Tak Ada Kata Terlambat Untuk Mengunjungi Candi Borobudur

wp-image-226148316jpg.jpg

Tak Ada Kata Terlambat Untuk Mengunjungi Candi Borobudur [© Iwan Tantomi]

Candi Borobudur. Bagi orang Jawa Tengah, namanya mungkin sudah nggak asing lagi. Bahkan, jika boleh dibilang Candi Borobudur adalah wisata mainstream bagi kebanyakan orang Magelang. Sama mainstream-nya dengan anggapan orang Probolinggo terhadap Gunung Bromo, atau Pulau Sempu di mata banyak orang Malang.

Apalagi bagi mereka yang sejak lahir hidup bertetangga dengan tempat wisata, seringnya malah mengucapkan, “Apanya yang menarik sih, padahal ya gitu-gitu aja?”. Hal yang wajar, karena manusia diciptakan dengan sifat bosan. Segala hal yang hampir saban hari dilihat pun jatuhnya menjadi nggak lagi spesial.

Namun, akan lain ceritanya bila kita bukanlah orang asli ‘sana’. Jangankan destinasi Indonesia, jujukan wisata populer macam Venice di Italia, Eiffel di Perancis, Taj Mahal di India hingga landmark Singapura – yang notabene sudah dianggap mainstream oleh penduduk asli ‘sana’ atau orang yang berkali-kali sudah pernah datang ke sana, akan selalu dijadikan destinasi impian bilamana belum pernah datang langsung melihatnya.

wp-image-723982111jpg.jpg

Bagi orang yang bukan asli Magelang ataupun Jawa Tengah, seperti turis asal Tiongkok ini, berfoto di Candi Borobudur tetaplah seperti datang ke sebuah destinasi wisata impian yang baru saja menjadi kenyataan.  [© Iwan Tantomi]

Nah, hal inilah yang dialami teman saya dari Aceh. Sebut saja namanya Teuku. Sekalipun Candi Borobudur sudah dikunjungi berjuta-juta orang, termasuk saya, di mata Teuku Candi Borobudur tetaplah destinasi impian antimainstream. Sebagai backpacker yang berkesempatan kuliah di Malang, dia memang nggak sebatas ingin belajar. Sebaliknya, mengunjungi beberapa destinasi wisata yang tersebar di Pulau Jawa, termasuk Candi Borobudur adalah impiannya.

Bagi Teuku, dirinya hanyalah satu dari sekian juta orang Indonesia yang masih mengenal Candi Borobudur tak lebih dari sebuah ‘nama’. Warisan Dunia UNESCO yang kerap disebutkan dalam beragam literasi di bangku sekolah. Sebuah asumsi yang cukup membuat saya terhentak, karena di mata saya Candi Borobudur masuk kategori wisata mainstream di tengah menggeliatnya destinasi-destinasi wisata baru di Jawa Tengah. Sebut saja Umbul Ponggok di Klaten atau Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam di Magelang yang tenar karena menjadi latar lokasi dalam film drama ‘Ada Apa Dengan Cinta 2’.

punthuk2bsetumbu

Pesona Candi Borobudur dari Punthuk Setumbu. Tempat ini menjadi super terkenal usai menjadi latar lokasi dalam film ‘Ada Apa Dengan Cinta 2’.  ayahalmira]

Belum lagi kehadiran beberapa wisata baru yang digandrungi berkat media sosial. Mulai Gunung Telomoyo, Air Terjun Kalipancur, Benteng Pendem, Brown Canyon, Bukit Diponegoro, Bukit Patah Hati, Bukit VW, Curug Lawe, Gunung Kendil, Hutan Pinus Kanyon, Pantai Baruna, Puri Maerokoco, Pondok Kopi, Danau Rawa Pening hingga Umbul Sidomukti – yang hampir semuanya masih berada di Semarang. Belum tempat wisata lainnya yang berpotensi di daerah-daerah lainnya di Jawa Tengah.

