Rahasia Keripik Pisang Cokelat Desa Wisata Poncokusumo

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.42.43

Di balik rumah sederhana pak mbah, tersembunyi dapur rahasia untuk membuat keripik pisang cokelat lezat. [Foto: Iwan Tantomi]

Tak perlu diragukan jika pesona alam Desa Wisata Poncokusumo begitu mengagumkan. Begitu juga dengan agroindustri apel, jeruk hingga bunga krisannya yang terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian desa. Desa ini ternyata menyimpan satu lagi potensi yang diungkap saat saya berkunjung ke sana.

Mulanya hanya sekadar ajakan Choirul Anam atau Pak Mbah ke rumahnya. Terpampang sebuah banner sederhana, bertuliskan “Kripik” di depan rumahnya. Namun, yang unik bukan apel, yang notabene komoditi buah utama di Desa Wisata Poncokusumo sebagai bahan bakunya, melainkan talas, singkong dan pisang.

Bahan baku terakhir itulah yang ingin ditunjukkan oleh Pak Mbah dalam bentuk kripik yang tak biasa. “Kami punya produk andalan mas,” ungkap Pak Mbah, “Keripik pisang cokelat namanya.”

Sesampainya di dapur, ia pun memberikan taster keripik pisang cokelatnya. Dan, enak! Keripiknya tak begitu keras pun lunak. Rasa pisang cokelatnya juga terasa. Legit malah. “Enak sekali ini, Pak,” puji saya. Siapa sangka dari pujian itu, Pak Mbah malah mengungkap rahasia dapur di balik kelezatan keripik pisang cokelat tersebut.

Penasaran bagaimana rahasianya? Begini tahapan prosesnya.

Diawali dari Pengupasan dan Perendaman

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.42.44 (2)

Dibantu 4 orang pegawai yang mayoritas ibu-ibu, Pak Mbah turut menggerakkan perekonomian Desa Wisata Poncokusumo. [Foto: Iwan Tantomi]

Sebelum direndam, keripik pisang dikupas. Pisang yang dipilih berjenis pisang raja yang masih muda. Pisang-pisang tersebut dikupas dan direndam dalam bak berisi air. “Tujuan perendaman ini, untuk menghilangkan getah,” jelas Pak Mbah.

Berlanjut ke Pengirisan

Pisang yang sudah direndam selanjutnya diiris menggunakan perajang atau pasrahan. “Nah, pasrahan yang digunakan untuk mengiris pisang di sini manual dengan dua gigi (punya dua mata pisau), agar hasil irisannya lebih optimal,” sambung Pak Mbah, “Semua alat perajang itu kami bikin sendiri. Bahkan, jari saya pernah terluka karenanya.”

Saya amati sekilas, bilah pisaunya memang tajam. Butuh pembiasaan jika ingin terampil menggunakannya. Namun, ibu-ibu yang bekerja di sini terlihat begitu mahir melakukannya. Menurut Pak Mbah, mereka mayoritas ibu rumah tangga yang dilibatkan jasanya oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Poncokusumo. Dampaknya, tak hanya memberikan pemasukan tambahan bagi setiap keluarga, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian desa.

Kembali Direndam, Dicuci Sampai Bersih

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.42.44 (1)

Demi membuat keripik pisang berkualitas, perajang manual lebih dipilih daripada mesin. [Foto: Iwan Tantomi]

Usai dirajang, irisan pisang kembali direndam dan dicuci sampai bersih. Menurut Pak Mbah, proses pembersihan ini bisa beberapa kali, sampai getah pada buah pisang benar-benar hilang. “Kalau getahnya belum bersih, biasanya irisan pisangnya tidak bisa pisah satu-satu, jadi kurang enak kalau dijadikan keripik pisang,” pungkas Pak Mbah. Setelah dicuci bersih, irisan pisang kemudian ditiriskan.

Proses Pemberian Rasa

Irisan pisang yang sudah tiris, kemudian mulai diberikan perisa cokelat. Sebagai informasi, rasa cokelat paling banyak difavoritkan pembeli. Itulah sebabnya dijadikan komoditi andalan Desa Wisata Poncokusumo. Pak Mbah kemudian memberitahukan formula pembuatan larutan cokelat. Setiap 55ml perisa cokelat dilarutkan dalam satu liter air. Irisan pisang lalu direndam di dalamnya selama minimal 4 jam hingga semalam.

Berlanjut ke Penggorengan dan Pengemasan

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.42.44

Selain keripik pisang cokelat, merek “Q-Jho” juga memproduksi keripik talas, singkong dan juga sari jahe. [Foto: Iwan Tantomi]

“Setelah perendaman, baru kemudian digoreng,” sambung Pak Mbah. Saat saya pikir proses sudah berakhir, Pak Mbah ternyata kembali meracik cokelat cair. “Itu untuk apa lagi, Pak?” tanya saya. Rupanya setelah digoreng, keripik pisang direndam kembali dalam larutan cokelat yang sudah ditambahkan 1kg gula pasir dan serbuk cokelat lagi. Fungsi ‘pencokelatan’ lagi ini memastikan keripik pisang benar-benar terlumuri cokelat secara sempurna.

Setelah pencokelatan terakhir, keripik pisang cokelat dikeringkan di atas kertas merang. Umumnya, keripik bisa kering selama 15 menit. Namun, untuk mempercepat pendinginan, tak jarang Pak Mbah memanfaatkan alat pengering tambahan. Baru setelahnya, dikemas untuk dipasarkan. Pak Mbah menggunakan merek “Q-Jho” yang ternyata akronim dari kedua anaknya.

WhatsApp Image 2017-07-12 at 20.42.43 (1)

Pak Choirul Anam alias Pak Mbah dan kontak personnya. Jangan lupa dicatat, ya. Oya, jangan ragu untuk menghubunginya saat ke Desa Wisata Poncokusumo. Tenang, orangnya ramah kok. [Foto: Iwan Tantomi]

Selain keripik pisang cokelat, ada pula keripik pisang original. Keduanya punya proses pembuatan yang sama. Hanya berbeda di pemberian rasa. Per bungkusnya keripik pisang cokelat ini dapat dibeli dengan harga Rp10 ribu. Selain di Desa Wisata Poncokusumo, keripik pisang cokelat “Q-Jho” ini bisa dibeli pula di toko oleh-oleh yang ada di kota Malang.

Demikianlah rahasia dapur di balik lezatnya keripik pisang cokelat ala Desa Wisata Poncokusumo. Tak ada yang tampak spesial, tetapi dengan tangan berbeda bisa saja kelezatan rasanya ikut berbeda. Namun, terlepas dari itu semua, langkah Pak Mbah ini patutlah diapresiasi. Sebab, bisa menjadi inovasi penunjang keberlangsungan sebuah desa wisata. Maka dari itu, agar bisa merasakan langsung kelezatan keripik pisang cokelat ini, jangan lupa mampir ke rumah Pak Mbah, saat berkunjung ke Desa Wisata Poncokusumo.

Narahubung: Choirul Anam alias Pak Mbah HP: 081233149282

Advertisements

29 thoughts on “Rahasia Keripik Pisang Cokelat Desa Wisata Poncokusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s