Jakarta (Bisa) Jadi Primadona Dunia

London, Paris, Roma, Madrid, Singapura, Tokyo, apapun yang berhubungan dengan kota-kota tersebut selalu membuat takjub. Bukan sebatas ibukota, namun masing-masing memiliki keunikan yang menarik untuk dijadikan destinasi wisata. Selain penataan kotanya yang cantik, lingkungan yang bersih dan suguhan wisata yang lengkap, menjadi alasan utama kenapa kota-kota tersebut menjadi primadona. Bahkan, jika dimintai pendapat, kebanyakan orang akan menyampaikan hal yang sama.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Kenapa Jakarta tidak menjadi salah satunya? Apakah tidak layak menjadi primadona wisata dunia?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada, terlebih karena saya tinggal di Indonesia. Tapi, jika boleh jujur, dari beragam destinasi yang masuk ke list jalan-jalan, hanya Jakarta yang tak pernah ingin saya kunjungi. Bukan artinya wisata Jakarta tidak kaya. Memang, dari segi modernitas, kehidupan Jakarta nggak kalah dari metropolitan dunia. Boleh dibilang, semua yang bagus-bagus dan paling modern di Indonesia berada di Jakarta.

Konser ‘Red Tour’ Taylor Swift di Jakarta. Fasilitas yang lebih lengkap, membuat Jakarta masih menjadi jujukan tunggal acara internasional di Indonesia. [Hak Milik Foto: Media Indonesia]

Mulai dari gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, wahana permainan hingga hotel dan restoran bintang lima yang bertebaran. Nggak sampai di situ, segala hal yang berhubungan dengan pagelaran internasional larinya juga ke Jakarta. Sebut saja konser internasional, pertandingan sepakbola antar negara, ajang bulu tangkis dunia, konferensi, pameran dan perayaan akbar lainnya berpusat di Jakarta. Nggak salah pula, bila akhirnya orang seantero Indonesia selalu bermimpi untuk plesir hingga menetap di Ibukota Indonesia.

Jakarta, Idaman Kaum Beruang

jakarta

Kemewahan Jakarta hanya mampu dinikmati oleh mereka yang beruang melimpah. [Hak Milik Foto: anakjajan.com]

Bagi yang punya duit, santai-santai saja menanggapinya. Kapanpun ada event menarik, selalu bisa berangkat ke Jakarta. Sementara, yang duitnya ala kadarnya, hanya bisa puas menyimak ingar-bingar Jakarta lewat TV. Dari media pula, porsi pemberitaan Jakarta memang selalu lebih banyak, apalagi Jakarta sedang mengembangkan sistem transportasi massal super canggih (baca: MRT) – yang lagi-lagi masih belum bisa disaingi oleh kota-kota lain Indonesia.

Prioritas ini semestinya mampu membuat Jakarta maju dan termaktub juga dalam list destinasi wisata saya. Namun, seabrek modernitas dan keunggulan Jakarta buyar seketika saat dihadapkan dengan macet di mana-mana. Semisal saya alokasikan sehari untuk plesir ke sana, separuh harinya mungkin akan sirna sia-sia hanya karena macet belaka. Padahal destinasi wisata di Jakarta sebenarnya nggak begitu berjauhan, sehingga dalam sehari semestinya bisa mengunjungi beberapa destinasi.

Gara-Gara Macet, ‘Primadona’ Jakarta Sirna

Namun, karena macet yang sudah sangat ‘sekarat’, semua list ke Jakarta jadi tinggal catatan saja. Boro-boro mau gonta-ganti wisata, kadang mau pindah dari Mal A ke Mal B yang jaraknya nggak sampai sekilo saja butuh berjam-jam. Walhasil, hanya bisa muter-muter seharian sambil ngadem di mal, sekaligus menunggu macet berkurang – yang nggak tahu sampai kapan. Sebagai Warga Negara Indonesia, saya sebenarnya sangat maklum dengan kemacetan. Sebab, bagi saya, kemacetan di masa sekarang ini sudah bukan milik Jakarta saja. Beberapa kota lain di Indonesia, juga latah ikutan macet segala. Nggak terkecuali tempat saya berada, Kota Malang.

traffict jam

Macet membuat Jakarta sulit menyandang primadona wisata kota dunia. [Hak Milik Foto: okezone.com]

