Sebelum Pagi Menjelma di Gubugklakah

WhatsApp Image 2017-04-25 at 16.04.32

Suasana Desa Wisata Gubugklakah saat pagi hari [Foto: © Iwan Tantomi]

Tak sekadar jadi desa wisata, Gubugklakah juga menyimpan kisah revolusioner dalam menyejahterakan warganya.

“Silakan diminum tehnya,” ucap seorang lelaki paruh baya. Purnomo Anshori namanya. “Panggil saja Pak Anshori,” begitu ia mengenalkan dirinya. Ia merupakan ketua lembaga Desa Wisata Gubugklakah (DWG) yang berada di kecamatan Poncokusumo, kabupaten Malang. Sekitar 23km kalau dari kota Malang.

Kebetulan, malam itu saya dan beberapa rekan, anggap saja sebagai pemerhati desa wisata, menginap di rumahnya. Rumah Pak Anshori cukup besar, wajar jika dijadikan penginapan. Kami menempati lantai dua, sementara lantai pertama merupakan kediamannya dan keluarga. Seteguk teh pun akhirnya saya rasakan kehangatannya. Mengawali jumpa pertama kami, sekaligus untuk mengakrabkan diri di ruang tamu lantai dua kediaman Pak Anshori.

“Di Gubugklakah ini ada berapa penginapan?” tanya saya, membuka obrolan. Ia menerangkan ada sekitar 76 rumah penduduk yang dijadikan rumah singgah di Gubugklakah. Usaha tersebut sebenarnya bagian dari swadaya warga untuk mewujudkan sebuah desa wisata.

“Penduduk di sini sebenarnya mayoritas petani. Cuma yang punya mobil kami minta membuka jasa menjemput tamu. Biasanya dari stasiun,” terang Pak Anshori, “Yang punya jeep nanti bisa membawa wisatawan ke Bromo. Nah, yang tidak punya mobil, nanti bisa membuka homestay dan perkebunan apelnya untuk agrowisata.”

Ia menerangkan bila omzet rumah singgah di DWG bisa sampai Rp500 juta per bulan, dengan harga sekitar Rp150 ribu per malamnya. Saat hari-hari biasa, DWG bisa didatangi 200 wisatawan setiap bulan. Sementara saat musim liburan tiba, 1000 wisatawan bisa hilir-mudik berdatangan.

WhatsApp Image 2017-04-25 at 16.45.53(1)

Selain bentang alam pegunungan, Gubugklakah juga punya sungai yang dikenal sebagai Ledok Amprong sebagai potensi wisatanya [Foto: © Iwan Tantomi]

Pak Anshori begitu menggebu bercerita. Melanjutkan penjelasannya nyaris tanpa jeda. Dari yang awalnya sekadar basa-basi, kami lantas tertarik lebih dalam untuk memahami. Secangkir teh panas, saya teguk kembali. Tinggal fokus mendengar, tanpa banyak tanya, Pak Anshori pun lanjut berkisah.

“Dulu Gubugklakah ini hanya dilewati saja oleh wisatawan yang mau ke Bromo, Semeru atau Tengger. Jika terus begitu, kami, warga desa, berpikir tak akan bisa menumbuhkan perekonomian desa. Padahal, Gubugklakah kaya potensi alam dan budaya,” tutur ketua forum komunikasi desa wisata se-kabupaten Malang ini.

Ia juga menuturkan budaya asli Tengger dengan dialek khasnya juga jadi kearifan lokal yang patut diangkat. “Namun, sejak 2010, warga berinisiasi untuk mewujudkan sebuah desa wisata,” sambungnya.

Sebagai langkah awal dibentuklah Lembaga Desa Wisata (Ladesta), yang perlahan lebih akrab dikenal sebagai Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gubugklakah. Tepatnya pada 20 Agustus 2010 silam. “Tugas Pokdarwis ini memberdayakan warga untuk lebih sadar wisata, termasuk membuka homestay, menjadi pemandu wisata dan juga operator jasa transportasi wisata,” imbuh Pak Anshori.

Tak ayal berkat upaya tersebut Gubugklakah semakin dikenal namanya. Bukan saja di kalangan wisatawan, bahkan berulang kali menyabet penghargaan nasional. Menjadi jawara tiga Desa Wisata Nasional dari Kemenpar 2014 silam – setelah Desa Dieng Kulon, Banjarnegara dan Desa Panglipuran, Bangli, adalah salah satunya.

