Seupil Drama Berjumpa Raisa

2016_1022_08523200-01.jpeg

Konser Raisa di Malang memang sudah berlalu semalam, tetapi ada sedikit drama menarik yang ingin saya ceritakan.

Nama Malang dari hari ke hari kian dikenali. Bukan saja karena keindahan alamnya, tetapi belakangan jadi salah satu destinasi wisata konser yang cukup diperhitungkan. Hadirnya venue yang memadai membuat promotor nggak pernah bosan menggelar konser hampir setiap bulan di Malang.

Bahkan, di bulan Oktober ini saja banyak musisi besar, macam Afgan, Kla Project, Gigi (band), Dewa 19 plus Ari Lasso dan Once Mekel, Ipang Lazuardi, Bondan Prakoso, Efek Rumah Kaca (band), hingga Raisa menggelar konser tunggal. Kebayang bagaimana macetnya kota Malang saban akhir pekan.

Walau ada banyak musisi lalu-lalang di Malang, jujur, saya nggak begitu tertarik melihat konsernya. Bukan karena nggak tahu lagunya, cuma moody aja. Sialnya, mood ingin melihat konser tiba-tiba muncul pas tanggal kritis keuangan. Gara-garanya nggak sengaja lihat video ini.

Ciamik! Visual dan lighting konsernya mengingatkan saya pada penampilan Adele di BRITS Awards 2016. Adele menyanyikan When We Were Young dengan visual serupa. Bahkan, saking bagusnya, hingga dijadikan official music video lagu tersebut.

Di sisi lain, saya menyesal melihat video itu. Karena sesungguhnya saya cukup menyukai lagu Kali Kedua versi Raisa. Namun, karena terlanjur penasaran melihat lagu ciptaan Dewi Lestari tersebut dikemas visual dan tata panggung yang megah, secara cepat terbersit hasrat: Saya harus menonton konser ini, live!

 Nyepik Is Started!

Sebelum membeli tiket konser Raisa yang lumayan high-end, saya coba tanya-tanya ke redaksi. Harapannya agar disuruh liputan, mengingat salah satu sponsor konser Raisa adalah klien tempat saya bekerja. Rupanya nggak ada projek yang berkaitan dengan konser ini. Kemudian, saya coba nyepik alus kakak-kakak senior divisi musik, kali bisa diajak. Ternyata free pass-nya terbatas. Nyepik pun berakhir gatot.

Dari Nyepik Ketemu Babik

Bukannya ketemu sosok protagonis yang tiba-tiba kasih tiket konser gratis, malah ketemu makhluk antagonis. Sebut saja babik. Doi sih manusia normal, bukan siluman kayak Cut Pat Kai gitu. Cuma, nggak tahu, pikirannya sensi mulu sama orang. Apesnya, giliran saya kali ini yang ketemu dia. Diam-diam doi ternyata sering kepoin Instragam saya.

Mulanya kasih pujian, tapi lama-lama balik menjatuhkan. Paling monohok saat dia bilang, “Biasanya kalau orang motret landscape bagus, belum tentu bisa motret human interest bagus. Apalagi pakai kamera standar gitu.” Lha pas gitu-nya di lempar ke arah saya. Sudah gitu doi pamer foto-foto JKT48 hasil jepretannya dengan kebanggaan setinggi khayangan. Pantes nih spesies dijulukin babik sama orang-orang. Batin saya.

Namun, gara-gara doi, saya jadi pengin buktikan bila fotografi bukan semata karena (jenis) kameranya. Termasuk human interest photography. Duh, Raisa andai bisa melihat konsermu. Niscaya aku pamerin paras ayumu ke WOTA atau fans idol group itu.

Rezeki Nggak ke Mana

H-2 sebelum konser Handmade Tour Raisa digelar di Malang, iseng saya nyepik alus ke salah satu senior yang kebetulan seorang social media influencer. Oya, nyepik alus ini bahasa gaul negosiasi. Jadi, jangan bayangkan nyepik yang saya lakukan merayu sambil berlutut bawa bunga kayak Romeo yang ingin merebut cinta Juliet. BIG NO! Saya masih sadar punya harga diri kok.

