Desa Wisata Poncokusumo, Bukan Sekadar Pintasan Menuju Bromo

IMG-20170603-WA0028-01-01

Sebuah mobil chery hitam ternyata sudah lebih dulu menanti di depan rumah singgah Pak Anshori. Homestay tempat saya menginap di Gubugklakah. Di dalam ruang tamu, terlihat seorang pria berkaus putih dengan logo dan tulisan “Pesona Indonesia”. Tentu saja langsung menyita perhatian saya. Perawakannya sedang, kulitnya berwarna sawo matang. Apa bapak ini orang Kemenpar? Selidik saya, dalam hati.

“Selamat malam, mas,” tiba-tiba ia menyorongkan tangan. Tanda jabat tangan perkenalan. “Malam, Tomi,” sambut saya seraya mengenalkan diri. Pria paruh baya bertopi putih tersebut lantas membalas dengan menyebutkan namanya, “Choirul.”

Tahu maksud kedatangan Pak Choirul untuk menjemput, saya lantas bergegas meminta izin membersihkan badan. Jelajah Gubugklakah seharian memang cukup membuat pakaian kuyup, terlebih usai river tubing yang begitu berkesan. Jika tidak ditanggalkan, bisa mati kedinginan, mengingat desa berikutnya yang akan dituju ada di lereng Gunung Semeru.

IMG-20170603-WA0009-01

Membayangkan Desa Wisata Poncokusumo, yang terbersit di benak kali pertama adalah seruni atau krisan. Bunga nasional Jepang ini sukses beradaptasi  karena dibudidayakan dengan baik, hingga menjadi ikon ekonomi Desa Wisata Poncokusumo. [Foto: Iwan Tantomi]

Selesai berkemas, saya lantas berpamitan dengan Pak Anshori, selaku pemilik penginapan. Mengikuti langkah Pak Choirul, menuju sebuah mobil yang sedari tadi diparkir. Benar, chery hitam tadi rupanya tunggangan saya menuju desa wisata di Kabupaten Malang berikutnya, Desa Wisata Poncokusumo.

Sepintas modifikasi pintu di sebelah kiri dengan bangku memanjang berhadapan cukup mudah untuk menengarai mobil ini sebagai angkutan desa. Chery hitam ini lantas melaju sedang. Menyusuri Jalan Raya Gubugklakah. Pintasan familier bagi siapapun yang ingin menuju Gunung Bromo atau Gunung Semeru dari Malang. Hanya gelapnya malam membuat jalan beraspal di ketinggian antara 1200-1400 mdpl ini jadi sulit dikenali.

IMG-20170603-WA0002-01

Chery hitam serupa angkutan desa menjadi mobil pengantar saya selama jelajah Desa Wisata Poncokusumo [Foto: ©Iwan Tantomi]

Tak begitu lama, 30 menit kira-kira dari Desa Gubugklakah, chery hitam akhirnya tiba di Balai Desa Poncokusumo. Mengharuskan saya turun dan langsung bersua dengan warga. Terlihat Pak Choirul mengenalkan diri kembali. Choirul Anam (42 tahun) begitu nama lengkapnya. “Tapi panggil saja Pak Mbah,” pintanya setengah berkelakar, “Di sini banyak yang namanya Choirul Anam, jadi biar beda.”

Rupanya, Pak Mbah adalah salah seorang penggawa Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Poncokusumo. Singkat ia menjembatani perkenalan saya dan juga rekan tim #EksplorDeswitaMalang kepada warga. Ia lantas memaparkan profil desa. Mengenalkan potensi desa wisata yang bisa dieksplorasi. Sekaligus menegaskan kepada kami, jika Desa Wisata Poncokusumo bukan sekadar pintasan menuju Bromo.

