OSPEK: Jemawa atau Nestapa?

ospek 2

OSPEK: Jemawa atau Nestapa? [Hak Milik Foto: Atthamovies via Pinterest]

Seperti tahun-tahun sebelumnya, September menjadi bulan yang begitu dinanti-nantikan oleh banyak mahasiswa baru. Bulan yang akhirnya menjadi penanda bergantinya status siswa menjadi lebih agung sedikit, maha-siswa. Raut muka bangga pun begitu gamblang tergambar di wajah. Betapa tidak, setelah berulang kali ikut tes, akhirnya bisa masuk kampus dengan jurusan yang diidam-idamkan. Apalagi, nasib baik ini tidak serta-merta bisa didapatkan oleh banyak siswa. Tak heran, mereka yang lolos sedikit agak jemawa. Itung-itung sebagai unjuk kemampuan diri kepada mereka yang akhirnya tak mampu masuk universitas (negeri).

Namun, rasa bangga ini mau tak mau harus pending sementara. Sebab, senior-senior yang sudah lebih dulu jadi mahasiswa, begitu bangga luar biasa menyambut junior-juniornya. Sedikit membusungkan dada dengan senyum yang agak bengis, berulang kali mereka menyampaikan ‘selamat datang’, ‘selamat bergabung’ dan selamat-selamat lainnya. Lucunya, para junior alias mahasiswa baru (maba) membalas sambutan para senior dengan senyum – yang lumayan dipaksakan. Hee.

Alih-alih ingin menjalani hari pertama sebagai mahasiswa dengan bangga, justru kegusaran yang menghampiri mereka. Benar saja, citra OSPEK yang identik dengan bullying ternyata begiu tergambar dari ketakutan setiap maba. Ada yang takut disuruh push-up, bernyanyi sambil jewer telinga, keliling lapangan sambil joget-joget dan hal-hal konyol lainnya. Bahkan, nggak sedikit yang pura-pura lemas, pingsan, sampai (memaksakan) sakit agar bisa mendapatkan surat dokter dan akhirnya nggak ikutan orientasi.

Padahal, jika dijalani dengan santai, semuanya bakal berakhir begitu saja. Saya akui, nggak banyak memang manfaat yang saya terima dari OSPEK. Sebaliknya, pengeluaran membengkak gara-gara harus beli ini itu, di tengah perantauan pertama – yang warung makan saja nggak tahu dimana lokasinya. Tapi, jika dikatakan OSPEK itu nggak ada manfaatnya, juga sama sekali kurang tepat. Sebab, selain pernah jadi peserta OSPEK, saya juga pernah jadi panitia OSPEK. Dari situlah saya sedikit agak paham apa tujuan di balik penyelenggaraannya.

Sebenarnya, inti dari OSPEK adalah mengenalkan lingkungan kampus, tetapi dibumbui dengan beragam atraksi yang sebenarnya penting juga untuk dikenali maba. Misalnya, harus sudah sampai kampus sebelum jam 6 pagi dan pulang di atas jam 7 malam. Tujuannya, agar mahasiswa baru ini tahu, jika dunia kampus tak sama dengan dunia sekolah yang sudah terjadwal semuanya. Kadang mahasiswa harus kuliah sepagi mungkin karena dosennya mau ada seminar, kadang juga harus pulang malam karena dapat jadwal kuliah maupun agenda praktikum.

Perihal harus membawa ini itu – yang kadang sedikit tak masuk akal, sebenarnya berhubungan dengan kemampuan menalar, berpikir hingga pemecahan masalah. Nggak sedikit peserta OSPEK yang mampu unjuk kreativitas. Satu hal lagi, mengenai panitia yang cenderung bermimik gahar, tak lain dan tak bukan untuk menerapkan kedisiplinan biar semakin sigap dilakukan. Hal-hal semacam ini sebenarnya bisa dijalankan secara mudah bagi mereka yang paham. Tak heran, OSPEK juga menjadi ajang penemuan mahasiswa-mahasiswa yang unggul dalam segi pemikiran. Dan, merekalah akhirnya yang menerima tonggak estafet dalam organisasi kemahasiswaan, termasuk jadi panitia OSPEK tahun depan.

Korban OSPEK

Selama saya menjadi mahasiwa, kegiatan OSPEK yang berlangsung dari tahun ke tahun (khususnya di kampus saya) masih berjalan dengan wajar. Jarang sekali saya mendengar atau mengetahui ada korban OSPEK seperti yang santer diberitakan belakangan. Hal itu kembali lagi pada komitmen panitia dalam memberikan materi OSPEK, juga kesungguhan peserta. Sebab, biasanya masalah-masalah OSPEK kebanyakan muncul dari peserta yang terlalu banyak alasan untuk menghindari setiap materi yang diberikan. Nah, barulah panita yang mulanya hanya pura-pura bengis menjadi bengis beneran.

Meski saya pernah menjadi panitia, namun hampir tak pernah melakukan pelonco fisik atau pelecehan SARA. Menurut saya, jika ada panitia yang sudah sampai pada ranah tersebut, maka tak sepatutnya dijadikan panitia apalagi teladan mahasiswa. Sekali lagi tujuan utama OSPEK adalah pembentukan karakter, bukan mencederai perasaan apalagi fisik orang lain. Seyogyanya, mahasiswa selalu memegang teguh anggapan masyarakat, yaitu sebagai golongan terpelajar. Maka jangan sampai mencoreng nama sendiri dengan perbuatan yang justru lebih tak beretika dari pada orang yang tak pernah sekolah.

Seberat apapun OSPEK tahun ini masih saya katakan lebih ringan daripada tahun 2009. Nggak seperti sekarang, OSPEK pada September 2009 bersamaan dengan waktu puasa. Bayangkan dalam kondisi lemes dan dehidrasi, digembleng habis-habisan untuk mengikuti pembekalan materi dan melakukan keinginan panitia ke sana-kemari. Untung saja, nggak sampai batal puasanya. Jadi, beruntunglah bagi kamu sekalian yang masih bisa minum dan makan dengan sepuasnya selama OSPEK. Selalu ambil sisi positifnya dan jangan gentar untuk bersuara manakala apa yang dilakukan panitia kurang beretika. Ingat, panitia tetaplah manusia dan usia yang lebih muda bukan artinya tak lebih benar dari yang lebih tua. Selamat menjadi mahasiswa baru, ya! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s