Lontong Bumbu Kacang

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pak, pesan tahu telor seporsi. Oya, nggak pakek telor ya. Emm, nggak pakek tahu juga ya.

Inilah salah satu momen ngakak yang nggak pernah saya lupakan seumur hidup. Adalah Eno, dia adalah satu teman yang cukup unik. Orangnya memang rada nyeleneh, terlebih soal urusan makan. Dikatakan vegetarian tapi doyan ayam. Disebut pemakan segala, juga nggak semua hidangan dia suka. Serba repot kalau dipikir lama-lama.

Sejauh yang saya kenal, Eno nggak begitu suka dengan telur dan tahu. Ditanya alasannya, juga jawabannya nggak akurat, hanya sebatas tidak suka tanpa ada asal usul yang jelas. Ironisnya, dia gemar makan tempe yang merupakan saudara sebahan tahu, yaitu kacang kedelai. Dia juga doyan banget makan ayam, yang merupakan Enyak-Babenya telur . Biasanya, orang nggak suka salah satu jenisnya saja, misalnya tidak memakan sumber makanan hewani atau hanya menyantap makanan nabati. Makanya, saya jadi bingung, mau dimasukkan kategori apa mahkluk ini. Mungkin semi-omnivora kali ya. Hihihihi!

Nah, ketidaksukaannya pada tahu dan telur seketika menimbulkan kejenakaan saat dia pesan tahu telur. Namanya saja sudah tahu telur, pasti makanannya nggak lepas dari bahan pokok berupa tahu dan telur, iya kan? Masalahnya, entah karena sedang ‘ngidam’ atau nggak sadar gara-gara asyik bicara dengan teman saya lainnya, tiba-tiba dia ikut pesan tahu telur. Saya yang waktu itu juga pesan, nggak begitu berpikir ada yang janggal. Soalnya, orang datang ke warung tahu telur, tujuannya kan sudah pasti untuk makan tahu telur.

Kejanggalan itu akhirnya tampak juga, saat dia ditanya ‘mau dibikin pedas atau tidak’ tahu telurnya oleh si Penjual. Mulanya, hanya menjawab pedas. Saya pun masih nggak kepikiran. Kemudian, dia bilang, “Nggak pakek telur ya, Pak!”. Saya juga masih menganggap wajar, karena pembeli lain juga ada yang memesan tahu lontong alias tanpa telur. Baru saat dia bilang, “Oya, nggak pakek tahu juga ya, Pak!”, seketika saya langsung terdiam keheranan. Si Penjual akhirnya memberikan tanggapan, “Lha, kalau nggak pakek telur dan tahu, Mas-nya mau pesan lontong sama bumbu kacang saja?”.

Hening sejenak, kemudian Eno dan si Penjual langsung tertawa terbahak-bahak. Saya yang tadinya heran, seolah kesetrum dan ikutan tertawa. Nggak hanya itu, para pembeli lain yang sempat mendengarkan pembiacaraan Eno dan si Penjual, juga ikutan tertawa. Tampaknya, memang baru kali ini, orang-orang mendengar ada pembeli tahu telur yang memesan tanpa tahu dan telur. Karena sudah terlanjur dapat tempat duduk di warung, Eno akhirnya tetap meneruskan niatnya untuk memesan lontong bumbu kacang pedas plus kerupuk. Begitulah repotnya jadi orang aneh!

Kami pun nggak henti-hentinya tertawa saat makan tahu telur. Kok bisa selama jalan-jalan mencari warung untuk makan malam, nggak ada yang terpikir ketidaksukaan Eno pada tahu dan telur. Lagian, selama ke sana, dia juga nggak kepikiran tentang kelainan makannya itu, jadinya semua berasa wajar-wajar saja. Meski menciptakan momen jenaka, tapi lontong bumbu kacang ini justru yang paling mengingatkan saya ketika sudah tak lagi bersamanya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s