Banyaknya tempat-tempat menarik tersebut tentu bisa menjadi bukti bila pariwisata Jawa Tengah terus berkembang dari masa ke masa. Dan, tentu saja hal itulah yang memang selalu ditunggu-tunggu oleh wisatawan. Namun begitu, pesona Candi Borobudur tetaplah superior. Menjadi destinasi nomor wahid yang harus ditaklukkan ketika kali pertama menjejakkan kaki di Jawa Tengah. Setidaknya itulah yang Teuku dambakan.

wp-image-1171479788jpg.jpg

Masih banyak orang yang belum berkesempatan melihat langsung keindahan Candi Borobudur, termasuk Stupa dan Arca Buddha yang memesona. [© Iwan Tantomi]

Gara-gara itu pula saya tersadar, apalah arti sebuah kata ‘mainstream’ bila destinasi wisata tersebut senantiasa memesona untuk dinikmati. Berkali-kali ke Borobudur, hampir tak pernah sekalipun saya melihat Mahakarya Gunadharma ini sepi wisatawan. Itulah bukti jika pesona Borobudur nggak pernah padam. Dan, saya pun kian tertantang, saat Teuku mengajak saya backpacking menuju Magelang.

Kenapa Tertantang?

Diingat-ingat, 3 kali ke Candi Borobudur memang belum pernah sekalipun saya backpacking. Satu kali bersama keluarga, dan dua  kesempatan lainnya dalam acara rekreasi lulusan sekolah. Perjalanan yang boleh dibilang eksklusif, karena traveling sudah terkonsep sedemikian rupa. Dari rumah menuju Candi Borobudur tinggal duduk manis di bus pariwisata. Dapat 3 kali makan, di restoran pula. Lelah pun bisa langsung tidur nyenyak di hotel maupun vila. Sementara, saat saya, Teuku dan dua orang teman lainnya memutuskan ke Candi Borobudur dengan backpacking, ada pengalaman berbeda yang kami terima.

wp-image-453421164jpg.jpg

Tak seeksklusif perjalanan saya ke Candi Borobudur sebelumnya, backpacking bersama tiga orang teman kali ini justru berbuah pengalaman berharga. [© Iwan Tantomi]

Kami berempat harus mulai perjalanan hemat dari Malang ke Magelang dengan perencanaan matang. Demi menghindari macet kami memutuskan berangkat malam. Sebuah pilihan yang menguntungkan karena kami jadi tak perlu mengeluarkan dana untuk bermalam. Tak sampai di situ. Demi meminimalkan anggaran, bus ekonomi Malang-Surabaya kami pilih. Sebab, bus Malang-Yogyakarta hanya tersedia kelas bisnis yang cenderung mahal.

Sialnya, sesampai di Terminal Purabaya Surabaya, bus terakhir Surabaya-Magelang telah berangkat. Kami akhirnya memutuskan rute lain menuju Candi Borobudur, dengan menaiki bus ekonomi yang masih ada, yaitu Surabaya-Yogyakarta. Usai 8 jam perjalanan kami tiba di Terminal Giwangan Yogyakarta atau sekitar jam 5 pagi. Dari sini kami sudah menghabiskan Rp80 ribu per kepala.

Perut keroncongan di pagi hari, nggak lantas dapat sarapan yang sudah siap saji. Usai mandi-mandi gratis di masjid Terminal Giwangan Yogyakarta, kami harus menyeleksi mana warung makan yang terjanglau, namun nggak sembarangan. Lebih baik lagi makanan lokal. Prinsip kami, biar sederhana yang penting bergizi, sehingga bisa dongkrak stamina buat berjelajah. Ketemulah nasi gudeg plus teh manis yang begitu nikmat. Terhitung pengeluaran kami sudah Rp90 ribu per kepala.

Sadar jika sedang backpacking, kami pun nggak mau terbuai dengan pemandangan turis-turis yang siap berkeliling Jogja dengan bus pariwisata. Sebaliknya, kami kudu sigap galang informasi, buka Google Maps, berpanas-panasan hingga adu argumen dengan para kernet hanya untuk memastikan bus yang kami tumpangi beneran jurusan Yogyakarta-Borobudur (plus harganya murah).

wp-1474713986889.jpg

Wujud minibus dari Terminal Giwangan Yogyakarta menuju Terminal Borobudur. Rupa boleh tua, performa? Mari baca kelanjutannya. [© Silvana Devinta]

Dapatlah minibus yang semisal kernetnya nggak narik-narik sambil meyakinkan kami, ini adalah bus terakhir, niscaya kami nggak akan naik. Bus dari Terminal Giwangan menuju Candi Borobudur yang kami tumpangi berjenis minibus. Tanpa AC, tapi ada AJ alias Angin Jendela. Harganya memang bikin kami mupeng, tetapi jangan bayangkan rupa bus seperti Trans Jogja. Melainkan 11:12 dengan metro mini Jakarta yang sudah uzur personanya.

