[Bukan] Rawon Setan

Rawon Setan

[Bukan] Rawon Setan

Pernah nggak mendengar kalimat begini, “Kurang Lengkap Pergi Traveling Sebelum Mencicipi Kulinernya?” atau kalau nggak, yang mirip seperti itu. Asas ‘kurang lengkap’ tersebut ternyata saya alami setiap kali mengunjungi suatu tempat. Rasanya memang kurang mantap, jalan-jalan tanpa mencoba beragam kuliner khas daerahnya. Nggak terkecuali saat pergi ke Surabaya kemarin (14/11).

Maksud kunjungan saya kemarin di Surabaya, sebenarnya bukan murni jalan-jalan, melainkan ada urusan pekerjaan. Saya diminta meliput salah satu event yang dilaksanakan di tengah acara Car Free Day Jalan Darmo Surabaya. Karena datang ke Surabaya sehari sebelum acara, malam harinya saya putuskan untuk jalan-jalan di sekitar Jalan Darmo.

Mulanya hanya niat iseng jalan-jalan, tapi karena ingat belum makan malam dan genderang perut keroncongan sudah mulai berdendang, maka saya putuskan untuk sekalian mencari makan malam. Dari Jalan Darmo terus berkeliling mengitari gedung-gedung jangkung di pusat Kota Surabaya, sampai tak terasa sudah berada di kawasan Embong Malang.

Berbicara tentang Embong Malang Surabaya, saya jadi ingat, tempo hari pernah mampir di salah satu warung makan. Hanya untuk menikmati semangkuk rawon daging dan nasi, harus antre hampir setengah jam. Rawon di Embong Malang ini bukan rawon biasa. Sebab, dianggap hits hingga menjadi kuliner yang wajib dicicipi saat plesir ke Kota Pahlawan. Benar saja, kuliner rawon yang begitu populer ini tak lain dan tak bukan adalah Rawon Setan.

Saya yang malam itu bareng sama kawan, langsung memutuskan untuk mengisi perut dengan sajian Rawon Setan. Pelan-pelan kami menyusuri jalan, karena lumayan lama nggak melewati Jalan Protokol Surabaya ini. Sampai akhirnya, motor kami berhenti tepat di depan warung kecil yang menempati ruko dengan banner bertuliskan ‘Rawon Setan Bu Sup’.

Rawon Setan Bu Sup 2

Warung Rawon Setan Bu Sup yang sekarang pindah di ruko mirip lorong, lebih sepi dan merakyat (harganya) daripada Rawon Setan sebelah

‘Kok sepi, kok kecil, kok jadi sempit?’, kata-kata itu seketika muncul saat tahu ada yang aneh dengan warung Rawon Setan yang akan saya masuki. Seingat saya, warungnya dulu agak besar dan tulisan ‘Rawon Setan’ cukup jelas terpampang. Tapi, ini kok mendadak jadi sempit. Rupanya, kejanggalan ini juga dirasakan teman saya, yang merasa ada yang berubah dengan warung Rawon Setan ini.

Karena perut sudah terlanjur lapar, saya pun memutuskan untuk mengajak teman saya segera masuk dan memesan. Keraguan saya akan keaslian warung rawon setan ini sempat naik turun. Kalau melihat beragam penghargaan yang ditempelkan di dinding, warung ini memang asli lumbungnya rawon setan. Tapi, kalau melihat kondisi bangunannya yang sempit ditambah pelayannya yang bilang ke saya, “Mau pesan apa, Mas?”, keraguan saya mendadak kambuh kembali.

Lha, sudah jelas namanya Rawon Setan, masa masih ditawari mau pesan apa? Andai saya bilang bebek goreng, memang ada? Setelah saya tengok daftar menunya, isinya memang hanya rawon yang dijual, beserta rekan-rekannya, seperti empal goreng. Biar nggak tambah runyam langsung saja saya pesan dua porsi. Glek! Keraguan saya tentang orisinalitas rawon ini makin menggelegar, saat tahu rawon yang disajikan langsung dicampur sama nasi plus tiga potong daging. Nah lho, kok mirip nasi rawon yang dipinggir-pinggir jalan?