Meski begitu, kemacetan di Jakarta tetaplah nomor wahid. Saking wahidnya, saya hanya mau ke Jakarta kalau ada urusan kerja (saja). Selebihnya begah berlama-lama dan buru-buru balik ke Malang. Di sisi lain, saya sebenarnya kasihan dengan Jakarta. Ingin rasanya teriak-teriak sambil bilang, “Woi… Jakarta bukan untuk kendaraan pribadi, woy!”. Tapi, apalah daya? Saya hanya segelintir umat yang ke mana-mana berusaha naik kendaraan umum. Bukan karena apa, tapi karena ingin andil dalam mengurangi kemacetan. Saya bukan anak pejabat, apalagi pejabatnya, wajarlah jika tak mampu mengurai kemacetan lewat aturan yang muluk-muluk.

Sumbangsih Sederhana Kaum Jelata

Meski hanya rakyat kecil, tapi saya juga punya hati dan ingin memberikan sumbangsih. Dengan membiasakan diri menggunakan kendaraan umum, paling nggak sudah mengurangi kemacetan untuk satu kendaraan di jalan. Usaha yang kecil memang, tetapi bila kesadaran ini bisa diikuti oleh banyak orang, bukan nggak mungkin kemacetan Jakarta dapat terurai, tanpa perlu kebijakan yang muluk-muluk. Satu hal lainnya, masyarakat Indonesia terlalu gengsi untuk jalan kaki. Kadang jalan dari toko A ke toko B yang jaraknya nggak lebih 50 meter, sudah mengeluh jauh, padahal belum dicoba.

Jika dapat dibiasakan, sebenarnya jalan kaki itu menyenangkan. Lagi pula manfaatnya juga baik bagi kesehatan, terlebih bagi pegawai kantoran. Bayangkan, bangun tidur langsung loncat ke kamar mandi, naik motor atau mobil, di kantor naik-turun pakai lift, duduk berjam-jam untuk bekerja, pulang ke rumah berbaring sambil lihat TV terus ketiduran. OK-lah masih ada agenda ngegym, aktivitas fisik bisa ter-cover. Lantas, bagaimana dengan yang nggak pernah olahraga? Sudah malas jalan kaki, ke mana-mana ogah naik kendaraan umum lagi.

Lho, apa hubungannya?

Ketika naik kendaraan umum, kita akan turun di terminal, halte atau tempat yang biasa dijadikan titik pemberhentian. Pastinya, nggak semua kendaraan umum berhenti tepat di tempat kerja. Tapi, hal itulah yang justru membuat saya akhirnya ‘terpaksa’ untuk jalan kaki. Di awal-awal memang terasa berat, bahkan rasanya seolah menyiksa diri sendiri. Orang lain enak-enakan bangun siang, terus ngebut hingga tiba di kantor tepat waktu. Sementara, saya harus bangun pagi, berangkat lebih awal, jalan kaki dan berusaha menikmati hari. Namun, jika dibiasakan lama-lama justru akan menjadi hobi.

Jalan Kaki Jangan Dianggap Gengsi

Soal ‘aneh’, mungkin orang lain yang akan menilai. Tapi, saya berusaha anti-gengsi. Toh di luar negeri, para pekerja juga jalan kaki (lihat Jepang). Ketika jalan kaki sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, manfaatnya akan lebih terasa untuk diri. Terlebih bagi pegawai kantoran yang memang sehari-hari lebih banyak duduknya, seperti saya ini. Berkat hobi jalan kaki, tubuh tetap bugar serta berbagai masalah kesehatan pun jarang saya keluhkan. Apalagi setelah mengetahui dari sebuah penelitian yang menyebutkan bila orang yang terbiasa jalan kaki memiliki angka harapan hidup lebih tinggi (lihat orang Jepang), seketika saya langsung memantapkan hati agar nggak pernah malas jalan kaki.

jalan kaki

Di negara maju seperti Jepang, jalan kaki sudah menjadi bagian dari gaya hidup. [Hak Milik Foto: Colorcam Magazine]

Hobi jalan kaki ini tentu lebih sulit teraplikasi bila kemana-mana sering membawa kendaraan pribadi. Percaya deh, adanya kendaraan pribadilah yang membuat kita lebih malas jalan kaki. Setidaknya, pas berangkat kerja mulai membiasakan naik kendaraan umum. Di samping mendorong hidup lebih sehat dengan jalan kaki, juga akan membantu menguraikan kemacetan jalan raya. Lagipula, dengan bangun pagi segala aktivitas yang dilakukan menjadi lebih maksimal. Bisa menikmati sarapan, baca koran, nggak perlu lari-larian dan yang paling penting semangat kerja lebih nendang daripada yang bangunnya kesiangan. Agar tetap sehat dan nggak banyak-banyak menghirup udara sarat polusi, kenakan masker sebelum berangkat.