Namun, hari itu sepertinya jadi hari keberuntungan saya. Dengan entengnya, kakak senior tadi bilang, “Kamu mau datang?”

“Hah? Boleh, boleh.”

“Ya udah, gantiin aku aja. Besok langsung datang ke Dome UMM, ya. Ambil ID Media. Kemarin sudah registrasi kok (saat press conference).”

“Serius?” Ngeyel nggak percaya.

“Cuma nanti bawa kamera, ya. Aku minta beberapa foto dan video pendek-pendek aja buat dokumentasi dan live tweet.”

“SIAP, kakak.”

Belum berhenti sumringah, eh, teman dari social media influencer lain menawarkan free pass berupa ID Media. Doi nggak bisa datang karena meliput konser lain. Daripada nanti saya dikira labil karena mewakili dua media sekaligus, saya janjikan saja kasih foto konser.

Toh objeknya juga sama, bebeb Raisa. Doi akhirnya setuju. Sementara saya masih nggak habis pikir. Dari yang tadinya sudah malas berangkat karena nggak dapat gratisan, mendadak dapat free pass berlebihan. Alhamdulillah. Rezeki memang nggak ke mana.

Ajang Pembuktian

Karena sudah diberi mandat, saya pun bertekad untuk memberikan hasil foto yang memuaskan. Tiba hari H saya mulai menyetel kamera dari pagi. Nah, khusus untuk fotografi konser/panggung (Stage Photography), saya bikin langkah begini:

  1. Pilih ke mode manual (M),
  2. Atur ISO paling tinggi. Meski berisiko memunculkan noise, tetapi hasil foto jadi lebih tajam,
  3. Atur White Balance di posisi auto. Lighting panggung yang berganti-ganti, bisa memakan banyak waktu untuk set kamera. Sementara waktu yang diberikan panitia biasanya terbatas,
  4. Pilih bukaan paling besar. Jika punya lensa dengan f/1.4, inilah momen paling tepat untuk kamu gunakan. Jika tidak punya, PERCAYA DIRI saja menggunakan lensa kit. Cukup pasang di Aperture terbesar (yang angkanya paling kecil),
  5. Atur Shutter Speed tinggi. Saya memilih Shutter Speed 1/100 hingga 1/125. Tujuannya untuk mengimbangi ISO dan Aperture. (Pahami konsep Segitiga Exposure dalam fotografi),
  6. Nggak perlu bawa tripod. Lensa satu cukup. Ringkas saja, karena Stage Photography menuntut juru potretnya bergerak bebas untuk mendapatkan angle yang pas. Yang ada hanya akan memecah konsentrasi, karena ribet dengan bawaan sendiri. (based on my true experience).
  7. Budayakan nggak menggunakan flash, biar hasil foto dramatis.

Hal lain yang nggak masuk teknik, tetapi wajib banget diperhatikan adalah soul. Padukan insting dan penglihatan dengan ketepatan jari menekan tombol shutter. 

Buat saya ini penting sekali. Karena dari sinilah foto yang baik bisa dihasilkan. Dan, foto yang baik itu adalah foto yang bisa bercerita dengan sendirinya. Itulah kenapa stage photography dan photojournalism bernilai tinggi.

Bermodalkan wawasan inilah ajang pembuktian ke babik saya nyatakan dimulai.

Kesengsem Raisa

Jam 7 malam saya akhirnya berkumpul bersama fotografer dari berbagai media. Usai dapat briefing dari panitia, saya langsung memasuki space khusus fotografer. Sesuai dugaan saya, kami dibatasi memotret di tiga lagu pertama saja.

Sementara beberapa fotografer lain yang dari tadi cengengesan justru baru sibuk menyetel kamera, saya sudah asyik mengabadikan penampilan Raisa sedari awal intro Handmade didendangkan. Dan, beginilah hasilnya.

