Bertamu ke Omah Munir 

2016_1112_21465100-01

Omah Munir atau nama lengkapnya Museum Hak Asasi Manusia (HAM) Omah Munir sebenarnya bukanlah museum baru di kota Batu. Museum ini sejatinya sudah ada sejak 8 Desember 2013 yang lalu.

Namun sayang, popularitasnya tak sementereng Jawa Timur Park yang hampir setiap hari dijejali wisatawan sampai penuh. Hanya segelintir pengagum sejarahlah yang masih peduli dengan museum yang beralamat di Jalan Bukit Berbunga No. 2 RT. 04 RW. 07 Sidomulyo, Kota Batu ini.

Secara lokasi, Omah Munir Batu sebenarnya tidaklah sulit dicari. Posisinya berada di jalur wisata. Bila ada yang sering atau pernah berkunjung ke Taman Rekreasi Selecta atau Pemandian Air Panas Cangar, sebenarnya tanpa sadar sudah melewati Omah Munir berulang kali.

Hanya mungkin pesonanya, sekali lagi, tak semenarik dua destinasi utama kota Batu yang saya sebutkan barusan tadi. Apalagi museum ini memang tak ubah rumah pada umumnya. Andai tak jeli melihat plakat bertuliskan ‘Omah Munir’, tentu bakal terlewati berulang kali. Setidaknya cukup saya yang mengalami.

2016_1112_23115300-01

Sempat saya mengira Omah Munir Batu bak tanaman yang hidup segan mati tak mau. Dua kali ke sini, rasanya memang tak pernah antre berdesakan, padahal saat itu hari Minggu. Hanya terlihat beberapa motor yang memenuhi halaman depan rumah, yang tak lain tempat parkir di Omah Munir. Tapi, justru itu yang saya mau.

Merebaknya kasus HAM yang tak kunjung tuntas, memancing saya untuk tahu lebih dalam tentang sejarah HAM yang sebenarnya di Indonesia. Wikipedia mungkin mencukupi, tetapi belajar sejarah langsung ke sumbernya bisa membuat wawasan kian terlengkapi.

Bagi saya, Omah Munir adalah ladang yang pas untuk mendalami sejarah HAM di Indonesia, selain tak perlu mengeluarkan biaya tentunya.

2016_1112_21465100-01

Tiba di teras Omah Munir, salah seorang petugas akan menyambut. Menyilakan pengunjung untuk mengisi buku tamu. Tak ketinggalan, alasan kenapa datang ke Omah Munir Batu juga turut ditanyakan.

Kesannya memang basa-basi sebelum bertamu, tetapi siapa tahu bagi profesi mereka hal itu perlu. Sejatinya mereka adalah aktivis sejarah dan sukarelawan. Sudilah menjawab pertanyaan dengan sopan, karena justru itu yang membuat mereka senang. Bukan semata uang.

Belum masuk ke dalam, mungkin kamu akan dibuat pilu melihat patung perunggu. Ialah Munir, aktivis HAM asal Malang yang justru berakhir malang. Ironis memang. Namun, tak sedikit yang bilang Munir belum mati. Jasadnya boleh jadi berkalang tanah, tetapi perjuanganya menegakkan HAM seolah tak pernah sirna. Omah Munir Batu inilah wujud lain perjuangannya.

2016_1112_21481200-01

Bangunan Omah Munir memang tak besar, tetapi efektif untuk belajar. Bukan saja menyuguhkan sejarah dalam bidang visual. Tambahan audio semangat juang Munir, membuat belajar sejarah tak lagi membosankan. Wajar bila banyak mahasiswa yang datang ke sini. Memperkokoh ilmu yang ditimbanya di bangku kuliah yang sebagian besar bewujud teori.

Karena alasan itu pula petugas Omah Munir Batu menyangka saya masih mahasiswa. Bisa jadi karena rupa. Dapat pula alasan saya datang kemari yang dianggapnya begitu menggugah. Entahlah. “Yang pasti saya ingin berlama-lama di sini, mumpung sepi,” tukas saya waktu itu.

