Trinity: Tokoh Idola Backpacker Sejati

Trinity 2

Trinity saat backpacking ke Kanada [Hak Milik Foto: Trinity Traveler]

Travel is not the destinaton, but the journey!

Kalimat itu saya temukan seusai membaca buku ‘The Naked Traveler’ tulisannya Trinity. Mulanya saya pikir buku tersebut nggak ubahnya buku traveling pada umumnya. Bercerita panjang lebar tentang beragam kisah perjalanan yang umum dikunjungi. Tapi, ada yang beda dengan buku ini. Hampir sebagian besar lokasi traveling yang diulas belum begitu populer, namun mampu membuat takjub setiap pembacanya. Bahkan, buku yang sampul warnanya ngejreng ini, sudah saya anggap serupa ensiklopedia, karena benar-benar memperbarui wawasan saya tentang tempat-tempat menarik, baik di Indonesia maupun seluruh dunia.

Meski sarat informasi disertai fakta-fakta menarik yang nggak banyak diketahui orang, gaya bahasanya yang ringan justru membuat buku ini berbeda dengan ensiklopedia kebanyakan. Trinity mengadopsi gaya tulisan metro-pop yang biasa ditemukan dalam dunia blogging. Gaya tulisan yang ringan, enak dibaca, apa adanya, penuh ketulusan dan sesekali terselip kejenakaan begitu akrab mewarnai tulisannya. Mungkin karena dia seorang travel blogger, jadi lebih luwes bercerita dengan bahasa yang lebih santai.

Salutnya, meski semua informasi perjalanannya disampaikan dengan bahasa yang lebih populer, Trinity nggak lantas memilih padanan kata sembarangan. Hampir semua kata-kata dalam buku ‘The Naked Traveler’ – yang pernah saya baca, bersumber dari KBBI. Bahkan, ada beberapa kata baru yang nggak saya mengerti sebelumnya atau kata-kata yang mulanya saya anggap verbal, justru baku menurut KBBI. Hal ini secara tak langsung dapat menambah khazanah kosa kata berbahasa Indonesia, sekaligus membuat pembaca lebih aktif membuka KBBI untuk memahami kata-kata yang dirasa kurang dipahami.

Namun, sekali lagi buku ini bukanlah ensiklopedia atau jurnal perjalanan ilmiah yang bakal membuat bosan setiap pembacanya. Pengemasan yang apik dengan bahasa yang lebih populer, dijamin mampu menghibur sekaligus mengedukasi pembaca. Terlebih, sejak awal apa yang dituliskan di buku ini merupakan sebagian besar cerita yang sudah lebih dulu ditulis Trinity di blog pribadinya, naked-traveler.com. Jadi, seolah berbagi cerita ngeblog dalam bentuk cetakan buku. Sesuatu yang baru dan beda, tak heran bila Trinity dianugerahi Indonesia’s Leading Travel Writer dalam Indonesia Travel & Tourism Awards 2010. Bahkan, Jakarta Post menyebutnya sebagai Heroine for Indonesia Tourism. Keren banget bukan?

Iya, baru kali ini saya membaca buku traveling yang benar-benar beda. Selain penulisan yang menarik, gaya bahasa yang asyik, ulasan yang informatif, plus prestasi penulis travel yang luar biasa, ada perbedaan lain dari ‘The Naked Traveler’ dengan buku travel lain, yang membuat saya merasa sama dan ingin menjadi seorang Trinity. Benar, nama Trinity di sini bukanlah nama asli penulisnya, melainkan nama pena sekaligus tokoh utama dalam setiap cerita di buku ‘The Naked Traveler’. Namun begitu, orang sudah mengenal sosok asli penulis buku ini sebagai Trinity.

Begitu halnya dengan judul buku yang tak lain nama blognya, ‘The Naked Traveler’. Sekilas membacanya, bisa jadi orang akan beranggapan bahwa si traveler, dalam hal ini Trinity, melakukan perjalanannya melalang buana dalam keadaan telanjang. Padahal, salah besar. Kata ‘naked’ dipilih sebagai plesetan kata nekad yang mencerminkan perjalanan Trinity, yang seringnya dilakukan secara independen dan backpacker. Penggunaan kata ‘naked’ juga sebagai pembuktian Trinity kepada pembaca, bila segala kisah perjalanan yang ditulisnya selalu apa adanya.

Baginya, nggak semua tempat wisata itu sesuai ekspektasi dan nggak selamanya perjalanan itu menyenangkan. Dia akan menulis tempat wisata itu nggak recommended bila kenyatannya memang begitu. Demikian juga dengan tempat-tempat yang menarik, penduduk yang ramah dan pelayanan yang memuaskan di sebuah daerah dengan sejujur-jujurnya akan Trinity tulis dalam setiap ceritanya.

Lantas, apa kesamaannya dengan si Tommy?

Saya dan Trinity sama-sama punya kegemaran jalan-jalan ala backpacking atau yang lebih sering dikenal ngegembel. Mungkin karena backpacking itu lebih hemat, sehingga banyak dipilih oleh kawula muda yang haus akan tempat-tempat menarik dan baru. Kadang saking hematnya, akomodasi nggak pernah masuk budgeting. Syukur kalau ada teman atau kenalan, bisa numpang tidur. Kalau nggak, terpaksa tidur di tempat seketemunya. Paling sering sih di masjid, itupun lihat-lihat, diperbolehkan atau tidak. Sebab, saya pernah punya pengalaman jalan-jalan ngegembel terus tidur di masjid, pas mau berbaring, nggak tahunya diusir halus oleh takmir.

