Bertualang ke Madakaripura, Wujud Warisan Alam Penuh Sejarah

Patung Mahapatih Gajah Mada

Patung Maha Patih Gajah Mada sebagai bukti pemilik tanah perdikan Madakaripura

Bukan traveler namanya kalau hanya lihat panorama wisata dari internet aja. Traveling nggak harus jalan-jalan ke luar negeri atau keliling Indonesia selama berhari-hari. Walau dekat, selama itu mengunjungi lokasi wisata bisalah dikatakan traveling. Bisa memanjat gunung, pergi ke pantai, menjelajah gua hingga menikmati jalan setapak menuju air terjun.

Ngomong-ngomong tentang air terjun nih, sudah pernah mengunjungi Madakaripura belum? Sekilas dari namanya, air terjun ini lebih mirip seperti nama sebuah kompleks bangunan candi atau nama kerajaan zaman di masa lalu. Benar saja, Madakaripura memang erat kaitannya dengan peninggalan bersejarah dari Kerajaan Majapahit. Dulunya, Madakaripura dikenal sebagai tanah perdikan atau daerah yang dibebaskan dari tanggungan pajak kepada pemerintah. Istilah perdikan juga cukup populer semasa penjajahan kolonial Belanda.

Sementara nama Madakaripura sendiri merupakan sebutan lain tanah perdikan yang dimiliki oleh pimpinan utama kerajaan Majapahit. Siapa lagi kalau bukan Mahapatih Gajah Mada. Runtutan sejarah inilah yang menjadi alasan kenapa patung Gajah Mada berdiri di ‘gerbang depan’ Madakaripura. Muka berang, kaki bersila dan tangan sedekap menjadi gaya khas sang patih dalam setiap pahatan patungnya. Tak terkecuali di Madakaripura ini.

Keindahan Madakaripura

Salah satu panorama air terjun Madakaripura

Madakaripura dapat ditempuh dari Malang maupun Pasuruan. Jika sudah berada di Probolinggo, perjalanan dilanjutkan ke Tongas hingga ke kecamatan Lumbang. Perjalanan bisa dibilang nggak mudah, medan yang berliku dan jalanan yang terjal bakal dilewati setiap wisatawan hingga benar-benar sampai di Madakaripura. Walau jauh dari Gunung Bromo, tetapi air terjun ini masih termasuk ke dalam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Jika masih bingung, kamu bisa menggunakan aplikasi WisataLokal yang dapat diunduh di Play Store maupun Windows Phone. Aplikasi ini banyak memberikan referensi wisata lokal Indonesia yang cukup lengkap. Tak hanya artikel tentang Madakaripura, kamu juga bisa melihat keindahan air terjun ini lewat review yang sudah lebih dulu ditulis para traveler beserta fotonya. Sebenarnya ada pilihan Map, namun masih belum bisa digunakan, mungkin karena masih lokal hingga belum dipetakan oleh Google. Paling tidak, aplikasi ini sudah cukup memberikan gambaran indahnya Madakaripura.

Wiskal.jpg

Cara mencari referensi air terjun Madakaripura dengan menggunakan aplikasi WisataLokal

Nah, Setelah berjibaku dengan terjalnya jalanan, tibalah di lokasi awal Madakaripura. Sejenak mata memandang, memang tak terlihat sebuah gerbang atau gapura layaknya sebuah tempat wisata. Hanya tampak sebuah gapura bambu sederhana yang berdiri tegak menyokong banner sambutan selamat datang. Dari bentuknya sudah tercermin bahwa gapura ini merupakan hasil swadaya warga sekitar.

Hal ini bisa dibuktikan dari petugas parkir dan penarik karcis masuk yang tak lain adalah warga lokal Madakaripura. Wisata alam ini memang belum sepenuhnya dikelolah oleh pemerintah, sehingga wajar jika warga sekitar yang akhirnya mengambil kendali. Meski begitu, jangan berkecil hati dulu. Gapura tak megah bukan berarti lokasi wisata tak indah.

