Bioskop Krucil

SAMSUNG CAMERA PICTURES

“Itu siapa lagi ya, kok aku baru tahu? Kemarin-kemarin kok nggak pernah muncul ya? Hmm, aku jadi bingung ceritanya, kalian bingung nggak sih?”

Kepo alias penasaran dengan jalan cerita suatu film di bioskop mungkin sudah menjadi hal biasa, terlebih bila filmnya memang masuk kategori box office. Wajar bila akhirnya kita kepikiran sekaligus menerka-nerka mau dibawa ke mana jalan ceritanya – sudah kayak lagu aja ya. Tapi, menjadi hal yang nggak biasa bila satu bioskop isinya anak-anak ABG semua, kecuali saya. Duh, berasa tua deh!

ABG yang seukuran, eh seumuran anak SMP-SMA ini bikin saya senewen sendiri lantaran gaya menonton mereka yang benar-benar nggak biasa banget. Akhir pekan siang antrian menyemut, dah mirip pencairan dana BPJS, depan loket bioskop yang sebagian besar mau menonton film Avenger: The Age of Ultron. Sejauh mata memandang nggak tampak sama sekali ABG atau rombongan keluarga yang mengantri di barisan film besutan Marvel ini. Sebaliknya, yang mengantri kebanyakan calon penonton seumuran anak kuliah atau pekerja kantoran di bawah 30-an.

Mulanya saya agak heran mengingat genre film ini adalah superhero yang notabene banyak diidolakan oleh anak-anak hingga remaja, tapi nggak satupun yang kelihatan mengantri. Pikiran nggak penting ini memang tiba-tiba saja menyeruak di tengah antrian panjang. Lagi pula, dengan penonton yang seumuran, saya pikir lebih asyik dan seru. Soalnya selera berekspresinya relatif sama baik kaget, tertawa, menangis hingga tepuk tangan – yang menurut saya masih cukup toleran. Bila ada yang over expressive palingan satu dua, itupun ditahan-tahan biar nggak ganggu ‘tetangga’. Itulah perlunya film-film bioskop dikelompokkan sesuai usianya agar ada chemistry satu sama lain saat menonton. Hahay!

Karena masih sejam lagi saya putuskan keliling mal sambil cuci mata. Ehem! Maksudnya sekalian wudhu karena sudah masuk sholat dhuhur. Bagi saya, satu jam itu waktu yang panjang untuk menerobos semua gerai, walau hanya baca-baca buku di Gramedia, cek-cek big sale di Matahari hinggi muterin food court yang 90% ujung-ujungnya nggak beli. Anak kosan banget yah!

Sejam berlalu dan kenyang ngemil camilan pedas ala kedai-kedai franchise di food court, masuklah saya ke bioskop. Rupanya sudah dimulai karena sudah gelap gulita. Karena filmnya berformat 3D, penonton difasilitasi dengan kacamata khusus. Tampaklah ekspresi-ekspresi aneh di tengah gelapnya gedung teater. Baru saja pakek kacamata, lha penonton di atas saya mulai kasih review mirip penyiar bola – udah gitu suaranya kenceng lagi. Tau sendiri kan betapa nggak asiknya nonton film di-spoiler-in kayak gitu?

Herannya, model penonton bioskop macam gitu sering banget bermunculan, bahkan bisa dibilang merata dihampir daerah di Indonesia. Sialnya, suara-suara berisik semakin membahana. Ada yang kepo dengan nama asli pemerannya yang super keren, ada yang bingung dengan jalan ceritanya karena agak sedikit kompleks dan ilmiah untuk takaran film keluarga dan remaja, ada pula yang menyuruh temannya keluar lantaran teriak histeris terlalu deg-degan (bukan katakutan). Walah! Alhasil saya ngakak sendiri mendengar suara-suara gentayangan tersebut di kala sedang melihat Iron Men, Thor, Hulk, Hawkeye, Black Widow dan juga Captain America serius beraksi menebas Ultron. Bentuk ekspresi yang nggak nyambung banget pokoknya!

Nggak cukup di suara, lagi khusyuk-khusyuknya melihat aksi seru sang superhero, lha kok ada selusin orang turun keluar yang ternyata mau ke toilet. Yaelah! Mau kencing aja rombongan! Gagal fokus berikutnya terjadi saat security tiba-tiba mendatangi kursi deretan atas dan menghimbau agar tidak merekam film yang sedang diputar. Sontak semua penonton mengacuhkan Tony Stark beberapa menit hanya untuk memelototin perilaku udik segelintir penonton. Di situ Tony dan kawan-kawan kadang merasa sedih! Baru saja tenang, eh… ‘pasukan toilet’ kembali masuk dan gentayangan lagi.

Saya yang udah bela-belain antri panjang dan punya ekspektasi berlebih pada film tersebut, mencoba cuek bebek meski sebenarnya sangat nggak nyaman dengan penonton bioskop yang sudah mirip penikmat layar tancap ini. Baru sadar saat film selesai dan lampu teater menyala, sebagian besar penontonnya ternyata krucil alias ABG-ABG labil seumuran SMP dan sedikit anak SMA. Entah kapan mereka memesannya, karena selama mengantri nggak merasa bertemu makhluk-makhluk ini.

Nggak kapok bikin ulah selama film diputar, sebelum keluar bocah-bocah tersebut malah berselfie ria, hingga bikin security geram dan kerepotan menegur ke sana kemari. Bukannya merasa bersalah dan minta maaf, malah kompak bilang,”HUUUUUUUU” – plus embel-embel “Bapaknya nggak asik nih!”. Hyaaaa! Kelakuan anak-anak jaman sekarang memang bikin security geleng-geleng. Imbasnya, beberapa orang melihat saya dengan penuh tanda tanya saat keluar dari teater film aksi namun ngakak sendiri bak habis nonton film komedi. Bahkan sampai ada cewek yang bilang ke cowoknya, “Yang, memang filmnya lucu ya?!”. Wah!

Smart Tips!

Bila pengen menonton bioskop yang penontonnya seumuran, agak dewasaan dikit lah, lebih baik malam hari di mana banyak krucil lebih memilih di rumah menyelesaikan PR atau molor kecapean sehabis kluyuran. Memilih genre film sesuai usia juga penting untuk meminimalkan bertemu krucil. Jika bisanya weekend, berdua atau ramai-ramai lebih OK, itung-itung bisa nyangingin suara krucil yang mulai gentayangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s