Museum Malang Tempo Doeloe Siap Ajak Kamu Jelajah Malang Lintas Waktu, Mau?

DSCN2776

Museum Malang Tempo Doeloe (MMTD), namanya memang disengaja pakai ejaan lama, merupakan salah satu museum unik di Kota Malang. Boleh dibilang hanya segelintir orang yang tahu lokasinya. Dibandingkan Museum Brawijaya Malang, MMTD lokasinya memang bukan di jalan protokol. Melainkan di jalan arteri, tepatnya di Jalan Gajah Mada.

Jalan tersebut berada di tengah-tengah antara gedung DPRD Kota Malang dan Balai Kota Malang. Titik start paling gampang jika kamu datang ke Malang menggunakan kereta api, dari Stasiun Kota Malang tinggal jalan kaki sekitar 450 meter ke arah Bundaran Alun-Alun Tugu Malang. Di sana kamu akan melihat Balai Kota Malang. Di sebelah kiri bangunan Balai Kota Malang, ada jalan bernama Jalan Gajah Mada. Dari sana jalan kaki saja 50 meter. Tibalah kamu di depan MMTD.

Masih bingung juga? Coba cek rute Google Maps berikut ini.

Gimana, sudah cukup jelas kan? Ok, mari lanjut menyimak ulasannya.

Diresmikan pada 22 Oktober 2012, MMTD ini bukan milik pemerintah Kota Malang lho. Museum ini didirikan oleh Dwi Cahyono. Pak Dwi ini merupakan Ketua Dewan Kesenian Malang. Sekalipun namanya ada embel-embel ‘Tempo Doeloe’, tetapi kamu nggak perlu khawatir museumnya bakal angker dan banyak genderuwonya.

Sekilas MMTD punya tampilan luar modern dengan sentuhan minimalis. Kamu pun nggak perlu khawatir kelaparan, karena di dekatnya ada Resto Inggil. Rumah makan bergaya retro tersebut jujukan favorit para bule lho. Restoran ini juga rekomendasi makanan khas Malang dan Jawa Timuran yang rasa bumbunya keroso (bahasa Jawa; terasa banget). Jika kamu ke sana, cobalah pecel terong, tempe dan ayam panggangnya. Uh. Juara!

DSCN2778

Kembali ke tujuan awal. Jika sudah sampai di depan MMTD, nggak usah bengong lama-lama, langsung masuk saja ke dalam. Beli karcis seharga Rp25 ribu. Kalau KTP kamu Malang tulen, kamu cukup membayar Rp15 ribu. Khusus buat pelajar bayarnya lebih murah lagi. Cukup Rp10 ribu saja. Adapun jam operasional MMTD adalah saban hari mulai jam 8 pagi sampai 5 sore.

DSCN2740

Setelah membeli tiket, kamu akan berjumpa dengan pemandu. Kalau waktu itu, saya yang kebetulan datang ramai-ramai bareng Blogger Malang, dipandu Pak Akbar. Bisa jadi beliau pula yang bakal memandu kamu. Setelah semua pengunjung berkumpul, biasanya pemandu akan langsung memulai tur jelajah museum.

MMTD punya konsep bagian dalam yang unik. Bukan berupa ruangan luas seperti kebanyakan museum, tetapi dibuat beberapa area dengan konsep jelajah lintas waktu di dalamnya. Benar, di MMTD kamu akan dikenalkan dengan Malang dari beragam era.

DSCN2657

Nah, di ruangan pertama, kamu akan menjumpai sebuah diorama Malang di masa pra sejarah. Ada banyak fosil, prasasti dan benda-benda bersejarah lainnya. Dengan ilmu paleontologi yang dimilikinya, Pak Akbar lantas menjabarkan secara detail sejarah yang menyertai beragam penemuan tersebut.

DSCN2652

Bukan hanya itu, Pak Akbar juga memberikan penjelasan ke saya, bila 1,5 juta tahun yang lalu Malang merupakan sebuah danau purba. Danau tersebut dikelilingi pegunungan besar, seperti Bromo Tengger, Semeru, Arjuno, Kelud dan Kawi.