Warung-warung yang menjajakan jajanan pasar dan buah tangan khas Madakaripura akan terlihat sesaat usai turun dari kendaraan. Mayoritas warung di sini masih berupa bangunan bambu, hanya beberapa yang sudah berdinding batu bata. Itupun merupakan kamar mandi umum dan musholla. Walau sederhana, tetapi warung di sini cukup lengkap untuk memenuhi bekal diperjalanan.

Madakaripura.jpg

Tebing hijau dan tebing hujan Madakaripura.

Dari tempat ini perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Akses jalan yang berliku dan sempit sangat tidak memungkinkan dilalui sebuah kendaraan. Belum lagi beberapa jalan ada yang terputus akibat longsor, sehingga perlu kewaspadaan agar tidak sampai terjatuh. Untuk bisa melanjutkan perjalanan mau nggak mau harus menyeberangi sungai dan memanjat tebing. Mungkin inilah yang membuat sebagian orang mengatakan medan Madakaripura penuh dengan tantangan.

Tapi, nggak perlu khawatir. Jika merasa lelah bisa langsung istirahat sejenak. Sepanjang perjalanan banyak warung yang berdiri sebagai pos peristirahatan. Aneka jajanan tradisional juga banyak dijajakan di sini. Mulai dari pisang goreng, ote-ote, menjes dan tempe goreng. Sederhana, namun jika disajikan panas-panas tentu akan nikmat di tengah dinginnya cuaca pegunungan. Masih kurang kenyang? Mie instan juga dijual di sini lho. Biar lebih komplit, secangkir kopi atau minuman dingin bisa dipesan di pos yang diberdayakan oleh penduduk ini.

Hampir 45 menit berlalu, akhirnya suara gemuruh air terjun mulai terdengar. Orang-orang yang menyewakan payung hingga menjual jas hujan juga sudah mulai tampak di pos akhir ini. Air terjun Madakaripura berbentuk ceruk yang dikelilingi oleh bukit yang meneteskan air pada bagian tebing-tebingnya. Walhasil, akan tampak menyerupai hujan permanen. Untuk menuju ke air terjun utama, perlu melewati tebing hujan ini. Bisa dipastikan akan basah kuyup jika nggak menggunakan mantel atau payung.

Namun jika ingin sensasi maksimal saat pergi ke Madakaripura, bersiaplah untuk basah-basahan. Guyuran air dari atas tebing seolah membuang pikiran penat yang bersarang di kepala. Nggak jauh dari sana, akan terlihat tebing hijau dengan aneka tumbuhan menanti di depan. Sungguh perwujudan ciptaan Tuhan yang teramat apik untuk dilupakan. Suasana sejuk nan asri juga cukup terasa di tempat ini. Sangat berkebalikan dengan daerah gersang yang ditemukan sepanjang perjalanan menuju Madakaripura.

Kolase Madakaripura

Keseruan di Madakaripura, mulai air terjun utama, ceruk kolam alami dan pos istirahat di warung sederhana swadaya warga.

Lanjut ke dalam dengan sedikit menaiki tebing, ceruk megah Madakaripura akan terlihat dengan indahnya. Benar-benar seperti surga dunia. Menakjubkan, mungkin kata itulah yang bakal diucapkan oleh banyak orang. Air terjun utama berada dalam ceruk ini. Bahkan, kikisan air terjun membentuk kolam alami yang tentunya tak boleh dilewatkan untuk direnangi. Yang nggak boleh sampai terlupa, abadikan setiap sudut panoramanya dengan jepretan kamera.

Biar tetap aman, sebaiknya tidak berada di tempat ini hingga sore hari. Sebab, kabut akan datang dan membuat perjalanan balik lebih sulit dan membahayakan. Bila membawa makanan, baiknya dibawa pulang supaya nggak sampai mengotori wahana alam ini. Sayang kan, jika kelak ke sini lagi Madakaripura sudah tidak secantik sebelumnya. Bagaimana tertarik untuk mengunjunginya? So, jangan sampai kelewatan ya ketika berkunjung ke Jawa Timur.

Have a nice weekend!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s