Buah Iseng Naik GoJek Malang

409083_620

Ilustrasi GoJek Malang ©tempo.co

Sedikit cerita tentang kesan yang saya dapat usai iseng naik GoJek di Malang Raya.

Pernah naik GoJek? Bagi kalian yang berdomisili di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, mungkin pernah mencobanya. Kebetulan, saya pernah mencoba GoJek di dua kota besar tersebut. Menurut saya kehadiran ojek online ini cukup membantu.

Terlebih waktu itu, posisinya saya sebagai ‘tamu’ di kota orang dan butuh akses transportasi yang lebih lapang di tengah rapetnya macet jalanan. Dengan naik GoJek, ternyata saya nggak sampai telat. Semua agenda penting pun tak sampai terbengkalai.

Saya lantas berpikir, “Andai saja GoJek ini bisa hadir lebih merata di semua kota di Indonesia?” Pasti orang-orang yang demen transportasi publik bakal lebih bahagia, karena ada banyak moda transportasi yang bisa dipilih.

Ternyata, angan saya tersebut akhirnya terkabulkan saat GoJek mulai melakukan ekspansi ke lebih banyak kota. Salah satunya adalah Malang pada pertengahan Mei 2016.

Hadirnya GoJek di Malang lumayan membawa angin segar. Walau masih sebatas percobaan, tampaknya masyarakat cukup antusias menyambutnya. Terbukti dengan banyaknya mitra GoJek yang seliweran pagi-siang-malam sambil membonceng penumpang.

Muncul Keinginan Untuk Coba-Coba

“Kira-kira sama nggak, ya, GoJek Malang dengan GoJek-GoJek di kota lain?” Pertanyaan ini terus gentayangan, karena saking seringnya melihat GoJek Malang mulai seliweran.

“Tapi, mau ke mana, ya?”, lantas pertanyaan ini juga ikut bergolak di kepala. Dipikir-pikir ada benarnya juga sih. Kalau naik GoJek hanya dari rumah ke tempat kerja, terlalu dekat. Nggak sampai 15 menit paling sudah sampai. Mana bisa ambil kesannya. Mau muter-muter, jalan di Kota Malang, ya, itu-itu aja. Adanya, buang-buang duit tanpa ada tujuan.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Kenapa nggak manfaatin GoJek buat nangkep Pokemon aja?” Tiba-tiba ada teman yang balik bertanya, saat saya bertanya kepadanya.  Ide cemerlang sih, tapi, hape saya masih nggak support game berbasis Augmented Reality tersebut. *sedih*

Sampai akhirnya muncul ide untuk pergi ke Kepanjen. “Nggak ada tempat lain yang lebih kece gitu yang bisa kamu datengin? Batu kek?” Sanggah teman saya.

Pasalnya, Kepanjen memang bukan tempat wisata. Daerahnya jauh di Malang Selatan sana. Sudah bukan wilayah kota pastinya. Namun, saya tetap keukeuh menjajal GoJek buat ke sana. Sekalian silaturahim ke rumah teman, karena sudah lama diminta main ke sana.

Waktunya Tiba!

Setelah menemukan hari yang pas, akhirnya saya bersemangat untuk memesan GoJek kali pertamanya di Malang. Dan… jreng… jreng. Justru notifikasi begini yang muncul.

Screenshot_2016-07-16-15-18-29

Rupanya, saking semangatnya, saya sampai abai jika batas maksimal jarak yang bisa ditempuh GoJek dalam sekali order adalah 25 km. Sementara jarak minimalnya agar bisa order adalah 6 km. Dan, dari Araya ke Kepanjen, jaraknya 26 km lebih. Pantes ditolak aplikasinya!

Di tengah sibuk utek-utek menentukan starting point di Google Maps, tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara klakson angkot ke arah Alun-Alun Malang. Aha! Ketemulah starting point yang pas!

Melipir ke Angkot Dulu

Duit 50 ribu dengan 4 ribu di tanggal tua jelas kentara banget bedanya. Sama-sama menuju Alun-Alun Malang dengan jalanan macet, akhirnya saya pilih yang murah, 4 ribu aja naik angkot.

Nah, pas berhenti di lampu merah, saya yang kebetulan duduk menghadap ke jalan, karena kursi di dalam penuh ibu-ibu, nini-nini dan anak-anak, tak sengaja melihat mitra GoJek yang sedang transaksi dengan penumpangnya.

“Naik GoJek itu sebenarnya rugi, kalau dipikir-pikir.” Tiba-tiba seorang yang saya kira penumpang, ternyata kernet di samping saya, bicara. Mulanya saya nggak paham, si kernet pro atau kontra dengan GoJek. Tapi, karena tertarik dengan maksud perkataannya, saya lalu iseng melempar tanggapan. “Kok bisa, pak?”

“Iya, per kilo aja dikenai dua setengah (Rp 2500,- /km). Misal 10 kilo, kan sudah bisa kelihatan tuh berapa.”

“Iya, mirip taksi ya, pak.”

“Tetap saja rugi kalau menurut saya. Bandingkan dengan angkot, 4 ribu aja sudah sampai,” si kernet mulai ngotot.

“Tapi, kan sampainya lebih cepat, pak. Nggak sampai terkena macet,”sedikit agak ngotot.

“Halah, kalau sekarang nggak mau macet, ya, berangkatnya lebih pagi. Kalau pulang kan memang jam kantor, jalan pasti penuh. Paling-paling yang naik GoJek juga terjebak macet.”