Singgahlah, Ada Homestay Layak Huni

Malam kian larut, lelah jelajah seharian di Desa Wisata Gubugklakah tak bisa ditutupi. Acara rembuk bersama warga pun akhirnya diakhiri. Dari balai desa, saya lantas diantar ke homestay. Sebagaimana di Desa Wisata Gubugklakah, rumah singgah di Desa Wisata Poncokusumo juga diberdayakan Pokdarwis.

Demi menggerakkan perekonomian desa berbasis wisata, warga yang punya hunian layak berpartisipasi menyediakan penginapan. Rumah singgah yang saya tempati cukup besar. Fasilitasnya juga memadai. Kasur tipe springbed dan water-heater shower bagi saya malah cukup mewah untuk sebuah kamar di pedesaan.

WhatsApp Image 2017-06-03 at 19.08.59

Rupa ruang tamu di homestay tempat saya menginap di Desa Wisata Poncokusumo. [Foto: © Halim Santoso]

Namun, terlepas dari itu, satu yang saya sukai dari menginap di homestay desa wisata. Bukan hanya nuansa desa yang terasa. Kita juga bisa membaur langsung dengan penghuni rumah. Bercengkerama bak keluarga. Dijamu dengan kuliner pedesaan khas lokal. Semua bisa dinikmati di homestay Desa Wisata Poncokusumo dalam harga terjangkau, Rp150 ribu semalam, termasuk sarapan.

Daripada menginap jauh di pusat kota, lokasi yang dekat dengan Bromo dan Semeru menjadi alasan lain homestay di Desa Wisata Poncokusumo patut dipertimbangkan. Apalagi infrastruktur desa sudah tertata apik. Bukan hanya jalan beraspal mulus, minimarket seperti Indomart pun sudah bisa dijumpai. Inilah bukti jika Poncokusumo memang siap menjadi desa wisata. Singgahlah!

Pagi Hari, Waktunya Petik Apel

Nyenyak istirahat di homestay, keesokan paginya Pak Mbah menjemput saya untuk mulai mengeksplorasi pesona Desa Wisata Poncokusumo. Udara sejuk yang menyergah, membuat saya semangat berjelajah. “Kita ke kebun apel dulu, ya, mas,” pinta Pak Mbah.

Tanpa basa-basi, saya langsung mengiyakan. Pak Mbah menyilakan saya masuk sebuah mobil – yang sudah terparkir depan homestay. Familier. “Ini mobil yang kemarin, ya, pak?” tanya saya ke supir sembari memosisikan duduk yang nyaman dan menutup pintu depan. “Betul, mas,” jawab supir, riang.

IMG-20170603-WA0008-01

Choirul Anam alias Pak Mbah menjadi guide selama saya menjelajahi Desa Wisata Poncokusumo [Foto: © Iwan Tantomi]

Usai menjemput saya dari Gubugklakah semalam, rupanya chery hitam yang sama menjadi pengantar saya berkeliling desa. Sementara Pak Mbah memandu di depan dengan menggunakan motor menuju agrowisata petik apel. Destinasi pertama andalan Desa Wisata Poncokusumo.

Sebagai informasi, desa Poncokusumo dan Gubugklakah menjadi duo desa penghasil apel di kecamatan Poncokusumo, kabupaten Malang, selain kota Batu. Sesampainya di lokasi, Pak Mbah langsung menyilakan saya masuk ke kebun apel seluas lebih kurang ½ hektare.

IMG-20170603-WA0004-01

Apel Manalagi merupakan varietas apel khas Malang. Apel ini mudah dijumpai di Desa Wisata Poncokusumo [Foto: © Iwan Tantomi]

“Pemiliknya bernama Pak Teguh,” terang Pak Mbah, “Beliau memang mengkhususkan kebun ini sebagai agrowisata.” Ia lantas menerangkan jika sistem budidayanya menggunakan okulasi. Tak heran, jika setiap pohon akhirnya bisa menumbuhkan beragam varietas buah apel.

