Kiri!

kiri-kiri

Kiri! [Hak Milik Foto: Creative Safari]

Kiri! Kiri! Kiri!

Kata ‘kiri’ biasa digunakan untuk menyebut atau ingin menuju arah tertentu. Belok kiri, putar ke arah kiri, balik ke kiri. Semua memiliki makna dasar ‘menunjuk suatu arah’. Selain untuk menunjukkan arah tertentu, kata kiri juga sering digunakan bagi sebagian besar pengguna angkutan kota (angkot). Lho kok bisa?

Coba berpikir sejenak, hampir semua orang yang naik angkot di beberapa daerah selalu menyebutkan kata ‘kiri’ bilamana ingin turun atau berhenti. Mulanya saya nggak begitu gubris, tapi lama-lama kok ya ikut-ikutan bilang ‘kiri’ saat naik angkot. Padahal, jika dipikir-pikir, angkotnya juga tidak belok kiri. Yang benar menepi. Semisal bilang berhenti pun, kayaknya bakal diberhentikan oleh supirnya.

Serasa membudaya, penyebutkan kata ‘kiri’ saat hendak turun dari angkot, memang berhasil membentuk chemistry antara si supir dan penumpang. Tinggal bilang ‘kiri’, supir langsung sigap mengerem kendaraannya. Namanya anak muda, hal-hal yang janggal rasanya kurang lega kalau belum diketahui solusi maupun asal-usulnya. Iseng-iseng saya beranikan bertanya pada si supir, alasan kenapa pengguna angkot sering menyebutkan kata kiri ketika mau berhenti.

Dengan gampangnya, si supir menyuruh saya melihat pintu angkut – posisinya sebelah mana. Mudah saja saya jawab, sebelah kiri. Nah, usai menjawab pertanyaan si supir, seketika otak rasanya mendapatkan ilham. Aha! Itulah alasannya! Posisi pintu angkot yang mayoritas berada di sebelah kiri, membuat penumpang harus keluar-masuk angkot lewat pintu satu-satunya yang berada di sebelah kiri. Ada lagi alasannya! Jalur lambat dan tempat pemberhentian di Indonesia kebetulan berada di sisi bagian kiri, sehingga pemasangan pintu angkot di sebelah kiri memang sudah tepat untuk dilakukan.

Meski begitu, penyebutan ‘kiri’ untuk berhenti atau mau turun dari angkot, pantasnya diberlakukan untuk mobil yang berukuran lebih kecil berjenis Multi-Purpose Vehicle (MPV) atau mobil keluarga. Bukan tanpa alasan tentunya, ukuran kendaraan yang lebih kecil mempermudah pengemudi untuk mengerem mendadak. Beda halnya dengan bus yang memiliki ukuran lebih bongsor. Teriak-teriak ‘kiri’ sekenceng apapun, nggak bakalan diberhentikan oleh si supir. Adanya, bus hanya mau berhenti di halte atau titik pemberhentian yang umum disinggahi.

Nah, entah karena terbawa kebiasaan naik angkot atau mungkin becak, saat perjalanan balik ke kota Malang, saya mendapati hal yang menggelitik. Seperti perjalanan balik pada umumnya, bus ekonomi selalu penuh, hingga harus rela berdiri berjam-jam dari terminal awal sampai terminal tujuan. Untungnya saya dapat jatah duduk – meski agak maksa, tepat di antara sopir dan kernet. Di atas saya ada bapak yang dari tadi tampak kebingungan – mirip orang yang baru pertama kali naik bus.

Seperti dugaan saya, si bapak nggak mengerti titik-titik pemberhentian yang semestinya. Saat bus menepi, si bapak nggak turun. Begitu juga saat mau turun, jauh-jauh sebelumnya, si bapak juga nggak memberitahukan si supir mau turun di mana. Eh, pas bus masuk jalur cepat alias di sebelah kanan, si bapak langsung teriak saja ‘kiri’. Sontak saja, supir, kernet dan beberapa penumpang lain melotot ke arah si bapak.

Malah, si supir balik nyinyir, “Dikiranya becak apa, bisa ngiri seenaknya”. Si Kernet ikut-ikutan nimpali, “Ini bukan angkot Pak, nggak bisa berhenti mendadak seenaknya. Yang ada bisa nabrak kendaraan lainnya”. Sementara saya hanya senyum-senyum sendiri di balik masker yang menutupi mulut. Akhirnya bus diberhentikan setelah berhasil menepi. Lagi-lagi ketidakprofesionalan si bapak saat naik bus begitu ditampakkan. Bukannya turun dengan pelan dan hati-hati, eh langsung loncat aja kayak turun dari mobil pick-up. Duh si bapak nih!

Yayaya, mestinya orang-orang mulai membatasi penyebutan kata kiri saat mau turun dari angkutan umum. Cukup di angkot! Becak bisa, walau nggak ada pintunya dan bisa turun dari depan, tapi cukup efektif untuk menepi. Taksi? Meski kecil, tapi agak lucu jika mau turun dari taksi bilang kiri dulu. Bus, apalagi, jangan deh! Paling aman, bilang berhenti. Selain lebih umum, juga untuk meminimalkan sebutan kiri untuk berhenti dari angkutan umum. Bisa-bisa pas naik kereta, pesawat dan kapal, bilang kiri dulu pas mau turun. Hehehehe. 🙂

2 thoughts on “Kiri!

  1. Kalo di Sulawesi rata-rata orang teriak “stop daeng, stop!” karena tidak melulu berhenti sebelah kiri, 😀 dan suka rem mendadak. Beda lagi kalo di pedalaman seperti Toraja yang masih tepuk tepuk atap karena mobil untuk angkutan umum rata-rata Bison, APV, dan Kijang 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s