Ah, Bintan!

DSC03080

Ah, Bintan – Bangunan bekas terminal lama dan menara ATC Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang [Hak Milik Foto: Iwan Tantomi]

“Welcome to Raja Haji Fisabilillah International Airport”

Mendengar kru pesawat menyampaikan atensi tersebut, seketika dalam hati saya tersulut kata, “Sure???!”. Ini Nevada atau Bintan, begini amat? Bukan tanpa alasan, melihat dari jendela pesawat, ketika akan landing yang tampak hanya daratan merah bata, mirip atau mungkin lahan hasil pembukaan hutan sungguhan. Dari atas pesawat tampak pula ceruk kecil bekas galian yang terisi air genangan – yang saat dilihat dari dekat ternyata mirip sebuah danau. Ah, sudahlah, mungkin makna Internasional di sini agak berbeda dengan Internasional yang tersemat pada Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng. Yang penting, saya sudah mendarat dengan selamat di Bintan.

Bintan, salah satu bucket list yang saya idam-idamkan akhirnya benar-benar di bawah pijakan saya. Sesuai ekspektasi dari baca informasi sana-sini, Bintan ternyata sangat panas dan gersang. Keluar dari pesawat ubun-ubun seolah sudah berubah jadi otak kukus, saking panasnya. Terlebih saat mendarat di bandara – yang katanya – internasional ini, pesawat yang saya tumpangi adalah satu-satunya pesawat yang mendarat. Selebihnya, tanah lapang yang tak lain apron bandara. Di depannya terdapat bangunan satu lantai berjajar memanjang mirip kios bertuliskan ‘Bandara Raja Haji Fisabilillah’ di atapnya yang terbuat dari genting dan seng. Sepertinya, bekas terminal bandara, namun sekarang sudah tidak difungsikan lagi.

DSC03079

Cuaca yang sangat terik, membuat penumpang berhamburan mencari peneduh setelah turun dari pesawat [Hak Milik Foto: Iwan Tantomi]

Lucunya, karena menunggu jemputan bus bandara, usai turun dari pesawat semua penumpang berhamburan mencari peneduh akibat panas yang menyengat ubun-ubun. Beberapa menit berikutnya, bus bandara satu-satunya akhirnya datang menjemput ke terminal baru bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang. Sekadar informasi: dari Malang sampai Bintan, saya memilih solo traveling, setelah mengajak teman nggak ada yang sanggup mengeluarkan duit. Sekalinya ada, maunya minta gratisan. Lha, memang bapaknya?

Dari sekian perjalanan yang saya lakukan, solo traveling memang sering jadi pilihan terakhir jika tidak ada yang sreg saya ajak jalan bersama. Lagian, solo traveling bagi saya banyak nilai plusnya, seperti tak perlu saling menunggu, tak perlu gontok-gontokan untuk menentukan destinasi dan berkesempatan untuk kenal banyak orang. Nah, untuk poin yang terakhir itulah yang membuat saya selalu berani jalan-jalan sendiri. Sebab, saya selalu yakin, setiap perjalanan selalu menghasilkan pertemanan, selain kesan dan pengalaman.

DSC03091

Sekalipun kecil, Infrastruktur bandara di Tanjung Pinang cukup bersih dan kental nuansa modernnya [Hak Milik Foto: Iwan Tantomi]

Kembali ke Bandara Raja Haji Fisabilillah. Sekalipun ukurannya termasuk mungil, namun modernitas cukup kentara dari bangunan terminalnya. Gate-nya saja cuma dua, sehingga saya pun nggak perlu sampai mengalami penyakit ‘kesasar di bandara’ yang baru pertama kali saya kunjungi. Pintu keberangkatan dan kedatangan juga melewati arah jalan yang sama, mau keliling bandara sekalipun, dijamin tetap bisa keluar dengan mudah dan nggak perlu lama-lama. Kondisi bandara cukup bersih, pelayanannya juga sopan. Hanya, bandara ini agak lucu, saat saya mau check-in balik untuk pulang.