Dipikir-pikir omongan si kernet ada benarnya. Semakin pagi berangkat kerjanya, semakin cepat pulangnya. Bebas macet lagi. Dah, hanya ini ‘quote’ yang saya ambil dari si kernet.

Selebihnya, hanya berupa curhat si angkot yang kalau saya ladenin berpotensi perang otot. Akhirnya, saya hanya manggut-manggut sambil senyum garing bak Walikota yang mendengarkan keluh-kesah warganya.

Untung, Alun-Alun Malang sudah di depan mata, jadi saya bisa menyudahi sesi curhat ini bareng si kernet.

Akhirnya, Naik GoJek Malang!

Tepat di depan Gereja Kayutangan, saya order kembali GoJek dengan tujuan sama, Kepanjen. Kali ini order diterima. Tak berselang lama, mitra GoJek pun datang menghampiri. Sekilas saya jadi keinget Dodit di serial OK-JEK.

Seperti dugaan saya, GoJek memang belum sepenuhnya populer di Malang. Begitu saya pakai helm GoJek dan mulai jalan, hampir setiap pasang mata, baik di trotoar maupun di jalan raya saling memandang kami. Untung saya pakai masker, jika tidak, pas ketemu orang yang saya kenal terus diteriaki sambil dadah-dadah, bisa tujuh rupa tensinnya.

Screenshot_2016-07-16-16-45-27

Saya pikir hanya dilihatin pas baru naik dan jalan saja, eh, nggak tahunya sepanjang jalan kenangan dilihatin terus-menerus. Akhirnya, agak sedikit usil saya manggut-manggut sok ramah ke kiri dan ke kanan kayak presiden yang menyapa rakyatnya di pinggir jalan.

Masuk ke Kepanjen, perhatian ternyata makin menggila. FYI, Kepanjen merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Malang. Jika dihitung-hitung, lebih banyak yang melihat kami daripada yang cuek membiarkan kami lewat selayaknya bapak dan anak. *apasih*

Dan, kian mengejutkan, karena setelah lama diam, si Dodit, eh, driver GoJek akhirnya bicara. “Ini kali pertamanya ada order GoJek tujuan luar (baca: kabupaten) Malang, mas.”

What?!! Pantes, jadi GR sendiri dari tadi dilihatin orang terus. Kirain sayanya yang ganteng – padahal pakai helm + masker. “Tapi, GoJek melayani Malang Raya kan, pak?”

“Iya, kok, mas. Cuma, mas Tomi ini yang pertama booking untuk tujuan di luar kotamadya.”

“Wah, saya dapat apa, pak?”

“Dapat apanya, mas??”

“Kan, dah bantu promosi sampai ke Kepanjen lho.”

“Oooh, dapat terimakasih, mas.” Terus si driver jawabnya datar standar tanpa terdengar senyum. Ngeflat mirip Dodit!

BTW, terpilihnya Kepanjen sebenarnya adalah faktor kesengajaan. Saya memang ingin melihat langsung bagaimana reaksi masyarakat saat GoJek yang biasanya mereka lihat di TV atau baca di koran, kini melintas di daerah mereka. Dan, betul saja, sebagian besar masyarakat di Malang (dari kotamadya hingga kabupaten) masih K-A-G-E-T.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Namun lebih dari sosoknya yang mirip Dodit atau Mas Mul di serial OK-JEK, si driver yang domisilinya di Pakis ini, memberikan pelayanan yang cukup memuaskan. Seperti memberitahu bila GoJek mengutamakan safety riding, memberikan masker dan penutup kepala, serta mengajak ngobrol dengan penuh keramahan.

Lelaki berusia 50 tahun tersebut juga mengaku, bila sejak dirinya gabung dengan GoJek perekonomian keluarganya menjadi lebih baik. Bahkan, beberapa anaknya juga gabung jadi mitra GoJek. Sebagai bentuk apresiasi, ‘5 bintang’ yang selalu dinanti-nanti para mitra akhirnya saya berikan deh cuma-cuma, tanpa kompromi. Well, sejak kemunculannya GoJek memang selalu jadi fenomena.

Screenshot_2016-07-16-17-38-36 sensor

Yang jelas dari iseng-iseng ini pertanyaan saya jadi terjawab. Nggak di kota besar, nggak di kota kecil, sebenarnya mitra atau driver GoJek sama saja. Perkara, ramah-tamah bergantung dari watak dan pribadi masing-masing. Satu lagi, yang membuat fenomena Gojek Malang nggak beda dengan fenomena GoJek Jakarta, Surabaya atau mungkin di kota besar lainnya: jadi nilai positif bagi mereka yang bisa ambil manfaatnya dan jadi sumber nyinyiran bagi mereka yang lebih memandang sisi negatifnya. Sekian.

Advertisements

14 thoughts on “Buah Iseng Naik GoJek Malang

  1. helo mas Iwan Tantomi. saya dan teman-teman berencana backpackeran ke Malang dan Batu bln Maret ini. Nah, mobilisasi kami akan bergantung pada angkot dan Go-Jek. Dan saya mencaricari info soal ini blm ketemu-ketemu. Apakah mas tau, operasi Go-Jek di Malang dan Batu itu sampai jam berapa ya mas biasanya? dan apakah ada Go-Car?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s