WhatsApp Image 2017-04-25 at 16.45.53

Potensi lain Gubugklakah adalah agroindustri. Selain perkebunan apel, juga ada pemerahan susu bernama Nusa Pelangi [Foto: © Iwan Tantomi]

Berkat upaya tersebut, roda perekonomian desa berputar. Gubugklakah yang secara harfiah berasal dari dua suku kata “gubug” (tempat tinggal sederhana, gubuk; bahasa Jawa) dan “klakah” (dua belah bambu; bahasa Jawa-Tengger), perlahan menjelma jadi desa wisata sejahtera. Kontradiktif dengan citranya di masa lampau, di mana “Gubugklakah” identik dengan kemiskinan penduduknya.

“Alhamdulillah, perekonomian warga Gubugklakah sekarang mulai menggeliat. Rumah-rumah sudah banyak yang layak huni. Padahal sebelum jadi desa wisata angka kemiskinannya masih tinggi,” pungkas Pak Anshori.

Malam kian larut, tetapi belum ada tanda persuaan ini mereda. Seteguk teh saya seruput kembali. Kali ini dua kali. Sekadar menghangatkan badan, di tengah hawa dingin pegunungan yang mulai menyergah. Namun, letih di wajah tak bisa membohongi. Bisa jadi karena tak enak hati, Pak Anshori akhirnya pamit menyudahi. Menyilakan kami beristirahat, karena agenda sebenarnya justru bermula keesokan pagi. Melihat potensi DWG dalam sehari.

46 thoughts on “Sebelum Pagi Menjelma di Gubugklakah

  1. Salut dengan semangat mereka memajukan desa mereka, dalam hal ini desa wisata. Lalu tidak hanya menjadi penonton saja ketika wisawawan yang ke bromo melewati desa mereka.
    Sehingga bisa meningkatkan perekonomian warga setempat.

    Liked by 1 person

  2. kabupaten purbalingga, yang notabene kab.tetangga hampir tiap desa dibentuk pokdarwis2, tidak heran jika purbalingga kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata yang cukup beragam. Banjarnegara? bukannya pesimis, tapi makin ke sini, banyak juga dibuka potensi lokal misal curug, kebun kopi yang mulai dirintis oleh para pemuda, belum semaju kab.tetangga memang, tapi patut diapresiasi

    Liked by 1 person

  3. Sayang saya datang terlambat, tidak bisa berbincang lama dengan Pak Ansyori. Yang kuingat di Gubugklalah itu malah suasana santrinya, terlelas dari keseruan kita menikmati potensi yang ada di sana, suasana santri tetap melekat di hati saya.

    Liked by 1 person

  4. Beberapa kali kalau mau ke Gunung Bromo selalu lewat pintu di Probolinggo. Sungguh baru kemarin tahu kalau melalui sisi Malang ada homestay siap di Gubugklakah yang nyaman dan bisa sewa jeep naik Bromo dari desa tersebut. Jadi pingin balik ke Gubugklakah lagi dan njajal aktivitas rafting-nya nih.

    Liked by 1 person

    • Hokya, rafting di sana memang cukup tersohor, tapi sensasinya kurang lebih seperti tubbing gitu. Sama² di aliran Ledok Amprong. Cuma yg rafting posisinya agak di hulu, jadi derasnya arus lebih terasa. Lebih bisa bikin uji adrenalin, lah.

      Liked by 1 person

  5. Dan jujur baru tahu nyata Gubugklakah ya kemarin itu, Banyak hal unik yang dimiliki desa ini, apalagi dikenal Desa Santrinya, dimana-mana ada santri, Apalagi yang pagi-pagi ada santri istigosah di gang kecil, khidmat banget baca doanya.

    Liked by 1 person

    • Betul, kak. Kadang kasihan kalau hanya dibiarkan, terus diperalat oknum yang mengatasnamakan investor, padahal sarat kepentingan politik. Ah, semua orang bisa kok jadi pegiat desa wisata, termasuk kamu, anggap saja ini misi sosial.

      Like

  6. Desanya memang seru owk, yang aku suka tuh iklim dan suhu udaranya, jadi mau jalan-jalan siang hari pun aku tidak takut kepasanan dan dehidrasi parah.

    Rekomended lah besok kalau abis turun dari Semeru stay di sini 1 atau 2 hari,,

    Liked by 1 person

  7. Gubugklakah ini strategis, jalur sutra menuju Bromo atau Semeru. Ya, bagaimana lagi, memang jalur yang termudah hahahaha. Dan menurutku, desa ini paling representatif bagi wisatawan yang ingin singgah atau beristirahat sebelum atau sesudah perjalanan Bromo/Semeru, daripada di Desa Ngadas.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s