Ketemu Lee Min-ho di Alun-Alun Malang

DSCN3070

Ketemu Lee Min-ho di Alun-Alun Malang [Fotografer: Iwan Tantomi]

Datang ke alun-alun saat akhir pekan atau hari libur mungkin pemandangannya sudah biasa. Begitu pula saat malam hari di mana banyak orang ingin bersantai sekadar melepas lelah. Apalagi, belakangan Alun-Alun Kota Malang sudah banyak berbenah, sudah direnovasi menjadi lebih eco-friendly. Bukan hanya lebih bersih, beragam kursi taman dan instalasi unik baik lampu taman, spot berfoto hingga air mancur bercahaya, turut melengkapi wajah baru Alun-Alun Kota Malang. Meski begitu, akhir pekan dan malam hari bukanlah waktu yang tepat untuk mengusir penat di sana.

Bukannya bikin rileks, banyaknya masyarakat yang sama-sama ingin mengusir penat dan tumpah-ruah di alun-alun, membuat kenyamanan yang semestinya bisa diperoleh di taman kota ini agak berkurang. Bahkan, duduk di kursi taman saja kudu siapa-cepat-dia-dapat. Terlebih alun-alun yang di bagian porosnya ada arena yang melingkari air mancur ini juga dilengkapi free Wifi. Sontak, mulai bapak-ibu yang sekedar leha-leha, anak-anak yang berlarian di jogging track, ABG selfie sambil injak-injak rumput, pasangan kasmaran hingga mahasiswa yang berburu koneksi gratisan pun tumplek-blek berjamaah.

This time is different!

Namun, gara-gara batal menyaksikan Cap Go Meh di Eng An Kiong kemarin (22/2), tanpa sengaja langkah kaki saya justru mengarah ke alun-alun. Jarang-jarang bisa melihat Alun-Alun Kota Malang lengang begini. Ada sih beberapa orang, namun cukup ideal untuk takaran jumlah pengunjung. Nggak perlu berebut duduk di kursi taman, nggak perlu dusel-duselan di arena untuk melihat air mancur, juga bisa bebas menyusuri jogging track sambil kasih makan burung dara.

DSCN3044

Awal pekan, pagi hari, kondisi Alun-Alun Malang cukup lengang pas buat relaksasi [Fotografer: Iwan Tantomi

Momen awal pekan tampaknya memang jadi waktu yang pas untuk sekadar rileksasi dan menghirup segarnya udara pagi di pusat Kota Malang ini. Pengunjung pun bisa mendapatkan kenyamanan maksimal, mengingat Senin jam 7 hingga 8 pagi adalah waktu sibuknya kebanyakan orang memulai rutinitasnya. Sementara saya… masih bisa santai sejenak, sebelum jam kantor dimulai. Hitung-hitung pengobat kecewa lantaran gagal menyaksikan Cap Go Meh tahun ini.

Find the Location!

Berhubung saya sudah di TKP, nggak afdol rasanya jika nggak jeprat-jepret sana-sini untuk ‘membungkus’ semua sisi Alun-Alun Malang dalam kemasan tulisan. Lagian, kapan lagi dapat kesempatan ke sini secara ekslusif tanpa perlu antre sampai disenggol-senggol pengunjung lain hanya untuk memotret? Baiklah, mula-mula saya akan menjelaskan bagaimana rute termudah menuju ke sini. Kalian bisa mengamati rutenya di peta sembari saya jelaskan.

Jika starting poin dari Terminal Arjosari, kalian yang dari luar Malang bisa langsung naik angkot trayek Arjosari-Gadang (AG). Penumpang bisa turun di depan Mall Sarinah. Tepat di seberang jalan adalah Alun-Alun Kota Malang. Jika arus lalu-lintas sedang padat atau ragu menyeberang di zebra cross karena khawatir tertabrak, bisa pilih jalan aman menaiki Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di sebelahnya.

Sementara dari Terminal Landungsari, ada lebih banyak angkot yang menuju ke Alun-Alun Kota Malang. Mulai trayek Landungsari-Dinoyo-Gadang (LDG), Gadang-Landungsari (GL) dan Landungsari-Gadang (LG). Semuanya tepat turun di depan Alun-Alun Kota Malang. Untuk memudahkan bagi yang nggak terbiasa naik angkot, bisa bilang ke supirnya ‘turun di Alun-Alun Kota Malang’. Nanti, supir akan memberitahukan bila sudah sampai.