Lebih parahnya lagi, bus nggak hanya reyot secara penampilan, tapi juga secara performa. Imbasnya, saat jalan menanjak sempat-sempatnya bus berhenti dan gelinding mundur. Untung remnya nggak blong. Anehnya, penumpang di sebelah saya dengan enteng bilang, “Nggak apa-apa kok mas, sudah biasa.” Dalam hati saya menimpali, bagi situ mungkin biasa, lha bagi saya yang sebentar lagi wisuda, nggak lucu kalau kenapa-kenapa.

Begitu juga saat jalan menurun. Entah saking tuanya, minibus ini pun sampai ‘menjerit’ saat direm. Saya dan teman-teman yang sedari tadi kayak dikejar sakaratul maut hanya menatap bengong para penumpang yang nggak ada gimmick panik sedikitpun. “Tom.. Tom… jangan-jangan yang naik tadi bukan manusia semua,” bisik salah seorang teman saya usai turun dari bus, yang kebetulan pernah melihat film horor ‘Kereta Hantu Manggarai’. Sebut saja namanya Jo.

wp-image-1197997505jpg.jpg

Dialah si Jo. Saking menghayatinya jadi backpacker yang baru kali pertama dilakoninya, ketemu tempat mainstream dan nggak ada unik-uniknya macam tiang lampu lalu-lintas begini minta difoto. *geleng-geleng sambil elus dada* [© Iwan Tantomi]

Walau duduk kami terpencar-pencar saat di bus, tapi kami sama-sama merespon perjalanan tadi dengan waswas. Sebagai bukti, hingga turun dari bus kami berempat masih terlihat tegang dengan keringat bercucuran. “Backpacking ternyata kudu siap mental, ya.” Jo lanjut berceletuk. Dia memang baru kali pertama backpacking plus baru kali pertama pula ke Candi Borobudur. Padahal mulai lahir hingga kuliah di Tanah Jawa. Dasarnya memang nggak hobi traveling. Tapi, Teuku malah bilang ke dia, “Makanya jangan di rumah aja, beginilah serunya backpacking!”

“Seru, gundulmu. Setor nyawa kok, seru,” timpal balik si Jo. Setelah bersenda-gurau sejenak mengusir ketegangan, kami pun masih sempat-sempatnya saling menghitung pengeluaran. Di sinilah hemat dan pelit mulai bias statusnya. Tapi, demi hemat biaya ala anak kuliahan di tanggal tua, kami memang kudu komitmen untuk jadi backpacker yang perhitungan. Paling tidak untuk perjalanan kali ini. Total pengeluaran kami hingga sampai di area sekitar Candi Borobudur Rp120 ribu per kepala.

Karena bus ini turunnya di Terminal Borobudur, bukan di parkiran atau gerbang Candi Borobudur, maka kami perlu menyambung perjalanan dengan beberapa pilihan: jalan kaki sekitar 1 km, naik becak, naik ojek, atau naik andong. Opsi terakhir kami jadikan pilihan, sekalian bernostalgia naik andong – yang entah kapan terakhir kalinya kami, khususnya saya, lakukan. Kami hanya perlu merogoh kocek Rp15 ribu per kepala.

Setibanya di gerbang kawasan Candi Borobudur, Al, salah satu teman kami, langsung masuk antrean untuk membeli karcis. Dari kami berempat, Al satu-satunya yang pernah backpacking ke Borobudur. Tapi dulu lebih beruntung karena dapat bus Surabaya-Magelang, sehingga minibus yang bikin jantung mau copot tadi juga jadi pengalaman pertama baginya. Bagi kami semua.

Pengalaman perdana hujan-hujanan di Candi Borobudur. Oya, secara nggak sengaja, saya juga berjumpa dengan teman sekampus yang asli Jawa Tengah (yang pakek jas hujan) di Candi Borobudur. Jadilah kami hujan-hujanan bareng – nihil lagu India. [© Iwan Tantomi]

Harga tiket masuk ke Borobudur waktu itu Rp30 ribu per kepala. Total, kami sudah mengeluarkan dana sebesar Rp165 ribu hingga bersiap jelajah Candi Borobudur. Namun, baru sampai di pelataran, gerimis pun mengguyur. Untung, sejak awal Al getol mengingatkan kami untuk bawa payung. Bukan untuk alasan kemayu karena takut kepanasan, tapi memang bulan Desember adalah puncak musim hujan.