Rawon Setan

Rawon Setan Bu Sup yang sangat sederhana

Keraguan saya tentunya bukan tanpa alasan, sebab pada kunjungan di rawon setan sebelumnya, nasi (bertabur bawang goreng) dan rawon disajikan terpisah dengan ruangan yang lagi-lagi menurut saya lebih lebar dari yang saya duduki saat itu. Tapi, perut yang lapar sejenak menurunkan tensi keraguan saya. Rasa rawon yang enak dengan tiga potongan daging besar yang empuk dan kuah kental dengan citarasa kluek yang kuat, telah membuat saya kembali yakin bila rawon setan ini adalah yang asli.

Hal lain yang juga menimbulkan keraguan pada keaslian rawon setan ini adalah imbuhan nama Bu Sup pada tulisan Rawon Setan. Entah saya yang lupa bahwa tulisan Bu Sup di belakang kata Rawon Setan sudah sejak dulu ada atau baru ditambahkan belakangan, yang jelas agak sangsi membaca plakat bertuliskan ‘Rawon Setan Bu Sup Embong Malang’, lengkap dengan logo ibu paruh baya berkerudung yang tak lain si Bu Sup, yang pada waktu itu menjadi kasir.

Sedap

Karena lapar, jadi nggak begitu peduli ini Rawon Setan asli atau bukan. Untung rawonnya enak, hehe

Selesai menyantap Rawon Setan, yang entah asli atau bukan, saya pun langsung membayar dan melanjutkan jalan-jalan berkeliling Surabaya. Lebih tepatnya menyusuri Embong Malang yang memang searah. Tiba di ‘lampu merah’ perempatan Embong Malang, mata saya terbelalak dengan warung yang ramai dengan mobil dan pengunjung yang tampak mengular, serta lengkap dengan tulisan plakat besar ‘Rawon Setan’!

Memori saya seolah menemukan titik temu, mengingatkan kembali bila warung Rawon Setan itulah yang saya kunjungi sebelumnya. Warung yang agak besar, plus penyajian nasi dengan taburan bawang goreng dan rawon dalam mangkuk terpisah – yang saya ketahui dari banner pilihan menu yang dipasang di pinggir jalan depan warung.

Rawon Setan Mbak Endang 2

Sebagai perbandingan, begini tampilan Rawon Setan depan Hotel JW Marriot Surabaya yang lebih hits ©sittirasuna.com

“Lho, itu warung Rawon Setan-nya?”, seru saya. “Lha, yang kita makan tadi Rawon Setan jenis apa?”, sahut teman saya yang juga sama-sama bengong melihat warung seberang jalan sambil menunggu ‘lampu hijau’. Usut demi usut, baik tanya warga sekitar plus obok-obok wahana Google, warung setan yang dulunya tenda kaki lima yang buka mulai pukul 10 malam, sekarang pindah di ruko kecil mirip lorong, Warung Rawon Setan Bu Sup.

Sementara, yang berada di depan Hotel JW Marriot Surabaya adalah Rawon Setan buatan Mbak Endang, yang konon resepnya sudah turun temurun. Secara popularitas, Rawon Setan Bu Sup memang kalah pamor dengan yang ada di seberang Hotel JW Marriot Surabaya. Tapi, soal citarasa, kuah Rawon Setan Bu Sup lebih nikmat dibandingkan Rawon Setan Mbak Endang. Soal harga juga beda jauh. Rawon Setan Bu Sup mulai Rp 12.000,- per porsi, sementara Rawon Setan yang tenar itu, mulai Rp 25.000,- per porsi.

Namun, terlepas dari mana yang asli dan bukan, kedua Rawon Setan pernah saya coba. Jika Anda termasuk yang belum pernah mencoba dan ada keinginan untuk mencoba Rawon Setan saat berkunjung ke Surabaya, saya rekomendasikan yang Rawon Setan Bu Sup, karena rasanya lebih nikmat, harga terjangkau plus tak perlu antre berjam-jam. Bila penasaran, dua-duanya bisa langsung dihampiri, toh letaknya masih di satu jalan yang sama. 🙂

2 thoughts on “[Bukan] Rawon Setan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s