Sebagian besar dari jenis Malus sylvestris dengan beberapa varietas seperti Manalagi atau Sweet M. Cart, Anna atau Red Fuji. Kemudian ada Rome Beauty yang ditandai dengan garis merah, hingga yang menyita perhatian Royal Red dengan warna merah seutuhnya. Semua buah ada dalam satu pohon apel dengan tinggi tak lebih dari dua meter.

IMG-20170603-WA0016-01

Royal Red, varietas apel yang punya ciri kulit buah berwarna merah sepenuhnya, masih melekat di pohon apel. Tak mudah membudidayakan apel jenis ini di daerah tropis, tetapi petani apel di Desa Poncokusumo berhasil mengembangbiakkannya. [Foto: Iwan Tantomi]

Uniknya, agar pohon apel bisa berbuah, butuh digugurkan manual. “Ini karena pohon apel tidak bisa meranggas alami, karena di Indonesia tidak ada musim gugur,” sambung Pak Mbah. Dalam setahun pohon apel di sini bisa berbuah dua kali. “Sementara masa panen pertama pohon apel di sini rata-rata setelah berumur tiga tahun,” pungkasnya.

Tentu ini menjadi pelajaran berharga bagi saya. Bukan sekadar memetik dan memakan apel segar langsung sambil berteduh di bawah pohonnya, di agrowisata petik apel Desa Wisata Poncokusumo ilmu baru tentang budidaya apel juga bisa diserap. Boleh dibilang, beginilah rasanya traveling sambil belajar.

Nikmatnya Makan Jeruk Segar di Siang Hari

Matahari mulai tegak lurus di atas kepala. Siang di Desa Wisata Poncokusumo ternyata lumayan terik. Namun, Pak Mbah paham bagaimana menyiasati hal itu. Ia pandu chery hitam yang saya tumpangi berpindah dari kebun apel ke kebun jeruk.

Di kebun jeruk, Pak Mbah mengenalkan saya dengan Pak Kustanto (48 tahun). Ia merupakan pengelola salah satu kebun jeruk yang ada di Desa Wisata Poncokusumo. Banyak hal yang begitu menarik perhatian saya di tempat ini.

IMG-20170603-WA0021-01

Pengapuran pohon jeruk yang dilakukan ibu-ibu petani jeruk, menjadi pemandangan menarik yang kerap dijumpai saat berwisata kebun di Desa Wisata Poncokusumo. [Foto: © Iwan Tantomi]

Salah satunya aktivitas yang sedang dilakukan ibu-ibu di kebun, yaitu mengecat pohon jeruk dengan larutan batu gamping. “Itu kami sebut sebagai pengapuran,” terang Pak Kustanto, “Tujuannya untuk menangkal hama lumut agar tidak menumbuhi batang pohon jeruk.”

Selain pengapuran, menggosok pohon dengan sabun cuci ‘Cap Kodok’ juga dilakukan untuk menghindarkan tanaman dari hama kutu. Terlihat pula perangkap serangga dipasang di beberapa pohon, tentu dengan tujuan sama, meminimalkan serangan hama serangga khususnya lalat buah (Drosophila melanogaster). Sebelum itu, duri pada pohon jeruk dihilangkan, sehingga aman bagi pekebun untuk melakukan perawatan.

IMG-20170603-WA0007-01

Alat perangkat lalat buah dari potongan botol air mineral yang diolesi perekat dan digantung di beberapa pohon jeruk. Sekalipun sederhana, metode ini terbilang efektif sekaligus ramah lingkungan untuk mengusir hama. [Foto: Iwan Tantomi]

“Dengan proses perawatan yang baik seperti ini, pohon jeruk bisa bertahan hingga 20 tahun,” ungkap Pak Kustanto. Ia lantas menjelaskan jika di kebun seluas dua hektare ini tumbuh sekitar 1000 pohon jeruk. “Proses panen pertama biasanya setelah pohon berumur dua setengah tahun,” sambungnya, “Setiap pohon bisa menghasilkan 30kg buah jeruk selama tiga bulan masa panen.”