Namun, danau tersebut mengalami penyusutan seiring berjalannya waktu hingga membentuk daratan. Untuk menuju daratan tersebut, orang-orang kuno harus menyingkirkan pohon yang malang-malang (bahasa Jawa; malang melintang). Sejak saat itu daerah tersebut menjadi permukiman yang kini dikenal sebagai Kota Malang.

DSCN2672

Selain peninggalan pra sejarah, di ruangan pertama juga ada beberapa koleksi arca dan barang pecah belah peninggalan beberapa kerajaan yang ada di Malang di masa silam. Mulai era Kejayaan Kanjuruhan, Majapahit hingga Singasari. Menuju ruangan berikutnya, kamu akan diajak melewati lorong yang didesain seperti hutan lebat. Jalannya pun harus merunduk dan hati-hati.

DSCN2679

Menurut Pak Akbar, lorong ini adalah ‘jembatan’ penghubung Malang di masa pra sejarah menuju era 750 M. Sementara dari informasi yang tertera di sepanjang lorong, kamu bisa mengetahui runtutan kejayaan Kerajaan Kanjuruhan sampai keruntuhannya. Setelah ujung lorong terlihat, kamu akan memasuki area baru yang nggak lain adalah zaman Kerajaan Majapahit Singasara berkuasa.

DSCN2680

Di ruangan kedua tersebut, tampak patung Ken Arok yang merupakan salah satu pemimpin paling ikonik sekaligus kontroversial dalam sejarah kerajaan Singasari sedang bertapa. Selain itu, kamu juga bisa mengetahui secara jelas bagaimana silsilah kerajaan Singasari dan Majapahit yang sebenarnya.

DSCN2692

Sebagai bukti beberapa kerajaan besar tersebut pernah ada di Malang, kamu bisa melihat temuan-temuan arkeologi di area ketiga. Tempat ini sekaligus menjadi pemisah Malang di masa sejarah ke masa kolonial.

DSCN2704

Jika sebelumnya kamu bisa melihat banyak benda arkeologi sebagai bukti Malang di masa kerajaan, maka di era kolonial diorama museum berganti dengan tumpukan rempah-rempah dalam toples yang tak lain buruan negara asing di zaman penjajahan.

DSCN2708

Masih di area yang sama, kamu juga bisa melihat alat-alat yang sering digunakan sehari-hari oleh masyarakat Malang di masa kolonial. Mulai alat pembuat tembikar, lesung padi plus penumbuknya. Bahkan, ada diorama pawon atau dapur tradisional khas orang Jawa.

DSCN2709

Selanjutnya, kamu akan dibawa ke Malang pada tahun 1767. Di masa ini, diorama museum dirancang seperti kompleks benteng masa serikat dagang VOC. Kamu bisa melihat beragam surat penting yang masih sangat jelas dan terawat dalam bingkaian pigura.

Diaorama seperti ini akan menjadi pemandangan selama tur di museum MMTD hingga ke masa terakhir kolonialisme. Baru setelah itu kamu bisa melihat beberapa teknologi yang mewarnai kemodernan Malang. Misalnya kamera untuk surat kabar, sepeda kumbang, mata uang hingga logo Malang yang sekilas mirip logonya Chelsea FC!

Memasuki area di era kemerdekaan, kamu akan disuguhi banyak diorama dan set ruangan yang cukup instagramable. Mulai set cermin tanpa batas, diorama penjara di masa pendudukan Jepang pada tahun 1943, diorama proklamasi kemerdekaan, hingga diorama peresmian Alun-Alun Tugu oleh Bung Karno tahun 1945.

Tur berakhir saat memasuki diorama yang berisi ragam bukti benda-benda yang pernah populer di Malang era 80-90an. Sebut saja alat musik, jajanan tradisional, permainan hingga pakaian yang seluruhnya menjadi identitas Malang Tempo Doeloe. Baru setelahnya kamu akan kembali ke lobi tempat kali pertama membeli tiket masuk.