Sedangkan yang membawa kendaraan pribadi dari arah Arjosari tinggal lurus menyusuri Jalan Ahmad Yani, tembus Jalan Letjend S. Parman dan Jalan Gempol-Malang, hingga sampai di Alun-Alun Kota Malang parkir kendaraan di Jalan Merdeka Barat (depan Masjid Jami Kota Malang). Jika dari arah Landungsari, lurus ke arah Universitas Brawijaya bablas Jalan Mayjend Panjaitan, sampai bundaran lurus ke arah Jalan Besar Ijen, belok kiri ke arah Jalan Kawi, lurus ke Jalan Arif Rahman Hakim, lampu merah belok kanan Jalan Merdeka Barat: Alun-Alun Kota Malang.

Alun-Alun Kota Malang (Before)

Alun-Alun Kota Malang boleh dibilang cagar budaya sekaligus bukti arsitektural kolonial yang masih ada di Malang, di samping bangunan di sekitarnya, seperti Gereja Immanuel, Masjid Jami Malang dan Pertokoan Sarinah. Sebelum dipugar, alun-alun ini boleh dikatakan banyak sampah dan kurang terawat. Pedagang Kaki Lima (PKL) juga menjamur. Bahkan, minimnya penerangan, membuat beberapa pojokan bangku taman – yang terbuat dari beton, kerap dijadikan tempat mojok atau melakukan hal tak pantas oleh segelintir oknum masyarakat yang kurang bermoral.

DSC04154

Panorama Alun-Alun Malang di masa lalu [Fotografer: Iwan Tantomi]

Saya yang merantau di Malang sejak 2006 untuk sekolah SMA, cukup beruntung masih bisa mengetahui jelas bagaimana wajah lama Alun-Alun Kota Malang. Selain banyak ditumbuhi pepohonan beringin berusia lanjut alias berusia puluhan hingga ratusan tahun, di alun-alun lama juga mudah dijumpai PKL-PKL yang menjajakan beragam jajanan. Yang paling saya favoritkan dulu selain es puter dan cilok daging adalah jagung bakar dan kerak telornya. Tapi, gara-gara banyak PKL yang berjualan di dalam alun-alun, kondisinya jadi jorok.

Di samping itu, masih banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan, bahkan PKL juga kadang meninggalkan sampah dagangannya begitu saja. Bukan saja PKL makanan, mulai penjual sticker, jam tangan, kalender, penjual perlengkapan ibadat salat dan parfum hingga tukang topeng monyet pun ada. Ramai sudah barang tentu, terlebih saat sore-malam hari dan akhir pekan. Soal parkir juga kurang terkoordinasi. Banyak parkir liar dan cenderung merusak taman-taman di alun-alun.

Letak air mancur yang dikelilingi arena melingkar di bagian tengah, sebenarnya juga bagian dari wajah lama Alun-Alun Kota Malang. Tapi, air mancurnya sering mati dan berpagar tinggi karena rawan diceburi anak-anak. Airnya juga berlumut dan tampak beberapa sampah plastik mengapung di dalamnya. Selain itu, diameter amphitheater-nya juga lebih sempit dan posisi air mancur lebih menjorok ke bawah jika dibandingkan yang sekarang.

DSC04150.JPG

Air mancur dan amphitheater sudah ada di Alun-Alun Malang lama [Fotografer: Iwan Tantomi]

Perihal burung dara, sepertinya memang dari dulu sudah dipelihara oleh Pemkot Malang. Tapi, di alun-alun lama posisi bangkunya kebanyakan di bawah pohon dan rumah-rumah burung dara. Akibatnya bangku di alun-alun kerap kejatuhan feses burung dan nggak bisa diduduki. Kendati alun-alun yang bernama asli Alun-Alun Merdeka ini tampak merakyat waktu itu, tapi tetap secara umum penampilannya kurang begitu menarik dan perlu penyegaran. Bahkan tampak terkesan suram apabila dibandingkan Alun-Alun Tugu, apalagi Alun-Alun Kota Batu.

Alun-Alun Kota Malang (After)

Tepatnya 17 Juni 2015, wajah baru Alun-Alun Kota Malang setelah beberapa bulan direnovasi akhirnya resmi dikenalkan ke publik. Kesan menarik sudah pasti, karena Pemkot Malang berhasil menyulap wajah ‘suram’ alun-alun menjadi lebih ‘ceria’. Ternyata, beberapa pepohonan besar nan rimbun, seperti pohon mangga dan beringin dipindahkan. Ada pula yang ditata penanamannya, sehingga nggak lagi menggerumbul di satu tempat dan sinar matahari bisa lebih mudah menyinari.

DSCN3043.JPG

Alun-Alun Malang yang baru memiliki kontur rata dan sejajar jalan serta landscape baru yang lebih segar dan menarik [Fotografer: Iwan Tantomi]

Yang menarik, kontur alun-alun yang baru dibuat lebih rata – sejajar jalan raya. Kolam air mancur berpagar di alun-alun lama, dihilangkan, diganti dengan air mancur yang lebih atraktif. Air mancur di alun-alun ini nggak aktif sepanjang hari, hanya pada jam-jam tertentu saja. Rata-rata rentangnya hanya satu jam, yaitu jam 7-8 pagi, 4-5 sore, 7-8 malam serta 9-10 malam. Waktu terbaik untuk melihatnya adalah malam hari, karena air mancur bakal memuncratkan airnya dengan beragam cahaya warna-warni.