Butuh Peran Lebih Besar

Sumbangsih kecil ini akan selamanya kecil, jika tidak mendapatkan dukungan. Manfaatnya pun hanya saya seorang atau per individu yang bisa merasakan. Dukungan lebih besar tentu saya harapkan dari pihak yang memiliki kewenangan menertibkan lalu lintas. Dalam hal ini adalah polisi. Ada banyak harapan untuk membuat Jakarta lebih baik, Jakarta yang bebas macet. Dan, polisilah tempat menggantungkan harapan besar itu. Meski begitu, saya tidak mengatakan jika kemacetan adalah tanggung jawab personal, baik masyarakat atau polisi saja. Tapi, perlu kesadaran dan kerjasama antar pihak agar kemacetan Jakarta benar-benar terurai.

Sebagai individu, saya memang tak sanggup menggerakkan masyarakat untuk berpindah ke kendaraan umum dan mau jalan kaki. Tapi, sebagai individu, saya bisa menulis dan menyampaikan ide dan harapan saya ini kepada polisi. Selain menertibkan lalu lintas dan mengurai kemacetan langsung di lapangan, cobalah untuk melakukan pendekatan solutif kepada masyarakat. Tolonglah sosialisasikan tentang pentingnya jalan kaki bagi kesehatan juga untuk mengurai kemacetan. Jika perlu, silakan tampilkan fakta-fakta negara maju yang mayoritas warganya hobi berjalan kaki, hingga membuat kotanya bebas macet dan juga polusi.

bus transjakarta

Polisi perlu memberantas kriminalitas jalanan, agar minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum tumbuh. [Hak Milik Foto: Universitas Gunadarma]

Di sisi lain, segera berantas copet, preman maupun pelaku kriminal yang selama ini lalu lalang di jalanan, khususnya di kendaraan umum. Selain meresahkan masyarakat, kehadiran ‘makhluk antagonis’ tersebut juga menjadi alasan rendahnya minat masyarakat untuk naik kendaraan umum. Jangankan bus atau angkot yang harganya merakyat, taksi yang notabene lebih high-class ternyata juga nggak menjamin keselamatan penumpangnya. Hal ini semestinya mendapatkan perhatian yang lebih serius, agar kenyamanan masyarakat saat berkendaraan umum terlindungi.

Jika kriminalitas jalanan ini bisa dibersihkan secara tuntas, saya yakin, akan lebih banyak masyarakat yang beralih menggunakan transportasi publik. Bahkan, bukan sebatas masyarakat kecil yang memang selama ini paling banyak memanfaatkan kendaraan umum, pegawai kantoran dan anak kuliahan yang dominan menggunakan kendaraan pribadi sekaligus penyumbang kemacetan, juga akan berangsur-angsur memanfaatkan moda transportasi umum. Nah, minat memilih kendaraan umum ini akan tumbuh dari kepercayaan masyarakat atas keberhasilan polisi memberantas mafia jalanan. Luar biasa bukan?

JAKARTA, 21/3 - JAKARTA LENGANG. Sejumlah kendaraan melintas di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, yang terlihat lengang, Jumat (21/3). Hari libur selama empat hari yang dimanfaatkan warga Jakarta untuk berlibur ke luar kota atau pulang kampung menyebabkan lengangnya beberapa ruas jalan di Jakarta yang pada hari-hari biasanya dipadati kendaraan dan macet. FOTO ANTARA/Ismar Patrizki/nz/08.

Dampak lebih jauh dari budaya berjalan kaki dan menggunakan kendaraan umum, akan membuat kemacetan Jakarta pelan-pelan terurai. [Hak Milik Foto: ANTARA/Ismar Patrizki/nz/08]

Setelah polisi memberikan pemahaman tentang pentingnya jalan kaki bagi kesehatan, masyarakat secara perlahan akan mulai mencobanya. Secara tak langsung, masyarakat juga akan mulai menggunakan kendaraan umum saat pergi ke mana-mana. Langkah baik ini akan berjalan optimal, bila masyarakat juga mendapatkan jaminan keselamatan selama berada di kendaraan umum. Saat polisi semakin meningkatkan keamanan dari tindak kejahatan jalanan, budaya menggunakan kendaraan umum dan jalan kaki pun mulai tumbuh secara perlahan.