‘Sedia payung sebelum hujan’ pun akhirnya nggak hanya sebatas peribahasa, namun betulan terasa manfaatnya. Di mana saat banyak wisatawan tunggang langgang mencari peneduh, kami malah asyik jalan menapaki tangga Candi Borobudur. Setelah sampai puncak, mata kami pun langsung berbinar-binar. Rasanya, pesona Candi Borobudur memang tak pernah hilang. Terlebih setelah perjalanan panjang yang tak seeksklusif kebanyakan wisatawan atau rekreasi saya sebelumnya, membuat kami merasakan sebuah kepuasan dalam menikmati indahnya Candi Buddha terbesar di dunia ini.

Penuh perjuangan. Penuh tantangan. Dan, penuh kenekadan. Karena dari Malang kami benar-benar hanya bermodalkan Rp300 ribu. Itupun masih sisa sekitar Rp50 ribu hingga kami tiba di Malang kembali. Komitmen untuk backpacking sehemat mungkin untuk menikmati indahnya Candi Borobudur akhirnya sukses kami wujudkan. Hingga menciptakan pengalaman berwisata ke Jawa Tengah yang begitu berkesan. Sembari tetap memegang payung di tengah hujan yang mulai agak reda, kami berlama-lama menikmati rupa Candi Borobudur yang menurut literasi punya 2.672 relief dan 72 stupa ini.

Sambil tersenyum, saya lantas mengamati ketiga ekspresi teman saya yang begitu senang bukan main dengan mata penuh binar. Terlebih Teuku dan Jo yang baru benar-benar mengamati pesona Candi Borobudur dari dekat di usia 23 tahun, di kala saya sudah bisa mewujudkannya saat usia 15 tahun. Bahkan, Al saat masih berusia 12 tahun. Namun, bagi saya usia nggak lagi jadi hal yang begitu krusial. Sekali ada kesempatan, menikmati Candi Borobudur akan selalu jadi idaman bagi mereka yang senantiasa menantikan.

Empat kali ke Candi Borobudur, bersama mereka lah buah perjalanan yang paling berkesan saya dapatkan. [© Iwan Tantomi]

Jadi, buat kamu yang belum pernah melihat langsung Candi Borobudur, nggak perlu berkecil hati. Sebab, tak ada kata terlambat untuk berwisata, termasuk menikmati Candi Borobudur yang selalu memesona. Belum bisa berangkat hari ini, kamu masih bisa datang esok ataupun lusa. Gusar dengan dana? Kamu bisa mulai merencanakan traveling hemat atau backpacking seperti kami. Yang pasti, bulatkan tekad agar bisa segera mengangkat ransel untuk menikmati indahnya Candi Borobudur dan juga berbagai tempat wisata keren di Jawa Tengah. Selamat bertualang!

—–

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

74 thoughts on “Tak Ada Kata Terlambat Untuk Mengunjungi Candi Borobudur

  1. Selama 17 tahun hidup di dunia, aku juga baru sekali ke sana. Bisa nih nanti aku agendakan buat backpacker-an jugaa! Sama seseorang tercinta yang masih nggak tahu siapa. :(((

    ini berapa hari di sana?
    nggak nginep?
    totap PP abis berapa?

    Liked by 1 person

    • Sama istrimu aja nanti – yang entah siapa. Ah, backpacking nggak nunggu nikah dulu kok. 🙂

      Itu 2 hari 1 malam. Nginepnya di bus aja, makanya amblil bus malam. Kalau naik kereta agak kejauhan. Ambil bus surabaya-magelang aja. Totalnya Rp250 K aja kok.

      Cobain deh, sesekali biar gereget.

      Like

    • Nggak usah diratapi kak, langsung berangkat lagi ke Borobudur dengan pose yang paling kece, hehe

      Yang penting, hari ini, esok atau pun lusa, Borobudur masih tetap ok kok untuk dinikmati pesonanya (branding lagi) tapi memang beneran kok, hihi.

      Ditunggu ceritanya, ya, kalo dah sukses menginjakkan kaki lagi di Borobudur.