Di sekeliling air mancur, dibikin arena berbentuk amphitheater berundak tiga. Pengunjung pun menjadi lebih nyaman saat menikmati atraksi air mancur maupun burung-burung dara yang beterbangan di sekitarnya. Dibandingkan arena lama, diameter amphitheter ini lebih luas, sehingga memberi kesempatan lebih banyak pada pengunjung yang ingin duduk. Di luar poros arena, jogging track diperbanyak dengan tambahan bangku taman dari baja yang cantik.

Selain kontur yang rata, konsep green living yang diusung Pemkot Malang untuk mempercantik wajah baru alun-alun ini patut saya acungi jempol. Sebagian besar, bagian tanahnya ‘dilapisi’ rumput, sehingga tampak hijau nan sejuk saat dilihat dari jauh. Ketika duduk dibangku taman, rasanya juga jadi lebih segar dan menyejukkan mata. Hanya area jogging track dan bagian tengah arena saja yang dilapisi beton dan paving.

DSCN3059.JPG

Nggak perlu adu cepat duduk di kursi taman, jika datang ke Alun-Alun Malang di pagi hari [Fotografer: Iwan Tantomi]

Menariknya lagi, konsep green living juga diterapkan secara edukatif, yaitu dengan mengajak pengunjung alun-alun nggak menginjak rumput dan membuang sampah di tempatnya, sesuai jenisnya. Soal PKL, Pemkot Malang melarang berjualan di dalam alun-alun. Selain demi alasan kebersihan, juga untuk menjaga keindahan dan kenyamanan bersama di taman kota ini. Bahkan, jika ada PKL yang masih nakal berjualan di alun-alun, langsung digerebek Satpol PP yang siaga berjaga di sekitar alun-alun.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, awal pekan di pagi hari adalah waktu terbaik untuk menikmati udara segar sekaligus berkeliling sepuasnya di Alun-Alun Kota Malang. Ada banyak instalasi unik yang dipasang, seperti lampu penerangan yang dibikin beda dari lainnya, area khusus bermain skateboard, hingga petak rumput yang sengaja dibikin  berderet di sebelah barat alun-alun. Tujuannya, agar bisa dimanfaatkan untuk Salat Ied kala daya tampung Masjid Jami sudah tak mencukupi.

Meet up with Lee Min-ho

Demi menarik minat masyarakat, renovasi yang dilakukan Pemkot Malang tampaknya nggak sebatas modernisasi. Ada banyak spot berfoto yang instagramable bisa dijumpai di sini. Mulai etalase seni serupa bidak catur, amphitheater yang dibikin seperti bunga raksasa jika dilihat dari atas, tulisan ‘ALUN-ALUN MALANG’ yang super gede, tanaman gantung hingga 3D art background untuk berfoto unik. Di tengah-tengah membidik angle yang berbeda, tiba-tiba fokus mata saya terarah ke baliho yang bintang iklannya nggak biasa!

Weik, ada Lee Min-ho! langsung refleks terkesiap. Bukannya saya demen selebriti Korea, cuma tampilan baliho di Alun-Alun Kota Malang itu, jarang-jarang ada tempelan orang Koreanya. Biasanya kan kalau nggak bule, ya, selebriti lokal yang itu-itu aja. Kalau iklan produk kopi yang dibintangi Lee Min-ho-nya saya sudah tahu dari YouTube dan TV. Hanya, nggak nyangka aja, muka Lee Min-ho yang biasanya saya temui di internet, akhirnya mejeng segede baliho di dekat Alun-Alun Kota Malang.

DSCN3098

Tampil beda: Baliho Lee Min-ho di Alun-Alun Malang [Fotografer: Iwan Tantomi]

Meski bagi kebanyakan orang baliho itu nggak begitu penting diperhatikan lama-lama, tapi saya justru punya pemikiran berbeda. Siapa tahu usai menjepret dan mengulasnya di sini, fotonya langsung viral, memikat banyak turis berkunjung ke Malang. Siapa tahu juga viralnya sampai Korea dan diketahui si Lee Min-ho, kemudian bisa mengundang animo orang Korea untuk berbondong-bondong ke Malang untuk menikmati… baliho? Ya nggaklah, tapi untuk melihat langsung Alun-Alun Kota Malang. Siapa tahu?

6 thoughts on “Ketemu Lee Min-ho di Alun-Alun Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s