Lebih lanjut, dampak budaya berkendara umum dan jalan kaki ini akan mulai mengurangi jumlah kendaraan yang ada di jalan. Suasana Jakarta yang lengang bak libur lebaran pun semakin mudah dijumpai di hari-hari sibuk kerja. Hal ini tentu akan meringankan tugas berat polisi dalam mengurai kemacetan, sekaligus menghilangkan stres mayoritas penduduk Jakarta, yang salah satunya diakibatkan karena macet.

Salarymen_in_Tokyo

Budaya jalan kaki membuat harapan hidup orang Jepang lebih tinggi [Hak Milik Foto: Wikipedia]

Bukan hanya itu, ketika moda transportasi massal Jakarta selesai dan siap digunakan, pemerintah DKI Jakarta nggak perlu repot-repot lagi sosialisasi untuk menggiring warganya mau berpindah ke transportasi publik. Alasannya, masyarakat sudah menganggap kebiasaan berjalan kaki dan berkendara umum ini bagian dari kesadaran diri, karena manfaat yang diperoleh juga akan kembali ke diri sendiri, yaitu bebas macet dan tubuh bugar setiap hari. Peran Pemerintah, tinggal menyediakan fasilitas pejalan kaki yang lebih layak. Sementara tugas polisi, nggak hanya menjamin keselamatan warga saat berada di kendaraan umum, tetapi juga perlu mendukung antusiasme masyarakat yang sudah mulai gemar berjalan kaki. Caranya, dengan menjamin hak pejalan kaki yang lebih nyaman, aman dan bebas ‘oknum trotoar’.

‘Primadona’ Jakarta Kembali Disandang

Betapa luar biasanya, bila langkah ‘sederhana’ ini benar-benar dapat dilakukan secara bersama-sama atas dasar kesadaran diri masing-masing. Berkat peran polisi, langkah yang sedianya hanya bermanfaat secara personal, ternyata mampu menjadi solusi kemacetan Jakarta yang saling menguntungkan. Tentu bukan hal yang mudah untuk memaksimalkan penerapannya, tetapi saya yakin, polisi Indonesia mampu memberikan yang terbaik sebagai bagian dari pelayanan masyarakat.

Turis mancanegara melintas di depan Museum Fatahillah, kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat, (1/8). Menjelang bulan September, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan di atas 70 persen karena pada saat itu di Eropa memasuki awal musim semi atau musim panas. ANTARA FOTO/Pradita Utama/Spt/14

Buah kesadaran bersama akan pentingnya budaya berkendara umum dan jalan kaki, akan membuat Jakarta bebas macet serta menjadi primadona wisata kota dunia [Hak Milik Foto: ANTARA FOTO/Pradita Utama/Spt/14]

Sampai saat itu tiba, saya optimis kerja keras polisi akan mampu membuat Jakarta menjadi primadona layaknya London, Paris, Roma, Madrid, Singapura, Tokyo dan kota idaman lainnya di dunia. Di mana, pemandangan kota yang semula dipenuhi mobil pribadi yang merayap, justru sudah berganti dengan lalu lalang masyarakat Jakarta yang begitu riang memenuhi trotoar. Wajah Jakarta yang tadinya penuh polusi, juga tampak lebih berseri dengan udara yang lebih bersih. Turis asing mulai nyaman berdatangan, menikmati satu per satu suguhan wisata dengan jarak tempuh yang nggak lagi berjam-jam.

Jaminan keamanan telah membuat warga Jakarta hidup lebih tentram. Dukungan polisi juga mampu membuat warga Jakarta lebih sehat dengan berjalan kaki. Bahkan, nggak menutup kemungkinan, kesehatan dan kenyamanan tinggal di Jakarta akan membawa masyarakatnya memiliki kualitas dan harapan hidup layaknya penduduk Negeri Sakura. Sungguh, Jakarta yang seperti itu akan membuat saya betah berlama-lama, hingga saya tak pernah bosan memasukkan dalam list wisata kota-kota dengan predikat ‘primadona’ di dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s