2016_1112_21511000-01

Omah Munir dibuat dengan beberapa diorama. Tidak sepenuhnya berwujud kronologi, tetapi alur terbaik untuk memahami perjalanan Munir menegakkan HAM bisa diawali dari diorama sebelah kiri. Berposisi tepat sesudah pintu masuk, dioramanya berkisah tentang kecimpung Munir di dunia hukum untuk pertama kali.

Tersedia pula Meja Munir. Saksi bisu perjuangan Munir menegakkan hukum kala dirinya membawahi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Surabaya. Di sini, pengunjung bisa merasakan bagaimana  getirnya sejarah sembari langsung melihat peninggalannya.

Tak ketinggalan, imajinasi Munir saat bekerja, menerima aduan masyarakat yang butuh advokasi, hingga tertidur karena lelah di atas Meja Munir, terbayang jelas berkat penataan diorama yang tepat, walau tentu tak kasat mata. Beruntung Omah Munir dapat menyelamatkan aset sejarah tersebut.

2016_1112_21545500-01

Diorama berganti, tetapi getir sejarah tak kunjung bertransformasi. Sebuah fakta baru justru terpapar rapi tentang kasus HAM yang memancing saya untuk lekat mengamati. Sebuah diorama bertajuk Tentang Orang Hilang, mengupas habis tentang hal yang sebetulnya lebih hakiki. Lagi-lagi ini menjadi keistimewaan Omah Munir tersendiri.

Kian menarik disimak, karena diorama ini juga menyajikan potongan koran di masa lalu sebagai bukti. Bukan sekadar referensi viral ala Wikipedia yang kadang masih dianggap sangsi. Lebih menariknya lagi, tak ada informasi yang ditutupi. Semua terjabar jelas di Omah Munir Batu ini lengkap dengan visual wajah berwujud ilustrasi.

2016_1112_22030700-01

Geram, kesal, kejam. Perasaan itu begitu membubung, tetapi tak tahu harus bereaksi seperti apa, bingung. Sunyi sendiri menghayati, tahu-tahu ada kegetiran dalam hati. Memikirkan bagaimana mereka, pemuda, mahasiswa, yang ingin menegakkan kebajikan dengan nurani di era menjelang reformasi, harus berakhir tanpa bekas sama sekali. Entah hidup, entah juga mati. Nuansa itu begitu hidup di Omah Munir ini.

Bisa dibayangkan, betapa menyakitkan kehilangan keluarga tersayang. Meninggalkan nestapa bak luka menganga yang tak ada obatnya. Kecuali jika kebenaran akhirnya muncul ke permukaan. Membawa informasi yang selama ini masih dianggap hilang. Mungkin itulah obat penawarnya. Sebuah ‘penyembuh’ yang begitu diperjuangkan Munir, termasul ihwal dirinya mendirikan Kontras akan terbahas dalam ulasan ‘Bertamu ke Omah Munir’ seri kedua.

40 thoughts on “Bertamu ke Omah Munir 

  1. Kalau ke Omah Munir, saya selalu melihat papan orang-orang yang hilang itu, terus berpikir bagaimana jika kehilangan itu terjadi pada saya, atau pada keluarga saya. Astaga, jika saya ada di posisi keluarga orang-orang hilang itu, agaknya jauh lebih baik mengetahui keluarga sudah tiada ketimbang terlunta-lunta tanpa kabar, apalagi penyelesaian. Padahal mereka hanya memperjuangkan apa yang mereka anggap benar lho.
    Sebagai seorang yang sekarang ada di jenjang birokrasi pemerintah, berkunjung ke OM itu menetralkan pandangan-pandangan saya. Hidup dalam heterogenisme membuat kita lebih toleran dan lebih bisa usaha untuk jadi bijaksana, hehe. Bisa banyak belajar kita dari museum ini :)).

    Liked by 1 person

    • Begitu ya mas? 😂

      Tapi… nuansa getir di museum ini memang tak ada satir (penghalang), begitu kentara satire (sindiran) di dalamnya. Nulisnya pun jadi harus hati-hati agar tak ada pihak yang tersindir. 😅

      Like

  2. demikianlah 🙂 patung munir sendiri, memancarkan kegetiran itu, sekaligus perjuangan.. dan tragisnya perjuangannya dihentikan oleh tangan tak kasat mata yang masih menyimpan selubung gelap hingga saat ini #duh, bosoku :p

    takut dikriminalisasi yah? wkwkw

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s