Nggak seperti bandara besar yang buka 24 jam, Bandara Raja Haji Fisabilillah baru buka jam 6 pagi. Sementara pegawainya baru berbondong datang sejam atau 30 menit sebelum jam buka. Sontak, saya yang biasanya tertib mengikuti prosedur check-in, hanya disambut krik-krik saat tiba di bandara jam 3 pagi untuk check-in balik ke Jakarta. Bahkan, lampu bandara mati kecuali lampu teras. Padahal, keberangkatan saya jam 7 pagi, jadi waktu check-in dan boarding di bandara ini singkat-singkat saja. Mungkin karena nggak terlalu banyak rute penerbangan, sehingga proses administrasi pun dilakukan dalam waktu singkat dan mepet layaknya di terminal bus.

Kali pertama tiba di Tanjung Pinang, saya akhirnya disambut dengan teman saya yang melambai-lambaikan tangannya di bandara. Saya pikir dia sendirian, ternyata rombongan. Mulanya saya agak GR dan nggak enak sendiri dijemput banyak orang begini, nggak tahunya mereka baru mengantarkan rekan SM3T-nya yang balik ke Jakarta. Yaelah, saya dapat sambutan sisa-sisa ternyata. Tapi, karena hal yang kebetulan ini, saya pun jadi dapat tumpangan gratis dari bandara plus penjelasan sepanjang perjalanan dari mereka yang mendadak jadi tour guide saya.

saya selalu yakin, setiap perjalanan selalu menghasilkan pertemanan, selain kesan dan pengalaman.

Selain jemputan, saya juga kaget, karena pas baru sampai bandara, langsung disodori makanan khas Bintan, otak-otak. Sejenis adonan ikan yang dimasak dengan bumbu merah, semacam campuran kunyit, cabai merah dan beberapa rempah, dibungkus pakai daun kelapa dan distapler! Meski namanya otak-otak, jangan samakan dengan otak-otak khas Sidoarjo atau Gresik dari ikan bandeng yang gede-gede plus berasa banget campuran parutan kelapanya. Di Bintan, otak-otak dikemas kecil-kecil dan lebih sering dijadikan camilan. Bahannya pun bukan lagi ikan bandeng, melainkan ikan laut dan sotong.

Hal yang tidak bisa saya lupakan, bukan karena saya langsung disodori otak-otak satu kresek sekilo. Tapi, asal-muasal otak-otak itu sampai terbawa di bandara. Ceritanya, teman mereka yang mau balik ke Jakarta itu, mau bawa oleh-oleh otak-otak. Ternyata, otak-otak yang dipesan nggak kunjung datang hingga waktu keberangkatan tiba. Ketika dia sudah terbang, eh, otak-otaknya baru sampai bandara. Akhirnya, mereka cemilin sendiri sembari menunggu saya. Mereka pun masih sempat-sempatnya bikin dagelan, jika otak-otak itu spesial dibelikan buat saya. Saya pun pura-pura takjub walau tahu kegaringan mereka, tapi serius, otak-otaknya enak.

Setelah lumayan lama menyusuri jalanan, saya baru sadar jika sejauh mata memandang hanya ada jalanan aspal yang mulus dengan sepadan yang mirip tanggul di kiri-kanan jalan. Sementara, tanahnya berjenis endosol yang berwarna merah bata. Paduan langit yang biru, membuat kontras pemandangan langit dan bumi, namun tampak begitu serasi. Sesekali melewati hutan, jembatan yang membelah selat kecil serupa sungai berair asin dan beberapa bukit di mana puncak tertingginya yang nggak sampai 400 meter dianggap gunung oleh masyarakat Bintan.

Sebuah lanskap baru dan menyejukkan mata bagi saya yang setiap harinya selalu dihadapkan pemandangan gedung jangkung perkotaan. Udara bersih begitu tercium kesegarannya dari mobil yang kebetulan dibuka jendelanya. Padahal, ini masih di jalan dari bandara dan seminggu ke depan saya bakal betah menjelajahi satu per satu tempat menariknya. Ah, Bintan, tak salah masuk dalam bucket list idaman!

9 thoughts on “Ah, Bintan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s