Pohon jeruk baru berbunga kembali untuk pembuahan, sembilan bulan setelahnya. “Lalu, jenis jeruk apa saja yang ditanam di sini, pak?” tanya saya. Mayoritas ia jawab dari jenis ‘Keprok Siam’ (Citrus nobilis). “Jeruknya punya kulit tipis dan airnya banyak,” jelas Pak Kustanto sembari memetikkan satu buah jeruk dan meminta saya mencobanya.

IMG-20170603-WA0019-02

Jeruk Keprok Batu 55 merupakan jeruk asli kota Batu yang juga dibudidayakan di Desa Wisata Poncokusumo. Kulitnya agak tebal dengan rasa yang manis. Patut dicoba saat berkunjung ke kebun jeruk Desa Wisata Poncokusumo. [Foto: © Iwan Tantomi]

Benar saja, rasanya sangat segar. Tidak begitu manis, juga tidak terlalu asam. Pas. Selain itu ada pula jeruk jenis ‘Keprok Batu 55’ (Citrus reticulata). Sesuai namanya, jeruk ini asli dari kota Batu. Ciri kulitnya berwarna kuning, lebih tebal dan punya rasa lebih manis.

Kualitasnya yang bagus menjadikan jeruk di kebun ini banyak dijadikan pasokan di supermarket, terutama di Yogyakarta dan Jakarta. Itulah alasannya wisatawan yang berlibur ke Desa Wisata Poncokusumo bisa dibilang begitu beruntung. Sebab, dapat merasakan segarnya jeruk petik langsung dari pohonnya.

Mengumbar Senyum di Kebun Krisan

Puas menikmati jeruk segar, chery hitam berlanjut mengantarkan saya ke destinasi berikutnya. Agroindustri lain yang juga andalan di Desa Wisata Poncokusumo. Lokasinya tak begitu jauh dari dua destinasi sebelumnya.

Setibanya di lokasi, Pak Mbah mengenalkan saya dengan Pak Misnan (65 tahun). Ia adalah pemilik ‘Kelompok Tani Kusuma’, sebuah agroindustri bunga krisan di Desa Wisata Poncokusumo.

IMG-20170603-WA0023-01

Pak Misnan yang begitu ramah, adalah salah seorang pelopor agroindustri budidaya bunga krisan di Desa Wisata Poncokusumo. [Foto: Iwan Tantomi]

Pak Misnan mengajak saya masuk ke dalam sebuah ‘bangunan’ berkerangkakan bambu dan berselimut plastik. Tak megah, tetapi sudah cukup syarat menjadi rumah kaca. Meski begitu, jangan salah, di balik kesederhanaannya, green house ini menyuguhkan hamparan krisan yang langsung bikin senyum merekah.

Beberapa lajur tanaman krisan tampak di depan mata. Menurut Pak Misnan, setiap lajur punya jeda dua minggu penanaman. Tujuannya agar bisa dilakukan pemanenan berkala. “Kalau total waktu yang diperlukan untuk budidaya bunga krisan, dari bibit sampai panen biasanya sekitar 14-16 minggu,” imbuhnya, ramah.

IMG-20170603-WA0010-01

Bunga Krisan Kuning yang dibudidayakan di Desa Wisata Poncokusumo menjadi komoditas yang paling diminati pasar. [Foto: Iwan Tantomi]

Lebih lanjut, Pak Misnan lantas menjelaskan proses pemanenan yang ternyata bukan sekadar dipetik bunganya, melainkan batang pohon dicabut sampai akarnya. Bunga krisan bisa bertahan sampai tiga minggu pasca dipanen asal cukup air penyimpanannya.

