untung saja keseruannya baru mulai saat saya pulang jadi semua kegiatan baik-baik saja, hihi. Sepertinya asyik juga tuh, makan kupat tahu sambil ngelihat bunga. Ketimbang ngelamun…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s