Meski gembel (KBBI: jembel) itu identik dengan melarat dan miskin, bukan artinya jalan-jalan ngegembel itu lusuh bak gelandangan yang nggak pernah mengurus diri sambil berkeliaran di jalan – tapi kalau lusuh karena belum menemukan kamar mandi umum, mungkin iya. Saya hanya mengadopsi kata berkeliaran-nya saja. Dengan tujuan menemukan banyak wisata baru dengan biaya yang lebih murah. Nggak ikut paket tur wisata, biar lebih bebas menikmati setiap tempat menarik sepuas-puasnya.

Ikut paket tur memang memberikan banyak kemudahan. Transportasi terjamin, nggak bakal kesasar saat mencari tujuan wisata karena ada pemandunya, makan enak terjamin selama liburan, akomodasi pun di hotel berbintang atau paling nggak penginapan yang lebih empuk kasurnya. Namun, juga ada kekurangannya. Waktu berkunjung sudah diatur, sehingga nggak bisa menikmati tempat menarik sampai puas. Belum lagi, masih pakai acara tunggu-menunggu wisatawan lain, hingga beberapa destinasi harus terpaksa di cancel.

Beda sekali saat mencoba backpacking. Saya contohkan saat jalan-jalan ke Yogyakarta. Baik ikut tur maupun backpacking, sudah pernah saya coba dua-duanya kala mengunjungi Kota Gudeg. Waktu ikut tur, semua kegiatan liburan benar-benar terjamin dan teragendakan secara terstruktur. Akomodasi, transportasi, hingga urusan makan minum terjamin semua. Sementara saya tinggal duduk manis, menunggu dipanggil dan diarahkan tour guide.

Tapi, begitulah, hampir semua tempat wisata yang dikunjungi masuk kategori populer dengan konsekuensi pengunjung yang berjubel-jubel bak lautan cendol saat di pantai dan kerumunan rayap saat mendaki gunung. Sudah begitu waktu yang diberikan untuk berkunjung terbatas lagi. Seolah-olah datang ke lokasi wisata hanya untuk selfie dan foto-foto saja. Padahal, tujuan saya adalah liburan, mencari ketenangan dan mengusir kejenuhan dari penatnya pekerjaan. Belum juga puas menikmati pemandangan, sudah dibuat BT karena tour guide sudah menginstruksikan pindah ke destinasi berikutnya dan harus menunggu wisatawan lain – yang kadang hilang sesaat entah kemana.

Sedangkan saat ke Jogja ala backpacking, saya bisa leluasa mengunjungi beragam tempat, tanpa harus buru-buru untuk pindah ke destinasi lainnya. Lebih terasa petualangannya. Bagaimana rasanya menikmati transportasi umum, mencari lokasi wisata menggunakan peta atau bertanya ke penduduk sekitar, nebeng menuju pantai, bercengkerama dengan penduduk lokal, hingga menikmati kearifan lokal dan kuliner khas yang justru nggak saya temui selama ikut tur wisata.

Kegilaan ini rupanya sama persis dengan yang dilakoni oleh Trinity dalam petualangannya di ‘The Naked Traveler’. Awalnya, saya nggak begitu peduli, pilihan jalan-jalan macam apa yang sedang saya lakoni. Sekadar mengikuti apa kata hati, sambil menikmatinya secara happy. Tapi, justru itulah pengalaman yang nggak terlupakan menurut Trinity. Dia hobi banget jalan-jalan, bahkan seringnya sendirian, membiarkan dirinya jalan seketemunya sambil menyapa penduduk lokal, dengan harapan bisa diberi tahu tempat menarik nan asri yang belum diketahui wisatawan. Dan, itu disebut Trinity sebagai petualangan yang sebenarnya.

Wah, tentu saya sangat girang nggak keruan, karena ada sosok yang ternyata sudah lebih dulu memilih traveling independen ini. Bedanya, Trinity sudah keliling Indonesia hingga dunia. Mulai usia belasan tahun dia sudah (sukses) pergi ke Singapura – negara pertama yang dikunjunginya, sendirian! Sejak saat itu, dia terus memantapkan hati untuk jalan-jalan ke luar negeri. Baginya, keliling dunia nggak harus menunggu kaya raya atau pensiun. “Iya kalau kaya dan pensiun dalam keadaan makmur”, katanya. Salah satu caranya adalah backpacking.

Dibandingkan Trinity, level ngegembel saya memang nggak ada apa-apanya. Jangankan keliling dunia, keliling Indonesia saja, saya belum kelar. Berulang kali membaca seri ‘The Naked Traveler’, membuat saya semakin yakin punya kesamaan dengan karakter Trinity ini. Trinity yang punya pegangan hidup ‘Travelinglah selagi Muda’, rupanya memiliki kesamaan dengan prinsip hidup saya, jauh sebelum membaca buku ‘The Naked Traveler’, yaitu ‘Hidup ini Singkat, Sayang Bila Hanya Dibuat Diam di Rumah’. Trinity suka berpetualang, saya pun gemar jalan-jalan.

Secara karakter, Trinity dan saya punya kesamaan memilih prinsip hidup yang mengutamakan kebahagiaan dengan cara jalan-jalan. Tapi, secara aksi, sekali lagi Trinity sudah saya anggap sebagai tokoh idola. Karena petualangan nekadnya, saya jadi yakin bila backpacking atau jalan-jalan ngegembel itu bukan hal yang hina. Sebaliknya, backpacking menjadi pilihan menarik bagi setiap orang yang rindu akan jalan-jalan dengan biaya terbatas namun kaya pengalaman.

Advertisements

12 thoughts on “Trinity: Tokoh Idola Backpacker Sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s