2016_1022_08355800-01.jpeg

2016_1022_08381000-01.jpeg

Baru kemudian Raisa muncul dengan tembang romantisnya, yaitu Tentang Cinta dan  Love You Longer. Di sinilah Raisa benar-benar membuktikan musikalitasnya sebagai musisi bertalenta. Sebab, dia ingin membuktikan bila album Handmade yang sudah memborong penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2016, Anugerah Planet Muzik (APM) 2016, hingga menjadikan Raisa salah satu nominasi MTV Europe Music Awards (EMA) 2016, sebagai mahakarya terbaiknya.

2016_1022_08410200-02.jpeg

2016_1022_08443500(2)-01.jpeg

2016_1022_08454400-01

“Sudah siap galau bareng malam ini?” tanya Raisa di sela konsernya. Otomatis, YourRaisa, sebutan untuk fans Raisa, serempak menjawab dengan teriakan: “AAAAAAH!”, “RAISAAAAA”, “I LOVE YOUUUUU.” Sambil motret saya batin. Tanyanya apa jawabnya apa. Ah, sudahlah fokus motret aja, daripada ditabokin YourRaisa seisi venue.

2016_1022_08431400-02.jpeg

2016_1022_08420800-01

“Akhirnya manggung ke Malang lagi. Seneng banget berada di sini,” sambung Raisa yang lagi-lagi dibalas dengan jawaban yang sama. Ayang bebeb, eh, Raisa pun lanjut menggalaukan seisi Dome UMM Malang dengan lagu hitsnya, Sang Rembulan, Usai di Sini, Biarkanlah, Letting You Go dan lagu duetnya bareng Afgan, Percayalah. Tapi, sayang, Afgannya juga lagi sibuk tur, jadi nggak bisa diboyong ke Malang.

2016_1022_08493500-01.jpeg

2016_1022_08452100(2)-01.jpeg

Walau tajuk konsernya Handmade Tour, Raisa juga mengajak penonton bernostalgia dengan hits lawas yang membesarkan namanya, seperti Serba Salah, Could It Be, dan Terjebak Nostalgia. Lalu, dikombinasikan dengan hits terbarunya di album ketiga ini, seperti Jatuh Hati dan Kali Kedua.

2016_1022_084904002-01

Namun, dari semua lagu, saya justru memfavoritkan Nyawa dan Harapan. Selain diiringi anak-anak paduan suara dari Narwastu Malang, lagu ini punya pesan moral kuat. Di mana banyak orang mudah sekali membenci sesamanya hanya karena masalah sepele.

“Kenapa kita tidak menumbuhkan cinta pada semua?” Tukas Raisa. Menurut dara 26 tahun ini, toleransi saat ini begitu memprihatinkan. Terlebih di media sosial. Di mana banyak orang mendadak jadi haters.

Lewat lagu inilah, Raisa berharap bisa menyampaikan pesan positif. Dari nyawa generasi sekarang, untuk harapan generasi di masa depan yang lebih toleran.

Sudah cakep, suaranya enak, humble, pinter lagi. Haish. Beneran kesengsem nih sama Raisa. Intinya, nggak percuma sedari awal saya ngotot ingin melihat konser ini. 

Nggak hanya tata panggung super keren dan performa Raisa yang menawan, tetapi ada banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan.

Kabar baiknya, setelah Handmade Tour pertama selesai digelar di Bandung, Surabaya, Malang, Yogyakarta dan Solo, Raisa juga akan memboyong krunya bikin konser di luar Jawa lho. Makanya, pantengin terus media sosial bebeb Raisa.

Oya, satu lagi yang saya dapatkan dari konser ini, saya jadi punya ‘oleh-oleh’ buat si  babik. Upil di drama ini. Menurut kalian sudah pantas belum foto-foto tersebut ditunjukkan ke doi? πŸ™‚

18 thoughts on “Seupil Drama Berjumpa Raisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s