DSCN2773

Lobi MMTD sendiri sebenarnya nggak kalah unik. Kamu bisa melihat mainan kuda-kudaan yang pernah eksis di masa lalu. Kemudian, ada juga boneka jerami raksasa yang mulanya saya kira jenglot. Di masa lalu boneka tersebut kerap dibakar untuk mengelabui musuh saat berperang.

Meskipun bangunan MMTD sebenarnya nggak begitu besar, tetapi saya meyakini sepertinya Pak Dwi paham, cara untuk memikat pengunjung khususnya kawula muda agar bergairah masuk museum. Di samping itu, diorama yang dibikin nggak lebih dari sebuah ruangan yang diset dengan beberapa lorong yang menyerupai labirin.

DSCN2751

Namun, penataan yang apik dengan konsep timeline sejarah Malang yang pas, mampu memberikan penyegaran untuk sebuah konsep museum yang berbeda. Tambahan wallpaper yang tak biasa, akhirnya bisa menghidupkan keadaan Malang di berbagai masa.

Well, untuk ukuran sebuah wisata sejarah, MMTD ini benar-benar pas untuk dikunjungi segala macam usia. Selain bisa memperbarui wawasan sejarah Malang, juga menjadi alternatif liburan yang nggak biasa di akhir pekan. Bahkan, bagi kamu-kamu yang instagrammer banget, beragam spot menarik di museum ini, layak untuk mempercantik feed.

So, sudah siap menjelajahi waktu di Museum Malang Tempo Doeloe?

Advertisements

37 thoughts on “Museum Malang Tempo Doeloe Siap Ajak Kamu Jelajah Malang Lintas Waktu, Mau?

  1. makasih.. kota2 pegunungan dulunya banyak yg awalnya danau yah, kayak bandung, malang, danau toba (masih ada danaunya) …. suka sama penataan koleksi sm isinya yg cukup lengkap … btw, festival mtd katanya udah gak ada lagi yak

    Liked by 1 person

    • Kalau festival yg di jalan Ijen memang sudah gak ada lagi mas 4 tahun terakhir, tp kalau festival MTDnya masih digelar di beberapa lokasi. Tahun ini di Stadion Gajayana. Tahun lalu di Air Terjun Jahe.

      Harusnya sih kudu dipertahankan, soalnya bisa datangkan turis. Tp, sejak ganti walkot baru, eh, malah nggak ada lagi.

      Padahal daku sudah koar² bolak balik ke dinas pariwisata kota Malang tiap ada undangan diskusi. Tapi, tetap saja nggak diaplikasikan sama mereka.

      Akhirnya, Hayati Lelah. 😂

      Like

    • He iya, aku juga merasanya begitu.
      Itu juga yg bikin Kota Batu mendadak melejit pariwisatanya berkat museum modern yg dikelola pihak swasta, seperti Museum Angkut, Museum Satwa dan lainnya.

      Jadi mikir ‘kenapa’ juga ya? 🙄

      Like

      • Kalau rekomendasi lokasi, dari stasiun kota jalan ke kiri lurus aja ada Kampung Warna Jodipan, jalan terus Kelenteng Eng An Kiong ada wayang potehi juga, lalu ke Pecinan ada Museum Bentoel, terus ke Kampung Arab ada Museum Musik Indonesia, lanjut ke pusat kota ada Kota Lama Malang, di sana banyak gedung tua.

        Terus ada Masjid Jami Malang, Geraja Ayam, Katedral, hingga kompleks pertokoan kayu tangan. Lanjut ke Balaikota dan Alun² Bundar Tugu, terakhir bisa dilanjut City Tour Malang pakai bus.

        Masih mau lanjut? Bisa ke Jalan Besar Ijen, cagar budaya perumahan ningrat Belanda, bisa mampir juga ke Museum Brawijaya. Untuk melihat sejarah lokomotif legendaris era Romusa. Kalau candi banyaknya agak di pinggiran kota.

        Semua gratis kok. Kalau nge-guide boleh aja, selama aku nggak sedang ngeluyur ke luar Malang.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s