Dari jumlah bunga, krisan ternyata bisa dibedakan dua jenis. “Ada yang berbunga tunggal, ada yang berbunga banyak dalam satu tangkai,” jelas Pak Misnan. Di pasaran, jumlah bunga inilah yang menentukan harga per tangkai. “Kalau yang satu bunga harganya seribu (Rupiah), sementara yang banyak (bunganya) Rp900,- per tangkai.”

IMG-20170603-WA0011-01

Bunga krisan tunggal dihargai lebih mahal dibandingkan bunga krisan yang tumbuh majemuk dalam satu tangkai. [Foto: Iwan Tantomi]

Tentu saja menyeruakkan sebuah pertanyaan. Namun Pak Misnan lebih dulu menjelaskan, “Yang satu bunga biasanya diameternya lebih besar dibandingkan yang banyak bunga.” Dari sini saya jadi tahu jika bisnis bunga krisan ternyata mempertimbangkan faktor seremeh ini. Lewat bisnis ini pula Pak Misnan mengaku bisa meraup Rp25 juta setiap tiga setengah bulan.

Selama pengamatan, ada banyak warna krisan yang saya jumpai. Namun, komoditas yang paling diminati pasar justru warna kuning dan putih. Krisan-krisan yang sudah dipanen biasanya dikirim ke kota Batu, Bandung juga Bali. Sementara untuk perawatan, Pak Misnan dibantu dua orang pegawai. Di antara tugas mereka menyirami tanaman krisan pagi dan sore.

IMG-20170603-WA0012-01

Di green house milik Pak Misnan, beragam bunga krisan baik yang masih pembibitan hingga siap panen dan dijual bisa dijumpai secara mudah. [Foto: Iwan Tantomi]

Meski sering dijumpai di toko bunga, tetapi menyaksikan langsung hamparan bunga nasional Jepang ini tumbuh berlimpah, tentu jadi momen tak biasa. Betapa tidak, sekali berlibur ke Desa Wisata Poncokusumo indahnya bunga bernama lain seruni (Chrysanthemum indicum) ini bikin hati semringah tanpa perlu terbang dulu ke Negeri Sakura.

Berteduh di Bawah Gugus Pinus Ledok Ombo

“Habis ini kita ke mana lagi, pak?” Tanya saya ke supir chery hitam. “Kata Pak Mbah ke Ledok Ombo, mas.” Ledok ombo? Terka saya bakal ada arung jeram, susur sungai atau atraksi yang berkaitan dengan sungai lainnya, mengingat “ledok” sendiri bermakna sungai – dari asal kata bahasa Jawa.

Kebingunan makin bertambah, sebelum saya sempat bertanya, tetapi supir sudah menginstruksikan tanda, “Sudah sampai, mas.” Ledok Ombo ternyata sebuah camping ground di antara gugus pinus yang menjulang lurus.

IMG-20170603-WA0015-01

Kehadiran rumah pohon menjadi daya tarik tersendiri bagi muda-mudi yang datang ke Ledok Ombo di Desa Wisata Poncokusumo. [Foto: © Iwan Tantomi]

Menurut Pak Mbah, luas ekosistem taiga berdaun jarum ini sekitar 12 hektare. “Kalau tiket masuknya Rp5 ribu per hari,” sambungnya. Selain dijadikan lokasi kamping, Ledok Ombo juga menjadi arena kegiatan downhill. Selain itu, sebagai objek wisata, fasilitasnya juga cukup lengkap. Mulai aula, musala, toilet, rumah pohon, hingga Pinus Café yang cukup diminati wisatawan.

Dari Pinus Café inilah sebuah aliran sungai tampak dari atas tebing. Ternyata itulah Ledok Ombo, atau sungai Ombo. Sebagai wanawisata, Ledok Ombo juga tak kalah dengan Hutan Pinus Mangunan. Ada beberapa spot yang menurut saya cukup instagram-able, sehingga wajar jika memikat wisatawan muda-mudi.