      Liked by 1 person

      • hooo, istrinya orang Ambarawa? keren. Eh, aku ngider pake sebutan ‘mas’ dan panggil ‘kak’, karena kemarin pas ke Batam, Bintan, dan Palembang, panggil ‘mas’, eh orang-orang jadi pada ngeliat aneh. Sekarang dikaunya malah yang panggil aku ‘mas’. haha. Baiklah-baiklah. bagaimanapun aku tetaplah panggil kakak, karena ku keknya yang masih muda. eh.

        Liked by 1 person

  2. wkwkwkw…. umur berapa tom? aku juga manggil kamu “mas” atau panggil nama hehe.. asal bukan mbak kan?
    di jambi, riau, ke atas, cowo dipanggil abang, cewe kakak, anehnya, di sumsel n palembang khususnya, panggilan kakak tuh buat cowo, kalo cewe “ayuk”
    yup, istri orang ambarawa, deket sm museum kereta api 🙂
    udah pernah kesana?

    Liked by 1 person

    • Panggil saja tom, mas. Yang lain juga manggilnya tom kok. Yang pasti masih di bawah 25 tahun kok, mas (atau jangan-jangan usia kita sama, tapi kamunya yang nikah muda? #sinetron)

      Owh, begitu. Catet! Cuma kadang mikirnya ‘Mas’ itu dah nasional, meski yg nggak biasa dipanggil mas jatuhnya awkward. hahaha.

      Pernah ke Ambarawa, tapi pengen ke sana lagi. Soalnya, baru punya kamera yang agek cakepan (dikit), jd rasanya ingin mengawali petualangan baru lagi *halah.

      Liked by 1 person

  3. sip tom, itu foto di profil waktu aku mantenan 5 tahun yg lalu pas umur 23 hehe.. keliatan masih muda yah wkwkwk #dikeplak

    ow, kemaren kemana aja di ambarawa?sekarang ada wisata baru buat lihat rawa pening dr puncak bukit, namanya goa rong di tuntang sm eling bening

    hehehe…iya, kalo sempat aku survey nama panggilan bapak,ibu,mas,mba di suatu kota, sm kata2 kotor daerah itu hahaha.. ya jaga2 aja mana tau diusilin sm temen :p

    Liked by 1 person

    • Masih Rawa Pening dan Museum doang kok, mas, kapan-kapan tak ke sana lagi dengan lebih intens.

      Hooh, avatarnya ngibul banget mas, hahaha. Tak apalah, yg penting jiwanya masih muda membara. azeeek.

      Ide bagus tuh, kadang mereka suka usil gitu memang. (mereka siapa??) 😀

      Like

  4. Borobudur selalu membuat gw jatuh hati, meskipun sudah datang 9x tetep aja ada cerita.

    Aku pernah 4 hari berturut2 datang ke borobudur tiap sore menjelang tutup, ditemani gerimis dan teh panas, cuman duduk di pojokan memandang meagh nya borobudur dan aku menemukan kedamaian

    Liked by 1 person

  5. Awalnya aku sempat mikir, kenapa itu orang-orang kok pada payungan gitu naik ke atas Borobudur, kelihatannya gak panas-panas banget di fotonya. Oalaaah ternyata lagi hujan tho?

    Mungkin asik kali ya menyusuri Borobudur di kala hujan gitu. Soalnya jarang-jarang aja aku dengar cerita orang yang menyusuri candi di kala hujan. Asal gak lagi banyak petir aja. Soalnya khan di bagian atas cukup tinggi.

    Liked by 1 person

  6. jadi ingat beberapa tahun yang lalu mencoba hal baru dengan naik kendaraan umum dari jogja menuju Borobudur, pulangnya harus berjubel dengan para penumpang termasuk bule perempuan yang terlihat kepanasan dan berjubel karena ini merupakan angkutan alias bis terakhir yang menuju jogjakarta hehehe

    Liked by 1 person

  7. kribolover says:

    Pas banget lagi cari2 info ini hehehe.. Postingannya sangat bermanfaat!
    makasih udah share dan Salam dari Palangkaraya, kunjungi juga blog cemilan bukan-bukan, bukan keripik bukan kerupuk tapi gurih renyahnya bukan main-main.
    Info order, reseller, dropship dan agen kontak via WA ke 082250295001 (mas tras)
    http://www.sikribo.id

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s