IMG-20170603-WA0024-01

Ledok Ombo juga menjadi arena olahraga downhill yang menarik untuk dicoba saat pelesir ke Desa Wisata Poncokusumo. [Foto: Iwan Tantomi]

Kehadiran Ledok Ombo ini pun menjadi pungkasan bukti jika Desa Wisata Poncokusumo bukan sekadar menawarkan wisata berbasis agronomi. Lebih dari itu, Desa Wisata Poncokusumo benar-benar siap menampakkan diri sebagai destinasi wisata unggulan, sekaligus pembuktian agar tidak dikira sekadar pintasan menuju Bromo.

Tambahan: untuk keperluan reservasi homestay maupun informasi wisata di Desa Wisata Poncokusumo Kabupaten Malang bisa menghubungi langsung Pak Choirul Anam atau Pak Mbah: 085105025770.

Advertisements

57 thoughts on “Desa Wisata Poncokusumo, Bukan Sekadar Pintasan Menuju Bromo

  1. Yang aku suka adalah saat ke kebun apel dan jeruk, rasanya kayak sekolah tapi itu langsung ke narasumber yang emang sudah paham betul seluk beluknya,
    Mungkin pengemasan kegiatan ekskursi harusnya seperti ini ya…

    Harusnya ada agenda buat camp di Ledok Ombo ya..ahahaha

    Eh itu homestay yang itu ya……

    Liked by 1 person

  2. itu mas Ghozaliq sama Halim, lagi bisik-bisik dan ngetawain apa ya? sekarang ini wisata petik buah juga mulai marak di sekitar kabupaten Banjarnegara walau masih terbatas jambu air, biji dan buah strawberry saja

    Liked by 1 person

  3. Mesra Berkelana says:

    Oh mas, kamu masi sempat mengabadikan rumah itu 😭.

    Paling terkesan pas ke Poncokusumo adalah main di Ledok Ombonya, karena lahannya luas, jadi belum ke sentuh semua 😭

    Liked by 1 person

  4. dwisusantii says:

    Ternyata pengusiran hama pohon jeruk ataupun apel masih alami. Dari mulai dari batu kapur sampai digosok pakai sabun 🙂
    Aku termasuk yang jika makan apel kulitnya jarang dikupas… Kalau misal kebanyakan disemprot pestisida kan bukannya sehatt tapii malah nganuu 😦

    Iya setuju, fotonya bening-bening kaya membawa pembaca ke lokasi langsung, melihat langsung 🙂

    Liked by 1 person

    • Nganu opo mbak? 😁
      Kulit apel kaya flavonoid, antioksidan dan zat gizi lainnya, sayang kalau gak dimakan. Manfaatnya juga besar bagi kesehatan. Tapi tetap cuci dulu ya, jangan langsung geragas, hahaha.

      Sebening hatiku, ya, eaaa.

      Like

  5. Seru banget perjalanannya, bisa menikmati makan buah apel, jeruk langsung dipetik dari pohon. Dari artikel ini jadi baru tahu tentang potensi wisata Poncokusumo sebab sebelumnya yang saya tahu dulunya desa ini sebagai titik awal pendakian Gunung Semeru sebelum dibukanya Desa Ranu Pani

    Liked by 1 person

    • Betul, dulu memang hanya sempat dijadikan pendakian awal gunung Semeru, tapi perlahan masyarakat sadar jika ada potensi meningkatkan perekonomian warga, jadilah digagas sebuah desa wisata oleh warga dengan memanfaatkan potensi wisata yang ada.

      Mampir lagi ke sini, bang, pas mau ke Semeru atau Bromo.

      Like

  6. Sekarang poncokusumo maju banget ya mas, jadi pengen main-main kesana lagi. Dulu sering kesana nganter adek ke pondok atau kalo pas lewat doang mau ke bromo hehe…

    Kayaknya emang kudu syukur jadi orang malang, buat nyari seger-segeran kalo males ke batu bisa nyobain sisi lainnya ini hehe

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s